author-banner
Stoner 27
Stoner 27
Author

Nobela ni Stoner 27

Bayang Pedang Cahaya Bulan

Bayang Pedang Cahaya Bulan

Yue Chen hanya gadis tujuh belas tahun yang menghitung sampai dua puluh setiap kali takut, sampai hidungnya mulai berdarah tanpa sebab, dan neneknya yang biasa setenang batu mendadak tak bisa menyembunyikan kepanikannya. Sesuatu sedang tumbuh di dalam dirinya, sesuatu yang bahkan pemuda berjubah putih yang diam-diam mulai ia sukai tidak akan pernah menyangka.
Basahin
Chapter: BAB 12: KETUA SEKTE BULAN SABIT
Pagi datang dengan cara khas pegunungan, bukan bertahap, melainkan tiba-tiba, seolah langit memutuskan bahwa kegelapan sudah cukup lama bertahan dan kini waktunya berhenti. Cahaya putih kebiruan menyusup dari lubang angin kecil, menyapu lantai batu bilik dalam satu garis panjang yang bergerak perlahan seiring matahari naik di balik tebing.Yue Chen berbaring mengamati garis cahaya itu bergeser sejengkal demi sejengkal. Sejak sebelum subuh matanya sudah terbuka, menatap langit-langit bilik yang dingin, sampai bunyi pintu bergerak membuatnya menoleh.Bukan langkah berat penjaga. Bukan pula derap tergesa seorang tabib.Seorang perempuan berdiri di ambang pintu.Usianya sulit ditebak. Wajahnya bisa terlihat tiga puluhan atau lima puluhan, tergantung dari sudut mana seseorang memandang, tergantung cahaya yang jatuh di sana, tergantung apakah ia sedang berbicara atau diam. Rambutnya hitam pekat dengan satu utas putih tipis di sisi kanan, dikepang rapi ke belakang dan disematkan hiasan giok
Huling Na-update: 2026-07-09
Chapter: BAB 11: SEMENTARA
Sekte Bulan Sabit bukan tempat yang biasa.Hal ini menjadi jelas bagi Yue Chen bahkan dalam kondisinya yang kelelahan dan setengah panik, kejelasan yang datang bukan dari keinginan untuk mengamati, melainkan karena tidak mungkin tidak melihatnya.Bangunan-bangunan sekte tertanam dalam batu gunung dengan cara yang membuat garis antara buatan manusia dan alam menjadi kabur, dinding-dinding yang diukir langsung dari granit hidup, atap-atap yang miring mengikuti kontur tebing di atasnya, jalan-jalan setapak yang meliuk mengikuti aliran air bawah tanah yang bisa didengar merembes di balik batu jika seseorang cukup diam untuk mendengarnya. Di mana pun ada permukaan datar, di situ ada ukiran, bulan dalam berbagai fase, bambu dalam berbagai kelenturan, ranting-ranting bunga plum dalam berbagai derajat mekar.Semua diukir oleh tangan-tangan perempuan selama ratusan tahun. Semua bicara tentang sesuatu yang tetap indah bahkan dalam gelap.Namun, keindahan itu tidak terasa hangat malam ini.Murid
Huling Na-update: 2026-07-08
Chapter: BAB 10: FAJAR YANG BELUM TIBA
Fajar belum tiba ketika Jenderal Liu Tianming selesai menginspeksi posisi-posisi kemah pasukannya.Dia berjalan dalam kegelapan dengan ritme yang sudah menjadi bagian dari anatominya, bukan tergesa, bukan santai, melainkan dengan langkah prajurit yang sudah tidak tahu lagi berapa kali kakinya menapak tanah berdebu sebelum matahari terbit. Setiap beberapa langkah, matanya naik ke tebing-tebing di kiri dan kanan, memeriksa tanpa perlu bertanya, sebab kebiasaan bertahun-tahun di medan perang telah mengubah pemeriksaan itu menjadi sesuatu yang lebih mirip napas daripada perintah. Tiga titik pengawasan. Satu kompi penahan di mulut celah. Dua kompi bersiaga di belakang garis kemah, bergantian beristirahat. Sisanya menyebar mengitari lembah seperti jaring, tidak rapat untuk memotong, tetapi cukup rapat untuk melihat bayangan besar yang mencoba melintas.Sempurna.Di tenda komandonya yang sederhana, sebuah tenda yang tidak pernah ia buat lebih besar daripada tenda bawahannya, kebiasaan yang m
