author-banner
_PenaKaisar
_PenaKaisar
Author

Novels by _PenaKaisar

Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat

Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat

Dia dihancurkan, diracun, dan dikhianati oleh orang terdekatnya. Tapi takdir berkata lain—dua roh kuno dari surga dan neraka memilihnya sebagai pewaris tunggal. Xiao Fan, jenius nomor satu Kekaisaran Tianyu telah kehilangan segalanya dalam semalam. Dantiannya hancur akibat racun dari sepupunya sendiri. Tunangannya, Lin Yue, membatalkan pertunangan mereka. Dan ayahnya, sang patriark, dipaksa berlutut dalam kehinaan. Dalam keputus asaan, Xiao Fan berlari tanpa tujuan dan berakhir menemukan rahasia yang akan mengubah segalanya: Ternyata dunia ini adalah kandang buatan Dewa Bermata Tiga, dan ia adalah eksperimen gagal dari perang kuno antara Dewa dan Iblis. Dua roh tertinggi—Malaikat Bersayap Enam dan Asura Bertanduk Enam—menyatu ke dalam tubuhnya. Mereka memberinya Dantian Ganda: Emas untuk Dewa, Ungu untuk Iblis. Dan Mata Yin-Yang yang mampu melihat kebenaran dan kelemahan jiwa. Dengan kedua warisan dari dua makhluk legendaris itu, Xiao Fan membantai musuh-musuhnya satu per satu, dan membuktikan bahwa seorang "sampah" bisa menjadi Kaisar Dewa Iblis sejati. Namun saat ia hampir mencapai puncak, gadis yang ia cintai, Xuan'er, dijemput paksa ke Alam Surgawi untuk dikorbankan demi ambisi Dewa Bermata Tiga. Xiao Fan hanya berbisik pada langit: "Jika kau berani menyentuh sehelai rambutnya saja... akan kuhancurkan alam semesta ini."
Read
Chapter: Bab 206
‎Naga Laut menatap Xiao Fan. Matanya yang seperti dua bulan kecil itu menyala pelan. Ia membuka mulutnya. Dari dalamnya, setetes api biru keluar. Api itu berputar seperti pusaran air. Api itu tidak membakar. Api itu menari. Api Samudra. Api primordial keempat. Api yang selama ini tersembunyi di dasar samudra. Api yang telah menenggelamkan armada raksasa dalam satu malam.‎‎Api itu melayang ke arah Xiao Fan. Perlahan. Hening. Lalu api itu masuk ke dalam tubuhnya melalui dadanya. Xiao Fan menegang. Tubuhnya bergetar. Untuk pertama kalinya, keempat api primordial itu bertemu dalam satu tubuh. Api Suci Nirwana. Api Kegelapan Nether. Api Kehidupan Hijau. Api Samudra. Empat api. Satu tubuh.‎‎Reaksi yang terjadi luar biasa. Keempat api itu berputar mengelilingi kedua Dantian-nya. Seperti empat planet yang mengorbit matahari ganda. Dantian Emas. Dantian Ungu. Energi yang dihasilkan begitu dahsyat. Xiao Fan merasakan ranahnya melonjak. Dari Spirit Severing Awal. Ke Spirit Severing Puncak. D
Last Updated: 2026-10-29
Chapter: Bab 205
