Share

8 - Amarah Seta

Penulis: Kebo Rawis
last update Terakhir Diperbarui: 2024-08-12 08:07:01

MELEDAK sudah amarah Seta. Prajurit muda Jenggala ini tidak dapat menahan diri lagi. Mulutnya keluarkan suara menggeram dahsyat. Tubuhnya bergerak ke depan, menjauh dari batu tinggi tempatnya terikat. Kedua tangan dihentakkan kuat-kuat untuk memutus tali.

Pada percobaan pertama usaha tersebut gagal. Seta justru merasakan bagian tubuh dan tangannya yang terikat sakit bukan main. Apalagi luka sabetan parang di dadanya yang masih belum kering. Rasa perihnya sungguh tak terkira.

Akan tetapi sang prajurit tak mau ambil peduli. Hanya satu yang ada di kepalanya saat ini: menghabisi Ranajaya dan gerombolannya. Ia bahkan rela mati menyusul isterinya untuk itu.

"Heeeeeaaaa!"

Seta kembali menggembor keras. Sekali lagi badan dan kedua tangannya digerakkan secara bersamaan. Seluruh tenaga dalamnya dikerahkan habis-habisan. Tali-temali yang mengikat sang prajurit seketika menegang, sampai akhirnya ....

Taasss! Taasss!

Beberapa bagian tali putus dan jatuh ke lantai gua. Tubuh Seta terbebas lepas dari ikatan. Begitu kedua tangannya dapat bergerak leluasa, sang prajurit langsung menyerbu ke arah lelaki yang tadi menggauli isterinya secara paksa.

"Modar kowe, lelaki keparat!" teriak Seta sembari layangkan satu pukulan.

Yang diserang hanya berdiri diam macam orang linglung. Agaknya masih terkejut dan juga belum dapat mempercayai bagian kelelakiannya sudah tak ada lagi.

Karena sama sekali tidak bergerak menghindar, tinju Seta pun mendarat telak di wajah lelaki tersebut. Kepalanya sampai berputar ke samping saking kerasnya pukulan.

Buukkk!

Lelaki tersebut mengaduh lalu tersungkur, jatuh mengantuk sudut batu besar di mana jasad isteri Seta tergeletak. Seta pun mengejar dengan geram. Sebelah kakinya terjulur mengirim satu tendangan disertai teriakan menggelegar.

Kraaak!

Lagi-lagi yang diserang tidak menghindar. Tendangan Seta mendarat tepat di batang leher lelaki tersebut. Terdengar suara berderak tulang patah, diikuti lenguhan pendek.

Kejap berikutnya tubuh lelaki tersebut ambruk ke lantai gua. Setelahnya diam tak bergerak lagi.

"Bangsat! Kau sudah membunuh anak buahku!" Terdengar suara Ranajaya menggeram.

Seta berpaling ke arah asal suara. Dilihatnya lelaki bercambang bauk lebat itu melangkah mendekat. Di wajahnya yang bengis tersungging satu seringai lebar.

"Kau juga akan kubuat mati menyusul anak buahmu itu, Ranajaya keparat!" balas Seta.

Usai berkata begitu Seta bergerak cepat menyambar pedangnya yang tergeletak di lantai gua. Kejap selanjutnya senjata itu sudah diayunkan ke muka, mengarah ke batang leher Ranajaya.

Yang diserang mendengus pendek. Lelaki berwajah bengis itu tampak tenang-tenang saja. Namun rupanya diam-diam ia memberi isyarat pada dua lelaki bertopeng yang tadi menghajar Seta secara membokong.

Dua lelaki yang diberi isyarat segera melompat ke hadapan Seta. Salah satu dari mereka langsung lancarkan tendangan, mengarah ke pergelangan tangan sang prajurit yang tengah mengayun pedang. Sedangkan yang satu lagi mengirim tendangan ke arah dada.

Wuuuttt! Wuuuttt!

Seta melengak kaget. Sama sekali tak menyangka bakal mendapat dua serangan cepat sekaligus seperti itu. Otaknya cepat berpikir. Lebih baik ia merelakan pedang terlepas ketimbang dadanya jadi sasaran.

Maka sang prajurit pun urungkan sabetannya. Tangan yang sudah terulur ditarik kembali, lalu tubuhnya dimiringkan sedikit sembari agak merunduk ke belakang. Dengan cara itu ia dapat menghindari dua tendangan yang dilepas kedua lawan sekaligus.

