
Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat
Dia dihancurkan, diracun, dan dikhianati oleh orang terdekatnya. Tapi takdir berkata lain—dua roh kuno dari surga dan neraka memilihnya sebagai pewaris tunggal.
Xiao Fan, jenius nomor satu Kekaisaran Tianyu telah kehilangan segalanya dalam semalam. Dantiannya hancur akibat racun dari sepupunya sendiri. Tunangannya, Lin Yue, membatalkan pertunangan di depan umum. Dan ayahnya, sang patriark, dipaksa berlutut dalam kehinaan.
Dalam keputus asaan, Xiao Fan berlari tanpa tujuan dan berakhir menemukan rahasia yang akan mengubah segalanya: Ternyata dunia ini adalah kandang buatan Dewa Bermata Tiga, dan ia adalah eksperimen gagal dari perang kuno antara Dewa dan Iblis.
Dua roh tertinggi—Malaikat Bersayap Enam dan Asura Bertanduk Enam—menyatu ke dalam tubuhnya. Mereka memberinya Dantian Ganda: Emas untuk Dewa, Ungu untuk Iblis. Dan Mata Yin-Yang yang mampu melihat kebenaran dan kelemahan jiwa.
Dengan kedua warisan dari dua makhluk legendaris itu, Xiao Fan membantai musuh-musuhnya satu per satu, dan membuktikan bahwa seorang "sampah" bisa menjadi Kaisar Dewa Iblis sejati.
Namun saat ia hampir mencapai puncak, gadis yang ia cintai, Xuan'er, dijemput paksa ke Alam Surgawi untuk dikorbankan demi ambisi Dewa Bermata Tiga.
Xiao Fan hanya berbisik pada langit:
"Jika kau berani menyentuh sehelai rambutnya saja... akan kuhancurkan alam semesta ini."
Basahin
Chapter: Bab 8 Jurus Pedang Sembilan LangitXiao Fan menutup matanya. Menarik napas dalam-dalam. Hening. Seluruh alun-alun seolah ikut menahan napas bersamanya. Ribuan pasang mata tertuju pada pemuda berjubah perak yang berdiri sendirian di atas panggung marmer putih itu. Angin pagi berembus pelan, menerbangkan ujung jubahnya, menciptakan satu-satunya gerakan di tengah keheningan yang mencekam. Lalu ia membuka matanya. Dan dalam satu gerakan cepat ia menghunus Pedang Bintang Jatuh dari punggungnya. SHRIIIING! Bunyi pedang keluar dari sarungnya terdengar seperti nyanyian logam. Bilah perak itu berkilau diterpa sinar matahari pagi, menciptakan pantulan cahaya yang menari-nari di permukaan marmer putih. Bisikan kagum seketika menyebar di antara para penonton. "Pedang Bintang Jatuh," gumam Tetua Mo Qian dari tribun Klan Mo. Matanya yang tua melebar, kedua tangannya mencengkeram sandaran kursinya. "Aku pikir pedang itu hanya mitos yang diceritakan turun-temurun." Mo Cheng, cucunya yang duduk di samping, ikut menatap pedang
Huling Na-update: 2026-05-05
Chapter: Bab 7: Panggung KeemasanAlun-Alun Tianyu hari itu adalah pemandangan yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun yang menyaksikannya. Lima bendera raksasa berkibar di tiang-tiang setinggi dua puluh meter—naga perak yang melambangkan Klan Xiao di tengah, dikelilingi oleh harimau hitam Klan Mo, burung merah Klan Lin, ular emas Klan Jiang, dan kura-kura biru Klan Wei. Simbol persatuan lima klan besar yang telah menjaga Kekaisaran Tianyu selama ratusan tahun. Di sisi utara alun-alun, sebuah panggung kehormatan didirikan khusus untuk Kaisar dan para pembesarnya. Singgasana emas berukir naga berdiri di tengah, diapit oleh dua belas pengawal pribadi berlapis emas murni—mereka adalah Pengawal Langit, kultivator elit yang masing-masing setara dengan Tahap Inti Emas. Kaisar Tianyu sendiri—seorang pria berusia empat puluhan dengan janggut tipis dan mata tajam—duduk di singgasananya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Di sampingnya, para menteri dan jenderal berbaris rapih. "Ini pertama kalinya dalam dua puluh
Huling Na-update: 2026-04-14
