Beranda / Historical / Bayang Pedang Cahaya Bulan / BAB 29: TOMBAK YANG MATI

Share

BAB 29: TOMBAK YANG MATI

Penulis: Stoner 27
last update Tanggal publikasi: 2026-07-17 19:10:48

"Aku menyentuh apa yang menghalangi tugasku," jawab Liu Tianming.

Namun, suaranya tidak seyakin tadi. Ada sesuatu di dalamnya, sesuatu yang hampir seperti keraguan, keraguan yang tidak pernah dia izinkan ada sebelumnya, keraguan yang mungkin sudah dia rasakan empat puluh tahun lalu tetapi sudah lama dia kubur begitu dalam hingga dia kira sudah mati.

Dia menyerang dengan teknik terkuatnya. "Naga Menyelam."

Tombak Naga Hitam bergerak dalam satu garis yang tamp

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   Bab 96: Bukan Lagi Meminta Dilindungi

    Latihan malam itu berakhir lebih lama dari biasanya.Yue Chen berdiri di tengah taman kecil dekat Bilik Timur, napasnya masih tersengal meski keringat di dahinya sudah mulai mengering ditiup angin malam. Di depannya, Bai Muchen berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung, mengamati gerakan terakhir yang baru saja diperagakan gadis itu, sebuah rangkaian yang menggabungkan kuda-kuda dasar Tujuh Langit Awan dengan bentuk lanjutan yang baru diberikan dua hari lalu."Sekali lagi," kata Bai Muchen, suaranya tenang seperti biasa, tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar perhatian seorang guru pada muridnya.Yue Chen mengangguk. Ia mengatur napas, menyusun ulang kudanya, lalu bergerak.Kali ini tidak ada keraguan di setiap langkahnya. Tubuhnya berputar mengikuti arah angin yang seolah sengaja melambat untuk memberinya ruang, tangannya membentuk Penjepit Giok di puncak gerak

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   Bab 95: Cemburu dan Lega

    Su Meiyin sudah berdiri di antara bebatuan tinggi di tepi lembah barat sejak sebelum fajar, tempat yang cukup jauh untuk tidak terlihat oleh siapa pun di sekte, tapi cukup dekat untuk menyaksikan setiap gerakan yang terjadi di taman kecil di belakang Bilik Timur. Jubah abu kebiruannya menyatu sempurna dengan bayangan pagi, dan ia sudah lama menguasai seni untuk tidak terlihat, bahkan oleh mereka yang memiliki indra paling tajam sekalipun.Ia melihat semuanya. Gerakan pembuka yang diperagakan Bai Muchen, pola yang begitu familiar baginya meski hanya pernah ia lihat sekilas puluhan tahun lalu, ketika ia sendiri masih cukup muda untuk memohon diajarkan bentuk lanjutan itu dan ditolak dengan lembut oleh gurunya. Ia melihat Yue Chen menirukan gerakan itu, canggung pada awalnya, lalu semakin lancar, semakin mengalir, seolah tubuh gadis itu sudah lama menunggu untuk menemukan jalur qi yang baru saja terbuka.Dadanya sesak menyaksikan itu semua.---

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   Bab 94: Bentuk yang Belum Pernah Diberikan

    Tiga hari berlalu sejak pertarungan di lapangan terbuka, tiga hari yang dihabiskan Yue Chen sebagian besar berbaring di ranjangnya di Bilik Timur, membiarkan luka di lengannya perlahan menutup di bawah perawatan telaten Bai Muchen dan tabib-tabib sekte yang bergantian menjaganya. Bekas luka itu, garis panjang dari siku hingga hampir mencapai leher, tidak sepenuhnya hilang meski disembuhkan dengan qi murni, meninggalkan jejak tipis keperakan di kulitnya, jejak kedua yang kini menempel permanen di tubuhnya setelah garis putih di pipi kirinya dari Su Meiyin.Pada pagi hari keempat, ketika akhirnya ia diizinkan bangkit dan berjalan sendiri tanpa dibantu, Bai Muchen mengajaknya kembali ke taman kecil di belakang Bilik Timur, tempat yang sama di mana beberapa hari sebelumnya ia mengungkapkan mandat Chen Baihua. Kali ini, embun pagi masih menempel di dedaunan, dan cahaya matahari yang baru terbit menembus rimbunan pohon plum, membentuk pola cahaya yang bergerak lembut

