Mag-log inSementara Wei Zheng dan Shang Wei bertarung seri di halaman utama, pertempuran di seluruh benteng telah dimenangkan oleh Tianyu.Xiao Fan dan Lei bergerak bersama menuju menara meriam. Satu per satu, meriam spiritual di atas tembok dihancurkan. Xiao Fan dengan Lengan Qilin-nya yang menghantam keras, Lei dengan petirnya yang menyambar dari langit. Dalam hitungan menit, seluruh meriam spiritual Xiyuan telah menjadi puing-puing yang tidak bisa digunakan lagi."Meriam terakhir sudah hancur, Tuan!" teriak Lei dari atas."Bagus. Sekarang kita bersihkan sisa-sisa pasukan mereka." Xiao Fan melompat turun dari tembok dan mendarat di tengah-tengah kelompok prajurit Xiyuan yang masih bertahan. Lengan Qilin-nya bersinar, dan dalam sekejap, lima prajurit terpental ke berbagai arah.Di bagian lain benteng, Xuan'er menciptakan ilusi-ilusi yang membuat pasukan Xiyuan bingung dan saling menyerang. Mo Cheng menghancurkan pos-pos penjagaan satu per satu. Wei Lian membekukan jalur-jalur kabur
"SIAPA PUN YANG INGIN MEMBUNUH SHANG WEI, MAJULAH! AKU AKAN MEMBAWA KALIAN BERSAMAKU KE NERAKA!"Suara itu menggema di seluruh benteng. Dan dari antara kerumunan prajurit yang sedang bertarung mati-matian, sesosok pria melangkah maju. Jubah birunya yang berkibar diterpa angin perang. Pedang panjangnya bersinar biru tua seperti pusaran samudra yang dalam. Wei Zheng."Aku akan menerima tantanganmu, Shang Wei," katanya, suaranya tenang tapi penuh otoritas. "Sudah terlalu lama kita saling mendengar reputasi masing-masing. Sekarang saatnya membuktikannya.."Jenderal Besar Shang menoleh. Ia menatap Wei Zheng dengan ekspresi yang sulit diartikan.."Wei Zheng." Suara Shang berat dan dalam, seperti gemuruh guntur di kejauhan. "Aku sudah mendengar tentangmu sejak tiga puluh tahun lalu. Dan akhirnya kita bertemu juga.""Kita bertemu di medan perang, Shang Wei. Seperti yang selalu kita duga.""Seperti yang selalu kita duga." Shang mengangkat tombak hitamnya. "Kalau begitu, biar
Tepat saat pasukan utama Tianyu menerjang gerbang depan dan seluruh pertahanan Xiyuan terfokus ke satu arah, Xiao Fan dan tim penyusupnya meledakkan sisi belakang benteng dengan serangan kejutan."LEI! SEKARANG!"Lei yang sudah terbang rendah di atas menara pengawas belakang seketika melepaskan petir terbesarnya. Sambaran biru raksasa menghantam menara itu langsung. Suara ledakannya mengguncang seluruh benteng. Menara pengawas belakang runtuh dalam sekejap, batu-batu dan kayu beterbangan ke segala arah, dan para penjaga yang berada di dalamnya jatuh ke tanah bersama puing-puing."RASAKAN PETIR MAHA DAHSYAT SANG QILIN PETIR INI KALIAN SEMUA!" teriak Lei dari atas.Sementara perhatian semua orang tertuju pada Lei, Xiao Fan melesat ke gerbang belakang dengan Lengan Qilin yang di aktifkan. Lengannya itu bersinar emas terang dengan kekuatan kekuatan Qilin Emas."LENGAN QILIN: PUKULAN PENGHANCUR LANGIT!"BRAK!Gerbang belakang yang lebih tipis itu hancur berkeping-kepin
Fajar menyingsing dengan warna merah darah di langit timur. Di sisi belakang benteng, tim penyusup masih menunggu dalam keheningan. Xiao Fan berdiri di balik sebuah batu besar ketika matanya terus menatap ke arah Benteng Pasir Hitam yang kini mulai terlihat jelas dalam cahaya fajar. Di sampingnya, Xuan'er, Lei, Mo Cheng, dan Wei Lian juga menunggu."Meriamnya belum berbunyi," bisik Mo Cheng. "Jenderal Wei Zheng mungkin masih memobilisasi pasukan.""Ia akan segera menyerang," jawab Xiao Fan. "Kita hanya perlu bersabar sedikit lagi."Dan kemudian, suara itu datang.BOOM!Suara ledakan yang memekakkan telinga mengguncang seluruh lembah. Tanah di bawah kaki mereka bergetar. Burung-burung beterbangan dari sarang mereka. Dan di kejauhan, di sisi depan benteng, terlihat bola api raksasa berwarna merah menyala melesat ke arah pasukan Tianyu."Itu meriam spiritual!" seru Xuan'er. "Jenderal Wei Zheng sudah mulai menyerang!"Xiao Fan mengangkat tangannya. "Bersiap! Kita berg
