INICIAR SESIÓNDi balik tubuhnya yang lebih besar dari kebanyakan gadis seusianya, Sera menyembunyikan kecantikan yang tak pernah terlihat oleh dunia. Putih, mulus, dan anggun, namun tubuhnya seolah menjadi penjara bagi keindahan yang seharusnya bersinar. Semua itu terjadi karena ayahnya, yang dengan rasa takut yang berlebihan, membuatnya gemuk—sebagai cara untuk menyembunyikan kecantikan yang dipercaya bisa membawa bahaya. Tumbuh dengan rasa takut dan kehilangan kepercayaan diri, Sera berjuang mengatasi rasa rendah dirinya, hingga suatu hari, di desa Sera dan Kai bertemu, perasaan cinta muncul. Namun, Kai tak bisa berbuat banyak—meskipun dia menyukai Sera, dia tak berani mengungkapkan perasaannya karena takut dihina teman-temannya.
Ver másSera melangkah pelan di jalan desa yang berbatu dan rusak. Tas berisi perlengkapan lukis menggantung di bahunya, sementara easel ia pegang di tangan kiri. Setiap beberapa langkah, ia harus menyesuaikan pijakan agar tidak tersandung batu atau tanah yang tidak rata.
Udara pedesaan terasa segar, sedikit lembap, dengan aroma rumput dan tanah basah yang samar. Di kejauhan, hamparan sawah hijau membentang luas, berkilau terkena cahaya sore. Angin menggerakkan padi-padi muda, membuatnya bergoyang seperti gelombang kecil. Ia sedang menuju tempat yang sudah biasa ia datangi untuk melukis—sebuah sudut sepi di tepi sawah, dekat saung kecil yang jarang dilewati orang. Di tempat itu, Sera merasa bisa bernapas lebih lega. Tidak ada tatapan. Tidak ada suara yang menuntut. Hanya warna, angin, dan pikirannya sendiri. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari arah berlawanan, sebuah mobil melaju perlahan di jalan berbatu itu. Suaranya terdengar berat, seperti harus bekerja ekstra melewati permukaan jalan yang tidak ramah. Lalu tiba-tiba terdengar bunyi berdecit panjang, tajam, memecah udara sore. Mobil itu melambat drastis. Sera menghentikan langkahnya. Dari kejauhan, ia melihat mobil itu berhenti miring sedikit. Seorang pria muda keluar dari dalamnya. Usianya terlihat tidak jauh berbeda dengan Sera. Ia langsung berjalan ke belakang mobil dan membungkuk, memeriksa ban dengan wajah serius. Sera berdiri beberapa meter dari situ, terdiam. Jalan yang ia lalui memang sempit—hanya cukup untuk satu mobil lewat. Sekarang mobil itu berhenti tepat di tengah jalan, menutup jalur satu-satunya yang bisa ia lewati. Dengan tubuhnya yang berisi dan perlengkapan lukis yang cukup besar, Sera tahu ia tidak mungkin menyelip begitu saja di sisi mobil. Ia menggenggam tali tasnya, menimbang-nimbang, tapi tidak tahu harus melakukan apa. Akhirnya ia hanya berdiri, menunggu, dengan tubuh sedikit menegang. Pria muda itu mendongak ketika mendengar suara dari dalam mobil. “Kai, gimana bannya? Ada masalah?” suara seorang pria tua terdengar, agak keras. Pria muda itu—Kai—menghela napas pendek. “Kena paku, Yah. Bocor.” Tak lama kemudian, pria tua itu keluar dari mobil. Rambutnya sudah mulai memutih, tapi langkahnya masih tegap. Begitu matanya menangkap sosok Sera yang berdiri di depan mobil, ia berhenti sejenak, lalu mendekat dengan wajah ramah. “Mau lewat, Neng?” tanyanya. Sera sedikit terkejut. Ia mengangguk pelan, nyaris tidak mengangkat wajah. “I-iya…” Pria itu tersenyum kecil. “Tunggu sebentar, ya.” Ia menoleh ke arah Kai. “Kai, dorong dulu mobilnya ke pinggiran. Itu si Neng mau lewat.” Kai yang tadi menunduk melihat ban, akhirnya mengangkat kepala. Pandangannya jatuh ke arah Sera. Ia terdiam sebentar, seperti ragu harus berkata apa. Sera merasa tidak nyaman berada di bawah tatapan itu. Ia menunduk lagi, jari-jarinya meremas tali tas. Kai mulai mendorong mobil perlahan. Ban yang bocor membuat mobil berat, sementara batu-batu kecil di bawahnya membuat gerakan tidak stabil. Tubuh Kai sedikit condong ke depan, menahan beban. Tiba-tiba roda depan tergelincir beberapa senti. “Hati-hati!” seseorang berteriak dari dalam mobil. Sera refleks mundur. Kakinya menginjak batu tajam. