LOGINYuwen Shuang, 21 tahun, adalah putri buangan Kekaisaran Yuwen, yang sejak bayi telah disingkirkan jauh dari istana. Saat ia dipanggil kembali, harapan yang ia rasakan segera sirna. Kepulangannya hanyalah alat Kaisar untuk memanipulasi kekuasaan. Ia dipaksa menikah dengan Zhao Fenglin, jenderal muda berwajah buruk rupa. Bukan karena cinta, tapi untuk menahan ambisi Fenglin dan memastikan ketaatannya pada Kekaisaran. Di balik pernikahan paksa itu, intrik istana terus mengintai saudaranya yang iri, selir yang licik, dan rahasia masa lalu yang menakutkan. Sementara itu, Fenglin sendiri membawa identitas tersembunyi dan dendam yang membara, membuat Yuwen Shuang harus berhati-hati setiap langkahnya. Bisakah Yuwen Shuang bertahan di tengah permainan kekuasaan, rahasia yang mematikan, dan pernikahan yang tidak ia pilih? Ataukah ia akan menjadi pion Kaisar dalam pertarungan yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri?
View MoreHari pernikahan yang kata orang merupakan hari bahagia. Tapi bagi Yuwen Shuang, 21 tahun, hari ini merupakan hari terburuk dalam hidupnya. Ia sudah menderita sejak bayi, diasingkan dari Istana, tak diakui sebagai putri oleh Kaisar Yuwen. Dan sekarang ia kembali hanya dijadikan sebuah alat politik.
Gadis itu menghela napas pelan. Hatinya sesak, ia sangat hancur. Tapi air matanya sudah habis, ia sudah sangat banyak menangis selama satu bulan ini. “Ini takdir hidupku,” gumam Yuwen Shuang pelan. Yuwen Shuang bangkit perlahan. Kain pengantin merah menjuntai berat dari bahunya, menutup pandangan dan menahan langkahnya. Ia mengikuti pelayan keluar, melewati lorong-lorong istana yang dipenuhi wajah-wajah asing. Tidak ada sorak, tidak ada ucapan selamat. Aula pernikahan telah dipenuhi pejabat kekaisaran. Wajah-wajah yang datang untuk menyaksikan keputusan, bukan perayaan. Yuwen Shuang menyapu pandangan ke seluruh Aula. Deretan pejabat berdiri rapi di kedua sisi. Jubah-jubah resmi berwarna gelap kontras dengan lantai marmer pucat. Tidak ada senyum, tidak ada bisik kagum. Semua mata memandangnya dengan ketenangan dingin. Seperti sedang menyaksikan jalannya sebuah titah, bukan pernikahan. Seorang pejabat istana melangkah maju dan menunduk hormat. “Putri Yuwen Shuang, silakan maju.” Yuwen Shuang menarik napas perlahan. Setiap langkah terasa lebih berat dari yang ia bayangkan. Jubah pengantin merah menyapu lantai, mengeluarkan suara lirih yang terdengar jelas di tengah keheningan Aula. Di ujung ruangan, sosok pria itu berdiri. Zhao Fenglin, 23 tahun, jenderal muda yang merupakan calon suaminya. Tubuhnya tegap. Jubah pengantin hitam dengan sulaman benang emas melekat rapi di tubuhnya. Wajahnya tertutup oleh kain hitam, seperti rumor yang ia dengar. Yuwen Shuang berhenti beberapa langkah dari Zhao Fenglin. Gadis itu tertegun saat melihat sosok yang tak asing itu, Yuwen Shuang pernah bertemu dengan pria itu. Saat pertama kali memasuki Ibu kota, ia sempat beristirahat sejenak di kedai teh. “Putri,” bisik Mei'er, membuyarkan lamunannya. Yuwen Shuang akhirnya menunduk sesuai tata krama. “Putri Yuwen Shuang memberi hormat.” Zhao Fenglin membalas dengan anggukan terukur. “Jenderal Zhao Fenglin menyambut.” Suara itu tenang, formal. Pria itu menatap Yuwen Shuang dengan tatapan datar, wajah yang tertutup oleh kerudung dengan warna senada seperti jubahnya. Ia tersenyum sinis di balik kain hitamnya, putri buangan Kaisar kini berdiri di hadapannya sebagai calon istrinya. Ini merupakan penghinaan, bukan penghargaan. Kemenangannya setelah berhasil membunuh Raja Ling, dinikahkan dengan putri buangan sebagai hadiah atas prestasinya. Miris. Pejabat kekaisaran kembali bersuara, lantang dan jelas. “Atas titah Kaisar, hari ini disatukan Putri Yuwen Shuang dan Jenderal Zhao Fenglin dalam ikatan pernikahan kekaisaran.” Yuwen Shuang mengangkat wajahnya sedikit. Di singgasana tinggi di sisi Aula, Kaisar Yuwen Longzhi, 48 tahun, duduk tegak. Jubah naganya berwarna emas gelap. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun. Di sisi kirinya duduk Permaisuri Xie Zhaoyun, 45 tahun, anggun dan tenang. Di bawah mereka, para anggota keluarga kekaisaran menempati posisi masing-masing. Selir Wei Ruyin hadir dengan sikap formal. Yuwen Liao berdiri tak jauh darinya, wajahnya tenang, seolah pernikahan ini tidak lebih dari sebuah upacara rutin. Sedangkan Selir Li Mei, duduk dengan tatapan yang tak lepas darinya sejak tadi. “Upacara pernikahan dimulai,” seru pejabat istana. Dua pelayan membawa baki upacara ke tengah Aula. Di atasnya terdapat gulungan sutra merah bertuliskan titah kekaisaran. “Pengantin memberi hormat kepada Langit dan Bumi.” Yuwen Shuang dan Zhao Fenglin berlutut bersamaan. Gerakan mereka selaras, meski tidak saling menoleh. Kepala keduanya menunduk dalam keheningan. “Pengantin memberi hormat kepada Kaisar dan Permaisuri.” Mereka kembali membungkuk. Yuwen Shuang merasakan tatapan Kaisar jatuh di punggungnya. Tidak berat, tapi cukup untuk mengingatkannya akan posisi dirinya di tempat ini. “Pengantin memberi hormat satu sama lain.” Yuwen Shuang berdiri lebih dulu. Ia menoleh ke arah Zhao Fenglin. Untuk pertama kalinya sejak memasuki Aula, jarak di antara mereka terasa begitu dekat. Zhao Fenglin menghadapnya, lalu menunduk dengan gerakan terukur. “Semoga ikatan ini membawa kehormatan bagi kekaisaran,” ucap Zhao Fenglin, suaranya rendah dan jelas. Yuwen Shuang menahan jemarinya agar tidak gemetar. “Semoga titah ini dijalani dengan tanggung jawab,” jawabnya pelan, namun terdengar. Beberapa pejabat saling melirik, lalu kembali menunduk. Tidak ada yang berani bereaksi lebih. Keheningan kembali menyelimuti Aula. Pejabat istana menunduk hormat ke arah singgasana. “Upacara pernikahan selesai.” Tidak ada sorak. Tidak ada doa panjang. Tidak ada iringan musik perayaan. Hanya suara langkah kaki para pejabat yang mulai bergerak mundur dengan tertib. Kaisar Yuwen Longzhi bangkit lebih dulu. Jubah emasnya berdesir pelan. Tanpa menoleh ke arah pasangan pengantin, ia melangkah pergi diikuti Permaisuri dan rombongan keluarga kekaisaran. Satu per satu, Aula mulai kosong. Sedangkan Selir Li Mei, tidak langsung bergerak pergi. Ia menatap putrinya sekali lagi, ada keraguan untuk meninggalkannya. Tapi pelayan pribadinya, Yu Er, memintanya untuk bergegas. “Selir Li, ayo kita pergi dari sini.” Selir Li Mei menoleh pada wanita di sisinya. Ia mengangguk, dan mulai melangkah keluar dari Aula. Yuwen Shuang tetap berdiri di tempatnya. Ia menatap Zhao Fenglin yang hanya diam sejak tadi. Ia menanti pria itu mengucapkan sesuatu entah apa itu. Namun, cukup lama ia menunggu tak ada kata yang keluar dari bibirnya. ‘Aku yakin, Jenderal Zhao terpaksa menerima titah pernikahan ini.’ Yuwen Shuang menunduk, dengan wajah sendu di balik kerudung merahnya. Zhao Fenglin bergerak. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik. Jubah hitamnya berayun pelan saat melangkah menuju pintu Aula. Tidak ada yang menahannya. Tidak ada yang berani memanggil. Langkah itu menjauh, melewati ambang pintu, lalu menghilang begitu saja. Yuwen Shuang mengangkat wajahnya saat mendengar derap langkah kaki menjauh. Ia tersenyum getir. “Jadi ini yang disebut pernikahan?” Tidak ada kebahagiaan, seperti yang sering ia dengar dulu. Aula pernikahan yang tadi penuh kini terasa kosong. Lentera merah masih tergantung rapi, namun tak satu pun membawa kehangatan.Suasana di dalam kamar seketika menegang. Yuwen Shuang tanpa sadar menggenggam tangan Selir Li Mei lebih erat, sementara Bibi Sun berdiri terpaku di depan pintu dengan wajah penuh kewaspadaan.Selama bertahun-tahun, Permaisuri Xie Zhaoyun hampir tidak pernah mengirim orang ke Istana Dingin, apalagi di tengah malam seperti ini. Bahkan ketika Yuwen Shuang pertama kali datang ke Istana, wanita itu tidak pernah menunjukkan perhatian khusus kepadanya ataupun kepada selir Li Mei.Karena itulah, kedatangan utusan Permaisuri saat ini terasa sangat aneh.Selir Li Mei menoleh ke arah Bibi Sun dan menganggukkan kepalanya pelan. "Buka pintunya."Bibi Sun tampak ragu-ragu. Tatapannya sempat beralih kepada Yuwen Shuang sebelum akhirnya berjalan menuju pintu kayu itu. Begitu pintu dibuka, seorang kasim muda segera membungkukkan tubuhnya dengan hormat."Hamba memberi salam kepada Selir Li dan Putri Kedua."Yuwen Shuang memperhatikan pria itu dengan saksama. Wajahnya tampak asing. Ia yakin belum perna
