Se connecterApa yang mustahil terkadang terjadi. Apalagi hanya hilangnya gadis muda di desa. Pak Badrun akhirnya membuat kesimpulan bahwa Tiara hilang.Air mukanya menjadi kacau. Seharusnya hal itu tidak terjadi, seharusnya kini anaknya tengah siap-siap akan kembali ke kota bersama Bian.Lantas apa yang terjadi? Bagaimana caranya agar Tiara ditemukan? "Pak, tenang ... kita cari sama-sama. Kita sisir semua tempat dulu, siapa tahu dia ada di rumah temannya yang lain," saran Bian. Meski tak begitu menenangkan, setidaknya Bian berusaha.Harsa terdiam. Baginya, Tiara bukanlah tipe yang akan berkunjung kepada orang lain, bahkan dulu saja ketika masih ada di sana, Harsa dan Afifah-lah yang selalu datang mengunjunginya.Sesekali mungkin pernah, tapi jarang.Harsa menjadi khawatir. Ia terdiam, ingat pada Tiara serta kenangan-kenangan masa lalunya."Sa, bagaimana?"Harsa terkejut, keluar dari lamunannya."Ayo kita cari sama-sama, Pak. Kalau memang belum juga ditemukan setelah kita cari di semua tempat, ki
Sejam berlalu hingga matahari mulai memberi hangatnya, Tiara tak kunjung ibu Tiara temukan. Awalnya ia pikir anaknya sedang ke warung atau suatu tempat, sehingga tak begitu merisaukannya.Namun, setelah beberapa jam kemudian tak muncul batang hidungnya, risau mulai mengacau isi pikiran ibu Tiara. Wanita paruh baya itu kembali ke lokasi dimana mobil Bian hancur dan melapor pada suaminya.Saat itu Bian telah berhasil menyelamatkan kopernya. Selain koper berisi pakaian, tak ada yang bisa ia selamatkan lagi, termasuk ponsel mahalnya. Mobil itu benar-benar telah menjadi rongsokan, tak mungkin ia bisa memperbaikinya. Jikapun bisa, Bian lebih memilih meninggalkan saja dan menggunakan mobilnya yang lain di kota.Selagi dirinya membuka dompet dan melakukan transaksi tunai dengan pihak yang telah membantu, ekor matanya menangkap kedua orangtua Tiara berbicara berdua, agak jauh dari keramaian."Terima kasih, ya, Pak sudah bantu saya. Kalau begitu sisanya saya minta tolong ke bapak-bapak saja." S
Malam sebelum kejadian pagi, Nurmaya gelisah tak menentu, gadis itu tak sanggup membayangkan ia akan diperistri oleh siluman babi peliharaan ayahnya.Dengan keringat yang telah membanjiri wajahnya, Nur mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya, menggila."Bu, Pak! Ibuu, tolong buka!" Tangisnya menggema, mengisi setiap sudut dan celah ruangan yang sunyi dan dingin. Terkadang, Nur merasa rumah itu sangat menyeramkan.Orang tua Nurmaya segera membuka pintu, menghentikan keributan Nur yang menjadi. Terlihat si bungsu menangis terkaing-kaing, memaksa Pak Zakaria untuk bertindak ekstrim—menutup mulut anaknya cepat-cepat."Kamu sudah gila, Nur? Jam berapa ini? Dan kamu malah membuat keributan? Diam!" Mata Pak Zakaria melotot seolah akan keluar dari kelopaknya. Kepanikan jelas terlihat di air muka.Nurmaya meronta, berusaha melepaskan tangan bapaknya yang lebih gila. Ia pun menggigitnya, entah kekuatan dari mana datangnya itu, tetapi baru kali ini anaknya seberani ini padanya."Nur! Nur, tenang
Sejak kematian Afifah, teror babi ngepet yang selalu mencuri uang warga tiba-tiba reda, tidak ada lagi yang kehilangan. Atau jangan-jangan ini hanya sementara?Prasangka demi prasangka mulai muncul di kepala warga. Apa mungkin kematian Afifah memang ada hubungannya dengan pesugihan babi ini? Jangan-jangan gadis malang itu sungguh jadi tumbal?"Ngeri, udah ah jangan tambah ngaco ngomongnya. Nanti kedengeran keluarganya, kasian."Sekumpul bapak-bapak di dekat pos sudah sibuk membicarakan gadis yang telah mati. Pagi ini, selagi menunggu yang lain muncul untuk melihat proses penarikan mobil Bian, beberapa sudah sigap memang, siapa tahu mereka dibutuhkan nanti.Kopi dan pisang goreng menjadi menu sarapan mereka yang tak ketinggalan. Sekitar delapan orang yang sudah hadir, dan mereka mulai membahas tentang Afifah, babi ngepet dan teror lain yang datang tak terduga."Bahas babinya saja. Sejak itu memang dompet kita aman, babi kecil yang suka masuk rumah kita tidak ada lagi. Aku kira memang s
Keluarga berduka telah usai dengan acara tahlilannya. Pak Badrun dan Bian membawa nasi berkat sepulang dari rumah Pak Zakaria.Cerita mengerikan itu kembali terceritakan. Bulu kuduk Bian seketika mengembang. Tiara yang duduk di hadapan televisi tabung yang volumenya dikecilkan itu tak bersuara, hanya menyimak sembari menekuk dua kakinya yang diselimuti sarung batik merah ati milik ibunya. Di samping Tiara ada sang ibu yang juga ikut menyimak, sementara dua lelaki di kursi saling menceritakan hal mistis yang kini menjadi trending di desa Tiara, yaitu siluman babi ngepet."Tidak tentu kapan uangnya hilang, Pak?""Iya, tidak bisa kami prediksi.""Aneh, ya. Padahal di novel yang saya baca, babi ngepet itu mencuri uang setiap malam. Ini kok berbeda, aneh." Bian memikirkan dengan keras. Bagaimana bisa cerita dan film berbeda dengan kenyataan yang kini tengah terjadi. Di film, babi itu akan diburu warga, di sini malah kebalikannya, babinya yang memburu warga. Benar-benar seram."Begitulah Na
Tak seperti kehidupan kota yang begitu terasa kesibukannya, di desa ini Bian merasa suasananya terlalu hening.Ia duduk di kursi beraroma khas macam di rumah nenek yang pernah dirasakan kala dirinya kecil. Entah mengapa di saat seperti ini muncul kerinduan yang tak bisa dijelaskan dan rindu apa.Orang tua Tiara sibuk sejak tadi. Bapak Tiara ke rumah tetangga, sedangkan ibunya memasak di dapur. Memang tadi sempat membuat menu sarapan, tapi hanya sedikit. Jadi, ibu Tiara kembali ke dapur untuk menjamu anak serta calon mantunya (siapa tahu, bukan?).Tiara baru selesai mandi. Kakinya yang terkilir sudah tak lagi sakit berkat Nyimas yang kini sudah tak ada kehadirannya. Gadis itu membawa handuk bersih di tangannya untuk diserahkan pada Bian."Mas, siapa tahu mau mandi.""Setaaan!" Bian melompat kaget tiba-tiba Tiara muncul. Tak ayal Tiara pun sama kagetnya, apalagi dengar kata 'setan' dari mulut Bian."Apaan, sih?! Ngagetin! Setan, setan, emangnya saya setan?""Kamu yang ngagetin, Ra! Asta







