LOGINAku yang terlahir dengan cara aneh, tak menyangka akan bertemu dengannya. Wanita berpakaian jawa yang memintanya memanggil ibu. Selain sosok ibu yang tiba-tiba muncul, panca indraku semakin pekah dengan hal-hal metafisika. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan proses kelahiranku? *Kakang Kawah Adi Ari-ari* Author @ Rara el Hasan
View MoreAls Madison Reese gezwungen wurde, einen Mann zu heiraten, der sie nicht liebte, wusste sie ganz genau, dass er sie nicht gut behandeln würde. Er war nie gut zu ihr gewesen. Genau genommen war Cesare Santorini die Art von Mann, die für überhaupt keine Frau gemacht war.
Sie trug noch immer ihr Brautkleid, als sie sich auf dieser ermüdenden Feier vollkommen alleingelassen fühlte. Mit schmerzenden Füßen in viel zu hohen Schuhen schleppte sie sich in die hell erleuchtete Villa. Drinnen war es menschenleer; all die Gäste amüsierten sich draußen, nur sie nicht. Es gab keinen Grund zur Freude. Ganz gleich, wie sehr sie ihn mochte und dass sie aus Liebe geheiratet hatte, es fühlte sich einfach falsch an. Jemanden an seiner Seite zu haben, der einen nicht wollte, war weder erstrebenswert noch hinnehmbar. Doch als ihr konservativer Vater erfuhr, dass sie sich ihm hingegeben hatte – nachdem Cesare Santorini über die Mauern ihrer Schule geklettert war, um sie aufzusuchen, ganz wie der Teenager, der er längst nicht mehr war –, bestand er auf einer Heirat. Er sollte die Verantwortung für sie übernehmen, dafür, dass sie keine Jungfrau mehr war, denn die Neuigkeit hatte sich in der verschlafenen Kleinstadt bereits wie ein Lauffeuer verbreitet.
Sie stieg die Treppe hinauf und richtete ihre grünen Augen fest auf das obere Ende. *Nur noch ein Schritt*, dachte sie, während ihre Füße höllisch schmerzten. Als sie ihr Ziel endlich erreicht hatte, feierte sie diesen kleinen Sieg mit einem feinen, flüchtigen Lächeln der Zufriedenheit.
Sie ging den Flur entlang und starrte auf den Boden. Sie hätte ihre Schuhe ausziehen können, sobald sie das Haus betreten hatte, aber sie wollte ihren Ehemann nicht noch mehr reizen. Die Wahrheit war, dass er es hasste, wenn sie sich wie genau das Mädchen verhielt, in das er sich angeblich verliebt hatte, nur um sie zu verführen. Also ließ sie alles beim Alten und ertrug den Schmerz in ihren Füßen, denn sie hatte ohnehin kaum eine andere Wahl.
Sie war schon ganz in der Nähe des Schlafzimmers, und das kleine, gut gelaunte Lächeln auf ihren Lippen verblasste mit jedem Stöhnen, das an ihre Ohren drang. Ihr Herz schmerzte, als würde es von Dolchen durchbohrt. Sie überlegte umzukehren, diese Tür nicht zu öffnen, aber sie musste einfach wissen, wer da drinnen war. Die Tränen in ihren Augen nahmen bereits vorweg, was ihr bevorstand. Noch bevor sie die Tür ganz aufstieß, wurden die Laute lauter.
„Ich liebe dich. Ich liebe dich so sehr“, sagte eine männliche Stimme zwischen Keuchen und feuchten Küssen.
Madison riss die Augen auf und fluchte innerlich. Sie schlug sich die Hand vor den Mund, als sich das Bild in ihre Netzhaut brannte und ihr Verstand es entschlüsselte, doch es dauerte einen Moment, bis sie es wirklich begriff. Wie angewurzelt stand sie da und beobachtete diese ganze absurde Szene. Ihr Körper kannte diese Art der Liebelei und genau die Worte, die er nun einer anderen Frau ins Ohr flüsterte. Sie trat näher an das Bett heran, doch die beiden waren so sehr ineinander vertieft, dass sie ihre Schritte auf dem weichen Teppich nicht einmal bemerkten. Sie weinte noch immer hemmungslos, während sie das Treiben aus nächster Nähe mit ansehen musste.