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   Bab 93: Yue Chen Melindungi

    Murid Ketiga datang saat matahari belum sepenuhnya terbit, ketika kabut tipis masih menggantung rendah di antara bebatuan barat, membuat setiap bayangan tampak lebih hidup daripada seharusnya.Bai Muchen sudah menunggunya di lapangan terbuka di luar tembok sekte, sendirian seperti yang ia janjikan pada Yue Chen malam sebelumnya, jubah putihnya berkibar pelan tertiup angin pagi yang dingin. Ia tidak membawa senjata, tidak pula membawa niat untuk menyerang lebih dulu. Ia datang untuk bicara, seperti yang selalu ia inginkan sejak pertemuan singkat kemarin.Tapi Murid Ketiga tidak datang untuk bicara.Ia muncul dari kabut tanpa suara, dan hantaman pertamanya sudah melesat sebelum Bai Muchen sempat membuka mulut. Tangan Bodhisattva yang terkorupsi itu menghunjam ke arah dada, bukan gerakan lembut yang dulu diajarkan sang guru, melainkan tusukan qi hitam yang bergerak secepat kilat, menyasar titik meridian utama yang bisa menghentikan detak jantung dalam

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   Bab 92: Tangan Bodhisattva yang Terkorupsi

    Bai Muchen tidak kembali ke Bilik Timur malam itu. Ia duduk sendirian di atas menara pengawas barat, tempat ia terakhir kali menatap wajah muridnya yang telah lama hilang, membiarkan dingin malam menembus jubah putihnya tanpa berusaha menghangatkan diri. Di bawahnya, sekte mulai tenang kembali setelah kepanikan sesaat, obor-obor dipadamkan satu demi satu, tapi ketenangan itu tidak menjalar sampai ke dalam dirinya sendiri.Empat puluh dua tahun. Angka itu terus berputar di kepalanya seperti sebuah lonceng yang tidak pernah berhenti berdenting, mengingatkannya pada sesuatu yang selama ini ia pilih untuk tidak dikenang terlalu dalam, sebab mengenangnya berarti mengakui betapa besar kegagalannya sebagai seorang guru.Ia menutup mata, dan ingatan itu datang, bukan sebagai sesuatu yang ia panggil dengan sengaja, melainkan sesuatu yang telah lama menunggu celah untuk kembali muncul.---*Empat puluh dua tahun yang lalu, di sebuah lembah terpencil y

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   Bab 91: Murid Ketiga

    Ia sudah berdiri di sana sejak sebelum fajar, di antara bebatuan besar yang menjorok ke arah tebing barat, mengamati dinding granit Sekte Bulan Sabit yang perlahan berubah warna seiring cahaya pertama menyentuhnya. Jubahnya, hitam pekat tanpa hiasan apa pun, menyatu sempurna dengan bayangan batu di sekelilingnya, seolah ia bagian dari kegelapan itu sendiri, bukan sekadar bersembunyi di dalamnya.Delapan nyawa dalam enam malam. Ia tahu jumlah itu, ia yang mencatatnya sendiri dalam ingatannya, bukan sebagai kebanggaan, bukan pula sebagai penyesalan, melainkan sebagai bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada nyawa-nyawa kecil yang kebetulan berada di jalannya.Ia tidak datang untuk membunuh prajurit kekaisaran. Prajurit-prajurit itu hanyalah kebisingan yang harus disingkirkan agar suara yang lebih penting bisa terdengar, agar seseorang yang selama ini bersembunyi di balik wajah dua puluh tahun akhirnya mendengar, akhirnya menyadari, bahwa ada yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status