Share

BAB 21

Author: Sang Ghania
last update Last Updated: 2025-01-26 23:19:39

“Angkat tangan! Jangan bergerak!!” Suara bentakan yang tegas dan memekakkan telinga membuat Rachel terhenyak. Beberapa pria berpakaian hitam mengacungkan pistol ke arahnya tanpa ragu sedikit pun.

“Hari ini, kamu resmi kami tangkap!” ucap salah satu dari mereka dengan nada dingin yang tak menyisakan ruang untuk pembelaan.

Rachel berdiri terpaku, tubuhnya gemetar hebat. Tangannya perlahan terangkat, mengikuti perintah mereka. Tapi matanya sudah mulai memanas, penuh dengan air mata yang siap jatuh kapan saja. Ia merasa seperti seorang narapidana yang divonis tanpa sempat membela diri.

“Aku tidak bersalah... Aku tidak tahu apa-apa,” gumamnya, hampir tak terdengar. Kata-kata itu lebih ditujukan untuk dirinya sendiri, seolah mencoba menguatkan hati yang kini terasa remuk.

Tubuh Rachel yang semula bergetar kini mulai kehilangan tenaga. Lututnya melemah, dan ia perlahan jatuh ke lantai dengan napas yang tersengal. Apakah ini akhirnya? Pikirnya, sambil menatap wajah-wajah dingin di depannya.

C
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Wanita Yang Kau Hina   BAB 25

    Masih terasa seperti mimpi baginya bisa keluar dari jeruji besi yang selama ini membelenggu. Napasnya lega, meski jauh di dalam hati tersisa bayangan gelap. Apakah kebebasan ini justru akan menimbulkan masalah baru dengan kehadiran pria misterius yang menjemputnya?Tak berselang lama, mobil itu berhenti di depan sebuah bangunan sederhana. Dari luar, kos itu terlihat apa adanya cat dindingnya pudar dimakan waktu, beberapa bagian bahkan mengelupas, meninggalkan bercak kusam pada tembok yang lembap. Jendela-jendela kecil berjajar tanpa tirai mewah, hanya kain tipis yang sudah kehilangan warna menutupi pandangan dari luar.Halaman sempit di depannya dipenuhi pot bunga plastik dan ember bekas yang dijadikan wadah tanaman. Lantai teras terbuat dari keramik lama yang retak di sana-sini, meninggalkan celah kecil yang ditumbuhi lumut tipis. Pintu kayunya pun berderit ketika terbuka, memperlihatkan lorong sempit dengan dinding kusam yang dipenuhi bekas tempelan poster lama.Rachel menelan ludah

  • Bangkitnya Wanita Yang Kau Hina   BAB 24

    Dalam diam, ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatan. Tapi bayangan malam sebelumnya terus berputar di kepalanya, membuatnya semakin sulit membedakan antara ketakutan dan kenyataan.Di atas pintu besi ruangan itu, terdapat ventilasi kawat kecil yang biasa dipakai untuk sirkulasi udara. Celah itu terlalu tinggi untuk melihat dengan jelas, tapi cukup untuk menangkap sekilas bayangan seseorang yang sedang berbicara serius dengan seorang polisi.Rachel menajamkan pandangan. Sosok itu berdiri tegap, dengan setelan jas gelap yang tampak kontras dengan ruangan lembap di sekelilingnya. Wajahnya hanya terlihat sebagian, tapi Rachel yakin... ia mengenal pria itu.“Tidak mungkin... Apa dia yang kupikirkan?”Namun sebelum ia bisa memastikan, suara bentakan membuyarkan pikirannya.“Hey! Kenapa kau diam saja! Apa kau pikir untuk membersihkan dirimu tidak ada batas waktunya!” Bentak pria berseragam cokelat sembari menatap tajam ke arah Rachel dengan wajah sangar. Rachel menghela nap

  • Bangkitnya Wanita Yang Kau Hina   BAB 23

    Dalam dingin dan gelapnya malam yang mencekam di penjara, Rachel meringkuk di sudut sel. Dinding-dinding lembap memantulkan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Penjara itu tidak menyediakan lampu di setiap sel, hanya bergantung pada kilatan cahaya redup dari lorong utama setiap kali seorang napi melewati jalannya. Rachel, yang ditempatkan di sel paling ujung, merasakan keheningan yang jauh lebih pekat dibandingkan tempat lainnya. Aura gelap menyelimuti ruangan kecil itu, seolah menyembunyikan sesuatu yang tidak kasat mata. Sesekali ia merasa seperti ada bayangan bergerak di sudut pandangnya, membuat bulu kuduknya meremang tanpa alasan. Setiap kali langkah kaki berat terdengar di kejauhan, cahaya lampu lorong menari-nari di jeruji besinya. Namun, alih-alih merasa aman, kilatan itu justru menambah kesan mencekam. “Kenapa aku harus ada di sini?” pikir Rachel, sembari merapatkan tubuhnya pada dinding dingin. Di tengah keheningan itu, suara samar-samar dari sel sebelah mula