Chapter: Bab 6: Pagi Yang MenentukanBeberapa jam sebelumnya. Di dalam kamarnya, Xiao Fan berdiri di depan cermin perunggu, menatap bayangannya sendiri. Jubah perak warisan leluhur Klan Xiao telah ia kenakan—kain sutra berusia ratusan tahun yang hanya dikeluarkan untuk upacara-upacara terpenting. Sulaman benang emas berbentuk naga di bagian dada tampak hidup diterpa cahaya lilin. "Kau terlihat seperti kakek buyutmu," suara Xiao Tianhe terdengar dari ambang pintu. Sang patriark berdiri di sana dengan tangan terlipat di dada, matanya berkaca-kaca. "Waktu Ayah masih kecil, Ayah pernah melihat lukisan dirinya. Postur dan tatapan kalian benar-benar mirip." Xiao Fan berbalik, tersenyum tipis. "Ayah, Ayah membuatku gugup dengan pujian seperti itu." "Gugup? Kau gugup?" Xiao Tianhe tertawa kecil. "Sejak kapan kau grogi? Waktu kau berusia sepuluh tahun dan harus melawan seekor harimau buas di hutan belakang, kau bahkan tidak berkeringat." "Itu karena aku terlalu bodoh untuk takut." Xiao Fan meraih Pedang Bintang Jatuh da
Huling Na-update: 2026-04-13
Chapter: Bab 5: Senyuman yang Tak Pernah TerucapLatihan itu berlangsung hingga bulan bergeser ke barat. Xiao Fan akhirnya menyarungkan pedangnya, napasnya terengah-engah tapi matanya bersinar puas."Cukup," katanya pada diri sendiri. "Ini sudah cukup."Ia berjalan kembali ke anak tangga tempat Xuan'er duduk. Gadis itu telah tertidur, kepalanya bersandar di tiang bambu, dengan toples kue masih di pangkuannya. Beberapa remah kue menempel di sudut bibirnya.Xiao Fan tersenyum melihat pemandangan itu. Ia duduk perlahan di samping Xuan'er, berhati-hati agar tidak membangunkannya. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap gadis itu—wajahnya yang damai dalam tidur, rambut hitamnya yang tergerai, matanya yang tertutup tapi ia tahu menyimpan warna safir yang indah."Apa yang kau sembunyikan, Xuan'er?" bisiknya pelan. "Kadang aku merasa kau bukan gadis biasa. Dari matamu, caramu bergerak, dan kadang menghilang tiba-tiba lalu muncul lagi."Xuan'er tidak menjawab, tentu saja. Ia terus tidur dengan pulas.Xiao Fan menghela napas, lalu melepas jubah
Huling Na-update: 2026-04-13
Chapter: Bab 4: Tarian Pedang di Bawah BulanMalam telah larut ketika Xiao Fan akhirnya meninggalkan aula utama. Saat itu ia baru saja menghadiri pertemuan dengan para tetua untuk membahas demonstrasi esok hari—semua orang ingin memberi wejangan terakhir, semua orang ingin mengingatkannya tentang betapa pentingnya demonstrasi besok. "Kau pasti lelah?" suara lembut itu terdengar dari samping. Xuan'er muncul dari balik pilar, membawa lentera kertas yang menerangi wajahnya dengan cahaya hangat. "Kau juga belum makan malam kan?" Xiao Fan menghela napas panjang. "Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku makan." "Karena itu aku membawakan ini." Xuan'er mengangkat toples kue bulan di tangannya. "Aku membuatnya pagi tadi. Awalnya aku ingin memberikannya padamu sebagai bekal besok, tapi sepertinya Kakak Xiao Fan butuh tenaga malam ini juga." Mereka berjalan bersama menuju halaman bambu—tempat latihan pribadi Xiao Fan yang jarang dikunjungi orang lain. Bulan purnama bersinar terang di langit, menciptakan bayangan-bayangan ba
Huling Na-update: 2026-04-13
Chapter: Bab 3: Secangkir Teh BeracunRuangan kerja Elder Pertama—Xiao Ba—terletak di sayap timur kompleks Klan Xiao, jauh dari bangunan utama tempat para tetua biasanya berkumpul. Ini adalah pilihan yang disengaja; semakin sedikit orang yang tahu tentang urusannya, maka semakin baik. Sore itu, Xiao Ren masuk ke ruangan ayahnya dengan langkah cepat. Wajahnya tegang, tapi ada kilatan kemenangan di matanya. "Ayah," katanya sambil menutup pintu rapat-rapat. "Semuanya sudah siap." Xiao Ba—pria berusia lima puluhan dengan janggut tipis dan mata yang selalu menyipit seperti sedang menghitung sesuatu—mengangguk pelan. Di atas mejanya, sebuah kotak kayu hitam terbuka, memperlihatkan botol kristal kecil berisi cairan hitam pekat yang tampak seperti tinta. "Racun Seribu Cacing," gumam Xiao Ba, jari-jarinya menyentuh botol itu dengan hati-hati. "Kau tahu berapa harga yang harus Ayah bayar untuk ini?" Xiao Ren mendekat, matanya terpaku pada cairan hitam itu. "Berapa, Ayah?" "Separuh kekayaan kita." Xiao Ba tersenyum pahit. "Lim
Huling Na-update: 2026-04-13