LOGINDesa sedang tidak baik-baik saja. Merebak gosip ngeri, katanya ada pelaku pesugihan. Uang warga sering hilang, hampir setiap malam digondol babi. Babi ngepet kembali menjadi momok ngeri, di mana cerita yang sudah ada sejak zaman dulu itu menghantui. Warga bersepakat akan menuntaskan semua kasus gila itu, dan mencari siapa dalang di balik pesugihan babi ini. Akankah warga berhasil? Atau satu demi satu memilih menyingkir dan membiarkan babi ngepet itu menguasai desa?
View MoreLangit bergemuruh di atas kepalanya. Tapi ia tak peduli dan terus berlari. Hujan tampaknya akan turun, tapi ia tak beralas kaki, memijaki jalan-jalan batu hitam besar yang tidak rata.
Kakinya terluka, tapi ia tetap lari menembus gelapnya malam.Dia Afifah. Gadis muda berusia dua puluh tahun yang akhir-akhir ini dikatakan gila. Orang tuanya selalu mengurungnya di satu ruang yang dipagari besi-besi. Afifah tak jarang dirantai atau dipasung jika berulah, jika dia mencoba menyakiti keluarganya.Badannya yang dulu cukup berisi, kini kurus kerontang seakan dagingnya menyusut hilang."Tiara, Harsa ... tolong aku!"Tapi anehnya, Afifah yang disebut gila masih saja ingat dengan nama-nama orang desa, terutama Tiara yang merupakan sahabatnya, serta Harsa yang merupakan mantan pacarnya.Dan tujuan Afifah malam ini adalah ke rumah Harsa. Karena Tiara masih di Jakarta bekerja. Afifah pun tahu itu, bahkan saat kepergian sahabatnya, dia turut mengantar hingga ke terminal angkutan umum di ujung desa.Dia seperti normal, hanya tingkahnya saja yang berubah aneh ketika dihadapkan dengan keluarganya.Karena gosip gilanya mencuat begitu cepat, Harsa dipaksa untuk mengakhiri hubungannya dengan Afifah oleh keluarganya, serta keluarga Afifah juga. Sejak Harsa mendengar kabar Afifah tidak waras, pemuda itu tak pernah lagi diizinkan untuk bertemu. Sekalipun dia ingin dan selalu berusaha datang ke rumahnya. Tapi kedatangan Harsa ditolak mentah-mentah.Namun kali ini ... usai tujuh bulan berlalu, Afifah memiliki kesempatan untuk lari dari kurungan besi sialan itu. Karena adiknya Nurmaya lengah, ketika gadis yang dua tahun lebih muda dari pada dia datang untuk mengolok seperti biasa, Afifah memukul kepalanya dengan kekuatan yang dipunya, lalu mencekik leher adiknya dengan rantai yang mengikat dua tangannya.Sampai Nurmaya hampir kehabisan napas dan pingsan. Saat itulah Afifah lari dari ruangan yang sudah mengurungnya berbulan-bulan.Tertatih-tatih Fifah bangkit saat tak sengaja terpeleset dan jatuh. Dia terus berjuang melewati bentang-bentang sawah agar sampai ke rumah Harsa."Harsa ...." Dengan tangis tertahannya, Fifah beringsut di teras rumah Harsa.Dari dalam, ibu Harsa keluar memeriksa. Kebetulan Bu Amina masih terjaga malam itu. Dan ia benar-benar kaget ketika melihat siapa yang datang."Bu ...." Mata Afifah berlinang air mata. Dan ia menangkap kaki Bu Amina, memeluk sambil memohon. "Tolong Fifah, Bu." Dengan tangisnya yang mengudara."Nak Fifah." Bu Amina jelas risau atas kedatangan Afifah si gadis gila. Dia segera melepaskan pelukan tangannya, dan menahan napas sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri menatap mata mengerikan Afifah.Mata yang memerah karena tangis dan warna darah. Dia seperti gadis yang baru disiksa. Tapi Bu Amina tak ingin tahu, dia terlalu takut menghadapinya."Kamu nga-ngapain ke sini, Nak? Pu-pulanglah sebelum bapakmu mencarimu."Afifah menggeleng kepala. "Fifah takut pulang, Bu. Tolong izinkan Fifah tetap di sini. Tolong, Bu," mohonnya dengan isak tangis yang begitu mengganggu.Keringat dingin mulai membasahi dahi Bu Amina. Bagaimana pun baginya Fifah adalah wanita gila. Dia tidak mau berurusan lagi dengannya."Saya lebih takut padamu. Pergilah, pergi!""Fifah mohon, Bu. Fifah tidak gila, sumpah. Fifah tidak gila, tolong percayalah.""Tidak, pergilah."Bu Amina ingin tinggalkan