LOGINWho exactly is THE BLOODHOUNDS? Billionaires who are experts in the security and weapon field along with property. Involved with the mafia, sometimes they kill people if necessary. Control lots of organizations, helping them sometimes. They get involved with the mafia but on their good side. Let me introduce you to the third member of the group. ARES YOUNG, THE MALICE. Let me introduce you to the fourth member of the group. MASON CALLAND, THE DARK KNIGHT.
View More“Awas, Hana! Menghindar dari situ! lampu gantungnya lepas,” seru seorang pria yang berprofesi sebagai seorang fotografer, di sesi pemotretan untuk iklan sebuah apartemen.
Hana, sang fotomodel pun menghindar dengan berupaya berlari menjauh dari sana. Namun, kostum yang Hana kenakan rupanya mempersulit langkah gadis itu. Hana yang saat ini memakai gaun panjang dengan high heels setinggi sepuluh sentimeter, hanya mampu bergerak satu langkah. Dia kemudian terjatuh akibat kakinya menginjak ujung gaun, karena melangkah dengan tergesa-gesa. Akhirnya lampu gantung itu terjatuh di samping Hana, dan serpihan kaca lampu itu mengenai wajahnya.
Prang!
“Argghh!” pekik Hana ketika serpihan kaca lampu gantung mengenai wajahnya. Dalam waktu sekejap, darah membasahi wajah gadis itu.
Manager Hana dan beberapa kru yang terlibat dalam pemotretan itu, segera menghambur ke arah Hana dan menggotong tubuh gadis itu ke sofa.
“Cepat panggil ambulans! Hana harus segera dibawa ke rumah sakit!” titah seorang pria pada Mutia, manager Hana.
Mutia dengan cepat menekan angka pada telepon genggamnya, dan melakukan panggilan telepon ke salah satu rumah sakit. Dia meminta agar rumah sakit itu segera mengirim ambulans ke lokasi pemotretan.
Tak lama, ambulans tiba di lokasi pemotretan dan membawa Hana menuju rumah sakit.
***
Mata Hana mengerjap kala sinar mentari menerobos masuk dari celah tirai jendela ruang rawat, tempat gadis itu berada saat ini. Hana membuka kelopak matanya, dan dia merasakan wajahnya dibungkus kain perban yang cukup tebal. Rasa nyeri perlahan menjalar di permukaan wajahnya. Dia menatap langit-langit kamar, dan matanya pun mulai berkaca-kaca kala kini dia merasa dunianya sudah berakhir.
Ingatan Hana kembali ke kejadian kemarin siang, kala dia sedang melakukan pekerjaannya sebagai seorang fotomodel. Pekerjaan yang baru dia tekuni selama enam bulan, dan untuk iklan apartemen tersebut adalah yang pertama kalinya dia menjalani sebagai model iklan. Biasanya dia bekerja sebagai model pakaian di sebuah butik. Namun, kini sepertinya dia harus rela kehilangan pekerjaannya itu, karena wajahnya sudah rusak akibat terkena serpihan kaca lampu gantung apartemen.
Hana seketika histeris menyadari kalau dia sudah terpuruk saat ini.
“Arghh.”
Teriakannya itu membuat Mutia yang sedang tidur di sofa, terbangun dan bergegas menghampiri Hana.
“Han, kamu sudah bangun?” tanya Mutia dengan suara serak, khas orang baru bangun tidur.
“Mbak Mutia, bagaimana dengan karir aku ke depannya kalau wajahku kini sudah hancur?” ucap Hana lirih. Ucapannya terdengar pilu, dan siapa saja yang mendengarnya akan iba pada nasib gadis itu.
“Dokter mengatakan kalau wajah kamu bisa pulih setelah dilakukan operasi, Han,” sahut Mutia.
“Tapi, biayanya pasti mahal, iya kan?” tebak Hana. Dia mulai frustasi karena sebagai model baru, dia tidak punya banyak tabungan. Penghasilannya sebagai fotomodel untuk membantu ibunya menutupi biaya hidup keluarga, setelah ayahnya meninggal dunia.
Mutia, sang manager sekaligus kakak sepupu Hana menganggukkan kepalanya pelan.
“Dokter bilang, biayanya sekitar seratus juta. Itu hanya biaya operasinya saja, belum termasuk biaya pengobatan dan biaya rawat inap. Kalau dijumlah mungkin bisa mencapai dua ratus juta atau lebih. Itu karena luka kamu cukup parah, Han,” jelas Mutia.
“Lalu yang sekarang ini, siapa yang membiayai? Aku atau pihak pengembang apartemen itu?” tanya Hana.
