Wiro sang Penakluk

Wiro sang Penakluk

last updateLast Updated : 2026-01-28
By:  HeartwriterUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
8views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Wiro bekerja serabutan demi membiayai kuliah kekasihnya. Tapi dia malah dikhianati dan dipukul Krisno, pacar baru kekasihnya, hingga hampir mati. Saat dia pikir dia tidak memiliki harapan hidup, seorang pengemis tua memberinya sebuah liontin. Liontin itu, tidak hanya menyembuhkannya, tapi juga membuat kejantanannya jadi besar dan tangguh. Dan mulai saat ini, para wanita langsung tertarik padanya dan ingin merasakan pisangnya. Pembalasan pertama Wiro adalah dengan meniduri ibu dan kakak perempuan Krisno. Dia bisa menyembuhkan banyak penyakit sehingga para wanita mengaguminya.

View More

Chapter 1

1 Pengkhianatan

Malam ini, Cafe Bintang Timur ramai seperti biasa. Wiro bergerak lincah di antara meja-meja, membawa nampan berisi pesanan dengan gerakan yang sudah terlatih selama setahun terakhir.

Tubuhnya lelah. Bagaimana tidak, ini adalah pekerjaan ketiganya hari ini. Pagi tadi dia sudah menjadi kuli angkut di pasar induk, siang menjadi kurir paket, dan sekarang melayani tamu di cafe ini hingga tengah malam.

Dua tahun sudah Wiro merantau ke Jakarta. Dua tahun penuh perjuangan, tidur di kontrakan sempit yang pengap, makan seadanya, semua demi satu tujuan, yaitu membiayai Lisa, kekasihnya yang setahun lalu menyusul ke Jakarta untuk kuliah.

"Sayang, aku butuh uang untuk beli buku," begitu pesan Lisa minggu lalu.

"Wiro, uang kuliahku kurang," begitu pesan sebelumnya.

Dan Wiro selalu mengirim. Selalu. Meski tubuhnya harus remuk, meski perutnya harus kelaparan. Karena itulah cinta, pikirnya. Berkorban tanpa pamrih.

Pintu cafe terbuka. Wiro menoleh secara refleks, dan jantungnya seolah berhenti berdetak.

Lisa masuk. Tapi tidak sendirian.

Tangannya melingkar mesra di lengan seorang pria berpenampilan necis, kemeja branded, jam tangan yang kelihatan mahal, rambut ditata rapi dengan gel. Di belakang mereka, empat orang pria lain mengikuti, tertawa-tawa dengan suara keras.

"Lisa...?" suara Wiro nyaris tak terdengar.

Lisa melihatnya. Mata mereka bertemu. Tapi tidak ada keterkejutan di wajah gadis itu. Yang ada hanya senyum mengejek yang membuat perut Wiro serasa diremas.

"Oh, itu yang namanya Wiro?" seru pria di samping Lisa. "Jadi ini pacar kampungmu yang selama ini membiayai hidupmu, sayang?"

Mereka duduk di meja yang kebetulan masuk dalam area pelayanan Wiro. Dengan langkah gemetar, Wiro menghampiri.

"Lisa, siapa dia?" tanya Wiro, suaranya bergetar menahan emosi.

"Kenalkan, ini Krisno," jawab Lisa tanpa rasa bersalah. "Pacarku yang sebenarnya."

Krisno tertawa. Suaranya nyaring dan menyakitkan. "Bro, kasihan banget sih lo. Setahun membiayai cewek orang!" Dia mengeluarkan ponselnya, membuka galeri foto. "Nih, liat. Selama lo kerja banting tulang, gue yang nikmatin tubuhnya."

Wiro memegang handphone milik Krisno itu dengan tangan gemetar.

Foto-foto itu. Foto-foto yang membuat dunia Wiro runtuh seketika. Lisa dan Krisno dalam posisi-posisi intim, di hotel, di apartemen. Dan jelas mereka biasa melakukannya.

"Lo tahu yang paling lucu?" Krisno melanjutkan dengan nada mengejek. "Lo bahkan nggak pernah nyentuh dia. Bego banget sih lo!"

