MasukLa agente Xenia Winslow, también conocida como X, llamada el Ángel Viviente, no es tan dulce como su rostro sugiere. Es una espía experta enviada a obtener secretos de los poderosos hermanos Carrisden. Pero cuando conoce a Adriel Mattias Carrisden, el frío y temido hermano del medio, todo cambia. Adriel Mattias es orgulloso, peligroso y está acostumbrado a salirse con la suya. Xenia, en cambio, es valiente, inteligente y nunca se rinde. Su primer encuentro despierta una tensión inmediata: parte furia, parte atracción. Él quiere dominarla; ella se niega a ser domesticada. Mientras Xenia continúa su misión secreta, descubre que la dureza de Adriel esconde algo más profundo: dolor, soledad y un corazón que mantiene bajo llave. Cuanto más se acerca a él, más difícil le resulta distinguir si aún interpreta un papel… o si realmente está enamorándose del hombre al que debía espiar. Ella fue enviada a descubrir la verdad. Él estaba dispuesto a destruir su disfraz. Pero cuando el amor comienza a florecer entre enemigos, uno de los dos —el corazón o la misión— acabará roto.
Lihat lebih banyak“Menikahlah kalau kamu masih ingin memimpin perusahaan itu,” kata seorang wanita yang rambutnya dipenuhi oleh uban.
Lelaki yang ada di depannya langsung menatap mata neneknya dengan tatapan yang santai tapi tajam.“Nenek yakin ingin memberikan perusahaan itu pada orang lain?”“Cucuku bukan hanya kamu saja, Lucio. Pikirkan permintaanku ini, atau kamu akan nenek lengserkan dari jabatan itu.” Neneknya lantas berdiri meninggalkan Lucio yang menatapnya gamang.Sudah hampir sembilan tahun lelaki itu mengurus perusahaan yang ditinggalkan oleh kakeknya. Semua berjalan lancar dan proyek yang dia dapatkan selalu berhasil.Tetapi, neneknya tiba tiba memberikan sebuah perintah aneh. Agar dirinya segera menikah dengan ancaman akan melengserkan posisinya dan memberikannya pada sepupunya yang lain jika dia tak segera menikah.Jangankan menikah. Dia saja tidak memiliki kekasih. Lucio tidak pernah ada waktu untuk pacaran karena baginya itu hanyalah membuang-buang waktu dan membuang-buang uang tentunya.Kebanyakan wanita yang dikenalkan neneknya selalu berakhir gagal karena semua tidak masuk dalam kriteria Lucio yang pemilih.“Sepertinya Anda harus segera menikah,” kata asistennya. Dia berbisik dengan nada mengejek.“Sebelum mengatakannya padaku. Sebaiknya kamu dulu yang menikah.”“Saya tidak bisa menikah karena Sebagian besar waktu saya. Saya habiskan untuk mendampingi Anda,” sahut asistennya.Luico langsung terdiam. Dia berdiri dan keluar dari ruangannya dengan gusar.Tak biasanya neneknya akan bersikap seperti ini padanya. Padahal biasanya dia hanya menyuruhnya untuk ikut kencan buta.Namun sepertinya neneknya sudah lelah meminta Lucio menemui wanita lagi.“Baik Nyonya,” asisten yang bernama Khaleed Erazino itu tampak sedang berbicara dengan seseorang melalui di telepon. Membuat Lucio menoleh dan merasa jika Khaleed sedang ditelepon oleh neneknya.“Pasti nenekku. Apa katanya?” tanya Lucio penasaran.“Rapat pemilihan pemimpin akan diadakan bulan depan.”“Hanya itu?”Khaleed mengangguk. “Secara tidak langsung nenek Anda berkata, menikah atau lengser dari jabatan.”Lucio tidak tahu mengapa neneknya harus bertindak sampai sejauh ini.Memangnya apa bedanya dia menikah dan masih lajang seperti sekarang? Bukankah jika dia masih lajang maka hidupnya tak akan diganggu oleh urusan yang tidak penting dalam rumah tangga.“Apakah saya perlu mencarikan istri untuk Anda?” tanya Khaleed.“Tidak, terima kasih. Untukmu saja.” Lucio mendengus. Ia masuk ke dalam mobil ketika Khaleed membukakan pintu untuknya.**Delicia menangis. Tidak, lebih tepatnya dia sedang pura-pura menangis di depan seorang wanita yang tengah bertolak pinggang di depannya.“Apa salah saya hingga Anda tega mengusir saya?” tanya Delicia, ia membersit hidungnya dengan pandangan mata yang naas.