Bayang Pedang Cahaya Bulan

Bayang Pedang Cahaya Bulan

last update最終更新日 : 2026-07-09
作家:  Stoner 27たった今更新されました
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
評価が足りません
12チャプター
21ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Action

Cantik

Identitas Tersembunyi

Perbedaan Usia

Cinta Pertama

Menguasai Dunia

Yue Chen hanya gadis tujuh belas tahun yang menghitung sampai dua puluh setiap kali takut, sampai hidungnya mulai berdarah tanpa sebab, dan neneknya yang biasa setenang batu mendadak tak bisa menyembunyikan kepanikannya. Sesuatu sedang tumbuh di dalam dirinya, sesuatu yang bahkan pemuda berjubah putih yang diam-diam mulai ia sukai tidak akan pernah menyangka.

もっと見る

第1話

BAB 1: MALAM TANPA BULAN

Malam itu, bulan tidak mau muncul.

Bukan karena awan, bukan pula musim yang keliru. Langit justru jernih, seperti giok hitam yang baru digosok, ditaburi ribuan bintang bagai abu perak yang tumpah dari tangan dewa yang lalai. Namun di tempat bulan seharusnya bertakhta, hanya ada kegelapan bulat yang sempurna, seperti mata buta yang menatap ke bawah tanpa berkedip, tanpa belas kasihan.

Lembah Angin Hitam memang tidak pernah ramah, bahkan pada siang hari. Namun malam ini, ia seolah hidup, lapar, menunggu.

Dinding tebing di kiri dan kanan menjulang bagai rahang makhluk purba yang setengah terbuka. Di celah sempit itu, angin berputar tanpa henti, mendesah dengan suara yang tak jelas asalnya, entah erangan, entah tawa. Debu berterbangan dalam pusaran-pusaran kecil, muncul dan lenyap seakan bayangan makhluk tak kasatmata yang berlari tanpa tujuan.

Rumput kering merebah mati di tanah berbatu. Pohon berduri tumbuh miring dari celah batu, akarnya mencuat seperti tulang dari tanah merah. Tidak ada jangkrik, tidak ada burung. Bahkan angin pun seolah menahan napas, seakan lembah itu sudah tahu sesuatu yang buruk sedang mendekat.

Di tengah lembah, sekelompok orang berlari.

Mereka berlari seperti orang-orang yang tahu benar bahwa berhenti berarti mati.

Rombongan itu tidak lebih dari dua puluh jiwa. Beberapa lansia dengan rambut putih tergerai dan jubah sutra compang-camping, robek dan ternoda tanah serta sesuatu yang warnanya lebih gelap. Beberapa anak kecil, sebagian digendong orang dewasa yang napasnya nyaris habis. Sejumlah pengawal berbaju zirah ringan yang tidak lagi utuh, pedang tersampir di pinggang, obor menyala di tangan sebagian dari mereka. Namun obor itu dipadamkan satu demi satu. Cahaya adalah musuh pada malam seperti ini.

Di barisan paling depan, memimpin dengan langkah yang tidak pernah goyah meski kakinya pasti sudah letih, berjalan seorang wanita tua.

Ia tidak berlari, ia melangkah cepat. Ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Yang berlari adalah orang yang dikejar ketakutan. Yang melangkah cepat adalah orang yang mengejar tujuan. Meski kakinya harus bergerak setengah berlari agar sejajar dengan yang di belakangnya, punggungnya tetap tegak, kepalanya tetap terangkat. Tangan kanannya menggenggam tongkat kayu ringan, lebih berfungsi sebagai alat bantu ritual daripada penyangga tubuh.

Wajahnya, andai ada yang cukup berani dan cukup dekat untuk menatapnya dalam kegelapan seperti ini, tetap indah bahkan di usia tujuh puluhan. Bukan keindahan yang melawan usia, melainkan keindahan yang telah berdamai dengannya. Kerutan di sudut matanya bukan bekas kelelahan, melainkan jejak senyum yang berulang sepanjang puluhan tahun. Rambut putih peraknya dikepang rapi di balik kerudung tipis. Di bibirnya tidak ada kepanikan, tidak ada tangis, hanya garis tenang dan keras, seperti tepi pedang yang baru diasah.

Perempuan itu adalah Yue Lingxian, istri Pangeran Ketiga Kerajaan Zhenlong. Atau, lebih tepatnya, mantan istri seorang pangeran yang kini sudah tiada.

Di sisinya, satu langkah di belakang dan satu langkah ke kiri, berlari seorang gadis muda.

