Home / Pendekar / Bara Dendam di Perbatasan / 7 - Pertunjukan Maut

Share

7 - Pertunjukan Maut

Author: Kebo Rawis
last update Huling Na-update: 2024-08-11 08:07:31

Di tempatnya, Seta menduga-duga apa yang bakal dilakukan begundal-begundal tersebut. Tatapan matanya terarah pada sang isteri yang terbaring lemah. Tiba-tiba saja satu pikiran buruk terlintas di kepalanya.

"Oh, tidak!" seru Seta tanpa sadar. Kepalanya digeleng-gelengkan sekeras-keras mungkin, berusaha mengusir bayangan-bayangan buruk tersebut.

"Seta, aku harap kau senang dengan pertunjukan yang kami suguhkan ini," kata Ranajaya, membuat sang prajurit memusatkan perhatian ke depan.

Lagi-lagi Ranajaya beri isyarat kepala pada salah satu anak buahnya. Yang diberi isyarat tertawa-tawa senang sembari usap-usap bagian pangkal pahanya.

Gerakan tangan orang itu membuat Seta terkesiap. Bayangan-bayangan buruk tadi kembali muncul di kepalanya.

Benar saja. Lelaki tersebut mendekati batu besar di mana isteri Seta berada. Begitu berada di tepian batu, enak saja tangan lelaki itu mengusap-usap kemaluan si perempuan. Semua dilakukan sembari terus tertawa-tawa senang.

Kehormatannya disentuh secara kurang ajar begitu, isteri Seta menjerit. Sepasang pahanya dikatupkan erat-erat, sebisa mungkin berusaha menjaga bagian kewanitaannya.

Sayang, usaha itu sia-sia belaka. Dalam sekali sentak saja lelaki bercambang bauk berhasil menyibakkan sepasang kaki mulus itu.

"Jahanam!" Seta menggeram marah. Digerakkannya kedua tangannya sekuat tenaga, mencoba lepas dari ikatan. Sayang, usahanya tak membuahkan hasil.

Ketika anak buah Ranajaya mulai menggagahi isterinya, Seta langsung tundukkan pandangan. Tubuhnya seketika bergetar hebat menahan kemarahan yang memuncak.

Terlebih ketika sepasang telinganya mendengar suara sang isteri menjerit-jerit. Juga suara tawa terbahak-bahak para lelaki jahanam.

"Seta, kenapa kau tundukkan kepalamu? Lihatlah, isterimu sungguh menikmati permainan ini," terdengar suara Ranajaya, diikuti gelak tawa membahana.

Sekali lagi Seta gerakkan tangannya sekuat tenaga, coba memutus tali-temali yang mengikat sekujur tubuhnya. Namun semakin kuat ia mencoba, justru kulitnya yang menjadi perih luar biasa. Tekanan tali terasa sampai ke tulang.

Putus asa, Seta berteriak sekeras-kerasnya. Suara teriakan sang prajurit memenuhi seisi gua. Membuat telinganya tak lagi mendengar suara rintihan bercampur tangis isterinya, juga suara gelak tawa para lelaki jahanam itu.

Sementara di tempatnya, saat meronta-ronta di bawah tindihan si lelaki penjahat, isteri Seta secara tak sengaja memutus tali pengikat tangannya. Ikatan perempuan itu agaknya memang tidak terlalu kencang.

Isteri Seta lantas melihat sebuah parang tergeletak tak jauh dari kakinya. Tanpa pikir panjang diraihnya senjata tersebut, kemudian bangkit dan duduk.

Bersamaan dengan itu tangannya bergerak sangat cepat. Parang di tangan diayunkan ke arah selangkangan.

Crraasss!

"Aaaaaaa!"

Satu jeritan melolong terdengar keras. Diiringi pekik tertahan beberapa orang lain.

Di tempatnya, Seta yang merasa penasaran segera buka kedua kelopak matanya. Seketika itu pula sepasang matanya membeliak besar. Tak percaya pada apa yang telah dilakukan oleh isterinya.

