LOGINAlphonse Magnus, putra tunggal Lady Viscaria, dikenal sebagai pewaris keluarga bangsawan yang dihormati. Namun, di balik nama besarnya, ia hidup dalam bayang-bayang ibunya—seorang pemimpin aristokrat yang juga memiliki reputasi sebagai pemecah kasus-kasus pelik. Alphonse, yang menolak warisan takhta sosial itu, memilih jalannya sendiri sebagai seorang Detektif Konsultan dengan metode dan prinsip yang jauh berbeda dari ibunya. Perjalanannya dalam pencarian jati diri menuntunnya ke jejak rahasia keluarganya yang kelam. Alphonse mulai mempertanyakan segala yang selama ini ia percayai. Setiap petunjuk mengarah pada masa lalu yang selama ini terkubur—sebuah sejarah yang sengaja dihapus, nama-nama yang dilupakan, dan hubungan yang lebih berbahaya dari sekadar darah. Lady Viscaria melihat kegigihan putranya dengan kebanggaan sekaligus kekhawatiran. Di satu sisi, ia ingin Alphonse mengukir jalannya sendiri. Di sisi lain, ia tahu betapa berbahayanya kebenaran yang ia cari. Sebuah keputusan yang diambil puluhan tahun lalu mungkin akan menghancurkan keluarga mereka dari dalam. Di ambang jawaban yang bisa mengubah segalanya, Alphonse dihadapkan pada pertanyaan yang lebih besar: Jika ia menemukan kebenaran, apakah ia masih bisa menjadi dirinya sendiri?
View MoreKamis, 21 Maret 2024/10:21 Malam
"Kalau ini cuma kasus receh, berikan saja pada mereka yang masih percaya dunia ini adil," ujar seorang pemuda yang bersandar di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada. Suaranya datar, nyaris malas—seolah kebodohan yang sama selalu mengetuk pintunya setiap hari.
Di hadapannya berdiri seorang pria dengan tinggi rata-rata, sekitar 176 cm, dan bertubuh kokoh dengan postur yang tegap. Pria bersetelan rapi yang pas di tubuhnya itu mengenakan mantel panjang menjuntai di atas sepatunya yang dipoles.
Dia mendengus mendengar komentar pemuda itu. Wajahnya mengeras sebelum akhirnya berkata, “Sekali saja, bisakah kau menjawab tanpa terdengar seperti orang putus asa?" Suara itu terdengar lebih tegas, lebih lugas—kontras dengan nada malas yang baru saja didengarnya.
Pemuda itu menyeringai tipis, lalu tanpa banyak kata, dia mendorong pintu lebih lebar dan melangkah ke samping. "Masuk saja. Aku tahu kau nggak akan pergi sebelum dapat yang kau mau."
Detektif Otero melangkah masuk. Matanya yang tajam menyapu ruangan dengan penuh pengamatan.
Cahaya redup dari lampu meja menyorot tumpukan dokumen dan cangkir kopi setengah penuh. Keheningan yang mendominasi hanya dipecah oleh detak jam yang terdengar nyaring dalam gelap. Di balik jendela, bayangan kota malam bergerak lambat, menciptakan jurang antara dunia luar dan isolasi ruang ini.
Di satu sisi, rak-rak dipenuhi botol kaca dan tabung reaksi, sementara meja panjang berantakan dengan sketsa anatomi dan perangkat elektronik yang terbuka setengah. Di sisi lain, peta ukuran besar penuh coretan tergantung di dinding di atas lantai yang dipenuhi dokumen yang berserakan.
Apartemen di lantai tiga yang baru disewa dengan harga mahal itu telah kehilangan fungsinya sebagai tempat tinggal. Kini, tempat itu lebih menyerupai laboratorium mental tempat Alphonse Magnus mencari penghiburan dalam metode-metode tidak konvensionalnya.
“Kau tinggal di tempat seperti ini?” tanya Detektif Otero, nada suaranya mengandung sedikit kekhawatiran.
Apartemen Alphonse bukan sekadar tempat pelarian—ini adalah obsesinya untuk memahami yang tak terjelaskan. Di dalam ruangan ini, logika dan intuisi saling berbenturan, melahirkan jawaban yang hanya dia sendiri berani percayai.
Alphonse menutup pintu tanpa terburu-buru, lalu berjalan menuju salah satu kursi malasnya. Langkahnya tenang, seolah kehadiran Detektif Otero bukanlah sesuatu yang mendesak. Sesaat sebelum duduk, dia melontarkan komentar sinis yang entah untuk siapa. Kemudian, dengan gerakan santai, dia menjatuhkan diri ke kursi dan menghela napas pelan.
“Jadi, ada apa?” tanyanya, tanpa sedikit pun menunjukkan ketertarikan.
Detektif Otero tidak langsung menjawab. Matanya bergerak ke meja panjang di dekatnya, menyapu tumpukan dokumen yang berserakan. Perlahan, tangannya terulur, menyentuh salah satu berkas di atasnya, seolah mencari sesuatu untuk dijadikan pijakan. Namun, gerakannya ragu-ragu.
