Malam itu, bulan tidak mau muncul.Bukan karena awan, bukan pula musim yang keliru. Langit justru jernih, seperti giok hitam yang baru digosok, ditaburi ribuan bintang bagai abu perak yang tumpah dari tangan dewa yang lalai. Namun di tempat bulan seharusnya bertakhta, hanya ada kegelapan bulat yang sempurna, seperti mata buta yang menatap ke bawah tanpa berkedip, tanpa belas kasihan.Lembah Angin Hitam memang tidak pernah ramah, bahkan pada siang hari. Namun malam ini, ia seolah hidup, lapar, menunggu.Dinding tebing di kiri dan kanan menjulang bagai rahang makhluk purba yang setengah terbuka. Di celah sempit itu, angin berputar tanpa henti, mendesah dengan suara yang tak jelas asalnya, entah erangan, entah tawa. Debu berterbangan dalam pusaran-pusaran kecil, muncul dan lenyap seakan bayangan makhluk tak kasatmata yang berlari tanpa tujuan.Rumput kering merebah mati di tanah berbatu. Pohon berduri tumbuh miring dari celah batu, akarnya mencuat seperti tulang dari tanah merah. Tidak a
Huling Na-update : 2026-07-03 Magbasa pa