“Kemarin malam perwakilan Barata Group mengatakan, bahwa pihak perusahaan akan bertanggung jawab atas kejadian itu. Mereka akan menanggung seluruh biaya pengobatan maupun rawat inap kamu selama di sini. Tapi, ketika dokter mengatakan kalau wajah kamu akan pulih kembali dengan cara melakukan operasi, pihak Barata Group tidak merespon,” ucap Mutia dengan suara perlahan.
“Lho, kok mereka tidak merespon? Seharusnya mereka juga bertanggung jawab atas musibah yang aku alami ini, Mbak. Aku juga tidak mau mengalami musibah seperti ini. Tapi, namanya musibah kan kita tidak bisa mengelak. Seharusnya mereka juga bertanggung jawab untuk mengembalikan wajahku seperti semula. Menurut Mbak Mutia, sekarang aku harus bagaimana?” tanya Hana lirih.
“Aku ada pikiran untuk mengajukan tuntutan ganti rugi ke pihak manajemen Barata Group, untuk membiayai operasi pada wajah kamu. Wajah kamu itu aset berharga kamu, Han. Jadi harus dipulihkan. Bagaimana? Apa kamu setuju dengan ideku ini?” tanya Mutia.
“Tolong lakukan hal itu untukku, Mbak. Wajah aku ini harus dipulihkan. Aku tidak mau kehilangan pekerjaanku. Mbak tahu sendiri kalau aku membiayai hidup keluarga dan kuliahku, dari pekerjaanku sebagai seorang fotomodel,” sahut Hana. Dia menggenggam erat jemari Mutia.
“Iya, Han. Kamu tenang saja. Hari ini aku akan ke kantor Barata Group meminta ganti rugi. Kamu nggak masalah kan kalau aku tinggal sebentar? Sebentar lagi ibu kamu akan datang kemari. Aku sudah menghubunginya semalam,” ucap Mutia.
“Iya, Mbak. Aku nggak apa-apa di sini sendiri,” sahut Hana.
“Ok, aku akan pulang sebentar untuk mandi. Setelah itu, aku langsung ke kantor Barata Group,” ucap Mutia yang diangguki oleh Hana.
Siang harinya, Mutia datang ke ruang rawat inap dengan langkah gontai. Wajahnya terlihat tak bersemangat. Hal itu membuat Hana risau.
“Bagaimana hasilnya, Mbak?” tanya Hana.
“Pihak perusahaan nggak mau menanggung biaya operasi pada wajah kamu, Han. Pihak Barata Group bilang, kalau mereka sudah bertanggung jawab dengan membiayai pengobatan dan rawat inap kamu di sini. Masalah operasi itu menjadi urusan kamu. Mereka juga mengatakan kalau pihak Barata Group sudah berbaik hati tidak membatalkan kontrak. Mereka tetap menunggu hingga kamu pulih dan siap untuk melakukan pemotretan lagi,” jelas Mutia.
“Tapi, musibah ini kan karena kelalaian mereka juga yang nggak tepat pasang lampu gantungnya,” ucap Hana mulai kesal.
“Aku sudah jelaskan pada mereka tadi. Mereka bilang, namanya musibah tidak bisa dicegah jadi jangan mencari kambing hitam, begitu kata mereka tadi. Aku juga kesal mendengar jawaban mereka, Han,” ucap Mutia.
“Tapi, ini tetap nggak adil buatku, Mbak,” ucap Hana mulai terisak.
Mutia terdiam. Dia tampak tengah berpikir untuk mencari solusi terbaik bagi adik sepupunya itu.
“Han, aku punya ide. Bagaimana kalau kita menempuh jalur hukum? Kamu setuju nggak? Barangkali saja pihak Barata Group bisa berubah pikiran jika kita menempuh jalur hukum,” tutur Mutia.
“Tapi, biaya pengacara kan mahal, Mbak. Bisa jadi biaya pengacara lebih mahal dari pada biaya operasi wajahku,” ucap Hana.
“Aku punya teman yang berprofesi sebagai pengacara, Han. Kita bisa negosiasi nanti sama dia, bagaimana?” tanya Mutia.
Hana terdiam sejenak, hingga akhirnya dia menganggukkan kepalanya. “Ok, Mbak, aku setuju.”
***
Hana dengan diwakili oleh Mutia, akhirnya melakukan tuntutan ganti rugi melalui jalur hukum. Hal itu membuat pihak Barata Group merasa kesal. Terlebih lagi masalah ini terdengar ke telinga Andhika Barata, CEO Barata Group.
“Gus, ini kenapa kita bisa berurusan dengan masalah hukum? Apa nggak bisa diselesaikan dengan baik-baik?” tanya Andhika pada asistennya.
