分享

Chapter 4

作者: pinkcamelia
last update publish date: 2022-05-20 09:45:13

Refat terdiam beberapa saat sebelum menjawab. Hingga akhirnya, ia hanya menganggukkan kepala.

Elin membenarkan posisi berdirinya, kembali berhadapan dengan Refat.

"Dan kamu masih belum mengetahui keberadaan Ender, di mana?"

Raut wajah Elin menunjukkan kekecewaan yang samar, namun jelas terlihat.

Refat menyadarinya. Ia tahu betul, dirinya dipercaya, terlebih oleh Tuan Yildiz, untuk selalu selalu berada di sisi Ender.

Namun lagi lagi, dia hanya bisa mengangguk.

Padahal menjaga Ender adalah tugas utamanya sebagai asisten pribadi. Kali ini, ia benar-benar ceroboh.

Elin mendesah pelan. Wajahnya kini lebih didominasi rasa cemas dan khawatir.

"Baiklah. Lanjutkan pencarianmu, Refat. Tante akan kembali ke atas dan memberitahu Yildiz."

Elin segera berbalik melangkah pergi.

Refat menunduk hormat.

Di keluarga AirJaya, permintaan maaf bukanlah solusi atas kesalahan. Mereka tidak percaya pada kata kata kosong. Yang ada hanyalah tanggung jawab. Memperbaiki kesalahan dan tidak mengulanginya lagi.

Jika hal ini terulang, apalagi sampai membahayakan nyawa Ender, maka nasib Refat tidak akan lagi diakui dalam keluarga itu.

Meskipun posisinya sekarang tinggi sebagai asisten pribadi, memecatnya bukan hal yang mustahil.

Bahkan, di keluarga AirJaya, hukuman terburuk bukanlah pemecatan. Melainkan diturunkan menjadi karyawan dengan posisi paling rendah.

"Oh ya! Kamu sudah mencari ke Ender? Orang Yildiz sudah ke sana, tapi Ender tidak ada."

Tanya Elin menghentikan langkahnya, berbalik melihat Refat.

Refat mengangkat pandangannya mengangguk membenarkan.

Ia memang sudah ke sana. Dan Ender tidak ada.

Sebenarnya… ke mana perginya anak itu?

Elin kembali mendesah.

"Entah di mana dia sekarang. Tante khawatir dia terkapar di kamar salah satu gadis di sini." Setelah mengatakan itu, Elin benar-benar pergi.

Ia harus segera menemukan Ender

Refat mengatupkan rahangnya.

Kara.

Wanita itu.

Karena dialah, Refat kehilangan jejak Ender. Seharusnya ia langsung kembali setelah urusannya selesai.

Dengan begitu, ia tidak akan kehilangan Ender… dan tidak memberi celah bagi musuh.

Ck

Refat melirik ke arah lorong, tempat kamar mandi berada.

Menyesal tidak akan membantu apa pun.

Ia harus menemukan Ender.

Refat pun melangkah pergi. Sempat membalas beberapa sapaan klien Ender yang dikenalnya, sebelum kembali fokus pada pencarian.

Di salah satu kamar di lantai satu.

Kamar bernomor 2219.

Kara, Ezra, dan Ender berada di sana.

Ender terbaring di atas ranjang, tertidur pulas tanpa kesadaran.

Sementara Kara dan Ezra berdiri di dekatnya, menatap pria itu dalam diam.

Kesunyian menyelimuti ruangan.

Beberapa menit berlalu, namun tak satu pun dari mereka memecah keheningan.

Di luar, para bawahan Yildiz terus mencari keberadaan Ender. Bahkan kabar itu sampai ke telinga calon besan mereka. Membuat orang tua Zara ikut cemas.

Tanpa memberi tahu putri mereka, keduanya ikut membantu pencarian.

Refat pun kini mulai memeriksa kamar-kamar tamu secara diam diam. Memanfaatkan ballroom yang tengah ramai agar tidak mencurigakan.

Namun,

Kamar ini tidak terpikirkan oleh siapa pun.

