Beranda / Historical / Bara Dendam Sang Prabu Boko / Bab 110 Trauma Panah dan Kesadaran Kakak

Share

Bab 110 Trauma Panah dan Kesadaran Kakak

Penulis: Alexa Ayang
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-14 22:57:31

Suasana di Poh Gading masih diselimuti ketegangan pasca-insiden panah yang nyaris merenggut nyawa Mpu Panukuh. Mpu Kumbayoni kini dirawat lukanya oleh Dyah Ayu Manohara di bilik bambu, menyisakan dua kakak beradik itu dalam keheningan yang canggung.

Pangeran Talang Wisang (12 tahun), duduk di sudut, lututnya ditekuk erat ke dada. Senjata panahnya tergeletak jauh di lumpur, tempat ia melemparkannya. Meskipun adiknya, Mpu Panukuh (9 tahun), kini duduk di sebelahnya dengan tatapan mata polos, trauma itu menancap dalam di benak Talang Wisang. Air matanya jatuh dan tatapannya kosong.

"Maafkan aku, Dimas," bisik Talang Wisang, suaranya serak. Wajahnya yang biasanya ceria kini diliputi ketakutan. "Aku... aku hampir saja membunuhmu."

Panukuh, yang memiliki Elemen Tanah yang tenang, menyentuh tangan kakaknya. "Tidak apa-apa, Kangmas. Sungguh. Anak panah itu meleset. Itu bukan salah Kangmas. Kita hanya sedang berlatih. Dan aku salah karena berdiri tepat di jalur sasaran itu" katanya sambil meng
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 223: Rahasia di Song Putri

    Keteguhan hati Sang Pemuja Tantra itu akhirnya runtuh, bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh intaian tentakel nafsu duniawi yang perlahan namun pasti melilit kalbu. Mpu Kumbhayoni, Rakai Agung dari Watak Walaing, dengan tergesa membawa Dyah Ayu Ganastri keluar dari pusat hiburan malam Pangarang. Namun, tujuan berikutnya bukanlah pusat kediamannya di Walaing. Naluri strategisnya, meski kini dinodai oleh kegelapan, sangat menyadari bahwa tatapan tajam dan pikiran cemerlang Dyah Ayu Manohara, sang istri junjungan, beserta kecerdasan adiknya, Sri Gunting, akan dengan mudah membongkar selubung rahasia gelap ini. Aib ini, jika terkuak di hadapan mereka, bukan sekadar menjatuhkan martabat pribadi, tetapi juga mengancam fondasi stabilitas kepatihan yang telah dibangun dengan susah payah.Untuk menyembunyikan simpanan terlarang ini, Kumbhayoni memilih Song Putri, sebuah wilayah tersembunyi yang letaknya jauh terpencil dari hiruk-pikuk pusat kekuasaan Walaing. Area itu adalah hamparan lemba

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 222: Rayuan Sang Primadona

    Di sebuah ruang privat di bilangan Pangarang, yang sunyi dan harum semerbak oleh wangi kayu cendana dari bejana pembakar, bercampur samar dengan asap dupa yang menari-nari, Dyah Ayu Ganastri bersinar bagaikan rembulan yang memecah pekatnya malam. Sosoknya adalah personifikasi keindahan, sebuah magnet yang menarik pandangan setiap insan. Parasnya yang ayu memikat hati siapa pun yang menatap, bahkan sempat mengukir bayangan yang menyerupai Dyah Manohara, permaisuri sah Sang Rakai, namun Ganastri tampil dengan rona muda yang lebih menantang dan lekuk tubuh yang jauh lebih sintal, membangkitkan gelora yang tersembunyi.Sebagai primadona kesayangan di Paringgitan Bhara, sebuah tempat hiburan malam yang menjadi persinggahan tetap para bangsawan dan petinggi keraton, Ganastri tak sekadar mengandalkan keelokan rupa. Suaranya, ketika melantunkan kidung-kidung populer yang menjadi pujaan di kala itu, mengalun bening bak tetesan embun pagi, memiliki daya magis yang sanggup meluruhkan hati ksatri

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 221 Duri di Jantung Walaing