„Wenn du mich liebst, warum hast du dann eine andere Frau geheiratet?“
Auch diese Stimme kam ihr vertraut vor. Madison Reese stand eine ganze Weile regungslos da und wartete auf Antworten, während sie verzweifelt nach einem plausiblen Grund dafür suchte, warum ihr Ehemann mit ihrer eigenen Schwägerin im Bett lag. Die Wahrheit war, dass es für diese Abscheulichkeit schlichtweg keine Erklärung gab. Es war noch so wenig Zeit seit dem Tod seines Bruders vergangen, dass dieser im Sarg kaum kalt geworden sein konnte.
„Du weißt, dass ich dazu gezwungen wurde.“ Die Küsse waren noch immer leidenschaftlich. „Außerdem warst du mit meinem Bruder verheiratet. Ich hätte mich niemals öffentlich zu dir bekennen können!“
„Du bist wirklich ein verdammtes Arschloch!“ Die Frau erhob sich vom Bett und stieß ihn zur Seite. „Ich hätte gar nicht erst herkommen sollen. Wenn meine Schwester herausfindet, dass ...“ Als ihre Füße den Boden berührten, erstarrte sie.
„Du bist gekommen, weil du ganz genau weißt, dass du nicht ohne mich sein kannst“, spottete er, ohne zu bemerken, dass seine Ehefrau dort stand und sie beobachtete. Dann fiel ihm auf, wie schockiert seine Schwägerin dreinblickte. „Was ist los?“ Er ließ seine Finger über den Arm der Frau gleiten und sah schließlich ebenfalls nach vorn.
Sein Herz setzte beinahe einen Schlag aus, als er Madison dort stehen sah. Sein Gesicht, das eben noch ein Lächeln getragen hatte, wurde schlagartig todernst.
„Willst du gar nichts dazu sagen?“, fragte die Schwägerin, aber Madison war viel zu starr vor Schreck, um auch nur ein einziges Wort herauszubringen.
Tiara duduk di tepi ranjang mengusap perutnya yang kian membesar. Basri di sampingnya membuat racikan berupa spirtus dan jahe. Kaki Tiara mulai bengkak. Usia kehamilannya memasuki bulan ke delapan. Waktu menanti kelahiran sudah di depan mata. Dan, ramuan itulah yang dipercaya bisa mengempiskan bengkak kakinya. Selain bengkak rasanya sakit sekali. Tiara kesulitan berjalan dengan kaki seperti itu. Alas kaki tak ada yang muat. Menarik rambutnya ke belakang dan membuat sanggul kecil, lalu menyisipkan bulu landak untuk mengencangkan. Bulu landak penangkal makhluk halus. Pemberian ayah mertuanya. Seperti itu kepercayaan orang di sini. Tiara tak boleh meninggalkan bulu landak itu jika ingin berpergian kemanapun—kecuali ke kamar mandi. "Angkat kakinya," pinta Basri.Tiara mengangkat kedua kakinya yang bengkak ke atas ranjang. Sebelumnya Basri telah mengalasi kaki Tiara dengan kain yang tak dipakai. Basri mengoleskan ramuan itu di sekujur kaki Tiara. Rasanya dingin lalu hangat. Entah ini ber
