LOGINYuwen Shuang, 21 tahun, adalah putri buangan Kekaisaran Yuwen, yang sejak bayi telah disingkirkan jauh dari istana. Saat ia dipanggil kembali, harapan yang ia rasakan segera sirna. Kepulangannya hanyalah alat Kaisar untuk memanipulasi kekuasaan. Ia dipaksa menikah dengan Zhao Fenglin, jenderal muda berwajah buruk rupa. Bukan karena cinta, tapi untuk menahan ambisi Fenglin dan memastikan ketaatannya pada Kekaisaran. Di balik pernikahan paksa itu, intrik istana terus mengintai saudaranya yang iri, selir yang licik, dan rahasia masa lalu yang menakutkan. Sementara itu, Fenglin sendiri membawa identitas tersembunyi dan dendam yang membara, membuat Yuwen Shuang harus berhati-hati setiap langkahnya. Bisakah Yuwen Shuang bertahan di tengah permainan kekuasaan, rahasia yang mematikan, dan pernikahan yang tidak ia pilih? Ataukah ia akan menjadi pion Kaisar dalam pertarungan yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri?
View MorePaviliun barat Kediaman Zhao kembali terasa hidup setelah sekian lama sunyi.Sinar matahari musim semi jatuh lembut di halaman kecil di depan paviliun. Beberapa ranting pohon persik yang baru mulai berbunga bergoyang pelan tertiup angin.Di dalam ruangan, Yunxi dan Mei’er tampak sibuk merapikan beberapa barang yang baru saja mereka bawa masuk.“Letakkan di sana saja,” ujar Yunxi pelan sambil menunjuk meja kayu dekat jendela.Mei’er mengangguk.Beberapa saat kemudian ia menoleh ke arah tempat tidur di sisi ruangan.Yuwen Shuang sedang duduk di sana.Gadis itu tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya tertuju ke luar jendela, seolah sedang memikirkan sesuatu.Yunxi memperhatikan majikannya itu diam-diam.Sejak kembali ke Kediaman Zhao beberapa hari yang lalu, Putri kedua memang sering terlihat seperti itu.Tenang. Namun tidak lagi sedingin dulu. Yunxi masih ingat dengan jelas bagaimana Putri kedua hampir tidak pernah memperhatikan mereka sebelumnya. Bahkan percakapan pun jarang terjadi.Namu
Mo Jian tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk singkat.“Di mana Jenderal?” tanyanya datar.“Di ruang belajar, Tuan. Di bagian timur kediaman.”Mo Jian sudah menduga jawaban itu. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera berjalan meninggalkan halaman paviliun barat.Koridor Kediaman Zhao masih terasa sunyi di pagi hari itu. Hanya beberapa pelayan yang terlihat berjalan terburu-buru membawa nampan atau gulungan kain. Mereka segera menundukkan kepala begitu melihat Mo Jian lewat.Langkah pria itu tetap tenang.Bangunan di bagian timur kediaman Zhao tidak seramai paviliun lainnya. Tempat itu lebih sering digunakan oleh Zhao Fenglin untuk bekerja atau menerima laporan dari orang-orang kepercayaannya.Tak lama kemudian Mo Jian sudah berdiri di depan pintu ruang belajar itu. Ia mengangkat tangan dan mengetuk dua kali.TOK.TOK.“Masuk.”Suara Zhao Fenglin terdengar dari dalam ruangan. Mo Jian mendorong pintu itu pelan.Ruang belajar itu luas namun tertata rapi. Beberapa rak kayu dipe
Kediaman Zhao terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa minggu sebelumnya. Kabut tipis musim semi masih menggantung di atas halaman luas ketika pintu gerbang utama perlahan terbuka.Suara derap kaki kuda berhenti tepat di depan gerbang batu.Beberapa penjaga yang berjaga segera meluruskan tubuh mereka begitu melihat sosok yang turun dari atas kudanya.Pria itu mengenakan pakaian perjalanan berwarna gelap. Debu tipis masih menempel di ujung jubahnya, seolah ia baru saja menempuh perjalanan cukup jauh sebelum tiba di sana.Pria itu merupakan Mo Jian.Salah satu penjaga Zhao segera membungkukkan tubuhnya dengan hormat.“Tuan Mo.”Mo Jian hanya mengangguk singkat sebagai balasan. Tatapannya yang tajam segera beralih ke belakangnya.Di sana berdiri dua gadis muda yang terlihat sedikit ragu melangkah lebih dekat ke gerbang Kediaman Zhao.Mereka mengenakan pakaian sederhana yang bersih, namun wajah keduanya masih tampak pucat.Bekas luka yang pernah mereka alami memang telah sembuh, tet
Bibi Sun tidak langsung menjawab pertanyaan itu.Pelayan tua itu menundukkan kepalanya sejenak, seolah sedang mengingat kembali semua percakapan yang ia dengar dari para kasim dan pelayan di luar.“Sejauh yang hamba dengar … belum ada kabar seperti itu, Niangniang.”Li Mei menatapnya tanpa berkedip. “Belum ada?”Bibi Sun menggeleng pelan.“Hamba hanya mendengar bahwa Putri kedua telah kembali ke Kediaman Zhao dengan selamat.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Dan bahwa Kasim Lu Dehai datang ke sana untuk menyampaikan titah dari Yang Mulia.”Li Mei sedikit menegang. “T-titah?”“Ya.”Bibi Sun mengangguk perlahan.“Namun hamba tidak mendengar isi titahnya dengan jelas. Para kasim di luar hanya mengatakan bahwa Kaisar telah mengundang Jenderal Zhao dan Putri kedua untuk datang ke perjamuan Istana.”Ruangan kembali sunyi.Angin malam perlahan masuk melalui jendela yang setengah terbuka, membuat tirai tipis di sudut ruangan bergerak pelan.Li Mei menurunkan pandangannya.Tangannya m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews