LOGINWiro bekerja serabutan demi membiayai kuliah kekasihnya. Tapi dia malah dikhianati dan dipukul Krisno, pacar baru kekasihnya, hingga hampir mati. Saat dia pikir dia tidak memiliki harapan hidup, seorang pengemis tua memberinya sebuah liontin. Liontin itu, tidak hanya menyembuhkannya, tapi juga membuat kejantanannya jadi besar dan tangguh. Dan mulai saat ini, para wanita langsung tertarik padanya dan ingin merasakan pisangnya. Pembalasan pertama Wiro adalah dengan meniduri ibu dan kakak perempuan Krisno. Dia bisa menyembuhkan banyak penyakit sehingga para wanita mengaguminya.
View MoreMalam ini, Cafe Bintang Timur ramai seperti biasa. Wiro bergerak lincah di antara meja-meja, membawa nampan berisi pesanan dengan gerakan yang sudah terlatih selama setahun terakhir.
Tubuhnya lelah. Bagaimana tidak, ini adalah pekerjaan ketiganya hari ini. Pagi tadi dia sudah menjadi kuli angkut di pasar induk, siang menjadi kurir paket, dan sekarang melayani tamu di cafe ini hingga tengah malam. Dua tahun sudah Wiro merantau ke Jakarta. Dua tahun penuh perjuangan, tidur di kontrakan sempit yang pengap, makan seadanya, semua demi satu tujuan, yaitu membiayai Lisa, kekasihnya yang setahun lalu menyusul ke Jakarta untuk kuliah. "Sayang, aku butuh uang untuk beli buku," begitu pesan Lisa minggu lalu. "Wiro, uang kuliahku kurang," begitu pesan sebelumnya. Dan Wiro selalu mengirim. Selalu. Meski tubuhnya harus remuk, meski perutnya harus kelaparan. Karena itulah cinta, pikirnya. Berkorban tanpa pamrih. Pintu cafe terbuka. Wiro menoleh secara refleks, dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Lisa masuk. Tapi tidak sendirian. Tangannya melingkar mesra di lengan seorang pria berpenampilan necis, kemeja branded, jam tangan yang kelihatan mahal, rambut ditata rapi dengan gel. Di belakang mereka, empat orang pria lain mengikuti, tertawa-tawa dengan suara keras. "Lisa...?" suara Wiro nyaris tak terdengar. Lisa melihatnya. Mata mereka bertemu. Tapi tidak ada keterkejutan di wajah gadis itu. Yang ada hanya senyum mengejek yang membuat perut Wiro serasa diremas. "Oh, itu yang namanya Wiro?" seru pria di samping Lisa. "Jadi ini pacar kampungmu yang selama ini membiayai hidupmu, sayang?" Mereka duduk di meja yang kebetulan masuk dalam area pelayanan Wiro. Dengan langkah gemetar, Wiro menghampiri. "Lisa, siapa dia?" tanya Wiro, suaranya bergetar menahan emosi. "Kenalkan, ini Krisno," jawab Lisa tanpa rasa bersalah. "Pacarku yang sebenarnya." Krisno tertawa. Suaranya nyaring dan menyakitkan. "Bro, kasihan banget sih lo. Setahun membiayai cewek orang!" Dia mengeluarkan ponselnya, membuka galeri foto. "Nih, liat. Selama lo kerja banting tulang, gue yang nikmatin tubuhnya." Wiro memegang handphone milik Krisno itu dengan tangan gemetar. Foto-foto itu. Foto-foto yang membuat dunia Wiro runtuh seketika. Lisa dan Krisno dalam posisi-posisi intim, di hotel, di apartemen. Dan jelas mereka biasa melakukannya. "Lo tahu yang paling lucu?" Krisno melanjutkan dengan nada mengejek. "Lo bahkan nggak pernah nyentuh dia. Bego banget sih lo!" Teman-teman Krisno tertawa terbahak-bahak. Lisa ikut tertawa, seolah pengkhianatannya adalah lelucon terbesar tahun ini. Sesuatu dalam diri Wiro pecah. PRAK! Ponsel Krisno terbanting ke lantai, layarnya retak. Detik berikutnya, tinju Wiro mendarat telak di wajah Krisno, membuat pria itu terjungkal dari kursinya. "WIRO!" teriak Lisa. Kafe menjadi kacau. Tamu-tamu