ログインBara Nareswara POV
Setelah seminggu meninggalkan negara tercinta ini, akhirnya aku dan Mikha sampai di Jakarta lagi. Ketika kami keluar dari bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, ternyata Mama sudah menjemput kami. Saat melihat kami berdua, Mama langsung memeluk kami secara bergantian. Mamaku tentu saja langsung bertanya tentang bagaimana kabar kami ketika ber
Bara Nareswara POVSejak semalam aku terus mencari Mikha bersama Kafka. Setiap sudut kota Jakarta dari ujung Utara sampai selatan, barat sampai timur tidak ada yang terlewati, namun hasilnya nihil. Sumpah, aku lebih memilih Mikha yang menghujaniku dengan amarahnya daripada kabur seperti ini. Terlebih dia kabur dalam keadaan berbadan dua. Mengingat apa yang baru saja terjadi, aku takut jika Mikha justru akan berbuat hal-hal di luar batas tanpa berpikiran panjang.Aku mencoba menceritakan semua ini kepada Maureen namun Maureen tetap mengatakan jika ia tidak tahu Mikha berada di mana saat ini. Kania juga sama saja. Bahkan aku sampai menanyakan keberadaan Mikha kepada Julien dan Zema karena aku sempat meragukan jawaban dari Kania. Sepertinya mereka semua tidak berbohong kali ini tentang ketidaktah
Mikhayla Ameera Violetta POVPagi ini aku sedikit kesulitan membuka kedua mataku. Mungkin ini efek dari kegiatan menangis semalam yang aku lakukan. Sejak pukul sembilan malam hingga tiga dini hari, bukannya tidur, aku justru menangis seorang diri di dalam kamar ini ditemani sepi. Berkali-kali aku berpikir apa yang bisa aku lakukan. Jawabannya adalah bercerai dari Bara.Aku tidak akan sanggup untuk terus melihat Bara tanpa mengingat jika kebiasaan Bara dulu telah membuat calon anak kami mengalami hal ini. Aku tidak bisa pulang ke rumah Bara lagi. Aku harus mencari tempat tinggal yang bisa aku tempati setelah pulang dari Lembang nanti.Dengan badan yang masih terasa lemas, aku mencoba bangun dari atas ranjang. Setelah itu aku segera masuk k
Bara Nareswara POV Aku mencoba menunggu kepulangan Mikha dari rumah sakit karena dia tidak mengijinkan diriku untuk ikut menemaninya. Aku mencoba untuk mengerti dengan pilihannya itu. Terlebih karena ia akan bertemu dengan dokter Hans yang terkenal memiliki pasien yang cukup banyak. Demi tetap menyembunyikan pernikahan kami dari publik, aku lebih baik menyetujui permintaan Mikha untuk menunggunya di rumah saja.Aku menjadi berpikir apakah aku telah mengambil langkah yang tepat dengan mengikuti keinginan Mikha untuk mengijinkannya berangkat seorang diri ke rumah sakit tadi pagi? Karena sampai pukul empat sore ini, aku belum mendapatkan kabar darinya sama sekali. Mikha yang tidak kunjung pulang ke rumah membuatku sibuk mencari informasi kejadian laka
Mikhaila Ameera Violetta POVAku tersenyum puas saat mengingat aktivitasku dengan Bara selama dua hari ini. Bagaimana tidak, sejak aku membeli perlengkapan BDSM, kami tidak berhenti untuk mencobanya bersama. Meskipun yang selalu bertindak sebagai tawanan di sini tetaplah Bara. Yah, meskipun sedikit tidak sesuai dengan bayanganku bahwa aku yang akan disiksa oleh Bara, namun aku cukup menikmatinya.Gara-gara aktivitas kami itu pula, Bara sampai memiliki beberapa luka di kulitnya. Mulai dari luka goresan sampai lecet di kulitnya. Meskipun Bara mengatakan tidak mempermasalahkan hal itu selagi aku mendapatkan kepuasan, tapi aku tahu jika aku harus berhenti sampai di sini. Jangan sampai aku kebablasan. Rasanya sudah cukup mewujudkan semua imajinasiku. Jangan sampai ini menjadi sebuah kebiasaan.
Setelah bermain dua ronde di dalam kamar mandi dengan satu kali di luar bathtub dan satu kali di dalam bathtub, aku dan Mikha kini memilih berada di atas ranjang berdua dengan tubuh yang tidak tertutup sehelai benangpun. Aku duduk sambil menyelonjorkan kedua kakiku sedangkan Mikha menjadikan pahaku sebagai bantal tidurnya. Karena posisinya ini, aku menjadi memiliki akses memainkan gunung kembarnya dengan sangat leluasa. Aku memelintir bahkan aku meremasnya sepuas yang aku mau. Mikha yang dalam posisi terlentang dengan kedua kaki dilipat ini kini sedang menonton blue film. Andai saja bukan tema tentang BDSM, mungkin saja aku akan mau menemaninya menonton dengan penuh antusias. Sungguh, aku tidak akan bisa menikmati permainan jika harus menyiksa pasanganku dengan cambuk atau rantai seperti itu. Yang ada bukannya kenikmatan yang di dapat tetapi rasa sakit karena penyiksaan hebat selama acara memuja sama satu lai
Ceklek ...Aku membuka pintu kamar dan ternyata suasana kamar sore hari ini cukup sepi. Aku segera masuk ke dalam kamar dan aku memanggil Mikha karena aku dia sudah pulang ke rumah. Jangan berpikir jika aku ini cenayang. Aku bisa mengetahuinya dari mobil HRV putihnya yang terparkir di halaman rumah."Yang... Kamu di mana?"Tidak ada jawaban. Kini aku memilih menaruh dua paket belanjaan Mikha di atas meja dan aku berjalan menuju ke arah kamar mandi. Saat sampai di sana, aku buka pintu kamar mandi dan ternyata pemandangan pertama yang aku dapatkan kali ini membuatku tersenyum puas. Ada sosok Mikha yang sedang berendam di dalam bathtub dalam keadaan naked. Aku bisa melihat seluruh bentuk tubuh indahnya itu di bawah air.