Naga Laut menoleh pada Wei Lian. Matanya yang seperti dua bulan kecil itu menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada semacam penghormatan di sana. Ada juga semacam kesedihan.‎‎"Ujian ketiga bukan untuk Xiao Fan," kata Naga Laut. "Ujian ini untuk keturunan leluhur yang gagal."‎‎Wei Lian menegakkan punggungnya. Tubuhnya masih gemetar. Namun matanya tajam. "Aku siap."‎‎"Kau harus mengorbankan sesuatu yang sangat berharga," kata Naga Laut. "Untuk memutus kutukan keluargamu."‎‎"Ambil darahku," kata Wei Lian. Ia mengulurkan tangannya. "Darahku adalah darah leluhurku."‎‎Naga Laut menggeleng. "Darah tidak cukup."‎‎"Aku akan menyerahkan kekuatanku," kata Wei Lian. Suaranya tegas. "Kultivasiku. Ranahku. Semuanya."‎‎Naga Laut kembali menggeleng. "Kekuatan bisa dipulihkan. Waktu bisa mengembalikannya. Itu bukan pengorbanan."‎‎Wei Lian menurunkan tangannya. Wajahnya pucat. "Lalu apa yang harus kukorbankan?"‎‎Naga Laut menatapnya lama. Matanya dalam. Matanya tua. M
Last Updated: 2026-10-07
Chapter: Bab 204
Saat Xiao Fan menyentuh mutiara itu, dunia di sekelilingnya berubah. Ia bukan lagi di dasar palung. Ia berada di sebuah tempat yang gelap. Di depannya, sebuah penglihatan muncul. Xuan'er. Gadis itu duduk di dalam sel batu. Rambut peraknya kusut. Matanya safir itu merah. Ia menangis. Ia memanggil nama Xiao Fan.‎‎"Kak Fan..." Suara Xuan'er bergetar. "Kak Fan, tolong... aku takut..."‎‎Di samping Xuan'er, Bai Yu berdiri. Jubah putihnya berkilau. Wajahnya dingin. Senyumnya tipis. Ia menatap Xuan'er dengan tatapan mengejek. "Kau masih memanggil namanya?" kata Bai Yu. "Dia tidak akan datang. Dia terlalu lemah. Dia bahkan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri."‎‎Xuan'er menundukkan kepalanya. Air mata mengalir di pipinya. "Kau bohong..."‎‎"Aku tidak berbohong," kata Bai Yu. "Aku melihatnya di dunia fana. Dia bahkan tidak bisa mengalahkanku. Bagaimana dia bisa datang ke sini? Bagaimana dia bisa menyelamatkanmu?"‎‎Xiao Fan merasakan kemarahan yang membara. Darahnya mendidih. Tangan
Last Updated: 2026-10-05
Chapter: Bab 203
Naga Laut muncul dari dasar samudra. Tubuhnya panjang. Mencapai seratus meter. Sisiknya biru keperakan. Matanya seperti dua bulan kecil yang menyala. Di sekujur tubuhnya mengalir api biru. Api itu tidak membakar air. Api itu menari di atasnya seperti hantu.‎‎Makhluk itu menatap Xiao Fan dan kelompoknya. Matanya tidak menunjukkan kebencian. Matanya menunjukkan penilaian. Suaranya terdengar seperti gemuruh ombak yang menghantam tebing.‎‎"Kalian datang untuk Api Samudra," kata Naga Laut. "Seperti yang lain. Tapi kalian berbeda. Kalian tidak agresif. Dan kalian membawa keturunan dari orang yang pernah mencoba mengambilnya. Aku bisa merasakan darahnya."‎‎Wei Lian melangkah maju. Tubuhnya gemetar. Namun tekadnya kuat. Ia berdiri di haluan perahu. Ia menatap Naga Laut. "Aku datang bukan untuk mengambil."‎‎Naga Laut menoleh. Matanya menatap Wei Lian. "Lalu kenapa kau datang?"‎‎"Aku datang untuk memutus kutukan," kata Wei Lian. Suaranya tegas. "Kutukan yang kau berikan pada leluhurku
Last Updated: 2026-10-04
Chapter: Bab 202