berteriak. Manager berlari menghampiri. "Apa-apaan ini?!" bentak sang manager. Krisno bangkit sambil memegangi hidungnya yang berdarah. "Pak, pelayan Bapak menyerang saya! Saya mau lapor polisi!" "Wiro! Ke ruangan saya, sekarang!" *** Lima belas menit kemudian, Wiro keluar dari pintu belakang cafe dengan kardus berisi barang-barang pribadinya. Dipecat. Tanpa pesangon. Tanpa referensi kerja. Tapi itu bukan akhir dari malamnya yang buruk. "Oi, kampungan!" Wiro menoleh. Krisno berdiri di ujung gang, diapit empat temannya. Wajahnya bengkak di bagian yang tadi kena pukul. "Lo pikir lo bisa mukul gue terus kabur gitu aja, heh?" Setelah itu, mereka menyerang bersamaan. Wiro berusaha melawan, tapi satu lawan lima jelas bukan pertarungan yang adil. Pukulan dan tendangan menghujani tubuhnya dari segala arah. Dari sudut matanya yang mulai membengkak, Wiro melihat Lisa. Gadis itu berdiri di kejauhan, menonton. Tidak berteriak minta tolong. Tidak berusaha menghentikan. Hanya menonton dengan wajah datar, sesekali memeriksa ponselnya. Tendangan terakhir menghantam perutnya, dan Wiro ambruk. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh. Tulang rusuknya terasa retak. Darah mengalir dari bibirnya yang sobek. "Udah, udah," kata Krisno, mengatur napasnya. "Biar dia mampus di sini." Krisno berjalan menghampiri Lisa, merangkulnya mesra, lalu menciumnya dengan sengaja tepat di depan Wiro yang terkapar. "Ayo, sayang. Kita lanjutkan permainan kita." Mereka pergi. Meninggalkan Wiro dalam kegelapan gang, dengan tubuh yang hancur dan hati yang lebih hancur lagi. Anehnya, air mata tidak keluar. Yang tersisa dalam diri Wiro hanyalah kebencian. Kebencian yang begitu pekat kepada Lisa, kepada pengkhianatan itu, kepada kebodohannya sendiri. 'Mati', pikir Wiro. 'Mungkin memang lebih baik aku mati di sini.* --- "Anak muda." Suara itu parau, seperti kertas pasir menggesek kayu. Wiro berusaha membuka matanya yang bengkak. Seorang pria tua berdiri di atasnya. Pakaiannya compang-camping, rambutnya gimbal, kulitnya gelap karena kotoran. Wiro mengenalinya, tunawisma yang selama tiga hari terakhir selalu duduk di samping cafe. Pria yang beberapa kali diberi makanan oleh Wiro ketika tidak ada yang melihat. "Ka-kek..." Wiro terbatuk, darah muncrat dari mulutnya. Pria tua itu berlutut di sampingnya. Tangannya yang kurus dan berkeriput memegang sesuatu, sebuah kalung dengan liontin berbentuk aneh, seperti simbol kuno yang tidak dikenali Wiro. "Kau anak yang baik," kata orang tua itu. "Kau memberiku makan ketika orang lain bahkan tidak mau menatapku. Sekarang, biar aku yang membantumu." "A-apa..." "Kalung ini akan menyembuhkan lukamu," lanjut pria tua itu, matanya berkilat dengan cara yang aneh, seolah ada cahaya di balik kegelapan. "Dan lebih dari itu. Kalung ini akan membantumu jadi kuat... Dan membalas dendammu."Setelah sesi panas yang melelahkan di ruang tamu, Wiro dan Hartini terbaring di sofa, tubuh mereka basah keringat dan cairan cinta yang bercampur. Napas Hartini masih tersengal, dadanya naik-turun cepat, sementara Wiro memeluknya lembut dari samping, tangannya menyusuri punggungnya yang kini bebas dari rasa sakit. Liontin di leher Wiro masih hangat, seolah memberi energi tak habis-habis. "Bu, kita mandi yuk? Tubuh kita lengket semua," usul Wiro dengan suara rendah, bibirnya menyentuh telinga Hartini. Hartini tersenyum malu-malu, pipinya merona meski usianya sudah matang. "Iya, Mas. Ayo... bareng." Matanya berbinar penuh hasrat sisa, tangannya meraba-raba dada berotot Wiro. Ia bangkit pelan, kakinya agak gemetar karena orgasme berulang tadi, tapi langkahnya lebih ringan, punggungnya benar-benar sembuh. Wiro ikut berdiri, memeluk pinggang Hartini dari belakang saat mereka berjalan ke kamar mandi utama di ujung koridor. Tubuh Hartini yang montok terasa hangat menempel ke dadanya,