Yuwen Shuang menatap Kaisar dengan wajah pucat. Lidahnya mendadak kelu untuk mengeluarkan sepatah katapun. Kini kepalanya dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Dari apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya, tentang Heishan yang disebut oleh Kaisar, dan Zhao Fenglin yang ternyata masih hidup. Suaminya akan kembali ke ibu kota. Namun, mengapa ayahnya sendiri justru berbicara seolah-olah Zhao Fenglin adalah musuh yang harus diawasi?"Baginda ...," suara Yuwen Shuang bergetar, "apa yang sebenarnya terjadi di Heishan?" Kaisar Yuwen Longzhi membalikkan tubuhnya dan memandang halaman istana yang gelap. "Ada seseorang yang mencoba membunuh Zhao Fenglin."Mata Yuwen Shuang langsung membelalak. "Membunuh?" bisiknya."Namun, dia selamat." Kaisar berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Dan sejak saat itu, aku tidak lagi mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya."Yuwen Shuang tanpa sadar menggenggam erat lengan bajunya sendiri. Selama ini, Zhao Fenglin adalah jenderal paling setia di
Teriakan Yuwen Shuang memecah keheningan malam. Tanpa memedulikan tatapan para penjaga di sekitarnya, ia segera berlari menaiki tangga batu menuju sang Ibu. Jubah panjangnya terseret di lantai, sementara wajahnya dipenuhi keterkejutan dan kepanikan."Ibu, apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya dengan napas memburu.Selir Li Mei perlahan mengangkat kepalanya. Wajah wanita itu tampak jauh lebih pucat daripada biasanya, matanya sedikit memerah seolah telah menangis dalam waktu yang lama. Saat melihat Yuwen Shuang, raut wajahnya justru berubah panik."Shuang'er, kenapa kau datang ke sini?" bisiknya pelan.Yuwen Shuang berlutut di samping ibunya. Tatapannya segera beralih ke tali yang melilit pergelangan tangan Li Mei."Siapa yang melakukan ini?" Suaranya mulai bergetar. "Kenapa mereka mengikat Ibu?"Li Mei membuka mulut, tetapi sebelum sempat menjawab, suara berat tiba-tiba terdengar dari dalam aula."Karena itu perintahku."Tubuh Yuwen Shuang langsung menegang. Perlahan, ia mengangkat ke
Angin malam berembus pelan, membuat ujung jubah hitam Han Zhiren berkibar di bawah cahaya lentera. Setelah beberapa saat, pria itu akhirnya menggeleng tipis."Hamba tidak berani menebak kehendak Baginda."Yuwen Shuang menatapnya lekat, seolah ingin mencari sesuatu dari wajah tenang pengawal itu. Namun ia tidak menemukan apapun. Pria itu begitu pandai menyembunyikan ekspresinya.Untuk beberapa saat, suasana di halaman paviliun menjadi sunyi. Para pelayan menundukkan kepala, tidak berani ikut campur dalam percakapan mereka.Yuwen Shuang perlahan mengalihkan pandangannya ke arah aula utama istana yang tampak jauh di balik kegelapan malam. Hatinya semakin gelisah. Selama bertahun-tahun, Kaisar Yuwen Longzhi hampir tidak pernah memanggil Selir Li Mei, apalagi di tengah malam seperti ini.Semakin dipikirkannya, semakin aneh semuanya terasa.Tiga hari yang lalu, ia tiba-tiba diperintahkan kembali ke istana. Lalu, suasana istana berubah menjadi jauh lebih tegang. Sekarang, Li Mei dipanggil se
“Fenglin, kau harus sadar sikapmu pada istrimu itu salah!” Han Ruoxi kembali membuka suara saat melihat putranya hanya diam saja. Tatapan wanita itu tajam putranya yang tak mengalihkan sedikitpun pandangan darinya. “Ibu tahu kalau kau tidak bisa menerima pernikahan itu. Tapi cara kamu meninggalk
Zhao Fenglin tidak langsung menjawab.Kereta terus bergerak mendekati gerbang istana.Suara roda kayu yang berderak perlahan bercampur dengan langkah para penjaga yang berjaga di sepanjang jalan menuju gerbang utama.Lampion merah besar yang tergantung di kedua sisi gerbang bergoyang pelan tertiup
Langit ibu kota perlahan berubah gelap ketika matahari akhirnya tenggelam di balik tembok kota.Lampion-lampion mulai dinyalakan satu per satu di sepanjang jalan utama. Cahaya kuning hangat memantul di batu jalan yang telah dipakai selama puluhan tahun oleh kereta para pejabat dan bangsawan.Di dep
Yuwen Shuang dan Zhao Fenglin menoleh hampir bersamaan.Di barisan meja utama yang sedikit lebih tinggi dari tempat para pejabat duduk, seorang wanita anggun telah berdiri dari kursinya.Gaun sutra merah tua yang dikenakannya jatuh panjang hingga lantai. Hiasan emas di rambutnya berkilau di bawah c
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore