ログインYue Chen hanya gadis tujuh belas tahun yang menghitung sampai dua puluh setiap kali takut, sampai hidungnya mulai berdarah tanpa sebab, dan neneknya yang biasa setenang batu mendadak tak bisa menyembunyikan kepanikannya. Sesuatu sedang tumbuh di dalam dirinya, sesuatu yang bahkan pemuda berjubah putih yang diam-diam mulai ia sukai tidak akan pernah menyangka.
もっと見るMalam itu, bulan tidak mau muncul.
Bukan karena awan, bukan pula musim yang keliru. Langit justru jernih, seperti giok hitam yang baru digosok, ditaburi ribuan bintang bagai abu perak yang tumpah dari tangan dewa yang lalai. Namun di tempat bulan seharusnya bertakhta, hanya ada kegelapan bulat yang sempurna, seperti mata buta yang menatap ke bawah tanpa berkedip, tanpa belas kasihan.
Lembah Angin Hitam memang tidak pernah ramah, bahkan pada siang hari. Namun malam ini, ia seolah hidup, lapar, menunggu.
Dinding tebing di kiri dan kanan menjulang bagai rahang makhluk purba yang setengah terbuka. Di celah sempit itu, angin berputar tanpa henti, mendesah dengan suara yang tak jelas asalnya, entah erangan, entah tawa. Debu berterbangan dalam pusaran-pusaran kecil, muncul dan lenyap seakan bayangan makhluk tak kasatmata yang berlari tanpa tujuan.
Rumput kering merebah mati di tanah berbatu. Pohon berduri tumbuh miring dari celah batu, akarnya mencuat seperti tulang dari tanah merah. Tidak ada jangkrik, tidak ada burung. Bahkan angin pun seolah menahan napas, seakan lembah itu sudah tahu sesuatu yang buruk sedang mendekat.
Di tengah lembah, sekelompok orang berlari.
Mereka berlari seperti orang-orang yang tahu benar bahwa berhenti berarti mati.
Rombongan itu tidak lebih dari dua puluh jiwa. Beberapa lansia dengan rambut putih tergerai dan jubah sutra compang-camping, robek dan ternoda tanah serta sesuatu yang warnanya lebih gelap. Beberapa anak kecil, sebagian digendong orang dewasa yang napasnya nyaris habis. Sejumlah pengawal berbaju zirah ringan yang tidak lagi utuh, pedang tersampir di pinggang, obor menyala di tangan sebagian dari mereka. Namun obor itu dipadamkan satu demi satu. Cahaya adalah musuh pada malam seperti ini.
Di barisan paling depan, memimpin dengan langkah yang tidak pernah goyah meski kakinya pasti sudah letih, berjalan seorang wanita tua.
Ia tidak berlari, ia melangkah cepat. Ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Yang berlari adalah orang yang dikejar ketakutan. Yang melangkah cepat adalah orang yang mengejar tujuan. Meski kakinya harus bergerak setengah berlari agar sejajar dengan yang di belakangnya, punggungnya tetap tegak, kepalanya tetap terangkat. Tangan kanannya menggenggam tongkat kayu ringan, lebih berfungsi sebagai alat bantu ritual daripada penyangga tubuh.
Wajahnya, andai ada yang cukup berani dan cukup dekat untuk menatapnya dalam kegelapan seperti ini, tetap indah bahkan di usia tujuh puluhan. Bukan keindahan yang melawan usia, melainkan keindahan yang telah berdamai dengannya. Kerutan di sudut matanya bukan bekas kelelahan, melainkan jejak senyum yang berulang sepanjang puluhan tahun. Rambut putih peraknya dikepang rapi di balik kerudung tipis. Di bibirnya tidak ada kepanikan, tidak ada tangis, hanya garis tenang dan keras, seperti tepi pedang yang baru diasah.
Perempuan itu adalah Yue Lingxian, istri Pangeran Ketiga Kerajaan Zhenlong. Atau, lebih tepatnya, mantan istri seorang pangeran yang kini sudah tiada.
Di sisinya, satu langkah di belakang dan satu langkah ke kiri, berlari seorang gadis muda.
Yue Chen berusia tujuh belas tahun. Rambut hitam pekatnya terurai berantakan, kepangan yang semula rapi terlepas sejak pelarian dimulai. Pipinya memerah, bukan karena malu, melainkan karena tusukan dingin angin lembah. Sepasang matanya, cokelat keemasan dan dalam, serupa benar dengan mata sang nenek empat puluh tahun silam, terus bergerak, terus waspada, mengamati setiap bayangan dan menangkap setiap suara.