Akan tetapi Seta tak sempat bernapas lega. Begitu serangan pertama gagal, dua lelaki bertopeng sudah datang lagi dengan serangan berikutnya.

Dua kaki kembali menderu ke arahnya. Satu menuju ke kepala, satu lagi ke perut. Prajurit Jenggala ini menggeram marah.

"Bangsat haram jadah!" maki Seta. Sekuat tenaga ia lempar tubuh ke belakang, bersalto dua putaran menjauhi datangnya tendangan.

Sayang, rupanya lawan sudah menduga gerakan tersebut. Serangan itu pun agaknya hanya tipuan. Sebab saat tubuh Seta masih bersalto, kedua lelaki bertopeng tersebut meloncat mengikuti. Sembari melayang di udara, tangan keduanya melepas pukulan jarak jauh.

Wuuuusss! Wuuuusss!

Dua pukulan datang menderu dari dua arah. Seta kertakkan rahang. Keadaan dirinya tak memungkinkan untuk langsung menghindar. Ketika kemudian kakinya mendarat di lantai gua, serangan tersebut mendarat telak di tubuhnya.

Blaaaaar!

Satu letusan dahsyat terdengar, bergema memekakkan telinga. Suara tersebut diikuti mengepulnya segulung asap bercampur debut memenuhi ruangan gua. Dinding gua bergetar hebat seolah dilanda gempa.

Di antara semua itu, Seta memekik kesakitan. Dadanya kiri-kanan seolah dihantam sebatang balok batu besar. Sedangkan pernapasannya seketika menjadi sesak. Luka dalam yang tadi belum pulih, kini bertambah lagi.

Tubuh sang prajurit terlempar jauh ke belakang. Menghantam dinding gua dengan keras, lalu jatuh ke bawah dan tak bergerak lagi.

)|(

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 207

    FAJAR baru saja menyingkap langit timur ketika Seta keluar dari kediamannya di sisi barat istana. Udara dingin menusuk kulit, membawa aroma embun dan bunga kenanga dari taman permaisuri. Ia berjalan cepat melewati lorong panjang berlapis ubin batu. Di tangan kirinya tergenggam secarik kertas lusuh — catatan kecil yang ia temukan di dapur setelah Nini menghilang malam tadi.Tulisan di atasnya hampir pudar, tapi satu kalimat masih terbaca jelas: “Yang datang lewat pintu timur, bukan utusan, melainkan bayangan.”Seta memutar kalimat itu di kepalanya. Ia tahu, pintu timur istana jarang dipakai, hanya dibuka untuk tamu kerajaan tertentu atau untuk keluar masuk para pengawas kebun belakang. Tapi seminggu terakhir, penjaga di sisi timur mendadak diganti dengan wajah-wajah baru — prajurit muda yang tak pernah ia lihat sebelumnya.“Hamba mesti periksa sendiri,” desisnya.Lorong berakhir di pelataran kecil. Beberapa daya

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 206

    MALAM itu angin berembus lirih melewati pepohonan taman istana. Bayangan lentera bergoyang di dinding bata, menimbulkan kesan seolah ada arwah yang menari di antara kelam. Seta berdiri di tepi kolam, menatap permukaannya yang bergemericik diterpa angin. Di bawah sinar bulan, wajahnya tampak letih, matanya dalam, menyimpan beban yang semakin berat dari malam ke malam.Sudah tiga hari ia menyelidiki dari balik bayang. Setiap langkah berhitung, setiap kata ditimbang. Ia tahu betul bahwa mata dan telinga Dyah Srengga bertebaran di seluruh penjuru istana Panjalu. Tak satu langkah pun boleh keliru, sebab kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat lehernya melayang.“Bukti yang nyata,” gumamnya perlahan. “Hamba mesti temukan itu, sebelum Gusti Permaisuri celaka.”Ia memejamkan mata, mengingat kembali pertemuannya terakhir dengan Sasi Kirana siang tadi. Wajah sang permaisuri yang biasanya teduh tampak resah, suaranya bergetar ketika memerintah agar