Undangan dari sahabat baik Basrilah yang membuat Tiara dengan perut buncitnya karena hamil pergi di malam hari. Tradisi di sini, jika masih hamil muda, tidak diperbolehkan keluar malam tanpa perlindungan. Tiara tak memiliki bulu landak yang menjadi keyakinan orang di desa Basri. Bulu landak itulah yang menjadi penangkal dari gangguan sihir dan makhluk halus. Adzan isya telah bekumandang. Motor Basri berderu menembus kelengangan. Sesaat lalu baru saja turun hujan, saat Tiara berangkat rintik kecil masih tertinggal—tetapi tak begitu mengkhawatirkan. Hujan itu tidak akan menjadi besar lagi, karena bintang-bintang mulai bermunculan di langit.Berbekal jaket tebal yang membungkus tubuhnya, Tiara melindungi calon bayi dalam perutnya agar tetap hangat. Mantra doa dan dzikir yang dia lantunkan sebagai tameng pribadi. Banyak cerita yang beredar, jika wanita hamil tanpa bulu landak sama saja cari mati. Ada yang mengatakan bayi dalam perut akan lahir dengan membawa godaan da
Malam selanjutnya, setelah pembahasan tentang makhluk astral semalam, Basri jadi takut ke kamar mandi sendiri. Basri membangunkan Tiara yang lelah seharian bekerja rumah tangga, setelah mengajar di pagi harinya. "Kamu nggak mau ke kamar mandi?" tanya Basri langsung sesaat setelah Tiara terjaga dari tidur."Kan, tinggal ke kamar mandi?" Tiara tahu Basri takut. Saatnya balas dendam. Kemarin, saat Tiara meminta Basri mengantarkannya ke kamar mandi karena lampu kamar mandi sedang mati, Basri tak mau mengantarkan. Alasannya mengantuk. Tiara berakhir ke kamar mandi seorang diri. Hampir terpeleset karena tak ada penerangan sama sekali. Untung saja Tiara sigap, berpegangan pada pinggiran kamar mandi. Kalau sampai jatuh, kepala Tiara pasti berakhir membentur sumur.Sekarang giliran dia yang balas dendam. Tiara mendengar permintaan Basri itu, tetapi Tiara pura-pura tidak mendengar. Tetap memejamkan mata meski Basri memohon untuk diantar.
Tiara baru saja sampai rumah, ketika ada dua orang yang duduk di ruang tamu, bersama nenek Basri. Itu paman Basri bersama istrinya. Tiara bergabung dalam obrolan. Duduk di sofa. Nenek Basri pergi ke dapur untuk menyiapkan makan. Adat di sini, ketika ada tamu yang berkunjung, mereka akan dijamu bak raja. Diperlakukan dengan sangat baik.Dua teh masih mengepul—pertanda jika mereka baru saja duduk. Sepiring roti rasa durian menjadi peneman mengobrol sembari menyesap minuman. Paman Basri merokok. Tembakau. Ini pertama kalinya Tiara mengetahui jenis rokok seperti itu. Rokok tembakau yang sebelum dinikmati, harus dibuat sendiri. Kata Basri, karena Tiara banyak melihat penjual tembakau itu di jalan-jalan, harga tembakau lebih murah dibandingkan rokok produksi pabrik.Obrolan berlanjut. Terkait bagaimana Tiara. Apakah nyaman di kota barunya. Tiara menjawab dengan senyum. Belum terbiasa jauh dari orang tua. Merasa rindu. Ada rasa canggung. Sedikit rasa tak nyaman. S
"Sah---" panggilku terbatah.Masih dengan kondisi tubuhnya yang mengejang, Sahira bergumam tak jelas. Matanya membelalak. Tangannya mengepal kuat. Sesaat kemudian dia
Pikiranku sedang merambang kemana-mana. Materi yang tengah disampaikan Pak Lurah pun berakhir masuk kuping kanan kel
B a y i B u n g k u s HANTU SUNATAN🔲🔳🔲🔳Musik mengalun nyaring. Oran
S E R U P A Based True StoryB a y i B u n g k u sMalam memekat. Penerangan alam menggantung putus asa, redup dengan bentuk tak lagi bulat sempurna. Manik berkilau yang jumlahnya milyaran lenyap dari pengawasan te
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore