Home / Thriller / BAYANGAN DI BALIK WARISAN / St. Soulheim; Introduction

Share

St. Soulheim; Introduction

Author: eyes0cream
last update publish date: 2025-04-26 15:33:39

Kabut menggantung rendah di atas kota. Seperti selimut lembap yang menolak terangkat, dia melingkupi atap-atap miring bangunan tua yang nyaris seluruhnya berlumut. Kabut menyusup di antara celah jendela yang jarang sekali dibuka. Sering kali juga menelusup masuk ke dalam lorong-lorong sempit yang hanya dikenal oleh kaki-kaki penduduknya.

Bau arang terbakar menguar dari cerobong-cerobong batu, bercampur dengan aroma tanah basah dan sisa hujan semalam yang belum juga mengering. Di kota ini, musim
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • BAYANGAN DI BALIK WARISAN   Persimpangan

    Alphonse keluar dari paviliun tanpa menoleh ke belakang. Pintu kayu menutup dengan bunyi yang lebih pelan dari yang dia perkirakan—terlalu sopan untuk sesuatu yang baru saja mencabik dirinya dari dalam. Udara pagi menyambutnya dengan dingin yang basah. Mendung masih bergelayut rendah, seolah langit menolak memberi jarak aman.Tanah pemakaman lembap di bawah sepatunya. Setiap langkah meninggalkan jejak yang cepat memudar, ditelan dedaunan dan lumpur. Ia berhenti sejenak, mengatur napas, tapi dadanya terasa sempit—bukan karena udara, melainkan karena sesuatu yang tertinggal di dalam paviliun itu ikut keluar bersamanya.Kami hanya memakan apa yang ditinggalkan.Kalimat itu muncul tanpa izin, bersarang di kepalanya seperti bau dupa yang menempel di pakaian. Alphonse mengusap wajahnya dengan telapak tangan, mencoba menghapus sensasi kasar kain jubah yang tadi ia genggam. Jemarinya masih ingat teksturnya. Itu yang paling ia benci—bahwa tubuhnya mengingat lebih cepat daripada pikirannya.“Bo

  • BAYANGAN DI BALIK WARISAN   Paviliun Tua dan Drama

    Pintu di belakang Alphonse berderit tertutup, meninggalkan bunyi gembok yang tak terdengar tapi terasa. Keheningan di dalam terasa lebih pekat daripada udara luar. Bau lembap kayu tua bercampur dengan sisa asap dupa yang lama padam, seperti doa-doa yang sudah ditinggalkan. Cahaya pagi menetes dari jendela buram, pecah menjadi garis kusam di lantai yang penuh debu.Alphonse berdiri sejenak, membiarkan matanya menyesuaikan. Setiap papan lantai yang diinjaknya mengeluarkan keluhan pelan, seakan keberadaannya ditolak ruangan itu. Tak ada kursi, hanya sebuah meja kecil dengan kain altar yang sudah robek di ujungnya. Di atasnya, sebuah lilin gosong—beku dalam posisi terakhirnya—menjadi saksi diam waktu yang terhenti.Kesunyian menebal. Alphonse mengangkat jemarinya, mengusap permukaan meja, meninggalkan jejak tipis di atas debu. Dia duduk di kursi reyot di sudut ruangan, tubuhnya membungkuk sedikit ke depan, seolah siap menyambar jika bayangan pertama kali bergerak.Di luar, dentang lonceng

  • BAYANGAN DI BALIK WARISAN   Batas Antara Doa dan Delusi

    Senin, 25 Maret 2024/08:59 PagiLangkah kaki Alphonse terhenti ketika tanah berbatu St. Soulheim yang tak lagi disapu doa itu berubah menjadi jalan setapak yang dipenuhi dedaunan basah. Udara pagi menahan cahaya; mendung bergelayut seperti kain tua yang belum dicuci, mengaburkan batas antara langit dan tanah pemakaman. Angin yang lewat membawa aroma tanah lembap bercampur karat. Dari kejauhan, dentang lonceng gereja terdengar samar, menyerupai bisikan peringatan yang datang terlambat.Di ujung jalan sempit itu berdiri sebuah paviliun kecil. Sulur tanaman rambat menelusup ke dindingnya, seakan ingin menelan batu tua yang retak-retak. Cat kayu pada jendela sudah pudar, berganti warna kelabu pucat, sementara dedaunan kering menempel di kaca yang buram. Atapnya miring sedikit, dan lumut hijau tua menyebar bagai noda permanen. Alphonse mendapatkan kesan bahwa paviliun itu bukan sekadar bangunan, melainkan wadah bagi sesuatu yang lebih tua daripada dirinya sendiri.Alphonse berhenti di depa