    Debu tebal mengepul dari pijakan kaki-kaki kuda yang berlari bak kesetanan, melukis gumpalan cokelat di ufuk senja saat Mpu Kumbhayoni memacu kudanya dengan liar, menuruni bukit berbatu Abhaya Giri. Hatinya bergemuruh, diselimuti amarah dan keraguan yang menghimpit jiwanya. Tiga Rakai penghasut—Madusupena, Dwijapala, dan Danaraharsa—mengikutinya di belakang, mata mereka memancarkan binar kemenangan yang tersembunyi, sebuah pertanda dari jaring muslihat yang mulai menjerat Sang Rakai Walaing.Setibanya di pelataran luas Abhaya Giri Vihara, pemandangan yang menyambut mereka memanglah luar biasa, jauh melampaui gambaran sekilas yang pernah Mpu Kumbhayoni dengar. Vihara agung itu tampak hidup dan bercahaya, dikelilingi oleh ribuan cahaya lilin yang berkelap-kelip seperti bintang-bintang jatuh ke bumi. Puluhan bhikku berjubah jingga dan kuning dari berbagai negeri berjalan dengan tenang di antara stupa-stupa batu, ada yang berkulit gelap dari dataran India, ada pula yang berwajah teduh dar

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 220: Racun di Puncak Kelasa

    Angin kering berhembus menyapu perbukitan Sewu di wilayah Kewu, membawa serta aroma debu dan semangat pembangunan yang mengawang di kejauhan. Di atas sebuah bukit karang di utara Banyu Nibo, Mpu Kumbhayoni, yang kini telah resmi menyandang gelar kebanggaan Rakai Walaing, duduk diam di atas punggung kudanya yang berwana kelabu tua. Jubah kebesaran dengan hiasan patra bermotif kepala raksasa terukir halus menyelimuti tubuhnya, simbol kekuasaan yang baru ia genggam erat. Dari ketinggian posisi mereka, matanya yang tajam menatap jauh ke bawah, ke arah lembah di mana ribuan pekerja tampak serupa semut yang sedang menata batu dan menumbuhkan kemegahan dua karya arsitektural agung: istana Mamatripura yang tengah menjulang dan kuil megah Siwagrha yang dasar-dasarnya telah mulai terlihat.Di belakang Mpu Kumbhayoni, dua orang kepercayaannya, Laturana dan Megarana, berdiri tegak menjaga jarak, sorot mata mereka menelusuri sekitar dengan waspada. Namun, kehadiran tiga Rakai bawahan Rakai Walaing

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 219: Mamatripura, Kota di Atas Aliran Suci

    Gagasan itu, sebuah keputusan agung yang akan membentuk wajah Kerajaan Medang untuk generasi mendatang, telah diputuskan oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan. Bagai guntur yang tiba-tiba menggelegar di tengah cerahnya hari, titah Sang Maharaja menukik tajam, menciptakan riak di kolam kemapanan. Poh Pitu, ibu kota yang selama ini menjadi nadi Kerajaan Medang, sebentar lagi akan menjadi masa lalu. Pusat pemerintahan akan beralih, bersemi kembali di Bromonila, wilayah Kelasa, di tanah yang belum terjamah, di jantung apa yang kelak akan dinamai Mamatripura.Mamatripura bukan sekadar pergantian nama. Ia adalah visi, sebuah mahakarya yang dirancang untuk berdiri tidak hanya sebagai benteng kekuasaan, melainkan juga sebagai mercusuar peradaban, kota yang akan menyatu harmonis dengan irama alam sekitarnya. Ini adalah bukti nyata keseriusan Rakai Pikatan. Mata Sang Maharaja harus mengawasi secara langsung setiap goresan pahat dan tumpukan batu yang membentuk fondasi Siwagrha, candi persembahan agun

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 218: Tanah Suci Param Brahman

    Rakai Pikatan merasakan desir ambisi yang kian menggebu. Hatinya terpanggil untuk menyeimbangkan cakrawala spiritual Bhumi Medang. Ia mendambakan sebuah Siwagrha, kediaman suci Bhagawan Siwa, yang kemegahannya takkan lekang oleh pergiliran zaman, sebuah pencapaian yang mampu berdiri sejajar, bahkan melampaui, keagungan Sambhara Budura. Bagi sang Maharaja, candi agung ini tak hanya menjadi penanda keyakinan; ia adalah mercusuar kejayaan Sanjaya yang harus terpahat abadi dalam sejarah. Namun, langkah pertama dan terpenting adalah menemukan ‘locus sacer’ yang tepat, sebuah tanah suci nan strategis, fondasi spiritual dan material bagi mimpi besar itu.Untuk mewujudkan visi besar itu, Rakai Pikatan segera mengutus dua orang kepercayaannya, Adipati Gagak Rukma dan Wulung. Keduanya dikenal akan ketelitian, kecerdasan, dan kesetiaan mereka kepada takhta. Pagi itu, di balai agung Keraton Mamratipura yang diselimuti suasana khidmat, sang Maharaja mengemban amanat berat.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status