Kamar di lantai satu itu diperuntukkan bagi staf kapal, pengawal, dan kru acara. Tempat yang mustahil bagi seseorang seperti Ender untuk datangi.

Dan justru di sanalah ia berada sekarang.

Persis seperti kekhawatiran Elin.

Ender terkapar tak berdaya di ranjang seorang gadis.

Kara.

Sepupu calon tunangannya sendiri.

Ia bahkan tidak sadar tubuhnya kini hanya tertutup selimut putih tebal.

"Kau tidak memberinya obat berlebihan, kan?"

Suara Kara akhirnya memecah keheningan. Ia menoleh ke arah Ezra.

"Aku hanya memberinya setengah dosis. Bahkan kurang dari itu." jawab Ezra santai.

Ezra melirik Ender.

"Tapi…"

"Tapi apa?"

Kara memiringkan kepalanya, menunggu penjelasan.

"Sepertinya dia bukan cuma tertidur karena efek obat."

Kara mengernyit.

"Maksudmu?"

Ezra menoleh melihat Kara lalu berjalan mendekat ke ranjang. Kali ini Ezra memperhatikan Ender yang tertidur.

"Kamu tahu pekerjaan dia?... Tadi sore dia baru mendarat dari Hongkong."

Kara terdiam, mencerna.

Ia tidak begitu mengenal pria ini. Dan juga, ia tidak tertarik untuk mencari tahu.

Yang ia ketahui, pria ini adalah calon suami Zara dan ia harus membatalkan pernikahan Zara.

Kara berbicara setelah lama diam.

"Jadi… dia tertidur bukan hanya karena obat_tapi juga karena kelelahan?"

Ezra mengangguk mantap.

"Tepat."

Kara menarik nafas dan menghela nya.

'Baguslah,' batin Kara. ia melupakan sesuatu.

"Bagus, kan?" Ezra menambahkan.

Kara langsung menatap kesal Ezra saat teringat rencananya.

"Bagus apanya? Ini malah merusak rencanaku."

Kara mengalihkan pandangannya melihat ke jendela kecil di kamar itu.

Awalnya, ia ingin pria ini tertidur selama beberapa jam saja. Cukup untuk ia menyiapkan segalanya.

Lalu saat pria ini bangun, ia akan berteriak, menciptakan skandal.

Dengan kondisi kamar yang tidak kedap suara, orang-orang pasti akan datang.

Apalagi di lantai ini juga ada ruang istirahat awak media.

Semua sudah ia rancang dengan sangat sempurna.

Tapi sekarang,

Pria ini tertidur dan tidak tahu kapan dia bangun. Bisa bisa rencana nya kacau.

Bahkan mungkin dia baru akan bangun besok pagi.

Kara menghela nafas.

Kacau sudah.

Sementara efek obat seharusnya sudah habis sekarang.

Kara mengepalkan tangannya.

Ia tidak akan membiarkan pertunangan Zara berjalan lancar.

Tidak akan.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Belenggu Hati   Chapter 18

    "Hentikan Zara, sampai kapan kamu akan mengamuk begini?" Seru mama Zara begitu masuk ke kamar Zara dan melihat semua furnitur kamar sudah berantakan tidak berbentuk dan serapi tadi lagi, saat pertama mereka tempati. Zara menghentikan dirinya dan diam. Nafasnya terlihat naik turun karna kemarahannya kepada Kara, sepupunya sialan nya. "Lalu apa yang bisa Zara lakukan selain ini? Dan bisakah mama dan papa lakukan sesuatu juga? untuk pernikahan ku dan Ender tidak batal. Tidak bisakan? Iya kan?" Teriak Zara sembari berjalan mendekat dan berdiri di hadapan papa dan mamanya. Terlihat papa Zara yang menarik nafas. Namun terlihat jelas di wajahnya akan tidak peduli dengan apa yang terjadi. Lagian, seperti Mr. Yildiz katakan. Kerja sama mereka tetap terjalin. Dari awal niat dan rencana mereka adalah menjalin kerja sama. Di mana banyak perusahaan pemasok makanan sulit bekerja sama dengan mereka. Dan ia beruntung mendapatkan kesempatan ini. "Hentikan Zara! Apa kamu sudah gila?!... L