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Easel di tangannya terlepas, jatuh menghantam tanah berbatu dengan suara keras. Kanvas yang terpasang di sana ikut terseret, permukaannya tergores panjang. Sera membeku. Matanya menatap kanvas itu tanpa berkedip. Garis-garis yang sudah ia buat dengan susah payah kini rusak oleh goresan kasar. Dadanya terasa penuh, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. Ia menelan ludah, tapi tidak menangis. Tidak juga bersuara. Kai berhenti mendorong mobil. Ia menoleh dan melihat kanvas itu di tanah. Wajahnya langsung berubah. Ia mendekat cepat. “Maaf… aku nggak sengaja. Aku benar-benar minta maaf.” Sera mengangkat wajahnya sedikit. Tatapannya bertemu mata Kai hanya sesaat, lalu jatuh lagi ke tanah. “Gapapa…” katanya pelan, hampir tidak terdengar. Namun jemarinya gemetar ketika ia berjongkok dan memungut kanvas itu. Ia membersihkan debu dengan telapak tangan, meski tahu goresan itu tidak akan hilang. Kuas ia masukkan asal ke dalam tas. Semua gerakannya cepat, tergesa, seperti ingin segera selesai. Kai berdiri di dekatnya, ingin berkata sesuatu lagi, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Sera berdiri. Ia pergi tanpa menoleh. Bahunya terlihat tegang, langkahnya cepat, seperti ingin segera keluar dari tempat itu. Kai tetap berdiri di samping mobil. Kata-kata yang ingin ia ucapkan terasa berat di lidahnya. Yang tersisa hanya perasaan tidak enak yang menggantung. Sera terus berjalan menjauh. Ia tidak ingin memikirkan apa pun. Ia hanya ingin sampai ke saung itu, ke tempat yang biasanya membuatnya merasa aman. Angin sore menyentuh wajahnya, tapi tidak menenangkan seperti biasanya. Di belakangnya, tanpa ia sadari, Kai memperhatikannya sampai sosoknya makin kecil dan akhirnya hilang di tikungan jalan. Ia mengerutkan kening. Cara Sera berjalan terasa berbeda—lebih cepat, lebih kaku. “Dia kenapa?” gumamnya pelan. Sera duduk di saung kecil di tengah sawah. Kanvas besar sudah terpasang di easel. Kuas bergerak pelan di tangannya. Ia melukis gunung di kejauhan, sawah hijau yang membentang, dan langit yang mulai berubah warna. Biasanya, melukis membuat pikirannya tenang. Tapi kali ini, wajah Kai terus muncul di kepalanya. Cara dia minta maaf. Cara dia berdiri bingung di samping mobil. Kuasnya berhenti sebentar. Ia teringat mobil itu bergerak ke arah rumahnya—rumah yang berada di ujung jalan buntu. Tidak ada rumah lain setelah rumahnya, kecuali villa kayu besar yang sudah lama kosong. “Jangan-jangan mereka ke rumahku…” pikirnya. Lalu ia menggeleng kecil. “Atau ke villa itu…” Angin sore meniup rambutnya, tapi pikirannya masih tertinggal di jalan berbatu tadi. Setelah mobilnya selesai diurus, satu keluarga itu tiba di depan sebuah gerbang kayu besar. Di baliknya berdiri sebuah villa dengan dinding kayu jati berwarna cokelat hangat. Terlihat tua, tapi terawat. Di depannya ada kolam ikan kecil, airnya jernih, dan di sekelilingnya sawah membentang luas. “Ini tempat kita?” tanya Leo dengan mata berbinar. “Iya,” jawab Bu Maya sambil tersenyum. “Cantik, kan?” Kai menatap keluar jendela. Tempat ini terasa sunyi, tapi bukan sunyi yang menekan. Ada sesuatu yang ringan di udara. Villa itu berdiri agak jauh dari perkampungan. Di seberangnya ada rumah besar dengan halaman luas dan kandang sapi di belakangnya. “Yang punya rumah depan kita ini pasti orang kaya,” kata Pak Anton. “Lihat tuh peternakannya.” “Kayak rumah di film,” tambah Bu Maya. “Aku mau lihat sapi!” teriak Leo. “Nanti setelah beresin barang,” jawab ibunya sambil tertawa. Kai turun dari mobil, menghirup udara dalam-dalam. Ia melirik ke arah rumah besar di seberang. Entah kenapa, rumah itu membuatnya teringat pada gadis di jalan tadi—yang menunduk, yang kanvasnya tergores karena dia. Ia tidak tahu namanya. Tapi bayangan gadis itu terasa lebih dekat dari yang seharusnya.Lapangan tujuhbelasan mulai lengang. Sorak-sorai masih terdengar, tapi satu per satu orang sudah beralih ke lomba berikutnya. Di pinggir lapangan, hanya Leo yang tersisa—berdiri sendirian, matanya sesekali mencari ke arah kerumunan, seolah berharap dua sosok yang tadi bersamanya muncul kembali.Tak lama kemudian, seorang nenek berjalan pelan mendekat. Rambutnya disanggul sederhana, wajahnya penuh garis usia yang lembut. Itu nenek Sera.“Leo,” panggilnya pelan. “Kamu lihat Sera?”Leo menoleh cepat. “Tadi ikut lomba balap karung, Nek.”Nenek itu tertegun. Alisnya terangkat, jelas terkejut. “Sera… ikut lomba?” ulangnya, seolah tak yakin dengan apa yang ia dengar. Selama ini, cucunya itu bahkan jarang mau berdiri di tengah keramaian, apalagi ikut perlombaan.“Iya,” jawab Leo jujur. “Terus… habis itu dia pergi. Sama Kak Kai.”“Kai?” Nenek itu menoleh ke sekeliling. “Sekarang di mana mereka?”Leo menggeleng. “Aku juga nggak tahu. Kak Kai tadi jalan ke arah sana, terus nggak kelihatan lagi.”