Yue Chen berusia tujuh belas tahun. Rambut hitam pekatnya terurai berantakan, kepangan yang semula rapi terlepas sejak pelarian dimulai. Pipinya memerah, bukan karena malu, melainkan karena tusukan dingin angin lembah. Sepasang matanya, cokelat keemasan dan dalam, serupa benar dengan mata sang nenek empat puluh tahun silam, terus bergerak, terus waspada, mengamati setiap bayangan dan menangkap setiap suara.

Tangan kanannya menggenggam gagang pedang latihan pemberian neneknya tiga tahun lalu. Cara jarinya melingkupi gagang itu, kokoh namun tidak kaku, menunjukkan bahwa gadis ini bukan orang asing bagi senjata.

Namun yang benar-benar menyingkap ketakutannya bukan cara ia berlari, bukan pula cara tangannya menggenggam pedang, melainkan sesekali liriknya ke belakang, ke arah ujung lembah yang gelap, ke arah asal mereka datang.

Dari sana, terdengar suara.

Belum terlihat, belum dekat. Namun suaranya sudah ada, menggema di dinding tebing, memantul dan berlipat ganda hingga terdengar bukan seperti satu pasukan, melainkan sepuluh pasukan yang datang dari segala arah sekaligus.

Derap ribuan sepatu kuda, bergerak dalam formasi rapat.

Jauh di belakang suara kuda itu, setitik cahaya muncul, lalu dua, lalu sepuluh, lalu seratus.

Obor-obor yang dinyalakan tanpa rasa takut ketahuan, sebab merekalah pemburu, dan pemburu tidak perlu bersembunyi.

"Nenek." Bisikan Yue Chen setengah tertahan oleh napas yang tersengal. "Cahayanya sudah terlihat."

"Aku tahu." Nada suara neneknya sama sekali tidak berubah, datar dan tenang bagai permukaan danau di pagi tanpa angin. "Tetap berlari. Jangan menoleh."

"Tapi jaraknya..."

"Aku tahu jarak mereka." Yue Lingxian tidak menoleh sedikit pun. "Dan aku tahu jarak kita ke Celah Bulan Sabit. Yang perlu kaupikirkan sekarang bukan apa yang mengejar kita, melainkan ke mana kita akan pergi."

Yue Chen menelan kembali kata-katanya dan kembali memacu langkah. Tangannya menyentuh sesuatu di balik jubah sang nenek, sebuah gulungan kain sutra yang dilipat hati-hati, diikat tali merah tua yang telah kusam. Tidak besar, tidak berat, namun hangat dengan cara aneh, seolah baru dilepaskan dari sumber panas yang bukan tubuh manusia. Semalam Yue Chen sempat menciumnya, dan tercium bau darah kering yang sangat tipis dan sangat lama, terselip di antara serat sutra, seperti kenangan yang menolak untuk hilang.

Itulah sebabnya seluruh pasukan kekaisaran malam ini berkumpul di lembah terpencil ini, di tengah malam tanpa bulan.

Demi selembar kain tipis yang tersimpan di balik jubah seorang wanita tua yang berlari demi menyelamatkan dua puluh nyawa lain, padahal tak seorang pun di antara mereka benar-benar memahami apa yang sesungguhnya sedang mereka pertahankan.

Derap kuda semakin dekat. Cahaya obor kini bukan lagi seratus titik samar, melainkan satu garis api yang membentang, menutup mulut lembah seperti tirai yang perlahan diturunkan.

Yue Lingxian berhenti melangkah.

Bukan karena lelah. Bukan karena menyerah. Matanya, untuk pertama kalinya sejak pelarian dimulai, menatap lurus ke depan, ke arah jalan sempit yang selama ini menjadi tujuan mereka, Celah Bulan Sabit.

Jalan itu telah tertutup.

Berdiri di sana, diam tanpa suara, sesosok bayangan berjubah hitam yang tidak seperti prajurit kekaisaran mana pun yang pernah dikenal Yue Chen. Tidak ada obor di tangannya, tidak ada derap kuda di belakangnya. Hanya kesunyian yang lebih mengerikan daripada seluruh derap pasukan yang mengejar dari belakang.

"Nenek," bisik Yue Chen, suaranya kini gemetar bukan karena dingin, "Siapa itu?"

Yue Lingxian tidak menjawab. Genggamannya pada tongkat kayu mengeras, dan untuk pertama kalinya malam itu, Yue Chen mendengar sesuatu yang belum pernah ia dengar dari suara neneknya.

Ketakutan.

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

コメントはありません
12 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status