Menemukan Warisan Naga Di Kedalaman Sumur

Menemukan Warisan Naga Di Kedalaman Sumur

By:  Dongchen SeleriUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aldrin Sagara menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa istrinya berselingkuh. Namun, alih-alih mendapat simpati, dia malah dicemooh tanpa ampun. Semua orang berharap dia mati. Dalam amarahnya, dia memilih menjadi penyelam untuk mengambil mata bor yang jatuh ke dalam sumur. Namun tak disangka, di kedalaman sumur yang gelap gulita, ternyata tersembunyi seekor naga! Pada siang hari, dia hanyalah seorang buruh bangunan yang mengangkut batu bata. Pada malam hari, dia adalah presiden direktur sebuah keluarga konglomerat bernilai ratusan triliun! Valen berkata, "Aku cuma suruh kamu jadi pengganti selama setengah bulan!" Aldrin tertawa sinis. "Pengganti apanya? Bu Valen, begini ya sikapmu waktu bicara sama atasanmu?"

View More

Chapter 1

Bab 1

Hawa panas dan lembap menyelimuti barak proyek, bercampur dengan bau keringat yang menyengat.

Aldrin duduk di tepi ranjang, matanya tampak memerah, kedua tangannya mencengkeram erat ponsel usang miliknya. Di rekaman kamera pengawas, kaki jenjang Yunita melingkar di tubuh Darmawan, sementara perut buncit pria itu menekan pinggang rampingnya.

"Yunita, kamu cantik sekali. Mubazir kamu ikut si pecundang Aldrin itu selama bertahun-tahun."

Darmawan tertawa mesum. Tetesan keringatnya jatuh ke wajah Yunita. Pemandangan itu menyayat mata Aldrin bagaikan sembilu.

"Aldrin, nonton apa sih? Seru banget kelihatannya. Sini kasih aku lihat!"

Bimo menghampiri sambil menyeringai jahil. Namun, saat matanya tertuju ke layar, dia langsung terpaku. "Bangsat! Itu istrimu? Darmawan bajingan itu lagi tidur sama istrimu?"

Rekan-rekan kerja lainnya juga langsung mengerubungi dan menjulurkan leher untuk mengintip layar ponsel Aldrin.

"Aldrin, kamu benar-benar payah."

Salah seorang rekan kerjanya yang bernama Leman sampai menelan ludah dan berkata dengan nada mentertawakan, "Sudah kuduga hari ini bakal datang. Perempuan itu memang bukan wanita yang bisa kamu pertahankan."

Beberapa rekan kerja mengelilinginya. Ada yang mencibir, ada pula yang menepuk bahunya. Namun, di balik sorot mata yang berpura-pura simpati itu, tetap terselip ejekan yang terasa bagai pisau, terus-menerus menusuk dadanya.

"Si Darmawan ini tahu betul cara bersenang-senang, ya ...."

Buku-buku jari Aldrin memutih karena menggenggam terlalu erat. Matanya terpaku pada layar, suaranya terdengar berat dan dingin. "Diam kalian semua!"

Tak, tak, tak.

Tiba-tiba terdengar irama langkah sepatu hak tinggi yang nyaring dari pintu barak, seketika meredam semua keributan.

Seorang wanita melangkah masuk.

Bahkan di tengah proyek yang penuh debu ini, dia tetap tampak bersinar.

Gaun merah muda yang dikenakan membalut tubuhnya dengan pas, memperlihatkan lekuk tubuh yang sempurna. Pinggangnya begitu ramping, sementara dadanya terlihat begitu padat dan penuh.

Lekuk tubuhnya bergoyang mengikuti setiap langkah. Belahan gaunnya membuka dan menutup perlahan seiring ayunan kaki. Sepasang betisnya yang terbalut stoking tampak samar di balik belahan itu. Garis kakinya lurus dan panjang, sementara renda di ujung stoking sesekali tampak mengintip.

Yang paling mematikan adalah aura dinginnya. Sepasang mata indahnya memancarkan wibawa, bibir merahnya tampak begitu menggoda.

Sepatu hak tinggi berwarna nude mengeluarkan bunyi entakan saat menginjak tanah berdebu di barak. Setiap langkahnya seolah menginjak tepat di dada para pekerja.

Tatapannya menelusuri seluruh ruangan dengan dingin, bak seorang ratu yang sedang memeriksa kandang peliharaannya.

Barak proyek seketika diliputi keheningan yang mencekam.

Semua orang membelalakkan mata, menatap wanita cantik berwajah dingin yang tiba-tiba muncul itu.

Tak lama kemudian, suara orang-orang menelan ludah terdengar di seluruh barak. Namun, tak seorang pun berani membiarkan pandangannya berhenti lebih dari sesaat pada kaki jenjang wanita itu.