“Kesalahanmu? KESALAHANMU TIDAK MEMBAYAR APARTEMEN INI SELAMA EMPAT BULAN!” teriaknya. Suaranya yang lantang membuat rambut Delicia mundur ke belakang.Delicia. Wanita dua puluh empat tahun dan di-PHK dari pekerjaannya lima bulan yang lalu.Seakan nasib buruk terus mengikutinya. Apartemen yang biasanya dia sewa selama satu tahun penuh itu kini sudah habis masa sewanya. Dan kini Delicia harus membayarnya karena dia sudah menunggak selama empat bulan.“Bulan depan saya akan membayar sewa apartemen ini. Jika perlu saya akan membelinya!” Entah ide gila dari mana Delicia mendapatkannya. Namun yang terpenting dia bisa membuat agen property itu percaya padanya.“Beli kepalamu! Kamu bisa membayar satu bulan saja aku tidak percaya. Pokoknya, aku beri kamu waktu sampai minggu depan. Kalau kamu tidak pergi maka terpaksa aku akan mengusirmu. Ada orang yang akan melihat unit ini. Jadi ingat baik baik, Delicia?!”“Bu, tunggu dulu. Saya kan sudah bilang akan membayarnya bulan depan.”Ibu ibu setengah baya dengan rambut keriting seperti brokoli itu mendengus. “Kamu juga mengatakan kalimat yang sama seperti ini bulan lalu, bulan kemarinnya dan bulan kemarinnya lagi sampai aku hafal.”“Tapi—saya kan sudah menyewa di sini hampir empat tahun lho.”“Bahkan ada yang sudah menyewa apartemen di sini hampir selama dua puluh tahun. Namun akhirnya dia diusir.”BLAM!Pintu ditutup. Seperti hati ibu ibu itu yang juga tertutup. Kini nasib Delicia di ambang jurang.Jika dia tidak bisa membayar uang sewa apartemen. Maka dia akan berakhir menjadi gelandangan.“Tidak! Aku tidak bisa menggelandang.” Bayangan dirinya memakai baju compang-camping sedang duduk di emper toko langsung ia enyahkan. Dia harus segera mencari pekerjaan, bukan. Seharusnya dia mencari pinjaman uang dulu. Karena mencari pekerjaan tidak semudah dia membuang ingus.Delicia pun mengambil ponselnya, lalu menghubungi teman-teman lamanya. Namun sayangnya semua berakhir sama saja. Bahkan yang lebih buruk, ada yang lupa siapa Delicia.“Maaf, tapi 65 juta. Aku tidak punya uang sebanyak itu,” kata teman Delicia.“Bagaimana kalau 7 juta? Ada kan?”“Tidak ada. Aku juga baru saja membayar sewa apartemen.”“Baiklah kalau begitu.”Delicia mencoba menghubungi temannya yang lain. Namun hanya sakit hati yang dia terima.“Kenapa kamu harus memaksakan diri menyewa apartemen sih? Padahal masih banyak rumah susun yang murah yang bisa kamu huni,” dengus temannya.Delicia menelan ludah keringnya. Ia tidak butuh saran seperti itu. Ada hal yang tidak bisa dia katakan mengapa dia harus berada di apartemen itu.“Kalau kamu tidak bisa meminjamkannya, tidak apa-apa.”“Tentu saja tidak ada! Kamu pikir aku gila meminjamkan uang sebanyak itu pada pengangguran?”Delicia menutup teleponnya. Ia tak marah pada temannya itu. Karena permintaan ini memang tidak wajar apalagi tiba tiba dia meminjam uang sebesar 65 juta pada teman yang sudah lama tidak dia hubungi.Kalau saja dia tidak diPHK. Mungkin saja dia tidak akan seperti ini. Dia dipecat secara mendadak karena perusahaannya mengalami kerugian. Dan mau tak mau harus mengurangi jumlah karyawan. Dan Delicia menjadi salah satu di antara karyawan yang dipecat.Gajinya mencapai sepuluh juta sampai lima belas juta tiap bulan. Dia sudah menabung uang itu untuk membayar apartemen. Namun ayahnya tiba tiba masuk rumah sakit dan membutuhkan operasi bedah jantung. Jadi Delicia memberikan uang tabungannya itu pada ayahnya.Dulu Delicia tidak berpikir jika akhirnya dia akan dipecat maka dia tidak ragu memberikan uang itu untuk ayahnya.Tetapi setelah dia tahu dirinya dikeluarkan dari perusahaan tanpa pesangon. Jiwa dalam tubuh Delicia tiba tiba loncat. Dia tak tahu harus bagaimana.Kebutuhan selama lima bulan hasil dari sisa tabungan sudah hampir menipis. Dan dia sepertinya harus menjadi gelandangan setelah ini.“Arghhh! Kenapa jadi seperti ini?! Tuhan! Bisakah turunkan aku lelaki tampan dan kaya?! Aku membutuhkanya untuk membeli apartemen ini!” teriak Delicia yang sudah frustrasi.