Di batu besar yang menjadi pembaringan tempat isterinya disandera, Seta melihat lelaki yang tadi menggauli perempuan itu terjajar mundur dengan wajah ngeri. Kedua tangan lelaki tersebut memegangi bagian kemaluan.

"Perempuan keparat!" jerit lelaki tersebut dengan suara tertahan.

Berkali-kali tangan si lelaki meraba-raba ke pangkal paha, tapi benda yang ia cari tak ada. Yang terasa oleh telapaknya hanya hangat dan basah darah mengucur.

Isteri Seta terlihat menyeringai aneh. Pandangannya diarahkan sekilas pada sang suami, yang balas memandang dengan tatapan bingung. Kejap berikutnya parang di tangan perempuan itu kembali bergerak cepat.

"Tidak! Jangan!" pekik Seta yang langsung dapat menduga apa yang akan dilakukan isterinya.

Namun terlambat! Tak ada yang dapat mencegah. Parang tersebut menembus pertengahan dada isteri Seta. Terdengar suaranya mengeluh tertahan, lalu tubuh polos itu terbanting jatuh dengan keras. Darah membasahi seluruh permukaan batu besar.

Paras Seta menegang. Sepasang matanya melotot besar, menatap tak percaya pada pemandangan di hadapannya. Sekejap kemudian ia menjerit sekali lagi.

"Tidaaaaaaaaaak!"

)|(

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 207

    FAJAR baru saja menyingkap langit timur ketika Seta keluar dari kediamannya di sisi barat istana. Udara dingin menusuk kulit, membawa aroma embun dan bunga kenanga dari taman permaisuri. Ia berjalan cepat melewati lorong panjang berlapis ubin batu. Di tangan kirinya tergenggam secarik kertas lusuh — catatan kecil yang ia temukan di dapur setelah Nini menghilang malam tadi.Tulisan di atasnya hampir pudar, tapi satu kalimat masih terbaca jelas: “Yang datang lewat pintu timur, bukan utusan, melainkan bayangan.”Seta memutar kalimat itu di kepalanya. Ia tahu, pintu timur istana jarang dipakai, hanya dibuka untuk tamu kerajaan tertentu atau untuk keluar masuk para pengawas kebun belakang. Tapi seminggu terakhir, penjaga di sisi timur mendadak diganti dengan wajah-wajah baru — prajurit muda yang tak pernah ia lihat sebelumnya.“Hamba mesti periksa sendiri,” desisnya.Lorong berakhir di pelataran kecil. Beberapa daya

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 206

    MALAM itu angin berembus lirih melewati pepohonan taman istana. Bayangan lentera bergoyang di dinding bata, menimbulkan kesan seolah ada arwah yang menari di antara kelam. Seta berdiri di tepi kolam, menatap permukaannya yang bergemericik diterpa angin. Di bawah sinar bulan, wajahnya tampak letih, matanya dalam, menyimpan beban yang semakin berat dari malam ke malam.Sudah tiga hari ia menyelidiki dari balik bayang. Setiap langkah berhitung, setiap kata ditimbang. Ia tahu betul bahwa mata dan telinga Dyah Srengga bertebaran di seluruh penjuru istana Panjalu. Tak satu langkah pun boleh keliru, sebab kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat lehernya melayang.“Bukti yang nyata,” gumamnya perlahan. “Hamba mesti temukan itu, sebelum Gusti Permaisuri celaka.”Ia memejamkan mata, mengingat kembali pertemuannya terakhir dengan Sasi Kirana siang tadi. Wajah sang permaisuri yang biasanya teduh tampak resah, suaranya bergetar ketika memerintah agar