Tangan kanannya menggenggam gagang pedang latihan pemberian neneknya tiga tahun lalu. Cara jarinya melingkupi gagang itu, kokoh namun tidak kaku, menunjukkan bahwa gadis ini bukan orang asing bagi senjata.
Namun yang benar-benar menyingkap ketakutannya bukan cara ia berlari, bukan pula cara tangannya menggenggam pedang, melainkan sesekali liriknya ke belakang, ke arah ujung lembah yang gelap, ke arah asal mereka datang.
Dari sana, terdengar suara.
Belum terlihat, belum dekat. Namun suaranya sudah ada, menggema di dinding tebing, memantul dan berlipat ganda hingga terdengar bukan seperti satu pasukan, melainkan sepuluh pasukan yang datang dari segala arah sekaligus.
Derap ribuan sepatu kuda, bergerak dalam formasi rapat.
Jauh di belakang suara kuda itu, setitik cahaya muncul, lalu dua, lalu sepuluh, lalu seratus.
Obor-obor yang dinyalakan tanpa rasa takut ketahuan, sebab merekalah pemburu, dan pemburu tidak perlu bersembunyi.
"Nenek." Bisikan Yue Chen setengah tertahan oleh napas yang tersengal. "Cahayanya sudah terlihat."
"Aku tahu." Nada suara neneknya sama sekali tidak berubah, datar dan tenang bagai permukaan danau di pagi tanpa angin. "Tetap berlari. Jangan menoleh."
"Tapi jaraknya..."
"Aku tahu jarak mereka." Yue Lingxian tidak menoleh sedikit pun. "Dan aku tahu jarak kita ke Celah Bulan Sabit. Yang perlu kaupikirkan sekarang bukan apa yang mengejar kita, melainkan ke mana kita akan pergi."
Yue Chen menelan kembali kata-katanya dan kembali memacu langkah. Tangannya menyentuh sesuatu di balik jubah sang nenek, sebuah gulungan kain sutra yang dilipat hati-hati, diikat tali merah tua yang telah kusam. Tidak besar, tidak berat, namun hangat dengan cara aneh, seolah baru dilepaskan dari sumber panas yang bukan tubuh manusia. Semalam Yue Chen sempat menciumnya, dan tercium bau darah kering yang sangat tipis dan sangat lama, terselip di antara serat sutra, seperti kenangan yang menolak untuk hilang.
Itulah sebabnya seluruh pasukan kekaisaran malam ini berkumpul di lembah terpencil ini, di tengah malam tanpa bulan.
Demi selembar kain tipis yang tersimpan di balik jubah seorang wanita tua yang berlari demi menyelamatkan dua puluh nyawa lain, padahal tak seorang pun di antara mereka benar-benar memahami apa yang sesungguhnya sedang mereka pertahankan.
Derap kuda semakin dekat. Cahaya obor kini bukan lagi seratus titik samar, melainkan satu garis api yang membentang, menutup mulut lembah seperti tirai yang perlahan diturunkan.
Yue Lingxian berhenti melangkah.
Bukan karena lelah. Bukan karena menyerah. Matanya, untuk pertama kalinya sejak pelarian dimulai, menatap lurus ke depan, ke arah jalan sempit yang selama ini menjadi tujuan mereka, Celah Bulan Sabit.
Jalan itu telah tertutup.
Berdiri di sana, diam tanpa suara, sesosok bayangan berjubah hitam yang tidak seperti prajurit kekaisaran mana pun yang pernah dikenal Yue Chen. Tidak ada obor di tangannya, tidak ada derap kuda di belakangnya. Hanya kesunyian yang lebih mengerikan daripada seluruh derap pasukan yang mengejar dari belakang.
"Nenek," bisik Yue Chen, suaranya kini gemetar bukan karena dingin, "Siapa itu?"
Yue Lingxian tidak menjawab. Genggamannya pada tongkat kayu mengeras, dan untuk pertama kalinya malam itu, Yue Chen mendengar sesuatu yang belum pernah ia dengar dari suara neneknya.
Ketakutan.