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 205

    MALAM itu langit Panjalu berawan berat. Angin berembus pelan membawa bau bunga kenanga dari taman belakang istana, bercampur samar dengan hawa lembap tanah setelah hujan sore tadi. Seta belum tidur. Matanya menatap tajam ke arah jendela, mendengarkan setiap langkah yang melintas di luar biliknya.Sejak kematian Lira, perasaannya tak pernah benar-benar tenang. Ada sesuatu yang janggal. Ia telah bertanya ke beberapa emban, tapi tak satu pun tahu mengapa perempuan itu keluar dari dapur tengah malam. Lira dikenal rajin, sopan, dan jarang berbuat aneh—tidak mungkin ia mati hanya karena terpeleset.Suara langkah halus terdengar melewati lorong. Seta menegakkan tubuh, beringsut ke pintu. Dari celah bilik, ia melihat dua sosok lewat dengan membawa bakul kecil tertutup kain putih. Mereka berpakaian seperti abdi dapur, tapi langkahnya terlalu berhati-hati, terlalu sunyi.Naluri seorang prajurit bekerja lebih cepat dari pikirannya. Seta mengenakan ikat kepala dan kel

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 204

    MALAM itu, angin bertiup pelan dari arah hutan utara, membawa bau lembap tanah dan rerumputan. Istana Panjalu tampak tenteram di permukaan, tapi di bawah permukaannya ada arus gelap yang mulai berputar—dan Seta berdiri tepat di tepinya.Sejak menemukan surat rahasia itu di bawah lantai bangsal timur, pikirannya tak pernah tenang. Kata-kata dalam pesan itu berputar-putar di kepalanya seperti mantra yang sulit lenyap: “Tunggumu di batu bundar. Malam saat rembulan ganjil.”Dan malam ini, rembulan itu sedang ganjil—bulan purnama menyorot miring, menimbulkan bayang panjang di atas taman belakang istana.Ia melangkah pelan di antara deretan pohon tanjung dan kamboja. Taman belakang itu berada di sisi timur tembok, jarang dilalui orang kecuali para abdi yang menyapu daun di pagi hari. Di tengah taman ada sebuah batu besar berbentuk bulat pipih, hampir tertutup lumut—itulah yang diyakininya sebagai “batu bundar” dalam pesan.Seta menunggu dari balik semak. Dari kejauhan, ia bisa melihat jalan

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 203

    Seta menunggu hingga matahari tergelincir dari ubun-ubun. Saat itu, kebanyakan abdi dalem akan sibuk di bangsal tengah—membersihkan ruangan utama setelah santap siang para pembesar. Waktu yang tepat untuk menyusup ke bangsal timur, tempat Wadu tinggal sebelum ia menghilang entah ke mana.Seta memilih jalan belakang, melalui lorong-lorong sempit yang biasa dilalui pengangkat air dan pemikul kayu. Langkahnya ringan, tubuhnya setengah bersembunyi di balik tiang dan tabir. Ia tahu betul, satu kesalahan kecil bisa membuatnya diadili karena menyusup ke ruang kediaman abdi dalem tanpa izin.Bangsal timur sunyi. Di luar, hanya ada satu penjaga yang duduk malas sambil mengunyah sirih. Seta menunggu sampai penjaga itu lengah, lalu menyelinap masuk lewat pintu samping.Ruangan itu gelap, lembap, dan penuh bau keringat. Tikar pandan digelar berderet, menunjukkan bahwa tempat itu dihuni beberapa orang sekaligus.Seta melangkah pelan, menyusuri sudut demi sudut h

  • Bara Dendam di Perbatasan   Bab 202

    Langkah Seta tak langsung menuju ke barak. Pagi itu, setelah meninggalkan kediaman permaisuri, ia berputar arah ke sisi belakang istana.Di sanalah dapur besar kerajaan berdiri, nyaris tak pernah sepi sejak fajar. Asap tipis mengepul dari tungku tanah liat, aroma rebusan daging dan beras merah bercampur dengan harum dedaunan segar yang baru dipotong.Seta menyusup di antara para pelayan yang sibuk, menyapa sekadarnya agar tak tampak mencurigakan. Pandangannya mencari satu nama—Ni Lastri, juru masak kepala yang sudah puluhan tahun mengabdi di istana permaisuri.Tak lama, ia menemukan orang yang dicari-cari di balik anyaman tikar bambu, tengah membersihkan lembaran-lembaran daun pisang.“Ni Lastri…” Seta menyapa dengan suara rendah.Perempuan tua itu menoleh cepat, sedikit heran. “Oh, Raden Seta? Ada angin apa pagi-pagi kemari?”“Tidak usah panggil raden. Aku… aku hanya abdi bi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status