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 205

    MALAM itu langit Panjalu berawan berat. Angin berembus pelan membawa bau bunga kenanga dari taman belakang istana, bercampur samar dengan hawa lembap tanah setelah hujan sore tadi. Seta belum tidur. Matanya menatap tajam ke arah jendela, mendengarkan setiap langkah yang melintas di luar biliknya.Sejak kematian Lira, perasaannya tak pernah benar-benar tenang. Ada sesuatu yang janggal. Ia telah bertanya ke beberapa emban, tapi tak satu pun tahu mengapa perempuan itu keluar dari dapur tengah malam. Lira dikenal rajin, sopan, dan jarang berbuat aneh—tidak mungkin ia mati hanya karena terpeleset.Suara langkah halus terdengar melewati lorong. Seta menegakkan tubuh, beringsut ke pintu. Dari celah bilik, ia melihat dua sosok lewat dengan membawa bakul kecil tertutup kain putih. Mereka berpakaian seperti abdi dapur, tapi langkahnya terlalu berhati-hati, terlalu sunyi.Naluri seorang prajurit bekerja lebih cepat dari pikirannya. Seta mengenakan ikat kepala dan kel

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 204

    MALAM itu, angin bertiup pelan dari arah hutan utara, membawa bau lembap tanah dan rerumputan. Istana Panjalu tampak tenteram di permukaan, tapi di bawah permukaannya ada arus gelap yang mulai berputar—dan Seta berdiri tepat di tepinya.Sejak menemukan surat rahasia itu di bawah lantai bangsal timur, pikirannya tak pernah tenang. Kata-kata dalam pesan itu berputar-putar di kepalanya seperti mantra yang sulit lenyap: “Tunggumu di batu bundar. Malam saat rembulan ganjil.”Dan malam ini, rembulan itu sedang ganjil—bulan purnama menyorot miring, menimbulkan bayang panjang di atas taman belakang istana.Ia melangkah pelan di antara deretan pohon tanjung dan kamboja. Taman belakang itu berada di sisi timur tembok, jarang dilalui orang kecuali para abdi yang menyapu daun di pagi hari. Di tengah taman ada sebuah batu besar berbentuk bulat pipih, hampir tertutup lumut—itulah yang diyakininya sebagai “batu bundar” dalam pesan.Seta menunggu dari balik semak. Dari kejauhan, ia bisa melihat jalan

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 203

    Seta menunggu hingga matahari tergelincir dari ubun-ubun. Saat itu, kebanyakan abdi dalem akan sibuk di bangsal tengah—membersihkan ruangan utama setelah santap siang para pembesar. Waktu yang tepat untuk menyusup ke bangsal timur, tempat Wadu tinggal sebelum ia menghilang entah ke mana.Seta memilih jalan belakang, melalui lorong-lorong sempit yang biasa dilalui pengangkat air dan pemikul kayu. Langkahnya ringan, tubuhnya setengah bersembunyi di balik tiang dan tabir. Ia tahu betul, satu kesalahan kecil bisa membuatnya diadili karena menyusup ke ruang kediaman abdi dalem tanpa izin.Bangsal timur sunyi. Di luar, hanya ada satu penjaga yang duduk malas sambil mengunyah sirih. Seta menunggu sampai penjaga itu lengah, lalu menyelinap masuk lewat pintu samping.Ruangan itu gelap, lembap, dan penuh bau keringat. Tikar pandan digelar berderet, menunjukkan bahwa tempat itu dihuni beberapa orang sekaligus.Seta melangkah pelan, menyusuri sudut demi sudut h

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 202

    Langkah Seta tak langsung menuju ke barak. Pagi itu, setelah meninggalkan kediaman permaisuri, ia berputar arah ke sisi belakang istana.Di sanalah dapur besar kerajaan berdiri, nyaris tak pernah sepi sejak fajar. Asap tipis mengepul dari tungku tanah liat, aroma rebusan daging dan beras merah bercampur dengan harum dedaunan segar yang baru dipotong.Seta menyusup di antara para pelayan yang sibuk, menyapa sekadarnya agar tak tampak mencurigakan. Pandangannya mencari satu nama—Ni Lastri, juru masak kepala yang sudah puluhan tahun mengabdi di istana permaisuri.Tak lama, ia menemukan orang yang dicari-cari di balik anyaman tikar bambu, tengah membersihkan lembaran-lembaran daun pisang.“Ni Lastri…” Seta menyapa dengan suara rendah.Perempuan tua itu menoleh cepat, sedikit heran. “Oh, Raden Seta? Ada angin apa pagi-pagi kemari?”“Tidak usah panggil raden. Aku… aku hanya abdi bi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status