LOGINAlphonse Magnus, putra tunggal Lady Viscaria, dikenal sebagai pewaris keluarga bangsawan yang dihormati. Namun, di balik nama besarnya, ia hidup dalam bayang-bayang ibunya—seorang pemimpin aristokrat yang juga memiliki reputasi sebagai pemecah kasus-kasus pelik. Alphonse, yang menolak warisan takhta sosial itu, memilih jalannya sendiri sebagai seorang Detektif Konsultan dengan metode dan prinsip yang jauh berbeda dari ibunya. Perjalanannya dalam pencarian jati diri menuntunnya ke jejak rahasia keluarganya yang kelam. Alphonse mulai mempertanyakan segala yang selama ini ia percayai. Setiap petunjuk mengarah pada masa lalu yang selama ini terkubur—sebuah sejarah yang sengaja dihapus, nama-nama yang dilupakan, dan hubungan yang lebih berbahaya dari sekadar darah. Lady Viscaria melihat kegigihan putranya dengan kebanggaan sekaligus kekhawatiran. Di satu sisi, ia ingin Alphonse mengukir jalannya sendiri. Di sisi lain, ia tahu betapa berbahayanya kebenaran yang ia cari. Sebuah keputusan yang diambil puluhan tahun lalu mungkin akan menghancurkan keluarga mereka dari dalam. Di ambang jawaban yang bisa mengubah segalanya, Alphonse dihadapkan pada pertanyaan yang lebih besar: Jika ia menemukan kebenaran, apakah ia masih bisa menjadi dirinya sendiri?
View MoreAlphonse keluar dari paviliun tanpa menoleh ke belakang. Pintu kayu menutup dengan bunyi yang lebih pelan dari yang dia perkirakan—terlalu sopan untuk sesuatu yang baru saja mencabik dirinya dari dalam. Udara pagi menyambutnya dengan dingin yang basah. Mendung masih bergelayut rendah, seolah langit menolak memberi jarak aman.Tanah pemakaman lembap di bawah sepatunya. Setiap langkah meninggalkan jejak yang cepat memudar, ditelan dedaunan dan lumpur. Ia berhenti sejenak, mengatur napas, tapi dadanya terasa sempit—bukan karena udara, melainkan karena sesuatu yang tertinggal di dalam paviliun itu ikut keluar bersamanya.Kami hanya memakan apa yang ditinggalkan.Kalimat itu muncul tanpa izin, bersarang di kepalanya seperti bau dupa yang menempel di pakaian. Alphonse mengusap wajahnya dengan telapak tangan, mencoba menghapus sensasi kasar kain jubah yang tadi ia genggam. Jemarinya masih ingat teksturnya. Itu yang paling ia benci—bahwa tubuhnya mengingat lebih cepat daripada pikirannya.“Bo
Pintu di belakang Alphonse berderit tertutup, meninggalkan bunyi gembok yang tak terdengar tapi terasa. Keheningan di dalam terasa lebih pekat daripada udara luar. Bau lembap kayu tua bercampur dengan sisa asap dupa yang lama padam, seperti doa-doa yang sudah ditinggalkan. Cahaya pagi menetes dari jendela buram, pecah menjadi garis kusam di lantai yang penuh debu.Alphonse berdiri sejenak, membiarkan matanya menyesuaikan. Setiap papan lantai yang diinjaknya mengeluarkan keluhan pelan, seakan keberadaannya ditolak ruangan itu. Tak ada kursi, hanya sebuah meja kecil dengan kain altar yang sudah robek di ujungnya. Di atasnya, sebuah lilin gosong—beku dalam posisi terakhirnya—menjadi saksi diam waktu yang terhenti.Kesunyian menebal. Alphonse mengangkat jemarinya, mengusap permukaan meja, meninggalkan jejak tipis di atas debu. Dia duduk di kursi reyot di sudut ruangan, tubuhnya membungkuk sedikit ke depan, seolah siap menyambar jika bayangan pertama kali bergerak.Di luar, dentang lonceng
Senin, 25 Maret 2024/08:59 PagiLangkah kaki Alphonse terhenti ketika tanah berbatu St. Soulheim yang tak lagi disapu doa itu berubah menjadi jalan setapak yang dipenuhi dedaunan basah. Udara pagi menahan cahaya; mendung bergelayut seperti kain tua yang belum dicuci, mengaburkan batas antara langit dan tanah pemakaman. Angin yang lewat membawa aroma tanah lembap bercampur karat. Dari kejauhan, dentang lonceng gereja terdengar samar, menyerupai bisikan peringatan yang datang terlambat.Di ujung jalan sempit itu berdiri sebuah paviliun kecil. Sulur tanaman rambat menelusup ke dindingnya, seakan ingin menelan batu tua yang retak-retak. Cat kayu pada jendela sudah pudar, berganti warna kelabu pucat, sementara dedaunan kering menempel di kaca yang buram. Atapnya miring sedikit, dan lumut hijau tua menyebar bagai noda permanen. Alphonse mendapatkan kesan bahwa paviliun itu bukan sekadar bangunan, melainkan wadah bagi sesuatu yang lebih tua daripada dirinya sendiri.Alphonse berhenti di depa
Ruang arsip kembali sunyi. Tapi bukan sunyi yang biasa—melainkan sunyi yang menekan, seperti udara yang sedang menyimpan rahasia. Bau kertas tua dan logam berkarat menggantung di udara, seolah menolak dibersihkan oleh waktu atau niat baik. Lampu neon di langit-langit sesekali bergetar, mengeluarkan bunyi dengung rendah yang menambah suasana janggal.Alphonse berdiri diam di tengah lorong, tubuhnya membeku bukan karena takut, tapi karena nalurinya menjerit: sesuatu di sini belum selesai. Sesuatu sedang menunggu untuk ditemukan—atau lebih tepatnya, untuk dilepaskan.Dan dalam diam yang terlalu panjang itu, dia merasa seperti orang terakhir yang masih mendengarkan bisikan bangkai-bangkai masa lalu. Pikirannya jauh lebih dalam dari tinta dan kertas yang ada dalam semua berkas-berkas itu. Seolah setiap lembar di dalamnya menyimpan suara, dan dia mencoba mendengarkan.Pegawai wanita yang hanya diam saja akhirnya bicara. Suaranya kecil, nyaris seperti bisikan.“Anda seharusnya tidak berbicar
Di dalam ruang arsip yang sunyi, keheningan itu hampir bisa dipotong dengan pisau. Edelmar, dengan ekspresi datarnya, tidak langsung merespons. Kedua matanya yang tajam menilai, mengukur setiap kata yang terucap, namun dia tetap diam. Keheningan yang tercipta bukan karena kebingungan, tetapi lebih
Ruang arsip kota St. Soulheim menyimpan napas masa lalu dalam setiap rak berdebu dan laci berderit. Aroma kertas tua menyatu dengan udara yang stagnan, seakan waktu enggan bergerak di tempat ini. Di tengah lorong sempit berisi berkas dan dokumen catatan sipil, berdiri seorang pria asing yang baru s
Senin, 25 Maret 2024/07:37 PagiKabut tipis masih melayang di atas trotoar ketika langkah Alphonse berhenti di depan sebuah bangunan tua dengan papan nama berkarat yang tergantung miring: Kantor Arsip Kota St. Soulheim. Batu-batunya kusam, jendelanya tinggi dan gelap, dan pagar besinya berkarat di
Pukul 07.13 pagi.Tuan Greaves tahu itu tanpa perlu melihat jam. Suara ketiga burung pipit yang biasanya baru mulai bernyanyi pada pukul 07.11 kini terdengar dua menit lebih lambat—barangkali udara terlalu lembab. Atau mungkin karena hujan semalam. Dia tidak memperdebatkannya. Pria tua itu hanya me
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.