  • Belenggu Hati   Chapter 17

    Di kamar yang luasnya hampir tiga kali lipat dari kamar Kara di lantai bawah, suasana terasa kontras. Di satu sisi, ketenangan. Terlihat Kara, yang tertidur lelap di atas ranjang besar yang diselimuti pencahayaan redup. Napasnya perlahan dan teratur, wajahnya terlihat lebih tenang dibandingkan saat terjaga. Di sisi lain, sesuatu yang tak pernah benar-benar diam. Ender berdiri di balkon suatu kamar yang menghadap langsung ke lautan gelap. Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan tirai tipis di belakangnya. Di sampingnya, ada Refat yang berdiri dengan sikap tenang, namun tatapannya serius. Menandakan percakapan mereka bukan hal sepele. "Semua sudah berjalan sesuai rencana mu," ujar Refat pelan menoleh melihat Ender, yang berdiri di sisi kanannya. Ender kini berada di balkon kamar Refat. Kepalanya sedikit mendongak, menatap ke lantai atas, ke arah kamarnya sendiri. Di sana, seseorang tengah terlelap dalam dunianya. Setelah aktivitas panjangnya bersama Kara. Ia keluar kamar, set

  • Belenggu Hati   Chapter 16

    "Aah… aah… aaah…" desahan Kara terlepas, seiring tubuhnya yang naik turun di atas Ender."Ugh… Kara… hhh…" balas Ender dengan napas memburu, menikmati setiap gerakan yang diberikan Kara.Keduanya sudah terhanyut dalam permainan itu sejak beberapa jam lalu. Ronde demi ronde berlalu tanpa benar-benar memberi rasa puas, terutama bagi Ender, yang seakan tak pernah cukup menginginkan Kara.Ender bangkit duduk. Kedua tangannya bergerak masuk ke balik lingerie hitam yang dikenakan Kara, meremas dua benda kenyal dengan penuh hasrat. Sentuhan itu memancing lebih banyak desahan, bahkan pekikan kecil yang lolos dari bibir Kara.Gerakan Kara teratur, berirama, dan penuh kendali, membuat Ender semakin kehilangan akal sehatnya.Bibir Ender tak tinggal diam. Ia mencium, bahkan menjilat tengkuk dan leher Kara, menikmati setiap sensasi yang datang bertubi-tubi menghantam dirinya.Sebenarnya, Ender ingin membalik keadaan. Menurunkan Kara dan menindihnya, mengambil alih kendali, lalu melampiaskan hasrat

  • Belenggu Hati   Chapter 15

    Kara sudah menyelesaikan beberapa hidangan, termasuk salad. Terlihat dari dia sudah menghidangkan nya dengan rapi, di meja makan khusus chef di dapur itu. Ender berdiri di belakang Kara, bersandar di wastafel. Kedua matanya melihat setiap gerakan Kara. Ia mendekat, berdiri di samping Kara. Saat melihat Kara kembali membuat hidangan yang baru. "Kamu sudah membuat banyak," suara Ender pelan dan lembut saat bertanya. Kara sekilas melihat Ender sembari mengaduk masakannya. "Aku lapar dan aku akan menghabiskan semuanya." Jawab Kara dengan senyum bahagia di wajahnya. Melihat wajah Kara yang bahagia, seperti nya bukan untuk nya. Melainkan untuk makanan. Ia segera memeluk Kara dari belakang dan berujar sensual. "Kelelahan tadi membuat mu lapar hm?" Godanya sembari menambah jejak nya di ceruk leher Kara. Kara sama sekali tidak terganggu, dia hanya bergerak sedikit karna geli. "Aku melewatkan sarapan ku, dan ya... Seseorang semakin menambahkannya. Jadi bagaimana aku tidak lapar?"