  • BAYANGAN DI BALIK WARISAN   You Must Find Sister Lasya

    Ruang arsip kembali sunyi. Tapi bukan sunyi yang biasa—melainkan sunyi yang menekan, seperti udara yang sedang menyimpan rahasia. Bau kertas tua dan logam berkarat menggantung di udara, seolah menolak dibersihkan oleh waktu atau niat baik. Lampu neon di langit-langit sesekali bergetar, mengeluarkan bunyi dengung rendah yang menambah suasana janggal.Alphonse berdiri diam di tengah lorong, tubuhnya membeku bukan karena takut, tapi karena nalurinya menjerit: sesuatu di sini belum selesai. Sesuatu sedang menunggu untuk ditemukan—atau lebih tepatnya, untuk dilepaskan.Dan dalam diam yang terlalu panjang itu, dia merasa seperti orang terakhir yang masih mendengarkan bisikan bangkai-bangkai masa lalu. Pikirannya jauh lebih dalam dari tinta dan kertas yang ada dalam semua berkas-berkas itu. Seolah setiap lembar di dalamnya menyimpan suara, dan dia mencoba mendengarkan.Pegawai wanita yang hanya diam saja akhirnya bicara. Suaranya kecil, nyaris seperti bisikan.“Anda seharusnya tidak berbicar

  • BAYANGAN DI BALIK WARISAN   It's A Face Off

    Di dalam ruang arsip yang sunyi, keheningan itu hampir bisa dipotong dengan pisau. Edelmar, dengan ekspresi datarnya, tidak langsung merespons. Kedua matanya yang tajam menilai, mengukur setiap kata yang terucap, namun dia tetap diam. Keheningan yang tercipta bukan karena kebingungan, tetapi lebih karena sebuah keputusan yang tengah ditimbang di dalam pikirannya."Dan jika saya bilang…” suaranya memecah keheningan. Suara itu tenang, tapi tegang, “...jarumnya memang tidak pernah berhenti, hanya tidak terdengar oleh telinga biasa?"Alphonse tersenyum tipis, ada sesuatu dalam senyum itu yang mengungkapkan lebih banyak daripada yang dia ingin ungkapkan. "Saya rasa saya sudah tahu apa yang sedang Anda coba sampaikan."Di belakang mereka, pegawai wanita itu masih berdiri kaku, seperti bayangan yang tidak ingin ikut campur. Dunia di ruang arsip terasa mengecil, hanya ada dua kutub yang saling bertarung—Alphonse dan Edelmar. Ruang ini menjadi medan magnet yang tidak terhindarkan, setiap kalim

  • BAYANGAN DI BALIK WARISAN   Riak di Lautan Kertas

    Ruang arsip kota St. Soulheim menyimpan napas masa lalu dalam setiap rak berdebu dan laci berderit. Aroma kertas tua menyatu dengan udara yang stagnan, seakan waktu enggan bergerak di tempat ini. Di tengah lorong sempit berisi berkas dan dokumen catatan sipil, berdiri seorang pria asing yang baru semalam tiba di kota—tapi sorot matanya seperti telah tinggal di sana seumur hidup.Alphonse menelusuri laci-laci dengan ketelitian seorang arsitek yang sedang membedah reruntuhan. Tangannya menyentuh berkas-berkas kelahiran, surat keputusan wali kota, peta tata ruang yang tak diperbarui sejak awal milenium. Tidak ada yang luput dari perhatiannya, terutama dokumen yang kelihatannya telah disusun ulang… atau sengaja dikaburkan.Di ujung ruang, pegawai wanita itu tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Dia menatap Alphonse yang dengan tenang membuka laci-laci berisi dokumen, seolah sudah tahu apa yang dicari. Beberapa kali dia melirik ke arah meja tapi takut jika pemuda yang tidak diketahui a

  • BAYANGAN DI BALIK WARISAN   Pertemuan Dua Bangsawan

    Dua mobil hitam diparkir sejajar di gang sempit, membelakangi jalan raya yang langsung terhubung dengan Royal Mirage Palace. Jam menunjukkan pukul 12:17 siang, tapi mendung membuat cahaya enggan menyapa. Lampu mobil dimatikan, tapi ketegangan di dalamnya justru menyala. Senyap, namun berbahaya—sepe

  • BAYANGAN DI BALIK WARISAN   Keputusan Alphonse

    Di luar Royal Mirage Palace, di tengah jalanan yang mulai padat, Officer Martinez sedang dalam perjalanan ke kantor polisi. Dia mengemudi dalam diam dengan Leo di kursi belakang mobilnya. Pria itu duduk tenang dengan tangan terborgol. Matanya menatap kosong ke luar jendela seolah semuanya telah men

  • BAYANGAN DI BALIK WARISAN   Ledakan Emosi

    Jumat, 22 Maret 2024/11:43 SiangDetektif Otero tiba di depan Kamar 708 bersama Officer Martinez—dan seorang pria lain yang kedua tangannya diborgol. Dia mengetuk dua kali, tegas namun tidak tergesa. Beberapa detik hening berlalu sebelum pintu terbuka. Sosok yang berdiri di ambang pintu itu cukup m

  • BAYANGAN DI BALIK WARISAN   Naïveté

    Jumat, 22 Maret 2024/11:31 SiangAlphonse berdiri di depan pintu Kamar 708. Tangannya yang terangkat untuk mengetuk membeku di udara saat ponselnya berdering pelan. Jarinya bergerak ringan membuka pesan singkat dari Detektif Otero: "Semuanya sudah siap. Kami sedang dalam perjalanan."Tidak ada peru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status