Sebab, pria yang berdiri di belakangnya dengan sikap bak anjing penjilat adalah Bram. Dia adalah manajer proyek di lokasi ini, sekaligus kakak kandung Darmawan, pria yang menjadi selingkuhan istri Aldrin di dalam video.

Semua orang mengalihkan pandangan. Tak ada yang berani menatapnya secara langsung.

Wanita itu berhenti melangkah. Mengabaikan tatapan penuh hasrat di sekelilingnya, bibir merahnya terbuka perlahan, suaranya terdengar dingin dan jernih.

"Tugas berikutnya menyelam ke sumur."

"Ada mata bor yang jatuh di sumur tua wilayah barat. Siapa yang bisa turun dan berhasil mengangkatnya, akan mendapat 60 juta."

"Kalau nggak bisa naik lagi ... santunan buat keluarga 600 juta."

"Sudah ada yang mendaftar?"

Enam puluh juta untuk mempertaruhkan satu nyawa.

Barak kembali sunyi. Tak seorang pun berani bersuara.

Beberapa detik kemudian, sebuah tangan teracung dari sudut ruangan, seluruh tatapan serempak tertuju pada Aldrin.

Bimo memelankan suaranya. "Aldrin, kamu gila, ya? Dasar sumur itu sudah kayak lubang kuburan! Kamu mau bunuh diri?"

Jakun Aldrin bergerak. Di benaknya terlintas pesan suara Yunita yang bernada manja semalam.

"Hari Valentine itu ulang tahunku. Masa kamu nggak kasih aku hadiah yang bagus? Nanti aku diketawain teman-temanku ...."

Demi membelikannya tas itu ....

Demi mencoba merebut kembali hati wanita yang dipenuhi kesombongan itu ....

Semalam Aldrin membulatkan tekad dan mendaftarkan diri untuk pekerjaan yang peluang hidupnya nyaris tidak ada itu.

Namun, apa balasannya?

Di atas ranjang, perempuan itu malah asyik memuaskan nafsu dengan laki-laki lain, menginjak-injak seluruh pengorbanannya.

Tatapan Aldrin tampak tenang. Tanpa mengangkat kepala, dia berkata, "Aku sudah mendaftar."

Pandangan wanita bergaun merah muda itu jatuh pada Aldrin, ekspresinya tetap datar. "Oke. Sebelum turun, tanda tangani dulu surat pernyataan lepas tanggung jawab ini."

Dia mengulurkan tangan. Gelang giok hijau zamrud di pergelangan tangannya berkilau diterpa cahaya lampu.

Bram segera menyerahkan sebuah tablet, wanita itu menerimanya. Ujung gaunnya menyapu pelan celana kerja Aldrin saat dia melirik layar ponsel yang digenggam pria itu.

"Istrimu?"

"Seksi sekali."

Aldrin mengangkat kepala dan menatapnya dingin. Tatapannya seperti serigala yang terpojokkan. Tampaknya tenang, tetapi terkesan mengerikan.

Wanita itu sama sekali tidak peduli. Mata indahnya menatap ke arah Aldrin, sementara aroma samar parfum tubuhnya menguar dengan lembut.

"Oke, aku tanda tangan," ucap Aldrin dengan tenang.

Para pekerja langsung gempar.

"Kamu gila, ya? Tahun lalu ada yang turun ke sana, sampai sekarang mayatnya nggak berhasil diangkat!"

Bimo segera menarik lengannya, suaranya penuh kecemasan. "Aldrin, istrimu itu memangnya masih pantas diperjuangkan? Darmawan sudah tidur sama dia. Kamu masih mau bertaruh nyawa demi dia?"

Aldrin menepis tangan Bimo dengan kasar. "Aku harus mendapatkan pekerjaan ini."

Suaranya tenang, tetapi sanggup membuat seisi ruangan merinding. "Orang harus ngerasain mati dulu, baru bisa tahu artinya hidup." Dia mengambil tablet itu dan membubuhkan tanda tangannya.

Wanita itu berbalik, lalu melangkah pergi dengan sepatu hak tingginya dan meninggalkan sepatah kalimat, "Tunggu di depan sumur. Sepuluh menit lagi. Jangan terlambat."

Bimo menyodorkan sebatang rokok yang sudah kusut lalu menghela napas. "Tonton sekali lagi sebelum kamu turun, biar kamu nggak kepikiran terus sama perempuan itu."

Aldrin menyulut rokok itu dan mengisapnya dalam-dalam, sampai tersedak dan batuk keras.

Di telinganya seolah kembali terdengar nasihat sang ibu, "Yunita mau nikah sama kamu itu sudah rezekimu. Kamu harus perlakukan dia dengan baik."

"Kalau seorang pria nggak punya kemampuan, setidaknya dia harus rajin dan bertanggung jawab. Jangan sampai dia menderita karena ikut denganmu."

Jari Aldrin bergetar. Abu rokok jatuh ke celananya, dadanya terasa sesak.

Di layar ponsel, Yunita sedang merangkul leher Darmawan sambil bermanja. "Kak Darmawan, jangan lupa sama janjimu, ya ...."

Darmawan menyeringai. Perut buncitnya menekan tubuh Yunita hingga wanita itu terkikik geli. Tetesan keringat jatuh ke wajah Yunita, tetapi dia malah makin menempel erat pada pria itu.

Dada Aldrin terasa seperti ditusuk sebilah pisau, rasanya begitu sakit hingga sulit bernapas.

Uang ....

Semua demi uang!

Enam puluh juta.

Sama-sama manusia, bagi orang lain uang sebanyak itu mungkin hanya cukup untuk mentraktir teman makan dan karaoke. Namun, dirinya harus bertaruh nyawa demi mendapatkannya, sementara Yunita di rumah sedang bersama pria gendut sialan itu ....

Aldrin menggertakkan gigi. Bara rokok membakar jarinya, tetapi dia sama sekali tidak merasakannya.

Sepuluh menit kemudian ....

Aldrin keluar dari barak proyek dan berdiri di tepi sumur. Tabung oksigen di punggungnya begitu berat, bak sebuah peti mati.

Air sumur tampak hitam pekat. Gelembung air perlahan muncul ke permukaan, bagaikan mulut raksasa yang siap menelan manusia.

Menara derek di atas kepalanya berderit pelan. Lampu kamera pengawas berkedip merah, lensanya merekam tanpa emosi, seolah mentertawakan betapa murah harga nyawa manusia.

Wanita itu bersandar di pagar pembatas. Belahan gaunnya memperlihatkan paha mulus yang begitu memikat. Sudut bibir merahnya sedikit terangkat, sementara smartband di pergelangan tangannya memancarkan cahaya biru.

"Pak Aldrin, silakan turun. Enam puluh juta sudah menunggumu."

Suara lembut wanita itu seolah menggelitik hatinya, membuat pikirannya sempat kacau.

Bimo menyerahkan seutas tali, suaranya terdengar tegang. "Aldrin, kalau kamu nekat turun, kamu benar-benar bisa mati. Tahun lalu ... ada pekerja yang nggak bisa naik lagi. Bahkan mayatnya juga nggak ditemukan."

Sementara itu, Bram memandangnya lalu berkata dengan nada datar, "Surat pernyataan lepas tanggung jawab sudah kamu tanda tangani. Kalau berubah pikiran, kamu harus kasih kompensasi."

"Jumlahnya seratus juta. Kamu sanggup nggak?"

Nada bicaranya penuh ejekan. Seolah nyawa manusia sama sekali tak berarti di matanya.

"Sudah, jangan banyak omong!"

Aldrin menggertakkan gigi, lalu mengikat tali di tubuhnya. Senyum Yunita di video rekaman kamera pengawas masih terbayang di depan mata. Wanita itu memeluk leher Darmawan sambil bermanja, bahkan menyebutnya sebagai pecundang.

Saat menontonnya tadi, hatinya seperti disayat pisau hingga nyaris tak bisa bernapas. Namun sekarang, untuk pertama kalinya dia malah merasa begitu tenang.

Leman meludah ke samping, lalu berkata dengan nada menyindir, "Wah, sudah diselingkuhin, masih juga mempertaruhkan nyawa demi Darmawan? Memangnya sepadan?"

Seseorang ikut berteriak sambil tertawa. "Heh, Aldrin pecundang! Sekalian cari emas di bawah sana buat istrimu!"

Bimo memelotot ke arah Leman, lalu berkata pelan untuk menghiburnya, "Aldrin, jangan dengarkan omongan mereka. Yang penting kamu bisa balik dengan selamat."

Aldrin tidak menjawab. Dia mengisap rokok sekali lagi, lalu menjentikkan puntungnya jauh-jauh. Dia mengenakan masker oksigen, lalu menatap dunia yang suram ini untuk terakhir kalinya.

Byur!

Air memercik ke segala arah.

Dia melompat ke dalam sumur tua yang dasarnya tak terlihat. Air sumur itu sedingin es dan menusuk hingga ke tulang. Sekelilingnya gelap gulita. Arus bawah air terus berputar, bagaikan ribuan tangan yang menarik tubuhnya makin ke dalam.

