LOGINFajar menyingsing dengan warna merah darah di langit timur. Di sisi belakang benteng, tim penyusup masih menunggu dalam keheningan. Xiao Fan berdiri di balik sebuah batu besar ketika matanya terus menatap ke arah Benteng Pasir Hitam yang kini mulai terlihat jelas dalam cahaya fajar. Di sampingnya, Xuan'er, Lei, Mo Cheng, dan Wei Lian juga menunggu."Meriamnya belum berbunyi," bisik Mo Cheng. "Jenderal Wei Zheng mungkin masih memobilisasi pasukan.""Ia akan segera menyerang," jawab Xiao Fan. "Kita hanya perlu bersabar sedikit lagi."Dan kemudian, suara itu datang.BOOM!Suara ledakan yang memekakkan telinga mengguncang seluruh lembah. Tanah di bawah kaki mereka bergetar. Burung-burung beterbangan dari sarang mereka. Dan di kejauhan, di sisi depan benteng, terlihat bola api raksasa berwarna merah menyala melesat ke arah pasukan Tianyu."Itu meriam spiritual!" seru Xuan'er. "Jenderal Wei Zheng sudah mulai menyerang!"Xiao Fan mengangkat tangannya. "Bersiap! Kita berg
Malam itu, setelah pembahasan strategi di tenda komando selesai, Xiao Fan berjalan keluar dan mulai memilih seratus kultivator terbaik dari divisinya. Ia memilih mereka satu per satu, Xiao Fan memilih bukan hanya berdasarkan level kultivasi, tapi juga berdasarkan keberanian, ketenangan, dan kemampuan untuk mengikuti perintah di bawah tekanan. Mayoritas dari mereka berada di Foundation Establishment Puncak dan veberapa di Inti Emas Awal. Di bawah cahaya redup lentera, Xiao Fan berdiri di hadapan mereka. Seratus pasang mata menatapnya dengan campuran kecemasan dan tekad. Ia menatap mereka satu per satu, membiarkan keheningan menggantung di udara sebelum mulai berbicara."Malam ini, kita akan melakukan misi yang sangat berbahaya." Suaranya tenang, tapi penuh otoritas. "Kita akan menyusup melalui jalur rahasia di Pegunungan Kabut, di selatan Benteng Pasir Hitam. Jalur ini sempit, licin, dan belum pernah dipetakan dengan baik. Beberapa dari kalian mungkin tidak akan kembali hidup-hi
Keheningan yang menyelimuti lembah setelah kekalahan Feng Bao tidak berlangsung lama. Dari tengah pasukan Xiyuan, seorang pria berjubah hitam yang merupakan wakil komandan melayang naik ke udara. Wajahnya pucat, tapi suaranya lantang dan penuh otoritas."SELURUH PASUKAN! FORMASI MUNDUR TERORGANISIR!" teriaknya. "BARISAN BELAKANG TAHAN GEMPURAN MUSUH! BARISAN DEPAN DAN TENGAH MUNDUR BERTAHAP KE BENTENG PASIR HITAM! JANGAN PECAH FORMASI!"Dan pasukan Xiyuan melakukannya. Mereka tidak berlari kocar-kacir seperti yang diperkirakan. Mereka mundur dengan disiplin yang mengesankan dengan menggunakan barisan belakang sebagai pertahanan, mereka menahan gempuran pasukan Tianyu yang mencoba mengejar, sementara barisan depan dan tengah mundur secara bertahap ke arah barat. Korban terus berjatuhan di kedua belah pihak, tapi pasukan Xiyuan tetap mempertahankan formasinya. Walaupun mereka kalah. Tapi mereka tidak hancur.Wei Zheng, yang melihat ini dari atas bukit, mengangguk pelan. "Mereka
Feng Bao menatap pusaran Yin-Yang yang berputar di tangan Xiao Fan ketika matanya melebar tak percaya. Seorang bocah yang baru saja mencapai Nascent Soul, yang seharusnya masih canggung mengendalikan kekuatannya, kini berdiri di hadapannya dengan dua api primordial dan teknik yang tidak bisa ia pahami."Ini belum berakhir, bocah!" teriaknya, suaranya masih menggelegar meskipun ada getaran yang tidak bisa ia sembunyikan. "Aku adalah Jenderal Feng Bao! Aku sudah membunuh puluhan kultivator sepertimu! Kau pikir serangan kecil seperti ini bisa menghentikanku?!"Ia mengangkat Tombak Anginnya tinggi-tinggi. Angin di sekelilingnya seketika berputar sangat kencang ketika seluruh tubuhnya bersinar dengan aura merah darah yang membara. Dan dari bilah tombaknya, satu tornado raksasa mulai terbentuk yang jauh lebih besar, tinggi, dan mengerikan. Tornado itu membentang dari tanah hingga langit, menyedot segala sesuatu yang ada di dekatnya, menciptakan badai yang membuat seluruh medan perang