“Karena jika tidak,” ucapnya pelan. “Aku akan menjadi gelandangan,” lanjutnya lagi.Jika harus memilih, mungkin sebaiknya dia kembali ke kampung halamannya. Menjadi anak nelayan, daripada harus tinggal di rumah susun yang murah selama dia mencari pekerjaan yang baru.ADRIEL MATTIASHe estado esperando casi una hora, pero mi teléfono todavía no ha sonado. Ha pasado una semana desde la última vez que escuché la voz de Xenia, lo cual es sorprendente. ¿Qué tan ocupada puede estar como para no poder ni siquiera llamarme? ¿No me extraña? ¿O a su propia hija?No hemos estado juntos durante seis meses, desde que se llevó a mamá Patrice a Turquía para su tratamiento médico. Me he estado conformando con videollamadas y los mensajes cariñosos que intercambiamos. Y durante estos seis meses, he estado deseando desesperadamente a Xenia.—¿Papá? ¿Puedo ir a la casa del abuelo y la abuela? Avriel también estará allí. Nos quedaremos allá por ahora.—¿Ahora?—Sí, papá. Solo déjame allí y luego puedes volver a casa.Mis labios se entreabrieron. Esta niña… me está mandando de regreso a casa solo. La extrañaré aún más a Xenia y me sentiré más solo si me quedo aquí solo en la villa.—Hasta donde recuerdo, tu mamá te dejó conmigo para que pasáramos tiempo juntos y para
XENIASolo Adriel y yo nos quedamos en la villa, porque sus padres se llevaron primero a Marcelline para que pudiera salir y disfrutar en lugar de quedarse siempre aquí en la villa. Yo estuve de acuerdo, ya que estaba bajo el cuidado de los padres de Adriel, y me sentía tranquila sabiendo que mi hija estaba segura con ellos. En cuanto a Neville, todavía no había regresado desde que acompañó a Elle a la casa de sus padres.Neville se ofreció a llevar a Elle a su casa y, aunque ella se opuso, no tuvo más opción cuando Neville insistió. Ya habían pasado dos días desde que se fueron, y aun así ese hombre no había regresado.Cuando le pregunté a Adriel al respecto, dijo que Neville quizá había ido directamente a visitar a sus abuelos, que viven cerca. Pero yo dudaba; algo no me cuadraba. Le había dicho a Elle que me llamara apenas llegara a casa, pero no había recibido ni un solo mensaje suyo.Jadeé al meterme en el agua. Solo entonces me di cuenta de que había una piscina aquí en la villa
XENIACuando llegamos a la villa, Marcelline estaba encantada de vernos a Adriel y a mí. Nos abrazó con fuerza, como si no quisiera soltar a su papá. Marcelline estaba un poco inquieta, así que tuve que regañarla, especialmente porque la herida de Adriel aún no se había curado por completo. Si notaba que su padre gemía, definitivamente preguntaría, y yo no sabía qué excusa darle.—¿Sabes, mamá, papá? Mientras estaban fuera, Elle y el tío Neville seguían peleando. El tío Nev siempre le gritaba a Elle. Yo era la única que los detenía —nos confesó Marcelline.De inmediato lancé una mirada a Elle, y ella me sonrió de manera incómoda.—Solo parece que estamos peleando, pero en realidad solo estamos hablando. Incluso puedes preguntarle a Neville, Zee —corrigió Elle.Me giré para mirar a mi hija, y su expresión cambió rápidamente. Parpadeó y frunció el ceño.—¿Quieres decir que Elle dice que estoy mintiendo? ¡No estoy mintiendo! —se defendió Marcelline.Sonriendo, acomodé un mechón de su cab
XENIAMe quedé mirando el rostro de Adriel mientras acariciaba suavemente su mejilla. Su cuerpo estaba exhausto y, después de la cirugía para extraer la bala alojada en su interior, había permanecido inconsciente durante dos días.Después de todo lo que ocurrió en la casa de Yohan, llevamos a Adriel de inmediato al hospital. Tal como dijo Denzel, Adriel es una mala hierba difícil de arrancar; por suerte, mi esposo seguía con vida. Por fin pude respirar un poco más tranquila al saber que había sobrevivido.Una vez que me aseguré de que Adriel estuviera a salvo, también me ocupé de mi madre. En este momento, ella está comenzando el tratamiento para su enfermedad. Anselm incluso sugirió llevarla a otro país para que pudiera recuperarse más rápido. Por ahora, mamá solo necesita fortalecerse. Cuando Adriel despierte, le explicaré todo y acompañaré a mamá para que no esté sola.Miré mi teléfono cuando de repente empezó a sonar. Era Elle. Como los hombres de Yohan se habían llevado mi móvil,






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
Ulasan-ulasan