“Manager wanita itu minta ganti rugi untuk operasi wajah fotomodel itu, Pak. Kita sudah membiayai pengobatan dan rawat inap. Jadi kalau untuk operasi wajah, kita nggak menanggung lagi biayanya, dong.” Bagus, sang asisten menjelaskan awal mula mereka dituntut melalui jalur hukum.
Andhika menghela napas panjang. “Coba kamu atur pertemuanku dengan fotomodel itu. Aku mau bicara sama dia supaya dia mau mencabut tuntutannya. Bikin malu saja, Barata Group dituntut masalah ganti rugi operasi wajah.”
“Bapak serius mau ketemu sama fotomodel itu?” tanya Bagus memastikan.
“Hu’um.”
“Ok, akan saya atur waktunya,” ucap Bagus.
Tiga hari kemudian, Hana ditemani oleh Mutia datang ke kantor Barata Group untuk menemui Andhika Barata. Mereka diantar oleh Bagus menuju ruangan Andhika.
“Pak Andhika, ini Hana, fotomodel yang wajahnya terkena serpihan kaca lampu gantung itu,” ucap Bagus memperkenalkan Hana pada sang CEO, ketika sudah berada di ruangan Andhika.
Andhika menganggukkan kepalanya seraya berkata, “Bisa saya bicara empat mata dengan Hana?”
Ucapan Andhika sontak membuat Hana serta Mutia terkejut dan saling tatap.
Ares YoungI love it when she thinks she can get rid of me by mentioning her brother, who is never in the picture. If that's the case, I would say getting rid of him will be easy. Besides, I don't think he cares about his sister. He fucking dumped her decades ago.My attention fell on her beautiful grey eyes. Very fucking rare. Now, those eyes are not only filled with fear but also lust.I'm sure she has zero idea that her body was betraying her by grinding shamelessly against my hand. She was so wet that I could smell it before I touched her."Please let me go..." She whispered. I guess her brain and her body decided to betray each other today."Ares." She moaned as I put two fingers inside of her. I knew instantly that it had been a while since she had sex. Her walls were tight, and she felt pleasure as I moved slowly. From clawing her nails into my skin, she trailed her hands to my shoulder, moving her body to ride my fingers.I thrust in and out of her fast, building her orgasm qu
Leila MorrowI just got fired. Not only me but the whole team.Ares wasn't playing about it, was he? I was looking at the new camera that I just bought with the money that he gave me yesterday when I got a call from Jaz."We're fired, Leila. I don't know why; they plan to change the whole team." I didn't say anything, and I can't.I sat on the bench in the middle of the park, debating what I should do next to solve this.My phone vibrated, and I pulled it out, hoping it would be Poppy so I could cry my heart out, but it was a text from the crazy man instead.Ares: New camera, wildcat?This man dares to talk to me after making my life hell. I blocked his number and put my phone inside my bag. Another vibration from my phone. It has to be Poppy this time.Ares: If you dare to block me again, I'll fucking kill you.I blocked his second number and walked back to my apartment. My brain tried to process what had happened because it felt like a movie. Yesterday, I was fine and happy despite
Leila MorrowMy mom once told me not to believe strangers because they never have good intentions. I put on my dress, grabbed my bag, and ran out of the locker after Ares told me he would kill me and had changed his mind.I kept looking back to see if he was following me, but he didn't.I took a cab and went straight home. When I entered my apartment, I closed all the windows and locked the doors. I was so scared that I didn't think I could sleep later at night.I was pacing back and forth in my living room, trying not to break down. My body slowly betrayed me, and I threw myself on the sofa, my eyes slowly closing. My phone vibrated on the kitchen counter, and I got up to check because it could be Poppy or Jaz.Unknown number: Did you get home safely, wildcat?Ares YoungAfter sending Leila the text message, I threw my phone to the table and showered. That woman decided to drench me with two cups of Coke, which caused my body to feel sticky like I had just showered with sugar.Long j
Leila MorrowI am usually good at controlling my anger, but not today.I don't care if I'm embarrassing myself for my actions, but this is not my first time encountering someone like him. The difference is that his reaction was something that I didn't expect.He didn't even budge from his seat or even bother to look in my direction. He closed his eyes, and before he could react, I planned to run away, but he caught my forearm without looking at me. He pulled me to sit on an empty chair beside him that was already wet from the coke that I threw on him.His grip on my skin burned me, and my ass turned cold because of the coke. I tried to pull my arm away from him, but his grip was too firm for me even to slip.He got up and dragged me up.People saw the scene, but none of them said a word or even tried to help me. I wanted to kick him, which only made him turn to me.His eyes landed on my ID, which I always have wrapped around my neck. He kept dragging me, and when he found the nearest
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.