  • Belenggu Hati   Chapter 14

    Aku ada di lantai bawah, di dapur... Jika kamu mencari ku. Tanpa Ender sadari. Sedikit ujung bibirnya tertarik membentuk senyum tipis. Entah kenapa, ia senang dan bahagia hanya karna secarik kertas ini.. Tanpa mengulur waktu. Ender meremas kertas di tangannya, melempar asal dan berjalan keluar dari kamar. Ia tidak lupa mengunci kembali pintu kamar. Sekarang kamar itu sudah menjadi kamarnya dan Kara. Sampai di lantai bawah, dapur. Terlihat banyak orang di sana, baik pria maupun wanita dan umur wanita di sana sekitar 40 an ke atas. Mereka semua sibuk dengan pekerjaan mereka masing. Ada yang sedang menyiapkan bahan, ada yang sedang menyimpan barang dengan saling oper dan ada yang sedang menurunkan barang dari lift barang. Ender mengitari pandangan nya. Mencari sosok yang meninggalkan secarik kertas untuk nya. Langkahnya berhenti karna terhalangi oleh beberapa pria yang sedang meng oper barang. Saat Ender mau berbalik, mau mengambil jalan lain. Seorang wanita bersuara m

  • Belenggu Hati   Chapter 13

    Tempat yang Ender datangin, berada di bagian bawah kapal. Jauh dari area penumpang. Sempit. Dingin dan minim cahaya. Beberapa pria berjas hitam, anak buah Ender segera menyapa Ender dan membungkuk hormat. Pintu terbuka. Tiga orang pria terlihat duduk terpisah, masing-masing dalam kondisi tertekan. Wajah-wajah mereka menunjukkan ketakutan yang berusaha disembunyikan, tapi gagal. Ender masuk bersama Refat dan satu pria lain, yang sedari tadi menginterogasi mereka. Langkah Ender tenang, tapi kehadirannya langsung mengubah udara di ruangan itu. Seolah suhu turun beberapa derajat hanya karena ia ada di sana. Tidak ada yang berani berbicara. Ender berhenti di tengah ruangan, menyapu keempat orang itu dengan tatapan tajam. Ia tidak terburu-buru. Justru menikmati detik-detik di mana tekanan mulai bekerja tanpa perlu kata-kata. Satu per satu. Ender menatap mereka. Tatapannya berhenti pada wanita, yang di maksud Refat_Waitress. Wanita itu duduk tegak, kedua tangan terikat di

  • Belenggu Hati   Bukan Urusanku

    "Ah, mommy?!" Panggil Ender ke Ayse yang menerobos masuk ke dalam kamar. Ia kembali melihat Refat dan berucap. "Tunggu di sini,"Blam,Dan pintu tertutup.Dan ya, Refat menunggu dengah patuh. Ia tadinya mau membuka mulut dan bertanya serta mendengar langsung dari mulut Ender. Tapi belum juga suaranya k

  • Belenggu Hati   Amukan Zara

    Brakh,Brakh,Brakh,Ender dan Kara serempak melihat ke arah pintu yang tertutupi dinding pembatas ranjang. Ender yang baru melempar tubuhnya ke samping Kara. Dan Kara yang posisinya membelakangi Ender. Keduanya sontak setengah bangun melihat ke pintu. Kara melihat ke Ender begitu juga sebaliknya. Lela

  • Belenggu Hati   Kacau Sudah

    Suara high heels dan juga beberapa sepatu beradu dengan lantai marmer. Saat suara langkah kaki bergema di setiap lantai dan koridor yang mereka lewati. Javier, Ayse dan beberapa pengawal nya. Javier mendapatkan berita dari bawahan nya. Kalau mereka sudah menemukan keberadaan Ender. Dan lebih mengeju

  • Belenggu Hati   Chapter 6

    "Tuan… Tuan Muda Ender…" Napas pengawal itu terengah, jelas dia berlari tanpa henti. "Tuan muda ditemukan." "Di mana dia?" suara Yildiz terdengar lebih rendah, namun jauh lebih berbahaya. "Di lantai dua, Tuan." Yildiz mengernyit. Tanpa menunggu lebih lama, Yildiz langsung melangkah cepa

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status