Teman-teman Krisno tertawa terbahak-bahak. Lisa ikut tertawa, seolah pengkhianatannya adalah lelucon terbesar tahun ini.

Sesuatu dalam diri Wiro pecah.

PRAK!

Ponsel Krisno terbanting ke lantai, layarnya retak. Detik berikutnya, tinju Wiro mendarat telak di wajah Krisno, membuat pria itu terjungkal dari kursinya.

"WIRO!" teriak Lisa.

Kafe menjadi kacau. Tamu-tamu berteriak. Manager berlari menghampiri.

"Apa-apaan ini?!" bentak sang manager.

Krisno bangkit sambil memegangi hidungnya yang berdarah. "Pak, pelayan Bapak menyerang saya! Saya mau lapor polisi!"

"Wiro! Ke ruangan saya, sekarang!"

***

Lima belas menit kemudian, Wiro keluar dari pintu belakang cafe dengan kardus berisi barang-barang pribadinya. Dipecat. Tanpa pesangon. Tanpa referensi kerja.

Tapi itu bukan akhir dari malamnya yang buruk.

"Oi, kampungan!"

Wiro menoleh. Krisno berdiri di ujung gang, diapit empat temannya. Wajahnya bengkak di bagian yang tadi kena pukul.

"Lo pikir lo bisa mukul gue terus kabur gitu aja, heh?"

Setelah itu, mereka menyerang bersamaan. Wiro berusaha melawan, tapi satu lawan lima jelas bukan pertarungan yang adil. Pukulan dan tendangan menghujani tubuhnya dari segala arah.

Dari sudut matanya yang mulai membengkak, Wiro melihat Lisa. Gadis itu berdiri di kejauhan, menonton. Tidak berteriak minta tolong. Tidak berusaha menghentikan. Hanya menonton dengan wajah datar, sesekali memeriksa ponselnya.

Tendangan terakhir menghantam perutnya, dan Wiro ambruk. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh. Tulang rusuknya terasa retak. Darah mengalir dari bibirnya yang sobek.

"Udah, udah," kata Krisno, mengatur napasnya. "Biar dia mampus di sini."

Krisno berjalan menghampiri Lisa, merangkulnya mesra, lalu menciumnya dengan sengaja tepat di depan Wiro yang terkapar.

"Ayo, sayang. Kita lanjutkan permainan kita."

Mereka pergi. Meninggalkan Wiro dalam kegelapan gang, dengan tubuh yang hancur dan hati yang lebih hancur lagi.

Anehnya, air mata tidak keluar. Yang tersisa dalam diri Wiro hanyalah kebencian. Kebencian yang begitu pekat kepada Lisa, kepada pengkhianatan itu, kepada kebodohannya sendiri.

'Mati', pikir Wiro. 'Mungkin memang lebih baik aku mati di sini.*

---

"Anak muda."

Suara itu parau, seperti kertas pasir menggesek kayu. Wiro berusaha membuka matanya yang bengkak.

Seorang pria tua berdiri di atasnya. Pakaiannya compang-camping, rambutnya gimbal, kulitnya gelap karena kotoran.

Wiro mengenalinya, tunawisma yang selama tiga hari terakhir selalu duduk di samping cafe. Pria yang beberapa kali diberi makanan oleh Wiro ketika tidak ada yang melihat.

"Ka-kek..." Wiro terbatuk, darah muncrat dari mulutnya.

Pria tua itu berlutut di sampingnya. Tangannya yang kurus dan berkeriput memegang sesuatu, sebuah kalung dengan liontin berbentuk aneh, seperti simbol kuno yang tidak dikenali Wiro.

"Kau anak yang baik," kata orang tua itu. "Kau memberiku makan ketika orang lain bahkan tidak mau menatapku. Sekarang, biar aku yang membantumu."

"A-apa..."

"Kalung ini akan menyembuhkan lukamu," lanjut pria tua itu, matanya berkilat dengan cara yang aneh, seolah ada cahaya di balik kegelapan. "Dan lebih dari itu. Kalung ini akan membantumu jadi kuat... Dan membalas dendammu."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status