"Ini..." Dia menarik napas, lalu menghela pelan. "Sial, aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana."
Alphonse mengangkat alis, lalu bersandar lebih dalam di kursinya dan melipat tangannya. “Lucu. Kau ini detektif atau anak magang yang lupa cara membuka percakapan?”
Detektif Otero mendecakkan lidah dan menggeleng pelan. “Kadang aku lupa betapa menjengkelkannya dirimu.” Suaranya tetap tenang, tapi jemarinya mengetuk perlahan permukaan meja. “Dengar… ini bukan sesuatu yang mudah untuk dibicarakan. Dan aku tidak yakin kau ingin mendengarnya.”
Alphonse tidak langsung membalas. Perlahan, dia menegakkan tubuhnya, menyandarkan siku di atas lutut, dan membiarkan jari-jarinya saling bertaut. Nada sinis yang tadi mewarnai suaranya lenyap.
"Kalau begitu, jangan buang waktuku,” ujarnya dingin sambil menatap langsung ke mata Detektif Otero. “Katakan saja."
“Tiga mayat ditemukan di Royal Mirage Palace sekitar pukul sembilan empat puluh malam ini oleh seorang staf hotel,” jelas Detektif Otero setelah memantapkan hati. “Kamar ditemukannya ketiga korban terkunci dari dalam dan tidak ada tanda-tanda perlawanan. Kami berasumsi jika ini adalah bunuh diri terencana—aku tahu, tidak seharusnya kami berasumsi. Hanya saja, anggapan itu muncul dari kondisi para korban yang—”
Alphonse biasanya akan segera melontarkan komentar-komentar pedas tentang pemilihan kata atau hal-hal kecil lainnya selama penjelasan kasus berlangsung. Namun, kali ini Alphonse hanya duduk diam tanpa menyela. Menyadari hal itu, Detektif Otero tahu dia tidak bisa lagi mengulur waktu.Dengan napas tertahan, dia akhirnya menyampaikan inti kedatangannya.
“Salah satu korban yang berhasil diidentifikasi bernama Marilyn Cass.”
Mata Alphonse berkedut. Seketika, rasa bersalah merayap di tubuhnya, menggerogoti jiwanya dalam keheningan yang semakin menyesakkan. Jemarinya yang saling bertaut mengencang tanpa sadar, tetapi selain itu, dia tetap tidak bergerak.
Detektif Otero menatapnya sesaat sebelum melanjutkan. Saat dia kembali berbicara, suaranya lebih pelan, namun menghantam lebih keras. “Wanita yang pernah memintamu untuk menyelidiki kasus pamannya yang hilang.”
Alphonse membeku. Detektif Otero menunggu, tapi jawaban tidak datang dengan segera. Sampai akhirnya, Alphonse berbisik, hampir tidak terdengar.
“Aku… membuatnya menyerah.”
Alphonse menatap tangannya sendiri, seolah-olah ada sesuatu yang tidak kasatmata di sana—bekas dosa yang baru saja dia sadari. “Dia datang kepadaku. Aku menolaknya. Aku bilang itu bukan urusanku.” Suaranya datar, tapi ada retakan halus di dalamnya.
Detektif Otero tidak menjawab. Dia tahu Alphonse tidak butuh kata-kata yang menghibur.
Kalau saja…
Alphonse menelan pikirannya sendiri. Tidak. Berpikir seperti itu tidak akan mengubah apa pun. Dia menarik napas dalam, membiarkan udara memenuhi paru-parunya sebelum perlahan-lahan menghembuskannya.
Ketika dia berbicara lagi, suaranya berbeda—lebih tajam, lebih terfokus. “Tiga mayat. Kamar yang terkunci. Tidak ada tanda-tanda perlawanan.” Dia hanya menatap lurus, seolah-olah pikirannya sedang memproses sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar kejadian malam ini.
Lalu, hampir tanpa sadar, dia berbisik, “Ini bukan kebetulan...”
Bisikan itu lebih ditujukan pada dirinya sendiri. Namun, rasa penasaran Detektif Otero terlalu kuat. Dia menyipitkan mata. “Maksudmu?”
“Aku melewatkan sesuatu,” kata Alphonse. Matanya melebar sedikit dan dalam sekejap, rasa bersalah yang tadi membebani berubah menjadi sesuatu yang lain.
Alphonse segera berdiri, mendekati meja, jemarinya dengan cepat membalik dokumen-dokumen yang berserakan, mencari sesuatu. Setelah beberapa saat, dia menemukan apa yang dicarinya—sebuah catatan kecil yang sudah kusut.
Dia mengangkatnya, menunjukkannya pada si detektif.
“Ada pola di sini.” Keheningan yang mengikuti kata-katanya terasa lebih berat dari sebelumnya. Ekspresinya tidak terbaca. Namun, ada sesuatu di sorot matanya—bukan sekadar pemahaman, melainkan kesadaran yang baru saja menghantamnya. “Dan Marilyn Cass hanya salah satu bagiannya.”