Suara wanita itu terdengar terputus-putus dari alat komunikasi.

"Mata bornya ada di kedalaman 30 meter. Cepat. Oksigenmu cuma cukup untuk 20 menit."

Hanya Bram yang terus menatap tali yang terikat di atas sumur. Kilatan licik dan jahat melintas di matanya.

....

Tekanan air membuat dada Aldrin terasa sesak. Cahaya lampu di kepalanya menyapu dinding sumur yang dipenuhi retakan.

Rasanya begitu dingin dan sunyi.

Sosok Aldrin terus bergerak turun bersama tabung oksigen di punggungnya. Walaupun amarahnya membara, dia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Dia harus menemukan mata bor itu dan dia juga harus tetap hidup.

Lima belas menit kemudian, ujung jarinya akhirnya menyentuh logam yang dingin.

Itu mata bor yang dicarinya.

Namun, tiba-tiba tali pengamannya menegang.

Macet.

Aldrin menariknya beberapa kali, tetapi tali itu sama sekali tidak bergerak.

Seseorang telah mengutak-atik tali itu!

Alarm pada pengukur oksigen berbunyi "bip, bip" tanpa henti. Lampu merah berkedip-kedip, bagaikan lonceng kematian.

Senyum Yunita, perut buncit Darmawan, ejekan para rekan kerja ....

Semuanya terus berputar di benaknya.

Kegelapan menelannya sepenuhnya.

Karena kekurangan oksigen, pemandangan di sekelilingnya mulai kabur. Sementara kesadarannya perlahan ditelan oleh kegelapan tanpa batas.

"Jadi ... aku akan mati di sini?"

"Seperti pekerja itu tahun lalu ... menjadi tulang belulang tanpa nama di dasar sumur tua ini. Aku nggak rela ... aku benar-benar nggak rela ...."

Tepat ketika kesadarannya hampir lenyap sepenuhnya.

Dung!

Itu bukan detak jantung Aldrin. Suara itu berasal dari bagian terdalam retakan di dinding sumur. Itu adalah denyut nadi makhluk purba.

Sesaat kemudian, kehendak yang dipenuhi kebrutalan dan keserakahan luar biasa, mencengkeram jiwa Aldrin yang hampir hancur dengan kasar.

Lalu, sebuah daya isap yang tak terbayangkan menangkap tubuhnya!

Bukan untuk mencabik-cabiknya, melainkan menyeretnya dengan kasar menuju bagian dasar sumur yang lebih dalam lagi!

Di balik retakan itu, ternyata ada kerangka putih raksasa yang bukan milik manusia. Kerangka itu meringkuk di sana, dengan tanduk-tanduk tajam yang melengkung di kepalanya, memancarkan aura agung dan kebencian yang begitu dahsyat hingga membuat orang sulit bernapas.

Itu adalah seekor naga!

'Sialan ... bahkan langit juga menolakku. Bagaimana mungkin tubuh manusia biasa mampu beresonansi dengan sisa jiwaku ... Bagus, kita lihat sejauh apa kamu sanggup bertahan!'

'Anak muda, terimalah kekuatan terakhirku! Balaskan dendamku ... balaskan semua kebencianku!'

Sebuah suara yang dipenuhi kekejaman, menerobos masuk ke dalam benak Aldrin secara paksa dan tidak memberinya kesempatan untuk menolak.

Itu adalah setitik esensi terakhir yang tersisa di kerangka naga itu, setetes darah hitam pekat yang di dalamnya mengalir benang-benang emas.

Darah itu kemudian berubah menjadi arus dahsyat yang langsung menghantam masuk ke dalam tubuh Aldrin!

"Argh!"

Rasa sakit yang luar biasa menyapu seluruh tubuhnya, seolah puluhan ribu jarum baja menusuk hingga ke sumsum tulang.

Di dasar sumur yang gelap gulita itu, tubuh Aldrin seketika mengalami perubahan mengerikan!

Lengan kanannya tiba-tiba membesar. Serat-serat ototnya terkoyak, lalu tersusun kembali dengan kecepatan yang mencengangkan. Permukaan kulitnya mengeluarkan bunyi derakan sebelum ditutupi lapisan sisik hitam yang memantulkan kilau logam.

Kuku-kuku di kelima jarinya memanjang dengan cepat, berubah menjadi cakar naga yang setajam bilah pisau!

Kekuatan yang sanggup menghancurkan langit dan bumi pun terbangun di dalam tubuhnya!

Krak!

Aldrin tiba-tiba membuka kedua matanya. Pupil matanya yang semula merah, kini telah berubah menjadi sepasang mata yang dingin dan penuh wibawa.

Sepasang mata itu berwarna emas gelap!

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status