Pagi datang dengan cara khas pegunungan, bukan bertahap, melainkan tiba-tiba, seolah langit memutuskan bahwa kegelapan sudah cukup lama bertahan dan kini waktunya berhenti. Cahaya putih kebiruan menyusup dari lubang angin kecil, menyapu lantai batu bilik dalam satu garis panjang yang bergerak perlahan seiring matahari naik di balik tebing.Yue Chen berbaring mengamati garis cahaya itu bergeser sejengkal demi sejengkal. Sejak sebelum subuh matanya sudah terbuka, menatap langit-langit bilik yang dingin, sampai bunyi pintu bergerak membuatnya menoleh.Bukan langkah berat penjaga. Bukan pula derap tergesa seorang tabib.Seorang perempuan berdiri di ambang pintu.Usianya sulit ditebak. Wajahnya bisa terlihat tiga puluhan atau lima puluhan, tergantung dari sudut mana seseorang memandang, tergantung cahaya yang jatuh di sana, tergantung apakah ia sedang berbicara atau diam. Rambutnya hitam pekat dengan satu utas putih tipis di sisi kanan, dikepang rapi ke belakang dan disematkan hiasan giok
Sekte Bulan Sabit bukan tempat yang biasa.Hal ini menjadi jelas bagi Yue Chen bahkan dalam kondisinya yang kelelahan dan setengah panik, kejelasan yang datang bukan dari keinginan untuk mengamati, melainkan karena tidak mungkin tidak melihatnya.Bangunan-bangunan sekte tertanam dalam batu gunung dengan cara yang membuat garis antara buatan manusia dan alam menjadi kabur, dinding-dinding yang diukir langsung dari granit hidup, atap-atap yang miring mengikuti kontur tebing di atasnya, jalan-jalan setapak yang meliuk mengikuti aliran air bawah tanah yang bisa didengar merembes di balik batu jika seseorang cukup diam untuk mendengarnya. Di mana pun ada permukaan datar, di situ ada ukiran, bulan dalam berbagai fase, bambu dalam berbagai kelenturan, ranting-ranting bunga plum dalam berbagai derajat mekar.Semua diukir oleh tangan-tangan perempuan selama ratusan tahun. Semua bicara tentang sesuatu yang tetap indah bahkan dalam gelap.Namun, keindahan itu tidak terasa hangat malam ini.Murid
Fajar belum tiba ketika Jenderal Liu Tianming selesai menginspeksi posisi-posisi kemah pasukannya.Dia berjalan dalam kegelapan dengan ritme yang sudah menjadi bagian dari anatominya, bukan tergesa, bukan santai, melainkan dengan langkah prajurit yang sudah tidak tahu lagi berapa kali kakinya menapak tanah berdebu sebelum matahari terbit. Setiap beberapa langkah, matanya naik ke tebing-tebing di kiri dan kanan, memeriksa tanpa perlu bertanya, sebab kebiasaan bertahun-tahun di medan perang telah mengubah pemeriksaan itu menjadi sesuatu yang lebih mirip napas daripada perintah. Tiga titik pengawasan. Satu kompi penahan di mulut celah. Dua kompi bersiaga di belakang garis kemah, bergantian beristirahat. Sisanya menyebar mengitari lembah seperti jaring, tidak rapat untuk memotong, tetapi cukup rapat untuk melihat bayangan besar yang mencoba melintas.Sempurna.Di tenda komandonya yang sederhana, sebuah tenda yang tidak pernah ia buat lebih besar daripada tenda bawahannya, kebiasaan yang m
Di luar gerbang, Jenderal Liu Tianming turun dari kudanya dengan gerakan yang efisien dan tanpa suara yang tidak perlu. Seorang ajudan segera datang memegangi tali kekang.Liu Tianming berdiri menatap gerbang batu yang tertutup di hadapannya, memandangnya bukan dengan rasa frustrasi atau kemarahan, melainkan dengan cara seorang pemain catur ulung memandang bidak yang berhasil masuk ke garis belakang papan. Dingin. Penuh perhitungan. Sudah memikirkan beberapa langkah ke depan, jauh melampaui apa yang tampak di permukaan malam ini.Di sampingnya, perwiranya menunggu, tidak berani membuka mulut sebelum jenderalnya selesai berpikir."Dirikan perkemahan," kata Liu Tianming. "Formasi standar pengepungan. Tiga titik pengamatan di atas tebing. Rotasi jaga setiap tiga jam.""Apakah kita akan menyerbu?""Tidak malam ini." Ia menoleh sekilas ke arah tepian tebing yang tinggi di atas celah, mengukur ketinggiannya dengan mata yang terbiasa menghitung risiko. "Celah ini sempit. Gerbangnya batu gunu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.