MasukKehidupan Jena yang dinamis, tiba-tiba jungkir balik setelah bertemu dengan sepupunya yang dingin dan bersahaja. Pria matang yang tanpa sengaja mengambil satu malam paling berharganya, hingga membuat sosok Jena yang ceria dan agamis begitu membencinya. "Aku akan bertanggung jawab." Arlo Sanjaya "Aku membencimu, sangat membencimu." Jena Tan
Lihat lebih banyak"Lepaskan tanganmu Kak! Kamu menyakitiku!"
Jena menyentak tangan Kak Arlo yang sedari tadi menggenggamnya erat. Berani sekali pria ini menyentuhnya. Tidak tahu apa kalau dia mempunyai trauma mendalam atas peristiwa malam itu. “Tenanglah sedikit Jena, aku tidak akan menyakitimu,” kata pria itu melepaskan genggaman tangannya. Dia hanya ingin menahan istrinya agar tidak lari dari panggung pelaminan. Apa katanya tenang, sumpah demi apa pun pernikahan ini tidak pernah membuatnya tenang. Seandainya saja Jena tidak menanggung atas perbuatan Arlo malam itu. Dia tidak harus menikah dengan saudara yang sama sekali tidak Jena inginkan. Umur mereka terpaut jauh, sudah begitu pria yang kini menjelma sok baik itu sudah mempunyai kekasih yang jelas-jelas menyalahkan dirinya gegara pernikahan ini. Jena berlalu gesit melanjutkan langkahnya yang langsung diikuti Arlo. Pria itu hanya ingin pernikahan mereka terlihat normal di depan banyak orang. Tetapi nampaknya Jena memilih pergi dari panggung pelaminan lebih awal. “Jena, balik, kamu bisa membuat keluarga malu,” katanya berjalan cepat mensejajarkan langkahnya. “Aku tidak peduli, siapa yang mau mengadakan pesta. Harusnya Kak Arlo itu mikir ini pernikahan seperti apa.” “Bukan kemauan aku juga seperti ini,” ujar pria itu menghadang langkahnya. “Aku capek, bisa nggak jangan halangi jalanku,” pinta Jena dengan wajah memelas. “Nanti bisa istirahat setelah acaranya selesai.” “Huek!” Tiba-tiba saja Jena mual. Tubuhnya terasa tidak nyaman ditambah terlilit gaun menyebalkan ini. Sedari tadi dia memang tidak enak badan. Tetapi orang-orang seolah tak mau mengerti keadaannya. Malah mengadakan walimahan di tengah penderitaan dirinya. Apa mereka semua buta dan tuli, kenapa jadi berbahagia dengan pernikahan ini gegara ayahnya main menyetujuinya saja. Sudahlah Jena, Ayah memberi restu. Kemarin memang sebuah kesalahan, tetapi Arlo mau bertanggung jawab. Lagian kamu di sini diurusi dengan baik dan dikuliahkan. Papa sedang tidak bisa mengurusmu. Sepenggal kalimat ayah bernada satir terus terngiang di kepalanya. Sepertinya pria yang selalu menjadi panutannya itu juga tidak peduli. Lalu keadilan seperti apa yang seharusnya Jena dapat. “Kalian di sini? Jena, Arlo! Tamu di luar sudah menunggu,” seru Pak Arlan menginterupsi keduanya. “Iya Pa, ini Jena mau istirahat sebentar. Dia kurang enak badan, dari tadi mual,” jawab Arlo melihat istrinya kurang bersemangat. Memang wajahnya terlihat pucat. Tapi masih sangat menyebalkan kalau lagi marah. Pak Arlan memaklumi, hamil muda memang cenderung banyak keluhan. Pria itu pun berlalu kembali ke depan menemui tamu yang datang. “Jen, kamu nggak apa-apa?” tanya Arlo lembut, menyentuh punggunggnya menenangkan. Namun, Jena langsung bergerak risih menghindarinya. Tatapannya dingin, syarat akan permusuhan. “Oke, aku antar ke kamar ya,” kata pria itu mengalah. Pernikahan mereka dilakukan di salah satu Villa keluarga. Dihadiri beberapa orang kerabat dan tamu ayahnya saja. Tentu saja agar tidak menjadikan fitnah di masa depan mengingat Jena sedang hamil. “Tidak perlu dan