登入Malam itu, Aula Bulan dipenuhi cahaya lilin yang tidak juga mau tenang. Sumbu-sumbunya bergoyang tiap kali angin menyusup dari celah langit-langit berukir rasi bintang, seolah ruangan itu sendiri menahan napas bersama orang-orang di dalamnya.Yue Lingxian duduk paling dekat dengan altar batu di tengah aula, punggungnya lurus meski tubuhnya masih menyimpan lelah yang tidak pernah benar-benar hilang sejak pukulan domain Beiming Wuji terakhir kali. Di pangkuannya, terbungkus kain sutra pudar yang telah kehilangan kilaunya oleh waktu, tergeletak gulungan itu. Tali merah tua yang mengikatnya sudah sedemikian kusam hingga warnanya lebih menyerupai cokelat karat daripada merah. Bau darah kering yang sangat lama masih menempel samar di seratnya, bau yang tidak pernah benar-benar pergi walau puluhan tahun telah lewat.Ia meletakkan telapak tangan di atas gulungan itu, bukan untuk menahannya, melainkan untuk merasakan sekali lagi betapa ringan bendanya, dan betapa
Ruang arsip di bawah Aula Bulan jarang dikunjungi siapa pun kecuali Tetua Zhang sendiri. Tempat itu sempit, berbau debu tua dan minyak lampu yang sudah terlalu sering diisi ulang, rak-raknya penuh gulungan catatan sekte yang usianya lebih tua daripada siapa pun yang masih hidup di dalam tembok granit ini. Ia berdiri di depan salah satu rak, tangannya yang berkeriput bergetar halus saat menyentuh kotak kayu kecil yang sudah puluhan tahun tidak pernah ia buka.Ia sudah menunda ini terlalu lama.Sejak malam di Aula Bulan, bab tiga puluh empat, ketika ia berbicara tentang sejarah mencatat hari itu sebagai hari Sekte Bulan Sabit memilih bunuh diri, lalu berhenti di tengah kalimat, menoleh sedikit, menahan sesuatu yang seharusnya sudah diucapkan sejak lama. Sejak saat itu ia membawa kalimat yang belum selesai itu ke mana-mana, seperti batu di dalam mulut, mengganjal setiap kali ia hendak bicara tentang apa pun yang berhubungan dengan keluarga Yue.Ia men
Malam belum sepenuhnya turun ketika Yue Chen meninggalkan kamar neneknya. Yue Lingxian akhirnya tertidur, napasnya masih tersengal pelan, sisa gelombang ingatan yang menghantamnya belum sepenuhnya reda dari wajahnya bahkan dalam tidur. Liontin perak itu masih tergenggam erat di tangannya, jemari tuanya melingkarinya seperti sesuatu yang bisa lepas kapan saja jika dilonggarkan barang sedikit.Yue Chen menutup pintu pelan-pelan, lalu berdiri sesaat di lorong batu yang dingin, membiarkan telapak tangannya menempel di dinding granit sampai dinginnya merambat naik ke lengan. Ia butuh dingin itu. Ia butuh sesuatu yang nyata untuk dipegang setelah satu jam terakhir yang terasa seperti berdiri di tepi sesuatu yang jauh lebih dalam daripada yang pernah ia bayangkan tentang keluarganya sendiri.Ia menemukan Bai Muchen di taman kecil dekat ruang pengobatan, tempat yang sama di mana luka pipinya dulu dijahit dengan qi murni tanpa jarum. Malam itu tidak berbulan. Ia b
Ketika nama itu terucap di ruangan sempit di belakang Aula Bulan, Yue Lingxian merasakan liontin di dadanya bergetar.Bukan getaran fisik biasa, bukan pula sekadar reaksi dari tangannya sendiri yang mencengkeram terlalu erat. Liontin perak tua itu, yang selama puluhan tahun hanya menjadi benda diam yang ia bawa ke mana pun, tiba-tiba terasa hangat di balik kain jubahnya, seolah sesuatu di dalamnya baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang.Ia tidak berani mengeluarkannya di depan Tetua Zhang dan Lan Feiyan malam itu, menahan diri dengan seluruh kekuatan yang tersisa, membiarkan getaran itu hanya menjadi rahasianya sendiri sementara percakapan berlanjut, sementara Shen Wuyou, nama yang baru saja terucap setelah empat puluh tahun tersembunyi, duduk di seberang meja dengan wajah yang menahan begitu banyak hal yang belum bisa ia ungkapkan.Baru ketika pertemuan itu berakhir, ketika Tetua Zhang telah pergi meninggalkan ruangan dengan langkah go
Ruangan kecil di belakang Aula Bulan itu jarang digunakan, hanya sesekali menjadi tempat pertemuan tertutup ketika sesuatu terlalu berat untuk dibahas di hadapan seluruh sekte. Malam ini, empat orang duduk mengelilingi meja kayu tua yang permukaannya sudah halus oleh usia: Yue Lingxian, Lan Feiyan, Tetua Zhang, dan di seberang mereka, sendirian, Bai Muchen.Cahaya lilin di tengah meja berkedip pelan, melemparkan bayangan panjang ke dinding batu yang mengukir motif bulan dan bambu, saksi diam dari begitu banyak keputusan penting yang pernah diambil di ruangan ini. Tapi malam ini terasa berbeda. Udara terasa lebih berat, lebih padat, seolah setiap orang yang duduk di sana membawa beban yang tidak sepenuhnya bisa mereka ungkapkan dengan kata-kata biasa.Lan Feiyan duduk dengan punggung tegak meski wajahnya masih menahan sisa sakit dari cedera yang ia terima beberapa jam sebelumnya. Lengannya yang dibalut kain putih tergantung hati-hati di sisi tubuhnya, sese
Su Meiyin dan Lei Hong berjalan berdampingan menuju Aula Bulan, langkah mereka pelan namun pasti, seperti dua orang yang telah menunggu terlalu lama untuk sebuah percakapan yang mereka takutkan sekaligus dambakan. Di belakang mereka, murid-murid sekte masih berjaga dengan kewaspadaan penuh, tidak sepenuhnya yakin gencatan senjata yang baru saja terjadi akan bertahan lama.Bai Muchen berdiri menunggu di depan Aula Bulan, tubuhnya tegak, wajahnya berusaha mempertahankan ketenangan yang selama ini menjadi ciri khasnya sebagai tabib pengembara. Tapi Yue Chen, yang berdiri tidak jauh dari gurunya, bisa melihat sesuatu yang berbeda malam itu, sesuatu di bahu yang sedikit lebih kaku dari biasanya, di rahang yang mengeras terlalu sering untuk seseorang yang katanya tidak mengingat sepenuhnya siapa dirinya sendiri.Su Meiyin berhenti beberapa langkah dari sosok itu, matanya menyapu wajah yang sudah puluhan tahun ia cari, wajah dua puluh tahun yang menyembunyikan s







