LOGINDalam hati Bayu orang yang sembarang masuk itu tidak lain adalah Stevia sendiri apalagi dengan cara masuk menerobos langsung seperti itu.
“Iya tadi aku hanya sempat lupa sebentar,” jawab Bayu dengan cepat.“Oh iya, nanti habis mandi datang aja langsung ke kamarku ya.”Mendengar itu Bayu langsung menganggukkan wajahnya. “Iya, aku bakal datang ke sana kok. Sekarang mau mandi dulu.”“Oke aku tunggu ya.” Stevia kembali menutup pintu kamar Bayu.Sedan“Teo, mau dibukain juga nggak jendelanya? Biar angin segarnya masuk ke dalam. Lihat itu Bayu excited banget!” “Haah … nggak ah! Aku nggak mau soalnya udah bosen,” tolak Teo mentah-mentah kemudian ia pun hanya bersandar sambil memejamkan matanya seolah sedang tertidur.Melihat reaksi Teo, Joni hanya bergeleng kepala. “Hedeh, bocah ini benar-benar nggak ada semangatnya sama sekali!” Tapi Joni ingin mereka semua tetap menikmati perjalanan lebih menyenangkan. Meski ini hanya sebuah perjalanan untuk menyelesaikan misi saja.Jadi untuk merubah suasana jadi lebih menyenangkan walau sesaat, Joni akhirnya mematikan pendingin ruangan lalu membuka jendela di bagian Teo dan juga dirinya karena di bagian Bayu sudah terbuka.Angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah Teo langsung membuatnya membuka mata, rasa segar dengan bau khas dari tanaman padi tercium terasa lebih segar. Matanya seketika semakin terbuka lebar sambil merasakan hembusan angin dan aroma
“Iya nanti kalian tunggu saja informasi dari kami,” jawab Dion.Mereka bertiga pun akhirnya berangkat sedangkan Teo, Bayu, dan Joni masih di ruang tamu.“Semoga perjalanan mereka aman sampai tujuan.” Joni kembali duduk ke sofa sambil menghela nafas panjang.“Misi kali ini kita benar-benar akan pergi ke desa tapi itu adalah desa terpencil. Apa nggak salah kita terima mosi ini?” Teo melihat kenarah Joni.“Ya lagian kan, Sandro udah terima misi kali ini kita pergi ke sana. Aku yakin dia tertarik setelah mendengar gadis desa itu yang cantik-cantik.” Joni melirik Bayu. “Aku yakin gadis-gadis itu akan terpikat pada Bayu. Wajah tampannya pasti memukailu banyak gadis.”“Aku sih nggak keberatan kalo mereka tertarik.” Bayu mulai terkekeh pelan. “Tapi itupun kalau kita sempat, aku rasa misi kali ini akan cukup menyibukkan.” “Benar juga. Ah … baru juga kita mau senang-senang di sana.” Suara nafas Joni kembali terdengar gusar.
“Ah … pantasan. Terus kamu mau bawa aku ke mana?” Mila mengikuti Bayu keluar dari mobil lalu kembali masuk ke pintu depan.Dengan menyesuaikan tempat duduk dengan Bayu yang siap menyetir, Mila memegang lengan Bayu lali bersandar di sana.“Oh iya, tadi kamu bertanya aku akan membawamu kemana kan?” tanya Bayu saat mobil sudah mulai melaju di jalanan.“Eung … jadi kemana?”“Aku akan membawamu ke tempat kos Rara untuk sementara ini. Apa kamu keberatan tinggal di sana untuk sementara ini?”“Tapi emang Rara nggak keberatan?” Mila terlihat gelisah.“Aku sudah mengirim pesan padanya tadi. Dia juga sudah membalas pesannya, katanya tidak apa-apa dia suruh datang saja. Tenang jangan khawatir hanya untuk malam ini karena ibu kos sudah tidur jam segini. Jadi besok kamu bisa sewa kamar untuk sebulan.”Mila mengangguk tapi wajahnya masih terlihat gelisah. Bayu yang melihat itu pun mencoba untuk bertanya,“Apa yang sedang kamu
Sambil mengatakan, “Aku baik-baik saja sekarang karena kamu ada di sini!” Mila tanpa ragu mulai mencium bibir Bayu ia mengecupnya dengan lembut. Namun, perlahan mulai melumat dan memasukkan lidahnya. Sedangkan Bayu malah ikut larut dalam hasrat yang membara, ia tidak bisa menahan tekanan membara yang dilakukan oleh Mila terhadapnya.Perlahan-lahan Bayu ikut meraba-raba tubuh Mila, di setiap lekukannya hingga berhenti di buah dada. Di sana Bayu meremasnya dengan penuh nafsu hingga membuat Mila basah di bawah sana.“Bayu aku …!” Tatapan Mila penuh gairah meski sesekali cahaya kendaraan yang melewati gang masuk sedikit tapi tidak membuatnya terganggu. Dengan nafas yang memburu keduanya benar-benar terjebak dalam gelora hasrat penuh nafsu. Di saat tangan Bayu mulai turun dan mengangkat rok mini yang dipakai Mila langsung membuatnya merasakan basah dan becek. Di ujung jarinya terasa licik membuat jemari Bayu bisa masuk dengan mudah ke dalam
Awalnya Mila menolak. Mengingat kalau ibunya yang sakit dan harus dirawat tetapi Riska bilang kalau dengan bekerja dengannya ia akan memberikan uang pinjaman untuk biaya berobat ibunya.Lalu jika sudah bekerja dengannya nanti bisa sambil cicil lalu sisanya bisa dikirim ke kampung karena biaya makan sudah ditanggung.Sekilas hal itu terdengar menggiurkan dan sangat membuat tertarik. Bahkan Mila sendiri mulai setuju mendengar apa yang dikatakan oleh Riska.Tanpa berpikir panjang Mila pun bertanya, “Lalu aku akan bekerja sebagai apa di sana?” “Hanya melayani pengunjung saja kok, aku selalu punya banyak tamu jadi kamu hanya perlu menemaninya saja untuk mengobrol.” Mendengar itu Mika setuju-setuju saja dengan wajah senang. Setelah itu Riska memberikan sejumlah uang yang dipinjamkan untuk berobat ibunya—Mila.Namun pekerjaan itu terdengar sangat mudah untuk dikerjakan. Mila sama sekali tidak berpikir kalau itu akan menjadi bencana besar d
“Lalu bagaimana dengan ponsel di tanganmu itu? Apa kamu pikir aku tidak melihat ponsel yang kamu genggam erat-erat di belakang?”Dum! Jantung Viona terasa dihantam keras, ternyata pria di hadapannya itu sudah tahu apa yang disembunyikannya.Cahyo melirik ke kawannya yang berada di samping Viona. Satu gerakan tangan sebagai isyarat dan pria itu mengangguk paham. Ia menunduk lalu meraih paksa ponsel di genggaman tangan Viona.“Tidak!” pekik Viona.“Ini ponsel yang kamu maksud?” Pria itu menyerahkannya langsung pada Cahyo.Senyuman licik di wajah Cahyo terlihat. “Kamu mencoba menyembunyikan ini karena tidak mau menghubungi wanita itu kan?”Ponsel itu sengaja di lambai-lambaikannya di tangannya untuk memperlihatkan pada pemiliknya. “Aku akan memberikanmu satu kesempatan hubungi dia sekarang juga atau ponsel ini aku bawa bersamamu ke markas kami? Tentu saja jika kamu sudah berada di sana mungkin aku tidak akan menjamin kesel