Hartini merasakan tubuhnya. Tulangnya seperti sejajar kembali, rasa nyeri hilang seolah disedot ke udara. "Bu, coba gerakkan pinggangnya," kata Wiro. Hartini bangkit pelan, memutar tubuhnya. "Astaga... hilang! Sakitnya benar-benar hilang, Mas! Kamu tukang sulap apa?" Ia tertawa gembira, memeluk Wiro impulsif. Tubuhnya menempel ke dada Wiro, dan saat itu, aroma parfum ringan Hartini bercampur keringat tipis membuat Wiro merasakan tarikan liontin lagi. Hartini tak langsung melepaskan pelukan; matanya bertemu mata Wiro, dan ada percikan di sana. "Terima kasih banyak, Mas. Kamu selamatkan hidup saya," bisik Hartini, suaranya bergetar. Wiro tersenyum, "Senang bisa bantu, Bu." Tapi Hartini tak mundur. Wajahnya mendekat, bibirnya menyentuh pipi Wiro pelan. sebuah ciuman terima kasih yang berubah menjadi sesuatu yang lebih. "Saya... saya nggak tahan, Mas. Sentuhanmu tadi... bikin saya panas," akunya malu-malu, pipinya merona. Wiro terkejut, tapi kekuatan liontin membuatnya tak me
Di ruang tamu, Krisno dan Lisa menunggu dengan bingung. Suara itu semakin keras. Dua suara perempuan yang sangat dia kenali, suara ibunya dan kakaknya, bercampur dalam simfoni yang membuat perutnya mual. "MAMA!" Krisno berlari ke kamar ibunya, menggedor pintu dengan brutal. "MAMA! KAK SANTI! APA YANG TERJADI?!" Tidak ada jawaban. Hanya desahan dan teriakan yang semakin intens. Lisa berdiri di belakang Krisno, wajahnya pucat pasi. "Krisno... ini..." "BUKA PINTUNYA!" Krisno terus menggedor hingga tangannya memerah. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit yang terasa seperti neraka. Akhirnya, suara-suara itu mereda. Langkah kaki terdengar dari dalam. Pintu terbuka dengan santai. Dan sosok yang muncul membuat Krisno merasa seluruh dunianya runtuh. "Wiro?!" Wiro berdiri di ambang pintu, bertelanjang dada, dengan senyum dingin di wajahnya. Di belakangnya, di atas tempat tidur, Widya dan Santi terbaring dengan kondisi yang tidak perlu dijelaskan. "Hai, Krisno,"
Di dalam kamar, Widya berlutut di depan Wiro, tangannya gemetar membuka ikat pinggang celananya. Saat celana terbuka, matanya membelalak kaget. kejantanan Wiro yang luar biasa besar dan gagah membuatnya terpana. "Ya ampun... ini... Kok bisa segede ini. Emph" gumamnya, sebelum bibirnya langsung melumatnya dengan rakus, penuh hasrat yang tak terkendali. Wiro terkejut, tapi kekuatan baru dalam dirinya membuatnya tak menolak, malah, ia merasakan gelombang kenikmatan yang membuat dendamnya sejenak terlupakan. Siapa sangka, kalung ajaib itu bukan hanya untuk balas dendam, tapi juga membuka pintu baru dalam hidupnya... *** Di dalam kamar tidur Widya yang mewah, suasana semakin panas. Widya, dengan mata berbinar penuh nafsu, terus menikmati batang besar Wiro yang gagah dengan mulutnya yang rakus. Lidahnya berputar-putar, menghisap dengan lahap sambil bergumam penuh kekaguman, "Ahh... batangmu ini luar biasa, Nak! Besar sekali, keras seperti besi... Ibu belum pernah rasain yang segede
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.