Share

Bab 2

Author: Cocojam
Suara daging yang terkoyak dan geraman anjing akhirnya berhenti.

Aku terbaring di genangan darah dan air dengan tubuhku penuh luka.

"Yang hamil ini tidak akan bertahan lama lagi." Suara Nadira terdengar dari pengeras suara dan dipenuhi kegembiraan yang mengerikan.

"Perutnya sudah cukup besar. Kita belah saja, lihat bayinya laki-laki atau perempuan."

Darahku terasa membeku.

Ketakutan yang melumpuhkan mencengkeramku.

"Tidak!" Aku menjerit. "Tidak! Tolong! Aku mohon!"

Aku memeluk perutku, seolah itu bisa melindungi anakku yang belum lahir.

Siaran itu hening beberapa detik.

Lalu terdengar suara rendah Alex.

"Tidak usah dibelah."

Secercah harapan kecil muncul.

Dia masih punya batas. Dia tidak akan menyakiti bayinya.

"Pembunuh itu boleh mati, aku tidak peduli," lanjut Alex. "Tapi biarkan perutnya. Tidak baik menyakiti anak yang belum lahir. Anakku sendiri akan lahir dalam waktu dekat."

Harapan itu langsung mati.

Dia tidak sedang melindungiku.

Di matanya, aku hanyalah pembunuh sialan.

"Kamu membosankan," kata Nadira dengan nada kecewa.

Namun dia segera bersemangat lagi.

"Tapi aku punya ide yang lebih bagus."

"Para pembunuh ini sudah lama bersembunyi di Valenusa, dan mengincar keluarga kita. Karena kita tidak membunuh yang hamil ini, aku akan menginterogasinya sendiri."

"Aku akan menggali semua rahasia yang dia tahu."

Rasanya jantungku seperti terhenti.

"Terserah kamu," jawab Alex dengan suara datar.

Beberapa penjaga berlari mendekat dan mencengkeram lenganku dengan kasar.

"Tidak!" Aku meronta. "Alex! Aku Valentina!"

Tidak ada yang mendengarkan.

Mereka menyeretku ke dalam sebuah kontainer pengiriman yang sudah diubah menjadi ruang interogasi.

Pintu besi berat itu dibanting hingga tertutup.

Sebuah lampu terang yang menyilaukan tergantung tepat di atas kursi di tengah ruangan.

Mereka mengikatku di kursi dan akhirnya merobek penutup kepalaku.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka.

Nadira masuk, dia mengenakan pakaian kulit hitam ketat yang membungkus tubuhnya.

Ada kilatan kegembiraan yang tidak wajar di matanya.

"Akhirnya kita bertemu," katanya sambil mengitariku. "Mari kita lihat lebih dekat pembunuh yang berani menyamar sebagai Valentina."

Dia berjongkok di depanku, dan meneliti wajahku.

"Penyamarannya bagus, aku akui. Hampir seperti yang asli."

"Aku bukan pembunuh!" Aku menangis. "Aku Valentina! Aku istri Alex!"

Nadira tertawa keras.

"Masih berakting? Kamu benar-benar pikir dia mencintaimu?"

Dia mendekat ke telingaku, suaranya terdengar tajam dan menyakitkan.

"Dia bahkan tidak bisa mengenalimu. Dan meskipun dia tidak ingin membunuh bayi di perutmu demi wajah ini, kamu tetap tidak akan keluar dari sini hidup-hidup hari ini."

Mataku membelalak.

"Jadi kamu … kamu yang mengatur semua ini?"

Nadira tersenyum puas.

"Kamu baru menyadarinya sekarang?"

Dia menyeringai, sengaja mengangkat pergelangan tangannya untuk memamerkan gelang baru bertabur berlian dan aku langsung mengenalinya, gelang itu adalah desain dari Alex.

"Dia datang kepadaku tadi malam setelah kamu tertidur." Dia melangkah mendekat. "Aku bilang suasana hatiku buruk, tidak ada yang menyenangkan di Valenusa. Jadi tahu tidak apa yang dia lakukan? Dia mengatur seluruh permainan ini, hanya untukku. Saat kamu berlari menyelamatkan nyawamu, dia ada di sini, menggenggam tanganku dan memastikan aku terhibur."

Setiap katanya seperti pisau yang menusuk jantungku.

"Dia mencintaimu hanya karena tangan ini, bukan?" kata Nadira sambil mencengkeram tanganku dengan kasar.

"Coba kita lihat apa yang dia suka darimu setelah aku menghancurkannya!"

Dia berjalan ke dinding dan mengambil sebuah palu.

Kepala besinya yang berat berkilat di bawah cahaya lampu.

"Tidak!" Aku meronta liar. "Jangan sentuh tanganku!"