"Aku sudah bilang. Level bukanlah segalanya."Feng Bao menatap Xiao Fan dengan mata terbelalak selama beberapa detik. Lalu ia tertawa keras, penuh ejekan, dan sama sekali tidak lucu. "Kau pikir menghancurkan tiga tornadoku sudah cukup untuk membuatku takut, bocah? Itu baru pemanasan! Aku belum serius sama sekali!"Ia menghilang dari tempatnya berdiri.Xiao Fan hanya sempat melihat bayangan merah bergerak cepat di udara sebelum tusukan tombak datang dari arah yang tidak ia duga. Ia memiringkan tubuhnya, tapi Tombak Angin itu tetap mengenai bahunya. Sebelum ia bisa membalas, Feng Bao sudah berada di tempat lain, gerakannya begitu cepat dan anggun hingga sulit diikuti oleh mata."KAU TERLALU LAMBAT, BOCAH!" Feng Bao muncul di belakang Xiao Fan, tombaknya menusuk lagi. Kali ini ke paha kiri. Tusukan demi tusukan datang. Xiao Fan mencoba menghindar, tapi Feng Bao selalu satu langkah lebih cepat. Bahunya, pahanya, lengannya semuanya kini berlumuran darah. Jubah peraknya rob
Xiao Fan melayang naik dari perkemahan Tianyu. Tubuhnya yang kini bisa berjalan di udara bergerak dengan anggun meskipun ia masih sedikit kaku, karena ini adalah pertama kalinya ia terbang dalam pertarungan sesungguhnya. Di belakangnya, Wei Zheng, Wei Lian, Mo Cheng, Xuan'er, dan Lei menatapnya dengan campuran kecemasan dan harapan."Percayakan pada Tuan," kata Lei, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Dia sudah melewati banyak hal yang lebih gila dari ini."Di seberang lembah, Feng Bao melayang naik dengan aura yang jauh lebih kuat. Jubah merah darahnya berkibar-kibar. Tombak Angin di tangannya berputar-putar dengan energi yang siap dilepaskan."AKHIRNYA KAU DATANG JUGA, BOCAH!" teriaknya. "AKU PIKIR KAU AKAN KABUR DI TENGAH MALAM!""Aku tidak akan kabur." Xiao Fan menghentikan langkahnya di udara sekitar dua puluh meter dari Feng Bao. "Aku sudah berjanji. Dan aku selalu menepati janjiku.""BAGUS! KALAU BEGITU, KITA MULAI SAJA!"Feng Bao tidak menunggu. Ia mengayun
Malam telah larut ketika Xiao Fan akhirnya meninggalkan aula utama. Saat itu ia baru saja menghadiri pertemuan dengan para tetua untuk membahas demonstrasi esok hari—semua orang ingin memberi wejangan terakhir, semua orang ingin mengingatkannya tentang betapa pentingnya demonstrasi besok. "Kau pa
Ruangan kerja Elder Pertama—Xiao Ba—terletak di sayap timur kompleks Klan Xiao, jauh dari bangunan utama tempat para tetua biasanya berkumpul. Ini adalah pilihan yang disengaja; semakin sedikit orang yang tahu tentang urusannya, maka semakin baik. Sore itu, Xiao Ren masuk ke ruangan ayahnya dengan
Keesokan paginya.Di taman belakang, jauh dari hiruk-pikuk persiapan, Lin Yue duduk di bangku batu di bawah pohon plum yang mulai berbunga. Kelopak-kelopak putihnya berguguran tertiup angin pagi, menciptakan pemandangan seperti salju di musim semi. Di tangannya, sebuah teko porselen putih mengepulk
Angin senja berembus pelan di puncak Menara Naga, menerbangkan rambut hitam legam Xiao Fan yang tidak diikat. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berdiri tegak di tepi balkon tertinggi, kedua tangannya bertumpu pada pagar batu giok yang sudah berusia ratusan tahun. Di punggungnya, tersarung Pedang