  • Bangkitnya Wanita Yang Kau Hina   BAB 22

    Di sela-sela interogasi yang melelahkan, Rachel mulai merasa seperti terjebak di labirin tanpa jalan keluar. Kebenaran yang ia tahu seperti tak berdaya melawan dugaan yang mereka bangun. Tekanan itu membuat tubuhnya gemetar, dan hatinya dipenuhi rasa putus asa. Namun, satu hal yang pasti Rachel tahu ia harus bertahan. Jika ia menyerah sekarang, maka semuanya benar-benar akan berakhir buruk baginya. "Baiklah, untuk sementara ini kamu akan kami tahan sampai ada seseorang yang mampu membuktikan bahwa kamu benar-benar tidak bersalah,” ujar salah seorang polisi dengan nada dingin, tatapannya tajam menusuk ke arah Rachel. Rachel hanya mampu menatap kosong, tubuhnya terasa lemas. Kalimat itu menghantamnya seperti palu godam. Seketika matanya berkaca-kaca, dan air mata yang selama ini ia tahan kini jatuh berlinang tanpa bisa dihentikan. “Bagaimana mungkin ada seseorang yang bisa menolongku?” pikir Rachel dalam hati, rasa putus asa mulai menyelimuti dirinya. Kejadian malam itu hanya mel

  • Bangkitnya Wanita Yang Kau Hina   BAB 21

    “Angkat tangan! Jangan bergerak!!” Suara bentakan yang tegas dan memekakkan telinga membuat Rachel terhenyak. Beberapa pria berpakaian hitam mengacungkan pistol ke arahnya tanpa ragu sedikit pun.“Hari ini, kamu resmi kami tangkap!” ucap salah satu dari mereka dengan nada dingin yang tak menyisakan ruang untuk pembelaan.Rachel berdiri terpaku, tubuhnya gemetar hebat. Tangannya perlahan terangkat, mengikuti perintah mereka. Tapi matanya sudah mulai memanas, penuh dengan air mata yang siap jatuh kapan saja. Ia merasa seperti seorang narapidana yang divonis tanpa sempat membela diri.“Aku tidak bersalah... Aku tidak tahu apa-apa,” gumamnya, hampir tak terdengar. Kata-kata itu lebih ditujukan untuk dirinya sendiri, seolah mencoba menguatkan hati yang kini terasa remuk.Tubuh Rachel yang semula bergetar kini mulai kehilangan tenaga. Lututnya melemah, dan ia perlahan jatuh ke lantai dengan napas yang tersengal. Apakah ini akhirnya? Pikirnya, sambil menatap wajah-wajah dingin di depannya.C

  • Bangkitnya Wanita Yang Kau Hina   BAB 20

    Mengingat apa yang dilontarkan polisi itu, Rachel merasa pikirannya semakin kacau. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terus berputar di benaknya, menggema tanpa henti. Malam itu, meski tubuhnya sudah berbaring di tempat tidur, pikirannya tak kunjung tenang. Bahkan setelah berkali-kali mencoba memejamkan mata, rasa cemas itu tetap tak mau pergi.Bayangan tentang penjara dan status sebagai narapidana menghantuinya. Ia membayangkan jeruji besi yang dingin, tatapan penuh kecurigaan dari orang-orang di sekitarnya, dan hidup yang berubah selamanya. Sesuatu yang ia tak pernah bayangkan sebelumnya kini terasa begitu nyata dan menakutkan.Rachel memutar tubuhnya, mencoba menemukan posisi yang nyaman. Namun, setiap kali ia mencoba mengalihkan pikiran, bayangan itu kembali muncul. Seolah-olah ada kekuatan tak kasat mata yang terus menariknya kembali pada mimpi buruk itu.Sesekali, matanya mengerjap, dan ia menatap langit-langit kamar kosnya yang redup. Ia mencoba mengingat apa yang sebenarny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status