"Itu satu-satunya yang kumiliki! Itu hidupku!"

Nadira membanting tangan kananku ke atas meja.

"Hidupmu?" Dia mencibir. "Seorang pembunuh tidak berhak bicara soal seni."

Dia mengangkat palu tinggi-tinggi.

Dari ruang kontrol, Alex menatap layar.

Aku memandang kamera dengan putus asa.

"Alex! Lihat aku! Ini aku, Valentina!"

Palu itu menghantam.

Krak. Bunyi tulang yang patah itu diikuti rasa sakit yang menjalar naik ke lenganku.

"Ahhhh!"

Jari telunjukku tertekuk pada sudut yang tidak wajar. Rasa sakitnya hampir membuatku pingsan.

"Itu untuk jari pertama," kata Nadira sambil mengangkat palu lagi. "Masih ada sembilan lagi."

Pukulan kedua menghantam. Jari tengah.

Yang ketiga. Jari manis.

Setiap hantaman dibalas dengan jeritanku yang mengerikan.

Di ruang kontrol, kening Alex berkerut.

"Dia cukup berani untuk seorang pembunuh," katanya dingin. "Habisi dia."

Pukulan keempat.

Kelima.

Tangan kananku hancur. Kelima jarinya tertekuk dalam posisi yang tidak wajar.

Darah mengotori permukaan meja.

Rasa sakitnya begitu menyiksa hingga aku merasa seperti akan melahirkan lebih awal. Perutku berkontraksi keras, dan cairan kembali mengalir di antara kakiku.

"Sekarang yang kiri," kata Nadira sambil mengangkat palu.

"Tidak!" Aku menjerit dengan sisa tenagaku.

"Alex!"

Teriakanku memecah keheningan malam.

"Lihat aku! Lihat siapa aku!"

Di ruang kontrol, cerutu di tangan Alex tiba-tiba patah.

Dia menatap layar dengan alis berkerut.

"Tunggu."

Ada sedikit keraguan dalam suaranya.

"Suara itu … persis seperti suara istriku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 10

    Sudut pandang Valentina.Alex hanya menatapku.Lalu, dia perlahan mengeluarkan pistol dari pinggangnya.Dia memeriksa slot peluru. Enam peluru, semuanya terisi."Kamu ingin aku mati, kan?" tanyanya pelan.Bahunya merosot dan tampak menyerah. "Baiklah, Valentina," bisiknya. "Oke."Dia meletakkan pistol itu di tanganku yang hancur. Logam dingin itu membuat tubuhku merinding."Lakukan saja, Valentina," katanya, berlutut di depanku dan menempelkan ujung pistol ke dadanya sendiri. "Akhiri. Akhiri rasa sakitku, dan akhiri penderitaanmu."Aku menatap pistol di tanganku.Sangat mudah.Cukup menekan pelatuk, lalu pria yang menghancurkan hidupku akan hilang.Anakku akan tenang. Sakitku akan berakhir.Tapi aku tidak bergerak.Bukan karena aku masih mencintainya.Tapi membiarkannya mati begitu saja rasanya terlalu mudah."Kamu pikir mati bisa menebus dosa-dosamu?" tanyaku dengan suaraku yang dingin. "Kamu pikir satu peluru bisa menebus nyawa anak kita?"Rasa sakit muncul di mata Alex."Lalu apa ya

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 9

    Sudut pandang Valentina."Kamu masih dalam pemulihan. Nanti kalau sudah lebih kuat, aku akan membawamu ke pemakaman."Alex berbicara hati-hati, seperti berbicara pada boneka porselen yang bisa pecah kapan saja. "Anak kita … aku sudah buatkan batu nisannya yang terbaik. Marmer putih, dan .…""Aku ingin cerai."Aku memotong ucapannya.Alex terpaku, seakan tersambar petir. "Valentina, kamu baru bangun. Jangan bilang hal-hal seperti itu .…""Aku mau surat cerainya ada di mejaku besok," lanjutku. "Dan jangan sentuh aku lagi."Aku pun menundukkan pandangan ke tanganku.Jari-jari panjang dan elegan itu sekarang tertekuk dalam bentuk yang tidak wajar.Bekas luka ungu melintang di kulit.Tangan ini tidak akan bisa main cello lagi.Tidak akan bisa mengelus wajah anakku.Tapi aku tidak menangis. Tidak merasa putus asa. Bahkan tidak merasa marah.Aku hanya … kosong."Valentina, tolong, biarkan aku jelaskan .…" Alex berlutut di samping tempat tidurku.Bos besar yang ditakuti kini berlutut seperti