Fifah di luar. Tapi Harsa yang terbangun karena keributan itu muncul. Dia tertegun di ambang pintu melihat sosok yang selama ini selalu ingin dia temui."A-Afifah?""Harsa!"Keduanya terlibat saling tatap cukup intens. Tapi tatapan itu penuh dengan keterkejutan dan kesedihan yang begitu membekukan.'Apa yang terjadi padamu selama ini, Fah?' Hanya hati yang mampu bertanya. Harsa melihat banyak perubahan terhadap mantan pacarnya. Afifah terlihat kacau dan menyedihkan.'Harsa, tolong aku. Tolong aku!' Sementara Afifah sendiri memohon pertolongannya dari tatapannya."Harsa masuk. Ini sudah malam. Ibu akan urus wanita tak waras ini segera. Cepat!" Namun Bu Amina mendorong tubuh Harsa hingga pemuda itu tak lagi berdiri di ambang pintu."Tidak, Bu. Fifah mohon! Tolong Fifah sekali ini saja. Fifah tidak ingin dikurung lagi. Fifah ...." Dia seperti kesulitan bernapas tiba-tiba. Tangannya mencekik leher sendiri.Dan hal itu mengejutkan Bu Amina serta Harsa."Fifah, apa yang kamu lakukan?" Harsa sudah ingin mendekat padanya."Harsa! Biarkan! Namanya juga orang gila! Cepat masuk!" Namun ibunya segera menghalang-halangi.Harsa menolak, bagaimana mungkin ibunya tega mengatakan hal seperti itu? Bahkan di saat Afifah seperti tengah tersiksa. Harsa yakin itu bukan karena Afifah gila. Tapi ... entahlah, dia pun tak yakin."AFIFAH! DI SINI KAMU TERNYATA!"Di saat Harsa memaksa ibunya agar menyingkir, tiba-tiba suara menggelegar muncul. Semuanya menoleh ke sumber suara. Ternyata itu Pak Zakaria, ayah Afifah yang terlihat begitu marah."Bawa dia pulang sekarang juga dan kembalikan dia ke dalam kurungannya. Jangan lupa dirantai yang kuat dan jangan biarkan siapa pun masuk lagi ke ruangannya. Terutama Maya!" titah pria berkumis tebal itu pada dua orang suruhannya di belakang punggung.Afifah gemetaran. Menggeleng pelan. Kemudian menoleh pada Harsa dan memohon agar ia diizinkan masuk untuk sembunyi."Jangan coba-coba, Harsa. Dia gila." Namun tepat ketika Harsa hampir menggapai tangannya, Pak Zakaria menghentikan. Saat itu Afifah diseret paksa di hadapan Harsa.Tangis serta teriaknya menguap memenuhi langit desa yang gelap gulita. Tiada bulan atau bintang, adanya auman anjing-anjing dan cicit hewan pengerat yang menjijikkan.Suara Afifah membangunkan beberapa warga. Sehingga ketika Afifah diseret paksa, mereka yang keluar melihatnya menjadi kasihan dan takut di saat bersamaan.Besok mungkin akan geger kabar tentang Afifah si gadis gila yang kabur ke rumah mantan pacarnya. Itu sudah pasti!***KLAANG!"Jangan pernah berpikir untuk kabur lagi, anakku yang gila!" Sorot mata Pak Zakaria menampakkan kemarahan yang begitu besar ketika ia berhasil membawa Afifah kembali ke kamar besinya."Tolong hentikan, Pak. Ampun, Pak. Lepaskan Fifah. Fifah tidak mau lagi mel—"PLAAAK!"Kamu jangan ngatur! Kalau bukan kita yang berkorban, adik-adikmu mana bisa hidup. Ibumu juga! Jadi berhenti mengeluh dan segera mandi dan berias! Suami kamu akan segera datang!"Pak Zakaria melemparkan pakaian putih polos ke wajah Afifah. Dengan sangat kasar.Afifah sendiri kini hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang porak-poranda. Ia meremas pakaian itu penuh kekesalan dan amarah. Namun sialnya, amarah hanya menjadi air mata sia-sia. Sebab penderitaannya terasa tiada akhir.Mau tak mau Afifah bangun. Dengan kaki yang masih dirantai, ia ke kamar mandi. Melucuti pakaian berdarahnya, lalu mandi.Setelah selesai. Afifah memakai pakaian bersih putih itu dan duduk di atas ranjangnya putus asa. Menyisir rambut hitam legamnya yang rontok.Malam jumat ini, suami siluman babinya akan segera tiba.Apa yang mustahil terkadang terjadi. Apalagi hanya hilangnya gadis muda di desa. Pak Badrun akhirnya membuat kesimpulan bahwa Tiara hilang.Air mukanya menjadi kacau. Seharusnya hal itu tidak terjadi, seharusnya kini anaknya tengah