Huling Na-update: 2026-07-07
Chapter: BAB 9: TIKUS DALAM PERANGKAP
Di luar gerbang, Jenderal Liu Tianming turun dari kudanya dengan gerakan yang efisien dan tanpa suara yang tidak perlu. Seorang ajudan segera datang memegangi tali kekang.Liu Tianming berdiri menatap gerbang batu yang tertutup di hadapannya, memandangnya bukan dengan rasa frustrasi atau kemarahan, melainkan dengan cara seorang pemain catur ulung memandang bidak yang berhasil masuk ke garis belakang papan. Dingin. Penuh perhitungan. Sudah memikirkan beberapa langkah ke depan, jauh melampaui apa yang tampak di permukaan malam ini.Di sampingnya, perwiranya menunggu, tidak berani membuka mulut sebelum jenderalnya selesai berpikir."Dirikan perkemahan," kata Liu Tianming. "Formasi standar pengepungan. Tiga titik pengamatan di atas tebing. Rotasi jaga setiap tiga jam.""Apakah kita akan menyerbu?""Tidak malam ini." Ia menoleh sekilas ke arah tepian tebing yang tinggi di atas celah, mengukur ketinggiannya dengan mata yang terbiasa menghitung risiko. "Celah ini sempit. Gerbangnya batu gunu
Huling Na-update: 2026-07-07
Chapter: BAB 8: INI BARU PERMULAAN
Para penjaga sekte bergerak cepat begitu gerbang tertutup rapat. Beberapa dari mereka berlari ke arah menara pengawas kecil yang menempel di dinding celah, mengintip melalui lubang sempit yang sengaja dibuat untuk mengamati tanpa terlihat. Yang lain berjaga di sekitar gerbang dengan tombak dan busur yang masih setengah terangkat, mata mereka bergantian menatap dua orang asing yang baru saja mereka izinkan masuk dan gerbang batu yang kini menjadi satu-satunya penghalang antara mereka dan ratusan prajurit kekaisaran.Dari luar gerbang, terdengar suara pasukan kekaisaran yang tiba di sisi lain, suara perintah bersahutan, suara sepatu berbaris di atas batu, suara seseorang yang memukul-mukul gerbang batu sekali, dua kali, lalu berhenti karena menyadari bahwa batu gunung tidak terlalu terpengaruh oleh kepalan tangan manusia. Beberapa penjaga sekte saling berpandangan, wajah mereka pucat mendengar betapa dekatnya suara itu, betapa banyaknya orang yang tampaknya berkumpul di balik dinding ba
Huling Na-update: 2026-07-07
Chapter: BAB 7: GERBANG BULAN SABIT
Di dalam celah, mereka terus berlari.Jalan sempit itu hanya cukup untuk dua orang berjalan berdampingan, dengan dinding batu di kiri dan kanan yang begitu dekat hingga jubah Yue Chen menyapu kedua sisinya sekaligus. Di atas kepala, celah langit yang sempit menampilkan sejalur bintang yang tampak ikut berlari bersama mereka.Nenek Yue berlari dengan tangan kirinya menggenggam tangan Yue Chen. Tangan kanannya tergantung sedikit tidak wajar di samping tubuhnya, mengikuti irama langkah tanpa tenaga yang biasanya menopangnya. Setiap beberapa langkah, rahangnya mengencang, satu-satunya tanda bahwa ia benar-benar merasakan sesuatu. Prinsip yang ditanamkan gurunya sejak muda selalu sama: rasa sakit boleh ada, tetapi tidak boleh terlihat, sebab wajah yang tenang adalah senjata terakhir yang tersisa ketika pedang sudah tidak cukup.Yue Chen bisa merasakan getaran halus yang menjalar dari genggaman tangan neneknya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sepanjang tujuh belas tahun hidupnya. Wanit
Huling Na-update: 2026-07-07
Maaari mong magustuhan
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status