Keesokan harinya, mereka bersiap untuk penyelaman kedua. Xiao Fan memeriksa tali. Wei Lian menajamkan pedangnya. Mo Cheng menyiapkan obat-obatan. Lei duduk di dek. Tubuhnya sudah pulih. Namun ia masih tidak suka air. Ia menatap laut dengan wajah masam.‎‎"Matahari belum terlalu tinggi," kata Xiao Fan. "Kita berangkat sekarang."‎‎Namun sebelum mereka sempat bergerak, langit di atas mereka berubah. Beberapa perahu muncul dari arah barat. Perahu-perahu itu besar. Layar-layarnya hitam. Di atasnya berdiri puluhan orang. Pakaian mereka compang-camping. Wajah mereka keras. Mata mereka serakah.‎‎Di perahu paling depan, berdiri seorang pria berjubah merah. Tubuhnya tinggi. Wajahnya tajam. Auranya kuat. Spirit Severing Awal. Ia menatap Xiao Fan dengan senyum tipis.‎‎"Jadi kalian yang menemukan Api Samudra?" kata pria itu. Suaranya lantang. "Aku sudah mendengar tentang api itu. Aku sudah mencarinya selama bertahun-tahun. Dan sekarang... kalian akan memberikannya padaku."‎‎Xiao Fan melan
Last Updated: 2026-10-03
Chapter: Bab 201
‎Malam itu, mereka berkumpul di dek perahu. Ombak-ombak menghantam lambung. Angin laut bertiup pelan. Bintang-bintang memenuhi langit. Wei Lian duduk di tengah. Wajahnya pucat. Tangannya menggenggam lututnya sendiri. Ia menarik napas panjang.‎‎"Ada sesuatu yang harus kuberitahu kalian semua," kata Wei Lian. Suaranya pelan.‎‎Xiao Fan duduk di seberangnya. Lei berbaring di samping Xiao Fan. Tubuhnya masih lemah setelah kejadian di dasar samudra. Namun ia tetap terjaga. Mo Cheng duduk di dekat kemudi. Ia menatap Wei Lian dengan mata penasaran.‎‎"Aku sudah memberitahu Xiao Fan," kata Wei Lian. "Tapi kalian berdua belum tahu. Klan Wei... adalah keturunan dari seorang kultivator yang pernah mencoba mengambil Api Samudra."‎‎Mo Cheng menegang. Matanya terbelalak. "Apa?"‎‎"Ratusan tahun lalu," kata Wei Lian. "Leluhur kami. Ia gagal. Ia tidak mati. Namun ia tidak berhasil. Dan kegagalan itu menjadi kutukan."‎‎"Kutukan apa?" tanya Mo Cheng.‎‎"Klan Wei tidak pernah bisa memiliki ket
Last Updated: 2026-10-02
The Last Regressor: Kesempatan Kedua Untuk Membalas Dendam

The Last Regressor: Kesempatan Kedua Untuk Membalas Dendam

Pada tahun 2019 sebuah meteor yang membawa virus bernama 'Veyron' menghantam bumi, mengakibatkan semua kehidupan hancur, 95% manusia menjadi mutan, begitu juga dengan hewan dan tumbuhan. Reivan salah satu manusia yang berhasil selamat dari kehancuran itu berhasil membangkitkan kekuatan tersembunyi virus Veyron, akan tetapi setelah meteor ketiga jatuh dan mutan berevolusi ke fase Evolusi 5, Reivan harus menelan pil pahit, Aurelia (Aurel) wanita yang ia cintai dan percayai selama tiga tahun terakhir semenjak kiaman, menusuknya dari belakang, hingga Reivan berkahir menjadi santapan para mutan Evolusi 5. Akan tetapi kehidupannya tidak berkahir di situ, semesta memberinya kesempatan kedua untuk hidup, Reivan kembali kemasa lalu dimana waktu menunjukkan 2 jam sebelum virus veyron menyebar.