Pintu di belakang Alphonse berderit tertutup, meninggalkan bunyi gembok yang tak terdengar tapi terasa. Keheningan di dalam terasa lebih pekat daripada udara luar. Bau lembap kayu tua bercampur dengan sisa asap dupa yang lama padam, seperti doa-doa yang sudah ditinggalkan. Cahaya pagi menetes dari jendela buram, pecah menjadi garis kusam di lantai yang penuh debu.Alphonse berdiri sejenak, membiarkan matanya menyesuaikan. Setiap papan lantai yang diinjaknya mengeluarkan keluhan pelan, seakan keberadaannya ditolak ruangan itu. Tak ada kursi, hanya sebuah meja kecil dengan kain altar yang sudah robek di ujungnya. Di atasnya, sebuah lilin gosong—beku dalam posisi terakhirnya—menjadi saksi diam waktu yang terhenti.Kesunyian menebal. Alphonse mengangkat jemarinya, mengusap permukaan meja, meninggalkan jejak tipis di atas debu. Dia duduk di kursi reyot di sudut ruangan, tubuhnya membungkuk sedikit ke depan, seolah siap menyambar jika bayangan pertama kali bergerak.Di luar, dentang lonceng
Senin, 25 Maret 2024/08:59 PagiLangkah kaki Alphonse terhenti ketika tanah berbatu St. Soulheim yang tak lagi disapu doa itu berubah menjadi jalan setapak yang dipenuhi dedaunan basah. Udara pagi menahan cahaya; mendung bergelayut seperti kain tua yang belum dicuci, mengaburkan batas antara langit dan tanah pemakaman. Angin yang lewat membawa aroma tanah lembap bercampur karat. Dari kejauhan, dentang lonceng gereja terdengar samar, menyerupai bisikan peringatan yang datang terlambat.Di ujung jalan sempit itu berdiri sebuah paviliun kecil. Sulur tanaman rambat menelusup ke dindingnya, seakan ingin menelan batu tua yang retak-retak. Cat kayu pada jendela sudah pudar, berganti warna kelabu pucat, sementara dedaunan kering menempel di kaca yang buram. Atapnya miring sedikit, dan lumut hijau tua menyebar bagai noda permanen. Alphonse mendapatkan kesan bahwa paviliun itu bukan sekadar bangunan, melainkan wadah bagi sesuatu yang lebih tua daripada dirinya sendiri.Alphonse berhenti di depa
Ruang arsip kembali sunyi. Tapi bukan sunyi yang biasa—melainkan sunyi yang menekan, seperti udara yang sedang menyimpan rahasia. Bau kertas tua dan logam berkarat menggantung di udara, seolah menolak dibersihkan oleh waktu atau niat baik. Lampu neon di langit-langit sesekali bergetar, mengeluarkan bunyi dengung rendah yang menambah suasana janggal.Alphonse berdiri diam di tengah lorong, tubuhnya membeku bukan karena takut, tapi karena nalurinya menjerit: sesuatu di sini belum selesai. Sesuatu sedang menunggu untuk ditemukan—atau lebih tepatnya, untuk dilepaskan.Dan dalam diam yang terlalu panjang itu, dia merasa seperti orang terakhir yang masih mendengarkan bisikan bangkai-bangkai masa lalu. Pikirannya jauh lebih dalam dari tinta dan kertas yang ada dalam semua berkas-berkas itu. Seolah setiap lembar di dalamnya menyimpan suara, dan dia mencoba mendengarkan.Pegawai wanita yang hanya diam saja akhirnya bicara. Suaranya kecil, nyaris seperti bisikan.“Anda seharusnya tidak berbicar
Di dalam ruang arsip yang sunyi, keheningan itu hampir bisa dipotong dengan pisau. Edelmar, dengan ekspresi datarnya, tidak langsung merespons. Kedua matanya yang tajam menilai, mengukur setiap kata yang terucap, namun dia tetap diam. Keheningan yang tercipta bukan karena kebingungan, tetapi lebih karena sebuah keputusan yang tengah ditimbang di dalam pikirannya."Dan jika saya bilang…” suaranya memecah keheningan. Suara itu tenang, tapi tegang, “...jarumnya memang tidak pernah berhenti, hanya tidak terdengar oleh telinga biasa?"Alphonse tersenyum tipis, ada sesuatu dalam senyum itu yang mengungkapkan lebih banyak daripada yang dia ingin ungkapkan. "Saya rasa saya sudah tahu apa yang sedang Anda coba sampaikan."Di belakang mereka, pegawai wanita itu masih berdiri kaku, seperti bayangan yang tidak ingin ikut campur. Dunia di ruang arsip terasa mengecil, hanya ada dua kutub yang saling bertarung—Alphonse dan Edelmar. Ruang ini menjadi medan magnet yang tidak terhindarkan, setiap kalim
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.