jangan mengikutiku,” tolak gadis itu menatap kesal. Jena kembali menyusuri langkahnya menuju kamar. Perasaannya carut marut ditambah kondisi tubuhnya yang tidak nyaman sama sekali. Dia berjalan hampir tumbang kalau seandainya saja Arlo tidak sigap menangkapnya dari belakang. Pria itu langsung menggendongnya ke kamar. Jena tidak sadarkan diri dan memang sedari tadi kelihatan pucat sekali. Hanya saja Arlo tidak menyadari kalau gadis yang masih terlihat galak ini tiba-tiba pingsan. “Jen, sadarlah, jangan membuatku takut,” kata Arlo lembut. Setelah lebih dulu membaringkan di ranjang. Ada perasaan bersalah yang mendera hatinya. Arlo berusaha memberikan pertolongan pertama. Menghirupkan aroma kuat di dekat hidungnya agar gadis ini cepat memenuhi kesadarannya. Pria itu juga berusaha melonggarkan gaun yang menekan tubuhnya. Pasti tidak nyaman sekali pakaian yang dikenakan saat ini. “Kak Arlo ngapain?” tanya Jena tergeragap kaget. Panik seketika melihat wajah pria di depannya begitu dekat. “Tenanglah sedikit Jen, aku hanya membantumu. Kamu tadi pingsan, apa perlu panggil dokter?” tanya Arlo khawatir. Seketika memundurkan tubuhnya memberi jarak normal. “Nggak, Kak Arlo keluar! Jangan di sini,” usir Jena ketus. Wajah yang masih terlihat lemah itu kembali bermuram garang. “Kamu pucat, perlu sesuatu?” tawar pria itu lembut. Menitihnya dengan sabar. Biar bagaimanapun kebencian Jena bersumber dari dirinya, dia harus berbesar hati memaklumi sikapnya. “Tidak usah sok perhatian, keluar dari kamarku!” bentak Jena kesal bukan kepalang. Seumur dia tinggal di rumah budhenya, Jena belum pernah meninggikan suaranya. Tapi kali ini benar-benar mual sekali melihat abang sepupunya yang kini sudah menjadi suaminya. Arlo menghela napas kasar, masih belum juga beranjak dari sana. Sekuat apa pun Jena mengusirnya, mulai saat ini dia yang akan melindungi dan menjaganya. “Aku temui tamu-tamu di luar dulu. Kalau sudah merasa lebih nyaman, tolong keluar ya, nanti kamu bakalan ditanya banyak orang,” kata pria itu yang sama sekali tidak disahuti gadis malang itu. Begitu pintu kamar mewah itu tertutup rapat, Jena langsung merasa lega. Seiring dengan menghilangnya pandangan Jena pada sosok yang begitu dia benci saat ini. Kamar ini rasanya lebih lapang dan nyaman. Walaupun agak risih dengan taburan mawar yang sengaja dipasang tim dekorasi untuk memperindah ruangan ini. Terkesan ironi sekali untuk suasana hati Jena yang hancur. “Jena, Budhe boleh masuk!” seru Budhe Najwa yang tidak bisa ditolak. Mau tidak mau Jena mempersilahkan ibu mertuanya masuk. Apakah wanita yang selalu terlihat bersahaja itu juga akan memaksanya keluar. “Jen, kata Arlo kamu mual-mual? Bagaimana keadaanmu?” tanya Budhe Najwa menghampiri dengan wajah khawatir. “Masih lumayan pusing Budhe, Jena bolehkan nggak lanjut keluar lagi.” “Sebenarnya tidak apa juga sih, di luar tinggal tamu ayah dan Arlo saja.” “Terima kasih Budhe, Jena mau istirahat.” Tidak enak, tapi akhirnya dienakin saja. Memang suasana hatinya yang sedang buruk. Dia tidak bisa terus berpura-pura bahagia di tengah kondisinya yang carut marut. “Mulai sekarang panggil Mama saja, Jen, sekarang kan kamu sudah nikah sama Arlo.” “Iya Budhe, eh Ma,” jawabnya kaku. Tak berselang lama Arlo kembali ke kamar, membuat Bu Najwa undur diri seketika. Memberikan kesempatan pasangan pasutri itu untuk beristirahat. “Ar, jaga istrimu dengan baik,” katanya meninggalkan pesan sembari menepuk pundaknya pelan. Arlo ngangguk, langsung mengunci pintunya begitu ibunya keluar. “Kenapa pintunya dikunci?” tanya Jena langsung bangkit dari pembaringan dengan wajah cemas. “Biar kamu bisa beristirahat dengan nyaman.” “Kak Arlo tidur di sini?” tanya gadis itu waspada. “Iya, memangnya kenapa, kita kan sudah menikah.” Memang benar mereka sudah menikah, tetapi Jena tidak mau satu kamar dengan abang sepupunya yang beberapa jam lalu telah sah menjadi suaminya. “Aku nggak mau,” tolak Jena cepat. Wajahnya terlihat begitu tidak tenang. “Aku bukan penjahat Jena, jangan berlebihan.” “Tapi Kak Arlo jahat.” “Kalau kamu sangat tidak ingin dengan pernikahan ini, kamu bisa menggugat cerai setelah anak itu lahir,” katanya tenang. “Ck, kenapa tidak sekarang saja Kak Arlo talak aku. Dengan begitu kita tidak ada hubungan lagi.” Arlo menghela napas panjang, gadis ini sangat menguji kesabarannya. Dia pikir Arlo menginginkan pernikahan ini juga. Dia hanya ingin menjadi manusia bertanggungjawab. Gegara insiden itu, dia harus menunda pernikahannya dengan kekasih hatinya. “Aku juga tidak ingin di posisi ini, tapi anak itu butuh ayah, Jena.” “Semua gara-gara Kak Arlo, aku benci Kakak, aku mau gugurin anak ini,” ancam Jena kumat. Dari awal tahu hamil, Jena sudah tidak minat mempertahankan kehamilan ini. Namun, keluarga dan pria ini kekeh mempertahankannya. Bahkan mengambil jalan pintas menikahkan mereka walaupun usianya terpaut jauh. “Tidak akan, kamu tidak boleh menyakiti calon anak kamu sendiri.” “Aku tidak sudi hamil atas perbuatan kamu.” “Stop berdebat. Pertahankan kandungan kamu sampai anak itu lahir. Setelahnya terserah kamu mau bagaimana,” geram Arlo kesal."Alhamdulillah ya Allah ... akhirnya Jena jadi mantuku lagi," ucap Bu Najwa ikut bahagia dan merasa lega. Bersyukur sekali apa yang beliau harapkan selama ini benar-benar menjadi kenyataan. "Iya Ma, kan dari dulu katanya tetep anak Mama.""Iya sih, tapi ini kerasa lega aja. Kalian baik-baik ya, yang akur, saling menjaga dan menyayangi sampai tua. Jangan ada prahara apa pun lagi. Kalau ada tanda-tanda tidak beres sama Arlo kamu harus segera lapor, Jen.""Siap, Ma, Mama pasti orang pertama yang Kena kasih tahu."Jamuan makan malam keluarga dan orang-orang terdekat pun terasa nikmat luar biasa. Sampai larut Arlo masih duduk-duduk santai dengan ayah dan papa mertuanya. Mereka membicarakan banyak hal, dan Pak Rama juga menceritakan tentang perkembangan peternakannya. "Pa, izin membawa Jena, InsyaAllah mau nempatin rumah baru.""Papa sudah menyerahkan kembali tanggung jawab Jena padamu sepenuhnya Arlo. Tolong jaga dia, sayangi seperti papa menyayanginya. Yang berlalu dijadikan pelajaran u
Jena terdiam sejenak, lalu menatap Arlo yang kini tengah menatapnya juga dengan wajah cemas. Keputusan Jena kali ini menentukanasa depannya. Dia benar-benar berharap ini dari anaknya itu mau memberikan kesempatan sekali lagi. "Jena mau Pa," jawab Jena akhirnya mengangguk setuju. Seketika Arlo dan keluarganya yang sedari tadi menahan tegang bernapas lega. Sekaligus tersenyum mendapatkan kesempatan kedua. "Alhamdulillah, terima kasih sayang, aku mau hari ini saja akadnya," ucap Arlo sungguh menantikan hari ini. "Ya ampun Arlo, kasih jeda dulu buat Jena. Kamu ini kalau ada maunya suka grasak-grusuk begini.""Maaf Ma, bukankah sesuatu yang baik itu harus disegerakan.""Kayaknya nggak harus terburu-buru juga Kak," ucap Jena tersenyum salah tingkah. "Bagaimana kalau besok Om, setelah resmi kami akan mengadakan resepsi. Dulu nikahnya kurang mewah.""Aku terserah Jena saja, maunya bagaimana.""Benar kata Jena, kita kan juga harus persiapan Arlo. Walaupun akad ulang kan juga tetap harus me