Read
Chapter: Bab 56
‎Keesokan harinya, Sita mengetuk pintu bangunan tempat Reivan dan teman-temannya menginap. Reivan yang sedang bermeditasi membuka matanya, lalu berdiri dan membuka pintu untuk Sita.‎‎"Selamat pagi," kata Sita dengan nada yang lebih ramah dari biasanya. "Aku akan mengajak kalian melihat-lihat area kamp. Itu pun kalau kalian tidak keberatan."‎‎Reivan mengangguk dan berbalik ke arah teman-temannya yang masih tertidur. Bayu dan Siti masih bermalas-malasan di atas tempat tidur masing-masing. Siska dan Raka sudah bangun dan sedang merapikan perlengkapan mereka.‎‎"Bangun. Kita akan berkeliling kamp," kata Reivan sambil menepuk pundak Bayu dan Siti.‎‎Bayu menggeliat dengan mata yang masih setengah tertutup. "Lima menit lagi..."‎‎Siti mengerang dan menarik selimutnya. "Kak, aku masih ngantuk..."‎‎Raka yang sudah berdiri di dekat pintu hanya tersenyum tipis. "Kalian ini benar-benar hobi membuat Kak Reivan repot ya."‎‎Siska menambahkan sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. "R
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: Bab 55
‎Satria menoleh pada Sita. "Sit, aku serahkan tamu-tamu kita kepadamu. Carikan mereka ruangan untuk istirahat. Aku masih ada urusan lain yang perlu kuurus."‎‎Sita mengangguk sambil tersenyum. "Jangan khawatir, serahkan mereka padaku. Kau fokus saja dengan urusanmu."‎‎Satria kembali menoleh pada Reivan dan kawan-kawannya. Ia tersenyum ramah. "Baiklah, Saudara Reivan. Kalian akan dipandu oleh Sita ke ruangan istirahat kalian."‎‎Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berbicara dengan suara rendah agar tak didengar oleh Reivan. "Lakukan yang terbaik untuk memuaskan mereka. Akan lebih baik lagi jika mereka bersedia menetap di sini."‎‎"Dimengerti," ujar Sita dengan anggukan kecil. Satria melanjutkan langkahnya, meninggalkan Sita dan kelompok Reivan di lorong itu.‎‎Sita menghampiri Reivan di pintu keluar bersama Bayu, Siti, Siska, dan Raka.‎‎"Baiklah, teman-teman. Biar kutunjukkan arah kamar kalian." Katanya saat ia sudah berjalan di depan. ‎Reivan dan kawan-kawan mengikuti Si
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: Bab 54
Mereka tiba di markas Cipeundeuy ketika Reivan dan kawan-kawan turun dari mobil mereka. Sebuah benteng pertahanan dengan tembok kokoh yang tinggi yang dibangun dari beton menyambut mereka. Terdapat menara pengawas di setiap sudut dan lampu-lampu tenaga surya yang menerangi area dalam. ‎ ‎Sita yang juga sudah turun dari mobilnya berjalan mendekati Reivan. ‎ ‎"Inilah markas kami. Ayo kita masuk." ‎ ‎Kata Sita lalu berbalik dan berjalan di depan. Reivan mengangguk ketika ia dan kawan-kawannya bersama Nia dan anggotanya mengikuti langkah Sita. ‎ ‎Sita membawa mereka melewati gerbang utama. Beberapa penjaga yang mengenali Wakil Kapten itu langsung memberi jalan tanpa bertanya. ‎ ‎"Kapten sudah menunggu kita di dalam. Setelah aku menghubunginya dengan radio, dia sangat ingin bertemu dengan kalian." ‎ ‎Katanya ketika tiba-tiba perut Bayu berbunyi. ‎ ‎Krruukk! ‎ ‎Semua orang menatap Bayu ketika Bayu hanya menyeringai malu. ‎ ‎"Ehehehe! Aku sangat lapar..." K
Last Updated: 2026-09-18