Lomba balap karung menjadi pembuka acara tujuhbelasan sore itu. Nama Sera sudah terdaftar di papan peserta—tulisan tangannya sendiri yang sedikit miring, seolah ragu dengan keputusan yang baru saja ia ambil. Di bawah namanya, tertera beberapa nama lain yang ia kenal: Zahra, Nisa, Chika, Olive. Nama-nama yang selama ini ada di sekelilingnya, tapi jarang benar-benar bersamanya.Di sisi lapangan, Kai dan Leo berdiri memberi semangat. Leo melompat-lompat kegirangan sambil meneriakkan nama Sera, seolah yang akan berlomba itu adalah kakaknya sendiri. Kai hanya berdiri agak kaku, menepuk tangan pelan. Mereka memang belum benar-benar akrab—baru sehari saling mengenal—tapi entah kenapa, Kai merasa tak tega membiarkan Sera sendirian di tengah tatapan orang-orang yang terasa berat.Peluit ditiup.Para peserta mulai melompat bersamaan. Tawa pecah di mana-mana. Karung-karung bergoyang, tubuh-tubuh terhuyung. Ada yang langsung jatuh, ada yang tertawa sambil bangkit lagi. Sera melompat dengan susah
Sesampainya di rumah, Kai dan Leo langsung disambut aroma nasi hangat yang memenuhi udara. Dari ruang makan terdengar bunyi piring beradu pelan, sendok yang diketuk ringan ke tepi mangkuk. Ayah dan ibu mereka ternyata sudah lebih dulu makan, tinggal menunggu dua anaknya yang pulang belakangan.Bu Maya menoleh begitu melihat mereka masuk. Wajahnya langsung melunak.“Akhirnya pulang juga. Cuci tangan dulu, jangan langsung duduk.”Leo tanpa menunggu dua kali langsung berlari ke kamar mandi. Langkahnya kecil tapi cepat, seperti selalu takut ketinggalan sesuatu. Kai menyusul lebih pelan, sambil melepas jaket dan menggantungkannya di belakang kursi.Beberapa menit kemudian mereka duduk di meja makan. Nasi masih mengepul, lauk masih hangat.Bu Maya membuka suara. “Tadi Pak RT sempat ke sini.”Kai mengangkat kepala. “Ada apa, Ma?”“Besok ada acara tujuh belasan di kampung. Katanya pendatang juga boleh ikut. Mau ikut lomba atau cuma nonton aja juga nggak apa-apa.”Mata Leo langsung berbinar, s
Aroma rendang memenuhi villa itu sejak siang. Dari dapur, bau santan dan rempah yang dimasak lama-lama naik ke seluruh ruangan, hangat, pekat, dan seperti menempel di dinding-dinding rumah.Bu Maya berdiri di depan kompor, mengaduk rendang dengan sabar. Sendok kayu bergerak pelan, memutar daging yang mulai menghitam dan berminyak. Keringat tipis muncul di pelipisnya, tapi wajahnya terlihat puas, seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu yang sangat dia kenal sejak lama.“Namanya juga orang Padang,” gumamnya sambil tersenyum kecil. “Kalau soal rendang, nggak bisa asal.”Kai lewat di depan dapur lalu berhenti. Dia mengendus pelan. “Wangi banget, Ma.”Leo muncul di belakangnya, mengucek mata. “Aku laper…”Bu Maya tertawa kecil. “Sabar. Ini bukan cuma buat kita.”Dia mematikan kompor, lalu memindahkan rendang ke wadah sederhana. Tutupnya ditutup rapat, tapi aroma masih tetap keluar, seolah tidak mau dikurung.“Kalian sudah dua hari di sini, tapi belum nyapa tetangga depan,” katanya sa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.