تسجيل الدخولMikhaila Ameera Violetta POV
Tok...
Tok...
Tok....
"Mik... Mik... Mikha...," Suara Bara yang terus memanggil-manggil diriku dari luar pintu kamar membuatku
Mikhayla Ameera Violetta POVSetelah menembus kemacetan Jakarta, akhirnya kami tiba di rumah. Saat kami tiba di rumah, keadaan rumah begitu sepi. Tidak ada orang sama sekali. Hmm, rumah sudah sepi, semakin terasa sepi tak berpenghuni. Benar-benar tidak beda dengan rumah kedua orangtuaku. Jika seperti ini rasanya aku menginginkan Langit supaya cepat lahir ke dunia. Setidaknya rumah ini akan lebih terasa hidup dengan suara tawa dan tangisnya."Bar?""Hmm?""Kok sepi?" Tanyaku sambil celingukan mencari mbak Lia.Ya tentu saja kami mencari mbak Lia karena suster Eni sudah menyelesaikan pekerjaannya sejak
Bara Nareswara POVTok....Tok....Tok...."Bara bangun..."Sebuah suara sayup-sayup aku dengar dari arah pintu kamar membuatku dan Mikha bangun dari tidur kami yang terasa nikmat ini. Sambil merenggangkan kedua tangannya ke atas, Mikha bertanya, "Siapa sih, Bar?" dengan suara khas orang bangun tidurnya.Aku yang juga sedang merenggangkan kedua tangannya ke atas dan langsung menjawab, "Mama. Kayanya kita udah kesiangan bangunnya."Tanpa menunggu nyawanya berkumpul kembali setelah ber
Mikhaila Ameera Violetta POVMalam ini aku tak pernah menyangka jika Bara akan pulang lebih awal ke rumah Mama. Aku berpikir jika ia akan marah besar karena istrinya pergi begitu saja tanpa pamit, tapi ternyata tidak. Siapa sangka jika ia memiliki rasa pengertian yang luar biasa daripada apa yang aku bayangkan selama ini. Lebih membuatku bersyukur lagi adalah Bara tidak marah karena aku mengganti sprei dan bedcover sesuai dengan apa yang aku inginkan.Beberapa hari aku menanti kepulangannya dan saat ia pulang yang terjadi ternyata tak jauh berbeda dengan apa yang aku bayangkan. Bara mencumbu diriku dengan begitu lembutnya di bibir hingga ciuman lembutnya itu berubah menjadi cuman yang panas membara dengan napsu yang sudah mulai membakar diri kami masing-masing. Jangan tanya s
Bara Nareswara POVAku tersenyum saat keluar dari bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Jadwal kepulanganku kali ini bahkan lebih cepat daripada yang Mikha ketahui. Okay, seharusnya aku baru ada jadwal penerbangan besok siang, tetapi karena aku masih bisa mendapatkan tiket untuk penerbangan malam seperti ini, aku memilih langsung pulang saja. Demi bisa pulang ke pelukan Mikha, aku bahkan mengeluarkan segala jurus yang aku miliki agar Mas Tri mengijinkannya. Tidak mudah memang, namun nyatanya aku berhasil juga mendapatkannya. Lagipula aku rasa sudah cukup bagiku untuk tidur satu kamar selama satu minggu bersama suaminya Rara. Saat ini yang aku rindukan adalah tidur berdekatan dengan Mikha yang pastinya akan lebih menyenangkan untuk aku jadikan guling yang bisa kentut.Tidak mau menunggu l
Mikhaila Ameera Violetta POVSudah hari ke empat Bara meninggalkan diriku di rumah bersama orangtuanya. Sungguh, tinggal bersama mertua ternyata tidak seburuk bayanganku selama ini. Karena Mama Belinda akan sibuk mengurus Papa ketika beliau masih belum berangkat ke kantor. Saat Papa pulang Mama sudah sibuk lagi dengan mengurus keperluan Papa. Hmm... Andai aku bisa seperti itu dengan Bara, pasti aku tidak akan menyia-nyiakan waktu yang berharga itu. Terlebih saat anak kamu belum lahir ke dunia ini.Seperti siang ini, Mama Belinda pamit kepadaku karena ia ada janji pemotretan dengan sebuah brand yang berasal dari Paris. Baiklah, aku tidak masalah jika harus ditinggal sendirian di rumah. Kini setelah Mama pergi menggunakan mobilnya sendiri, aku memilih duduk di balik laptop dan
Bara Nareswara POVBerkali-kali aku menatap layar handphone milikku hari ini, tapi tidak ada satupun pesan apalagi panggilan tak terjawab dari Mikha. Entahlah, sepertinya aku telah salah dalam mengambil sikap kali ini. Seharusnya aku tidak membiarkan perempuan seperti Mikha menunggu. Wanita seperti Mikha tidak akan mau membuang-buang waktunya untuk sebuah hal yang percuma."Bar, lo dicari Casey nih," ucapan Kafka membuatku menoleh ke arahnya.Kini yang bisa aku lihat adalah seorang perempuan yang pernah dekat denganku dan kini ia berprofesi sebagai salah satu karyawan perusahaan multinasional. Oh, tentu saja tidak hanya duduk dibalik meja pekerjaannya, Casey memiliki profesi sampingan sebagai seorang model dan membuka endorse beb