Malam itu, setelah pembahasan strategi di tenda komando selesai, Xiao Fan berjalan keluar dan mulai memilih seratus kultivator terbaik dari divisinya. Ia memilih mereka satu per satu, Xiao Fan memilih bukan hanya berdasarkan level kultivasi, tapi juga berdasarkan keberanian, ketenangan, dan kemampuan untuk mengikuti perintah di bawah tekanan. Mayoritas dari mereka berada di Foundation Establishment Puncak dan veberapa di Inti Emas Awal. Di bawah cahaya redup lentera, Xiao Fan berdiri di hadapan mereka. Seratus pasang mata menatapnya dengan campuran kecemasan dan tekad. Ia menatap mereka satu per satu, membiarkan keheningan menggantung di udara sebelum mulai berbicara."Malam ini, kita akan melakukan misi yang sangat berbahaya." Suaranya tenang, tapi penuh otoritas. "Kita akan menyusup melalui jalur rahasia di Pegunungan Kabut, di selatan Benteng Pasir Hitam. Jalur ini sempit, licin, dan belum pernah dipetakan dengan baik. Beberapa dari kalian mungkin tidak akan kembali hidup-hi
Keheningan yang menyelimuti lembah setelah kekalahan Feng Bao tidak berlangsung lama. Dari tengah pasukan Xiyuan, seorang pria berjubah hitam yang merupakan wakil komandan melayang naik ke udara. Wajahnya pucat, tapi suaranya lantang dan penuh otoritas."SELURUH PASUKAN! FORMASI MUNDUR TERORGANISIR!" teriaknya. "BARISAN BELAKANG TAHAN GEMPURAN MUSUH! BARISAN DEPAN DAN TENGAH MUNDUR BERTAHAP KE BENTENG PASIR HITAM! JANGAN PECAH FORMASI!"Dan pasukan Xiyuan melakukannya. Mereka tidak berlari kocar-kacir seperti yang diperkirakan. Mereka mundur dengan disiplin yang mengesankan dengan menggunakan barisan belakang sebagai pertahanan, mereka menahan gempuran pasukan Tianyu yang mencoba mengejar, sementara barisan depan dan tengah mundur secara bertahap ke arah barat. Korban terus berjatuhan di kedua belah pihak, tapi pasukan Xiyuan tetap mempertahankan formasinya. Walaupun mereka kalah. Tapi mereka tidak hancur.Wei Zheng, yang melihat ini dari atas bukit, mengangguk pelan. "Mereka
Malam telah larut ketika Xiao Fan akhirnya meninggalkan aula utama. Saat itu ia baru saja menghadiri pertemuan dengan para tetua untuk membahas demonstrasi esok hari—semua orang ingin memberi wejangan terakhir, semua orang ingin mengingatkannya tentang betapa pentingnya demonstrasi besok. "Kau pa
Ruangan kerja Elder Pertama—Xiao Ba—terletak di sayap timur kompleks Klan Xiao, jauh dari bangunan utama tempat para tetua biasanya berkumpul. Ini adalah pilihan yang disengaja; semakin sedikit orang yang tahu tentang urusannya, maka semakin baik. Sore itu, Xiao Ren masuk ke ruangan ayahnya dengan
Keesokan paginya.Di taman belakang, jauh dari hiruk-pikuk persiapan, Lin Yue duduk di bangku batu di bawah pohon plum yang mulai berbunga. Kelopak-kelopak putihnya berguguran tertiup angin pagi, menciptakan pemandangan seperti salju di musim semi. Di tangannya, sebuah teko porselen putih mengepulk
Angin senja berembus pelan di puncak Menara Naga, menerbangkan rambut hitam legam Xiao Fan yang tidak diikat. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berdiri tegak di tepi balkon tertinggi, kedua tangannya bertumpu pada pagar batu giok yang sudah berusia ratusan tahun. Di punggungnya, tersarung Pedang