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 8

    Sudut pandang Valentina.Kegelapan.Kegelapan yang tidak berujung dan menyesakkan.Setelah jantungku mulai berdetak lagi, aku merasa seperti melayang di kehampaan, tidak sepenuhnya hidup, tapi juga tidak mati.Kadang aku bisa mendengar suara Alex, penuh isak putus asa dan pengakuan.Tapi aku tidak bisa kembali.Valentina yang mencintainya sudah mati.Valentina telah mati di bawah hujan di dermaga. Mati karena perburuan yang dia sendiri perintahkan.Mati saat tangisan bayi kami dibungkam.Aku lalu mendengar langkah kaki pelan. Seseorang masuk ke ruangan.Bukan Alex.Langkah orang ini ringan, tapi dipenuhi kebencian."Lucu, kan?" Suara Nadira menggema di ruangan penuh kecemburuan. "Bos besar Valenusa, begitu setia pada sesuatu yang tidak penting. Dia bahkan mengumumkan perang pada keluargaku karena kamu."Aku mendengar dia mendekati tempat tidur.Aku bisa merasakan tatapan penuh kebenciannya yang menempel padaku."Dia sudah tiga hari tidak tidur," bisiknya. "Dia memenuhi ruangan ini deng

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 7

    Sudut pandang Alex."Semua keluar!" teriak dokter, mendorong kerumunan menjauh. "Pasien butuh lingkungan steril! Kosongkan ruangan sekarang!"Aku ditarik keluar dari ruang operasi.Aku pun menempelkan diri pada pintu, berusaha mati-matian melihat lewat jendela kaca kecil.Aku melihat mereka menangani Valentina dan menyambungkannya ke labirin mesin.Wajahnya tampak pucat ....Setengah jam kemudian, pintu ruang operasi akhirnya terbuka.Dokter keluar, kelelahan, dan melepas sarung tangan berlumuran darah.Aku berlari mendekatinya."Bagaimana kondisinya? Bagaimana Valentina?""Kami berhasil mengembalikannya," kata dokter dengan berat. "Tapi .…""Tapi apa?" Aku menggenggam bahunya."Karena kehilangan darah berkepanjangan, trauma emosional parah, dan kurangnya oksigen ke otak .…" Dokter menghela napas. "Dia mungkin akan berada dalam keadaan vegetatif."Kata-kata itu menghantamku seperti pukulan.Keadaan vegetatif ...."Apa ada harapan dia akan sadar?" tanyaku dengan suara bergetar."Sangat

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 6

    Alex mengangkat salib perak itu, tangannya bergetar tak terkendali.Tulisan [Cintaku yang abadi] berkilau di bawah cahaya lampu.Tanda janji untuk melindungiku seumur hidup kini menjadi saksi kejahatan yang telah dia lakukan.Nadira mencoba menenangkannya."Alex … aku tahu kamu sedih, tapi Valentina .…""Menjauh darinya!"Alex mengaum dan mendorong Nadira dengan kekuatan penuh amarah.Nadira terhantam ke dinding, lalu mengerang kesakitan."Jangan berani mendekatinya!" teriak Alex. "Jangan sentuh dia!"Dia menarik pistol dari pinggangnya, larasnya mengarah tepat ke kepala dokter."Kamu lihat rumah sakit ini?" Suara Alex rendah menggeram, pistol tetap menempel di pelipis dokter. "Kalau dia tidak keluar dari sini hidup-hidup, aku akan membakar rumah sakit ini. Denganmu di dalamnya. Sekarang, selamatkan dia."Dokter gemetar ketakutan dari ujung kaki hingga ujung kepala."Tu … Tuan, dia … dia sudah …. Jantungnya berhenti lebih dari sepuluh menit .…""Maka temukan cara untuk membuatnya berde

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 5

    Rasa sakit itu akhirnya berakhir.Aku sadar aku pasti sudah mati.Rasa nyeri yang merobek perut, dan jeritan putus asa, semuanya lenyap saat jantungku berhenti berdetak.Jiwaku melayang di udara, menatap tubuhku sendiri di atas meja operasi.Berantakan.Gaun putihku tercabik, basah oleh hujan dan darah. Bekas gigitan anjing di pergelangan kakiku menjadi daging yang koyak dan terbuka.Luka terbuka di perutku tampak mengerikan.Tapi yang paling menyakitkan adalah tanganku.Jari-jari yang dulu panjang dan anggun kini membiru dan tertekuk, tulangnya menonjol di balik kulit.Inilah tangan yang selalu aku banggakan.Tangan yang memainkan cello.Tangan yang dibiarkan suamiku hancurkan."Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan," kata dokter sambil menggeleng. "Coba lihat apakah keluarganya sudah datang."Baru saja seorang perawat hendak keluar, pintu ditendang hingga terbuka.Alex menerobos masuk, wajahnya diliputi amarah dan ketidakpercayaan."Ini bukan Valentina!" teriaknya dengan suara pecah.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status