Chapter: Bab 53
‎Beberapa menit setelah Mutan Evolusi Dua itu tumbang, Bayu dan Siti sudah kembali berdebat. Kali ini tentang siapa yang paling berjasa dalam pertarungan tadi.‎‎Bayu duduk di atas beton dengan tombaknya yang sudah kembali berbentuk sebatang besi. "Kau lihat sendiri, kan? Aku yang pertama melumpuhkan kakinya. Tanpa itu, kau tidak akan punya celah untuk menusuk lehernya dari belakang."‎‎Siti mendengus sambil menggulung lolipop di mulutnya. "Halah. Kalau bukan karena pisauku yang menancap di matanya, kau masih sibuk menghindari serangannya sampai sekarang."‎‎Siska yang sedang menyimpan katananya menoleh ke arah mereka dengan ekspresi lelah. "Kalian berdua selalu saja berdebat. Mutannya sudah mati, jadi tidak usah ribut soal siapa yang paling hebat."‎‎Raka yang duduk di samping Siti hanya tersenyum tipis. Ia menggulung lolipop kedua di mulutnya tanpa berkata apa-apa.‎‎Reivan mengembuskan asap cerutunya pelan. "Kalian semua berkembang. Tapi masih banyak yang harus diperbaiki. Bay
Last Updated: 2026-09-17
Chapter: Bab 52
‎Mutan Evolusi Dua itu mengaum ke arah kumpulan manusia yang ada di hadapannya.‎‎"ROAR!"‎‎"MO-MONSTER!" teriak empat orang rekan Nia yang masih hidup.‎‎"Kalian pergilah dulu." Kata Reivan saat matanya tak lepas dari Mutan Evolusi Dua itu.‎‎"Lalu bagaimana dengan kalian?" tanya Nia. "Bukankah lebih bagus jika kita melawannya bersama?" ‎‎Reivan menatapnya dengan mata sedikit menyipit. "Kalian hanya akan menjadi pengganggu bagi kami. Jadi biarkan kami yang menyelesaikan yang satu ini."‎‎Reivan menoleh pada Sarah, temannya Nia. "Bawa teman kalian pergi dari sini."‎‎Sarah mengangguk ketika ia menarik Nia menjauh. "Ayo, Nia! Kita harus menjauh sebelum terlambat!"‎‎Mereka berdua berlari menjauh ketika Nia menoleh ke belakang dan berkata. "Bertahanlah! Kami akan mencari bantuan!" Teriak Nia. ‎‎Sementara Mutan Evolusi Dua itu kembali mengaum.‎‎"Roar!"‎‎Ia melesat maju ke arah kelompok Reivan. Reivan melesat ke depan dan menendang Mutan itu.‎‎"Diamlah! Jangan berisik!" K
Last Updated: 2026-09-16
Chapter: Bab 51
‎"Lariiiiii!" teriak teman-teman Dimas ketika di belakang mereka para Mutan mengejar.‎‎"Roar! Roar! Rawr!"‎‎Sambil berlari menjauh, Dimas menoleh ke belakang ketika menembakkan pistolnya.‎‎Dor! Dor! Dor!‎‎"Matilah kalian, binatang! Jangan mendekat!" kata Dimas sambil terus menembak para Mutan.‎‎Sarah yang berada di depan berseru. "Tidak! Di depan jalan buntu!" Katanya saat melihat tembok tinggi yang ada di depan mereka. ‎‎Sementara Dimas terus menembak dan melawan para Mutan, ia berkata. "Kalian tunggu apa lagi! Ayo cepat keluarkan senjata kalian! Teriaknya pada teman-temannya di sela dirinya terus menembaki para Mutan. Lalu ia melihat Nia yang melawan Mutan dengan tongkat.‎"Oi, Nia! Di mana senjatamu?"‎‎Nia yang mengayunkan tongkatnya untuk menghantam salah satu Mutan yang mendekat ke arahnya berkata. "Aku memberikannya pada anak-anak tadi!"‎‎Dimas menoleh padanya. "Bodoh! Kita di sini tidak bisa melindungi diri sendiri, dan kau malah memberikan senjatamu pada merek
Last Updated: 2026-09-15
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status