Share

02. ~BCSI~

Arcelia menatap tubuh Karan yang tergeletak tidak sadar di atas karpet tebal. Satu kaki gadis itu bergerak menggoyang tubuh Karan.

"Paling cuma pingsan," gumamnya.

Usai mengenakan baju yang layak, Arcelia berjalan mondar-mandir di depan tubuh Karan yang masih pingsan. Otaknya berpikir keras memikirkan apa yang harus ia lakukan jika Karan sadar nanti.

"Kabur di malam pertama lalu mengadukan pada mertua, kalau aku menolak melakukan kewajiban karena Karan jahat?" Arcelia lantas menggeleng.

"Tidak mungkin, tidak akan ada yang percaya mengingat Karan seperti malaikat bagi mereka. Orang tuaku sendiri saja sangat percaya pada Karan."

Bahkan, saat perayaan pernikahan, banyak orang yang memberi selamat dan mengatakan jika Arcelia adalah gadis paling beruntung yang dipilih oleh Karan menjadi istri. Banyak juga para gadis yang menatap sinis karena iri padanya.

"Si*l, aku paling si*l bukan beruntung!" Arcelia baru mengetahui kepribadian buruk Karan usai melangsungkan ijab qobul. Di dalam ruang ganti, Karan memperlihatkan sisi jahatnya pada Arcelia.

Arcelia mengacak rambutnya karena merasa frustasi. "Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?"

"Tenang, Arche. Tenang, mari berpikir dengan tenang lalu temukan jalan keluar." Beberapa kali, Arcelia menarik napas lalu menghembuskan dengan perlahan.

"Oke, pertama-tama aku harus membatasi geraknya."

Arcelia mengambil kain sprei serta gunting, usai menyiapkan segalanya. Gadis itu mengikat tangan serta kaki Karan.

"Selesai, tinggal menutup mulutnya menggunakan selotip. Ah, aku bisa tidur dengan tenang." Arcelia menatap puas dengan hasil kerjanya.

Namun, tidak seperti yang diinginkan, Arcelia tidak bisa tidur dengan nyenyak, otaknya terus sibuk memikirkan bagaimana cara terlepas dari Karan.

Sementara di bawah sana, Karan mulai membuka matanya secara perlahan, ketika laki-laki itu hendak menggerakkan bibir tidak bisa, terasa sulit serta kaku.

'Aku tidak mungkin stroke, kan?' batinnya panik.

Karan mencoba mengangkat tangan, kelopak matanya beberapa kali mengerjap mencoba mengembalikan kesadaran sepenuhnya ketika merasakan berat untuk sekedar menggerakkan tangan.

Kedua tangan Karan diikat dengan potongan sprei yang membentang pada kaki meja hingga membuat gerakan Karan terbatas.

'Si*l. Gadis itu melakukan hal yang diluar nalar.' 

Dengan susah payah, Karan mencoba melepaskan selotip yang menutup mulutnya.

"Aw. Arcelia Parvin!!" Teriak Karan membahana usai berhasil membebaskan mulutnya. Bibirnya terasa kebas dan perih akibat selotip itu.

Arcelia tersentak kaget, namun gadis itu tetap diam berpura-pura tidur.

"Arcelia! Kemari kau, jangan pura-pura tidur!"

Karan tidak bisa melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya, sebab Arcelia mengikat begitu banyak dan tebal.

"Ya ampun, kenapa dia sudah sadar. Aku belum menemukan jalan keluar," gumam Arcelia resah.

"Arcelia!!!!" Karan kembali berteriak.

Dengan santai, Arcelia duduk di tepian ranjang, berpura-pura tidak takut meski sejujurnya dia takut. Tubuh Karan itu berotot dan besar. Meski Arcelia sedikit menguasai ilmu bela diri, akan tetapi ia bukan lawan yang seimbang untuk Karan.

"Berisik! Apa mau aku pukul lagi?" Tantangnya dengan tangan yang mengepal seolah hendak memukul.

Melotot karena terkejut, Karan tidak mengira gadis yang ia anggap anggun ternyata memiliki sisi bar-bar yang tidak terduga.

"Lepaskan ikatan ini, aku ingin tidur di atas kasur bukan di sini," katanya menggeram.

"Tidak akan! Kamu pikir aku akan tertipu lagi? Setelah aku lepaskan pasti kamu akan mengeksekusi aku, kan? Jangan harap!" balas Arcelia sengit.

'Bahkan mungkin dia bisa menggantungku karena aku sudah membuatnya pingsan.'

"Tidak, aku lelah ingin istirahat. Cepat lepaskan!"

"Ya, sudah istirahat tinggal istirahat, apa salahnya sekali-kali bos besar tidur di atas karpet," balas Arcelia santai.

Karan memejamkan matanya, menahan rasa kesal. "Arcelia, kau ingin membuat suamimu sakit? Aku bisa masuk angin jika tidur di bawah sini." Karan berbicara dengan nada yang lembut.

Tersenyum sinis, Arcelia meraih selimut. Gadis itu berjalan mendekat lalu menyelimuti Karan yang penuh dengan ikatan hingga menyerupai ulat.

"Tidur yang nyenyak, ya suamiku. Sudah aku selimuti, kamu tidak akan kedinginan. Oh, iya. Aku juga akan menyalakan penghangat ruangan, supaya kamu tidak masuk angin." Arcelia berucap tak kalah lembut.

Menggeleng beberapa kali, Karan bisa menangkap maksud rencana Arcelia. "Jangan, jangan melakukan hal gila Arcelia. Kau berniat membakarku? Menyalakan penghangat ruangan dan menutupiku se-rapat ini menggunakan selimut tebal!"

Mengangguk polos. Arcelia lalu tersenyum manis. "Bila perlu aku akan menambah selimutnya, hahaha."

"Arcelia, aku ini suami kamu, tidak seharusnya kau durhaka pada suami!" kesal Karan.

"Ck." Arcelia berdecak sembari menggelengkan kepala. "Sepertinya kepalamu butuh dipukul agar mengingat apa yang telah kamu lakukan. Membentakku, merobek bajuku, memaksa agar melayanimu. Bukankah itu durhaka terhadap istri? Aku hanya melakukan apa yang suamiku contohkan. Bersyukurlah karena kamu mendapatkan istri yang pandai."

Arcelia menahan tawanya. Ia tidak mau menjadi istri model sinetron ikan tenggelam yang selalu sabar dan hanya bisa menangis meratapi meski nyaris mati karena disakiti suami. Tidak! Arcelia akan membalas sesuai apa yang ia dapatkan. Hidup keadilan istri!

Karan mengatupkan bibirnya, seakan kehilangan kata-kata. Kedua matanya menatap Arcelia dengan sorot yang sangat-sangat tidak percaya. Benar-benar diluar ekspektasinya. Ia pikir, Arcelia akan menurut dan tunduk padanya. Namun, nyatanya ....

Arcelia beranjak dari posisinya, gadis itu mencari kertas yang ada di laci. Menulis beberapa poin untuk dijadikan kesepakatan, menjamin dirinya sendiri dari sisi jahanam Karan. Sebab ia tidak mungkin begitu saja menggugat cerai Karan tanpa masalah yang terlihat nyata, apa lagi mereka baru menikah satu hari.

"Setidaknya ini berguna selama aku mengumpulkan bukti kejahatannya agar bisa terlepas darinya," gumam Arcelia sembari menulis dengan serius.

"Arcelia, lepaskan aku, ini sangat panas. Aku berjanji tidak akan memaksamu!" teriak Karan sembari menggerak-gerakkan tubuhnya karena tidak tahan dengan suhu panas.

"Siapa yang akan percaya dengan mulut manusia pohon pisang sepertimu," cibir Arcelia masih sembari menulis.

"Manusia pohon pisang?" tanya Karan bingung. Sesaat ia menunduk melirik kebanggaannya.

"Ya, punya jantung tapi tidak punya hati. Minus akhlak!"

"Si*l!" Karan mengumpat lirih.

"Aku benar-benar berjanji, Arcelia." Suara Karan terdengar memohon.

"Baiklah."

Arcelia kembali menghampiri Karan yang masih berbaring. "Aku akan melepaskanmu dengan syarat."

Satu lembar kertas, Arcelia tunjukkan. "Baca ini baik-baik. Kamu harus setuju tanpa penolakan."

Karan asal mengangguk saja, mengira isi surat itu yang paling akan berujung dengan penalti uang. Ia banyak uang, tidak masalah jika nanti melanggar peraturan itu.

"Lepaskan aku dulu, supaya aku bisa tanda tangan," kata Karan tidak sabar.

"Tidak. Aku hanya membutuhkan stempel ibu jarimu. Jadi kamu setuju, ya dan tidak boleh melanggarnya." Arcelia meraih tangan Karan, menuntun ibu jari Karan untuk menyentuh tinta lalu menempelnya di kertas.

"Selesai, biar aku bacakan isinya supaya kamu paham."

"Ya ya ya, aku akan mendengarnya," balas Karan malas.

 Arcelia membaca setiap poin yang ia buat hingga berakhir pada penalti. "Jika Karan Hanenda melanggar, maka seluruh aset kekayaannya akan menjadi milik Arcelia Parvin, seutuhnya tanpa terkecuali dan Karan akan ditendang menjadi gelandangan." Arcelia tersenyum puas melihat wajah Karan yang berubah menjadi pias.

Mendengar penalti mengerikan itu, kedua mata Karan membola hingga nyaris keluar dari tempatnya, nafas laki-laki itu pun tercekat serasa tidak bisa bernapas.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status