siap-siap akan kembali ke kota bersama Bian.Lantas apa yang terjadi? Bagaimana caranya agar Tiara ditemukan? "Pak, tenang ... kita cari sama-sama. Kita sisir semua tempat dulu, siapa tahu dia ada di rumah temannya yang lain," saran Bian. Meski tak begitu menenangkan, setidaknya Bian berusaha.Harsa terdiam. Baginya, Tiara bukanlah tipe yang akan berkunjung kepada orang lain, bahkan dulu saja ketika masih ada di sana, Harsa dan Afifah-lah yang selalu datang mengunjunginya.Sesekali mungkin pernah, tapi jarang.Harsa menjadi khawatir. Ia terdiam, ingat pada Tiara serta kenangan-kenangan masa lalunya."Sa, bagaimana?"Harsa terkejut, keluar dari lamunannya."Ayo kita cari sama-sama, Pak. Kalau memang belum juga ditemukan setelah kita cari di semua tempat, ki
Sejam berlalu hingga matahari mulai memberi hangatnya, Tiara tak kunjung ibu Tiara temukan. Awalnya ia pikir anaknya sedang ke warung atau suatu tempat, sehingga tak begitu merisaukannya.Namun, setelah beberapa jam kemudian tak muncul batang hidungnya, risau mulai mengacau isi pikiran ibu Tiara. Wanita paruh baya itu kembali ke lokasi dimana mobil Bian hancur dan melapor pada suaminya.Saat itu Bian telah berhasil menyelamatkan kopernya. Selain koper berisi pakaian, tak ada yang bisa ia selamatkan lagi, termasuk ponsel mahalnya. Mobil itu benar-benar telah menjadi rongsokan, tak mungkin ia bisa memperbaikinya. Jikapun bisa, Bian lebih memilih meninggalkan saja dan menggunakan mobilnya yang lain di kota.Selagi dirinya membuka dompet dan melakukan transaksi tunai dengan pihak yang telah membantu, ekor matanya menangkap kedua orangtua Tiara berbicara berdua, agak jauh dari keramaian."Terima kasih, ya, Pak sudah bantu saya. Kalau begitu sisanya saya minta tolong ke bapak-bapak saja." S
Malam sebelum kejadian pagi, Nurmaya gelisah tak menentu, gadis itu tak sanggup membayangkan ia akan diperistri oleh siluman babi peliharaan ayahnya.Dengan keringat yang telah membanjiri wajahnya, Nur mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya, menggila."Bu, Pak! Ibuu, tolong buka!" Tangisnya menggema, mengisi setiap sudut dan celah ruangan yang sunyi dan dingin. Terkadang, Nur merasa rumah itu sangat menyeramkan.Orang tua Nurmaya segera membuka pintu, menghentikan keributan Nur yang menjadi. Terlihat si bungsu menangis terkaing-kaing, memaksa Pak Zakaria untuk bertindak ekstrim—menutup mulut anaknya cepat-cepat."Kamu sudah gila, Nur? Jam berapa ini? Dan kamu malah membuat keributan? Diam!" Mata Pak Zakaria melotot seolah akan keluar dari kelopaknya. Kepanikan jelas terlihat di air muka.Nurmaya meronta, berusaha melepaskan tangan bapaknya yang lebih gila. Ia pun menggigitnya, entah kekuatan dari mana datangnya itu, tetapi baru kali ini anaknya seberani ini padanya."Nur! Nur, tenang
Sejak kematian Afifah, teror babi ngepet yang selalu mencuri uang warga tiba-tiba reda, tidak ada lagi yang kehilangan. Atau jangan-jangan ini hanya sementara?Prasangka demi prasangka mulai muncul di kepala warga. Apa mungkin kematian Afifah memang ada hubungannya dengan pesugihan babi ini? Jangan-jangan gadis malang itu sungguh jadi tumbal?"Ngeri, udah ah jangan tambah ngaco ngomongnya. Nanti kedengeran keluarganya, kasian."Sekumpul bapak-bapak di dekat pos sudah sibuk membicarakan gadis yang telah mati. Pagi ini, selagi menunggu yang lain muncul untuk melihat proses penarikan mobil Bian, beberapa sudah sigap memang, siapa tahu mereka dibutuhkan nanti.Kopi dan pisang goreng menjadi menu sarapan mereka yang tak ketinggalan. Sekitar delapan orang yang sudah hadir, dan mereka mulai membahas tentang Afifah, babi ngepet dan teror lain yang datang tak terduga."Bahas babinya saja. Sejak itu memang dompet kita aman, babi kecil yang suka masuk rumah kita tidak ada lagi. Aku kira memang s
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews