LOGINKenanga menoleh ke arah Damar. Tak ada kata yang terucap, melainkan hanya keheningan yang hadir di antara mereka.
Damar menatap layar ponselnya sesaat, sebelum akhirnya ia meletakkan ponsel tersebut di sisi kursi. Namun, benda itu justru jatuh dan tergelincir.Kenanga yang melihatnya refleks membungkukkan badannya dan mencoba meraih ponsel milik Damar, dan di saat yang sama, Damar juga mengulurkan tangannya. Tangan keduanya bertemu, mereka terdiam ketika jemari mereka secaraArga menatap Sania yang menjauh. Di kejauhan ia melihat Sania yang melihatnya sekilas, wajah gadis itu begitu serius. Entah apa yang tengah di bicarakan oleh pria bernama Yoga itu. Sementara itu, Sania masih berbicara dengan Yoga via telepon. Ia berharap, apa yang disampaikan oleh Yoga adalah hal yang dapat membawa suatu keadilan untuk mendiang Ayahnya, Devan. “Bagaimana, Yoga?” tanya Sania. Di seberang sana, Yoga tengah berada di ruang arsip lama. Ia membuka sebuah dokumen yang telah berdebu, di dalam dokumen tersebut ada satu nama yang mungkin merupakan petunjuk penting bagi mereka. “Aku menemukan sebuah nama pada dokumen di ruang arsip lama, dan sepertinya orang inilah yang tengah diselidiki oleh Pak Devan dahulu,” ucap Yoga serius. “Siapa nama orang itu?” tanya Sania penasaran. “Anton Dhinakara,” jawab Yoga. Sania terdiam. Nama itu seolah me
Kenanga memainkan ujung sepatunya di atas lantai, menggerakkannya maju mundur tanpa tujuan. Sesekali ia melirik ke arah pintu lift, berharap sosok yang ditunggunya segera muncul.“Damar mana ya, masih belum keluar juga,” gumam Kenanga.Gadis itu tersenyum, jantungnya berdebar-debar. Ia sudah memutuskan, ia ingin bersama dengan Damar. Ia ingin menggenggam tangan lelaki yang dicintainya.Kenanga berulang kali menarik napas panjang. Berusaha menenangkan dirinya sendiri, ia masih saja mondar mandir menunggu kehadiran Damar.Hingga tak lama kemudian, ia melihat Damar. Langkahnya yang tegap, rahangnya yang tegas dan tatapannya yang tajam, membuat perasaan Kenanga semakin tak menentu.“Keke, kamu di sini? Kukira udah pulang duluan,” ucap Damar.Kenanga terdiam sesaat. Ia menggigit bibir bawahnya dan meremas tali tas selempangnya. Gadis itu kian gugup saat melihat Damar di hadapannya.Lidahnya terasa kelu, ia ingin mengutarakan
Rosa menatap Kenanga dengan tatapan tajam. Rasa benci pada gadis itu kian memenuhi rongga dadanya, ia merasa Kenanga tak pantas mendapatkan apa yang seharusnya jadi miliknya.“Apa yang istimewa dari gadis itu? Kenapa dia selalu mendapatkan apa yang ku inginkan?” gumam Rosa.Kenanga … nama itu selalu membuat Rosa merasa muak. Rasanya, apa yang Rosa usahakan, selalu berhasil didapatkan oleh Kenanga dengan mudahnya. Sedangkan ia harus berjuang mati-matian, namun apa yang ia dapatkan tak pernah sepadan.Dari mulai nilai di masa SMA, Rosa selalu kalah dari Kenanga. Sehingga ia tak pernah sekali pun mendapatkan perhatian dari Anton.Dan Kenanga selalu menjadi anak kecil bagi Gani. Gadis itu selalu diperhatikan oleh Gani, ayahnya. Sementara Rosa? Tak pernah sekalipun dianggap berarti oleh Anton. Anton selalu menuntutnya sempurna, sebab Rosa adalah satu-satunya penerus keluarga Dhinakara.“Aku … tak akan tinggal diam.” Rosa mengepalkan tangannya.
Arga memutuskan kembali ke kantor. Langkahnya terasa berat, terutama hatinya.“Masa takdirku harus patah hati terus?” keluh Arga.Damar yang baru saja turun ke loby melihat Arga, sahabatnya itu nampak seperti cuaca mendung. Damar menghampiri Arga dan menepuk pelan pundaknya.“Suram amat, kenapa bro?” tanya Damar.Arga menoleh, lalu membuang napasnya. Enggan menjawab Damar, pria berkacamata itu hanya tertunduk lesu.Damar mengernyitkan keningnya. Ia menyamakan langkahnya dengan Arga.“Ar? Are you okay?” tanya Damar sekali lagi.“Sudahlah, Dam. Lagi patah hati aku,” jawab Arga.“Patah hati? Sama siapa? Kenanga?” tanya Damar.“Ayolah, Dam. Aku udah move on ya dari Kenanga, yang aku maksud itu Sania,” jawab Arga.“Kamu suka sama Sania, Ar?” tanya Kenanga yang tiba-tiba berada di belakang Arga dan Damar.Damar dan Arga menghentikan lang
Dengan langkah hati-hati, Arga mengikuti Sania dan Yoga. Hatinya semakin terusik, disaat ia melihat Sania masih memegang tangan Yoga. “Aku harus tau, siapa sebenarnya lelaki bernama Yoga itu,” gumam Arga pelan. Sania dan Yoga masuk ke dalam sebuah kafe yang berada di seberang jalan. Mereka duduk di sudut, di tempat yang tak banyak orang. Arga menyusul beberapa saat kemudian. Ia tidak langsung menghampiri meja yang ditempati Sania dan Yoga. Sebaliknya, ia berjalan menuju meja kosong di sisi lain ruangan, sedikit menyamping dari posisi mereka. Meja itu tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak terlalu jauh. Sebuah tanaman hias berukuran cukup besar berdiri di antara beberapa meja, membuat keberadaan Arga tidak begitu mencolok dari sudut pandang Sania dan Yoga. Arga menarik kursi, lalu duduk dengan santai. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan berpura-pura sibuk membaca sesuatu di layar, ia bahkan menutupi wajahnya dengan daftar menu dan sesekali melirik ke arah Sania dan Yoga mel
Sania melangkahkan kakinya keluar dari lift, Arga pun tak tinggal diam. Ia mengikuti Sania dan berhenti di samping Sania, ketika gadis itu menghentikan langkahnya.“Yoga, ini Arga. Rekan kerjaku, dan Arga, ini Yoga. Teman lamaku,” Sania memperkenalkan keduanya.Arga dan Yoga saling bersalaman. Yoga tersenyum tengil dan mengangkat alisnya sebelah, sementara Arga hanya tersenyum tipis, namun tatapannya cukup tajam di saat ia melihat Yoga.Yoga menyisir sebelah rambutnya dengan tangannya dan merangkul Sania. Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Sania.“Long time no see. I Miss you,” ucap Yoga.Arga membeku. Api cemburu kian membara, pria berkacamata itu mengepalkan tangannya pelan dan membuang napas kasar.“Apa sih, Yog. Ada apa kamu tiba-tiba ke kantorku?” Sania melepaskan rangkulan Yoga.“Ada hal yang harus aku sampaikan, dan hal ini yang kamu tunggu sejak lama,” jawab Yoga.Sania terdiam sesaat. Ia menegang, mu