"Jena, kenapa tidak mengabari kalau mau datang?" tanya Bu Hana kaget siang itu kedapatan sekeluarga adiknya. "Ma, maaf dadakan, idenya Kak Arlo.""Cucu mama, kangen banget sama Zalfa." Bu Hanna langsung mengambil alih dari gendongan putrinya. "Mbak Najwa, harusnya kalau mau ke sini ngabarin, aku kan bisa siapin apa gitu.""Aku nganterin Arlo, sepertinya dia sudah tidak tidur semalaman. Subuh-subuh sudah bangunin orang minta ke sini.""Ma, nggak gitu juga. Memang Arlo ada kepentingan lain Tante, Om," ucap pria itu menyiapkan hatinya. Arlo akan melamar Jena sekalian mengakui kesalahannya pada mereka tentang tragedi yang menimpa Jena. Biarpun mamanya Zalfa melarangnya, tetapi Arlo merasa tidak tenang menjalani semua dengan penuh kebohongan. "Duduk-duduk, biar saya ambilkan minum.""Jena saja Pa, Papa ngobrol saja sama Pak Arlan."Jena langsung ke dapur menyeduh minum. Mempersilahkan orang-orang yang sengaja dikumpulkan di ruang tamu. Mereka berbasa-basi sejenak, lalu Arlo membuka ob
Gegara dapat signal baik dari mamanya Zalfa, Arlo jadi tidak bisa tidur. Rasanya sudah tidak sabar menunggu bertemu pagi. Sudah lama sekali dia mendambakan jawaban baik dari Jena, akhirnya pria itu mendapatkan kesempatan kembali. "Arlo, kamu sudah bangun sepagi ini?" "Sudah Ma, Zalfa kan bobo sama aku. Jadi aku jagain semalaman." "Kamu nggak tidur?" "Tidur lah, masa nggak. Zalfa sangat pengertian, dia tidak rewel sama sekali. Kayaknya sih terlalu nyaman di kasurku." "Terus kenapa sepagi ini sudah rapih? Bukannya ini hari libur, kamu mau ada acara?" "Iya, mau jemput eyangnya Zalfa, aku mau ngelamar Jena, Ma," jawab pria itu semangat sekali. "Arlo, kamu ini mimpi ya, makanya bangunya kepagian. Jena saja belum bangun kamu malah mau lamaran. Yang waras Arlo, mama tahu kamu sangat menginginkan Jena kembali, tapi jangan begini. Nanti beneran loh mama bawa kamu ke psikiater." "Duh ... mama, aku nggak gila. Cuma tergila-gila aja sih sama mamanya Zalfa. Hehe ... tenang Ma, a
"Istighfar yang banyak, biar pahalanya bertambah," kata Jena santai. "Ya emang harus gini hidup, kamu ngeselin banget jadi cewek.""Udah tahu ngeselin kenapa malah dinikahin.""Aku bertanggung jawab Jena, masa kamu nggak ngerti.""Makanya nafsu tuh dijaga, punya pacar kenapa maksa orang lain. Para
"Kita masih bisa berteman kan walaupun kamu sudah menikah." "Tentu saja Git, kita masih berteman. Kamu kemarin kenapa hindarin aku?"Jena merasa Regit jadi bersikap dingin sejak munculnya vidio viral itu. Dia memang tidak bisa mengalahkan pihak mana pun dalam kasus ini, walaupun dirinya korban, te
"Bik Darmi, tolong bantuin siapin makanan ya, mau aku bawa ke kamar. Soalnya Jena mau makan di dalam." "Siap Mas," jawab Bik Darmi langsung bergegas menyiapkan. Inisiatif Arlo saja membawakan Jena makanan ke kamar. Walaupun istrinya tidak minat, dia tahu sedari tadi bahkan Jena belum makan. Dita
"Sudah lega sekarang? Mana yang harus aku luruskan lagi?" tanya Arlo setelah keluar dari ruang Dekan. "Belum lah, di dalam memang semua bisa diluruskan karena Kak Arlo datang. Tapi emangnya di luaran sana mereka tahu gitu kalau aku bukan pelakor?" "Terus maunya gimana?" balas Arlo menghentikan l












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak