分享

Chapter 5

作者: pinkcamelia
last update publish date: 2022-05-22 21:39:27

Kamar itu sunyi, hanya diterangi cahaya lampu yang remang.

Tidak bisa dikatakan kecil, tapi juga tidak sepenuhnya besar.

Ruangan itu cukup luas, cukup untuk menampung banyak orang jika berdiri berhimpitan. Sebuah kamar standar, namun tetap terasa lega.

Dari luar, suara deburan ombak menghantam dinding kapal terdengar samar. Bercampur dengan hiruk pikuk pesta perayaan yang telah berlangsung sejak tadi.

Namun semua itu sama sekali tidak mengusik ketenangan sepasang manusia di atas ranjang.

Keduanya terlelap begitu pulas, seolah dunia luar tak pernah ada.

Beberapa jam sebelumnya.

Setelah percakapan ringan dia dan Ezra.

Ezra menyuruh Kara untuk segera beristirahat. Besok akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan.

Gila.

Mungkin kata itu yang pantas untuknya saat ini.

Bagaimana bisa ia merelakan wanita yang ia cintai tidur di satu ranjang yang sama dengan pria lain, dan pria itu bukanlah orang sembarangan.

"Aku keluar sekarang. Kalau kamu butuh bantuan lagi, segera panggil aku, Kara. Kamu tahu kan, aku selalu ada untukmu."

Kata kata yang begitu manis, dan sudah menjadi hal biasa telinga Kara. Jika itu Ezra yang mengatakan nya. Dia penggombal yang sangat mahir.

Kara menarik napas lelah. Dari tadi ia sudah menyuruh Ezra pergi, namun Ezra tetap bertahan, enggan meninggalkannya.

Akhirnya Kara hanya bisa pasrah mengangguk.

Setelah Ezra benar benar pergi dan menghilang dari kamar. Kara berjalan menuju lemari. Ia membukanya dan menemukan sebuah tas hitam di dalamnya. Tanpa ragu, Kara mengeluarkannya, meletakkannya di lantai, lalu membuka resletingnya.

Beberapa pakaian tersusun rapi di dalamnya.

Tangannya meraih salah satu di antara semua pakaian di sana.

Lingerie hitam.

Ia sudah menyiapkannya jauh jauh hari, demi memastikan rencananya berjalan lancar.

Kara melirik ke arah ranjang. Pria itu masih belum sadar.

Lalu kembali menatap pakaian di tangannya. Kara menarik napas dalam.

Benar kata Ezra, ia benar benar sangat nekat.

Tas itu dikembalikannya ke dalam lemari, lalu dikunci. Setelah itu, Kara membawa dirinya bersama pakaian tersebut, masuk ke dalam kamar mandi.

Dan kini,

Ia berada di ranjang.

Tertidur pulas, tanpa menyadari apa pun yang terjadi di luar sana.

Beberapa jam telah berlalu sejak saat itu.

Ender membelakangi Kara. Sementara Kara menghadap ke arahnya, meski hanya menatap punggung Ender.

Keduanya terlelap, tak terganggu oleh apa pun.

Termasuk,

Refat yang masih berkeliling mencari keberadaan Ender. Kepalanya mulai pening karena tak kunjung menemukan temannya itu.

Sementara itu, Yildiz dan Elin menunggu kabar.

Di ballroom, keduanya duduk berdampingan. Mendengarkan laporan dari para bawahan yang sejak tadi ditugaskan mencari Ender.

Namun hasilnya selalu sama, nihil.

Hingga akhirnya,

Salah satu pengawal utama Yildiz datang membawa kabar.

Jejak terakhir Ender berhasil ditemukan melalui rekaman CCTV.

Suasana ballroom tetap meriah.

Orang tua Zara sibuk menyambut para kolega bisnis mereka. Sementara Zara sendiri berbaur dengan para tamu, baik dari pihak keluarganya maupun keluarga calon suaminya.

Namun sesekali, pandangannya menyapu ruangan.

Mencari satu sosok.

Calon suaminya.

Yang sejak acara dimulai, tak kunjung terlihat.

Kemudian.

Zara juga mulai mencari Kara.

Padahal beberapa minggu lalu, wanita itu bersikeras tidak akan datang.

"Lalu di mana dia sekarang?"

Ezra juga tak terlihat. Ia sempat melihat pria itu menuju lantai dua sebelumnya.

"Apa mereka bersama?" gumamnya dalam hati. "Tentu saja, Ezra selalu menempel di sisi Kara seperti prangko."

"Hei, Zara?"

Zara menoleh.

"Oh, hai_Tante,” sapanya balik dengan ramah.

Seorang wanita paruh baya berdiri di sampingnya. Tampil begitu mencolok, layaknya sosialita papan atas.

Zara mengernyit pelan.

Sementara itu.

Di lantai tiga, ruang CCTV.

Yildiz dan Elin masuk dengan tergesa. Begitu pintu terbuka, keduanya langsung berdiri di depan deretan layar, mata mereka menyisir satu per satu tampilan rekaman.

"Di sini, Tuan."

Kepala pengawal menunjuk salah satu layar.

Terlihat sosok Ender. Rekamannya sudah dihentikan.

"Ini di mana? Lantai berapa?" tanya Yildiz, tangannya bergerak mengoperasikan komputer.

"Itu di lantai dua, Tuan. Setelah Tuan muda turun dari lantai tiga."

Yildiz mengernyit.

"Bagaimana kamu tahu dia dari lantai tiga? Tidak ada rekamannya di sini."

"Seorang pelayan dapur mengaku melihatnya di sana, Tuan."

Yildiz mengangguk pelan. Ia teringat ucapan Elin, bahwa sebelum menghilang, Ender memang bersama Refat di lantai tiga.

Sementara mereka sibuk, dua petugas CCTV berdiri gugup di belakang.

Menunduk.

"Jadi ini jejak terakhir…" gumam Yildiz, matanya masih terpaku pada layar.

"Benar, Tuan. Kemungkinan seseorang telah menghapus rekamannya."

Kalimat itu membuat Yildiz langsung berbalik.

Tatapannya tajam.

"Apa yang terjadi?!"

Kedua pria itu langsung berlutut.

"Maafkan kami, Tuan."

"Aku tidak butuh maaf. Katakan apa yang sebenarnya terjadi. Jangan bilang kalian bekerja sama menjebak putraku."

"Tidak, Tuan! Kami tidak tahu apa-apa!"

Mereka mulai menjelaskan.

Tentang seorang pria muda yang datang mengetuk pintu. Tentang bagaimana mereka membuka pintu_dan akhirnya meninggalkan ruangan itu karena percaya mereka dipanggil ke ballroom.

Rahang Yildiz mengeras.

"Dan kalian langsung percaya?!"

Nada suaranya nyaris meledak.

Elin menyentuh lengannya, mencoba menenangkan.

Yildiz menarik napas panjang, menahan amarahnya. Ini bukan waktu untuk membuat keributan.

"Memaafkan atau tidak, tergantung bagaimana keadaan putraku saat ditemukan,"ucapnya dingin. "Jika dia di temukan tidak bernyawa. Aku sendiri yang akan melempar kalian ke tengah laut, menjadi santapan ikan."

Kedua pria itu gemetar.

"Dan jika dia ditemukan dalam keadaan tidak sadar_ bersama wanita yang tidak dia inginkan di ranjang. Kalian dipecat saat itu juga."

Hening.

"Jadi berdoalah_agar putraku baik-baik saja."

Setelah itu, Yildiz keluar dari ruangan, menarik tangan Elin.

"Tuan! Tuan!"

Seorang pengawal berlari tergesa ke arah mereka.

Yildiz dan Elin langsung berhenti.

"Ada apa?"

"Tuan_Tuan Ender..."

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Belenggu Hati   Chapter 18

    "Hentikan Zara, sampai kapan kamu akan mengamuk begini?" Seru mama Zara begitu masuk ke kamar Zara dan melihat semua furnitur kamar sudah berantakan tidak berbentuk dan serapi tadi lagi, saat pertama mereka tempati. Zara menghentikan dirinya dan diam. Nafasnya terlihat naik turun karna kemarahannya kepada Kara, sepupunya sialan nya. "Lalu apa yang bisa Zara lakukan selain ini? Dan bisakah mama dan papa lakukan sesuatu juga? untuk pernikahan ku dan Ender tidak batal. Tidak bisakan? Iya kan?" Teriak Zara sembari berjalan mendekat dan berdiri di hadapan papa dan mamanya. Terlihat papa Zara yang menarik nafas. Namun terlihat jelas di wajahnya akan tidak peduli dengan apa yang terjadi. Lagian, seperti Mr. Yildiz katakan. Kerja sama mereka tetap terjalin. Dari awal niat dan rencana mereka adalah menjalin kerja sama. Di mana banyak perusahaan pemasok makanan sulit bekerja sama dengan mereka. Dan ia beruntung mendapatkan kesempatan ini. "Hentikan Zara! Apa kamu sudah gila?!... L

  • Belenggu Hati   Chapter 17

    Di kamar yang luasnya hampir tiga kali lipat dari kamar Kara di lantai bawah, suasana terasa kontras. Di satu sisi, ketenangan. Terlihat Kara, yang tertidur lelap di atas ranjang besar yang diselimuti pencahayaan redup. Napasnya perlahan dan teratur, wajahnya terlihat lebih tenang dibandingkan saat terjaga. Di sisi lain, sesuatu yang tak pernah benar-benar diam. Ender berdiri di balkon suatu kamar yang menghadap langsung ke lautan gelap. Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan tirai tipis di belakangnya. Di sampingnya, ada Refat yang berdiri dengan sikap tenang, namun tatapannya serius. Menandakan percakapan mereka bukan hal sepele. "Semua sudah berjalan sesuai rencana mu," ujar Refat pelan menoleh melihat Ender, yang berdiri di sisi kanannya. Ender kini berada di balkon kamar Refat. Kepalanya sedikit mendongak, menatap ke lantai atas, ke arah kamarnya sendiri. Di sana, seseorang tengah terlelap dalam dunianya. Setelah aktivitas panjangnya bersama Kara. Ia keluar kamar, set

  • Belenggu Hati   Chapter 16

    "Aah… aah… aaah…" desahan Kara terlepas, seiring tubuhnya yang naik turun di atas Ender."Ugh… Kara… hhh…" balas Ender dengan napas memburu, menikmati setiap gerakan yang diberikan Kara.Keduanya sudah terhanyut dalam permainan itu sejak beberapa jam lalu. Ronde demi ronde berlalu tanpa benar-benar memberi rasa puas, terutama bagi Ender, yang seakan tak pernah cukup menginginkan Kara.Ender bangkit duduk. Kedua tangannya bergerak masuk ke balik lingerie hitam yang dikenakan Kara, meremas dua benda kenyal dengan penuh hasrat. Sentuhan itu memancing lebih banyak desahan, bahkan pekikan kecil yang lolos dari bibir Kara.Gerakan Kara teratur, berirama, dan penuh kendali, membuat Ender semakin kehilangan akal sehatnya.Bibir Ender tak tinggal diam. Ia mencium, bahkan menjilat tengkuk dan leher Kara, menikmati setiap sensasi yang datang bertubi-tubi menghantam dirinya.Sebenarnya, Ender ingin membalik keadaan. Menurunkan Kara dan menindihnya, mengambil alih kendali, lalu melampiaskan hasrat

  • Belenggu Hati   Chapter 15

    Kara sudah menyelesaikan beberapa hidangan, termasuk salad. Terlihat dari dia sudah menghidangkan nya dengan rapi, di meja makan khusus chef di dapur itu. Ender berdiri di belakang Kara, bersandar di wastafel. Kedua matanya melihat setiap gerakan Kara. Ia mendekat, berdiri di samping Kara. Saat melihat Kara kembali membuat hidangan yang baru. "Kamu sudah membuat banyak," suara Ender pelan dan lembut saat bertanya. Kara sekilas melihat Ender sembari mengaduk masakannya. "Aku lapar dan aku akan menghabiskan semuanya." Jawab Kara dengan senyum bahagia di wajahnya. Melihat wajah Kara yang bahagia, seperti nya bukan untuk nya. Melainkan untuk makanan. Ia segera memeluk Kara dari belakang dan berujar sensual. "Kelelahan tadi membuat mu lapar hm?" Godanya sembari menambah jejak nya di ceruk leher Kara. Kara sama sekali tidak terganggu, dia hanya bergerak sedikit karna geli. "Aku melewatkan sarapan ku, dan ya... Seseorang semakin menambahkannya. Jadi bagaimana aku tidak lapar?"

  • Belenggu Hati   Chapter 14

    Aku ada di lantai bawah, di dapur... Jika kamu mencari ku. Tanpa Ender sadari. Sedikit ujung bibirnya tertarik membentuk senyum tipis. Entah kenapa, ia senang dan bahagia hanya karna secarik kertas ini.. Tanpa mengulur waktu. Ender meremas kertas di tangannya, melempar asal dan berjalan keluar dari kamar. Ia tidak lupa mengunci kembali pintu kamar. Sekarang kamar itu sudah menjadi kamarnya dan Kara. Sampai di lantai bawah, dapur. Terlihat banyak orang di sana, baik pria maupun wanita dan umur wanita di sana sekitar 40 an ke atas. Mereka semua sibuk dengan pekerjaan mereka masing. Ada yang sedang menyiapkan bahan, ada yang sedang menyimpan barang dengan saling oper dan ada yang sedang menurunkan barang dari lift barang. Ender mengitari pandangan nya. Mencari sosok yang meninggalkan secarik kertas untuk nya. Langkahnya berhenti karna terhalangi oleh beberapa pria yang sedang meng oper barang. Saat Ender mau berbalik, mau mengambil jalan lain. Seorang wanita bersuara m

  • Belenggu Hati   Chapter 13

    Tempat yang Ender datangin, berada di bagian bawah kapal. Jauh dari area penumpang. Sempit. Dingin dan minim cahaya. Beberapa pria berjas hitam, anak buah Ender segera menyapa Ender dan membungkuk hormat. Pintu terbuka. Tiga orang pria terlihat duduk terpisah, masing-masing dalam kondisi tertekan. Wajah-wajah mereka menunjukkan ketakutan yang berusaha disembunyikan, tapi gagal. Ender masuk bersama Refat dan satu pria lain, yang sedari tadi menginterogasi mereka. Langkah Ender tenang, tapi kehadirannya langsung mengubah udara di ruangan itu. Seolah suhu turun beberapa derajat hanya karena ia ada di sana. Tidak ada yang berani berbicara. Ender berhenti di tengah ruangan, menyapu keempat orang itu dengan tatapan tajam. Ia tidak terburu-buru. Justru menikmati detik-detik di mana tekanan mulai bekerja tanpa perlu kata-kata. Satu per satu. Ender menatap mereka. Tatapannya berhenti pada wanita, yang di maksud Refat_Waitress. Wanita itu duduk tegak, kedua tangan terikat di

  • Belenggu Hati   Bukan Urusanku

    "Ah, mommy?!" Panggil Ender ke Ayse yang menerobos masuk ke dalam kamar. Ia kembali melihat Refat dan berucap. "Tunggu di sini,"Blam,Dan pintu tertutup.Dan ya, Refat menunggu dengah patuh. Ia tadinya mau membuka mulut dan bertanya serta mendengar langsung dari mulut Ender. Tapi belum juga suaranya k

  • Belenggu Hati   Amukan Zara

    Brakh,Brakh,Brakh,Ender dan Kara serempak melihat ke arah pintu yang tertutupi dinding pembatas ranjang. Ender yang baru melempar tubuhnya ke samping Kara. Dan Kara yang posisinya membelakangi Ender. Keduanya sontak setengah bangun melihat ke pintu. Kara melihat ke Ender begitu juga sebaliknya. Lela

  • Belenggu Hati   Kacau Sudah

    Suara high heels dan juga beberapa sepatu beradu dengan lantai marmer. Saat suara langkah kaki bergema di setiap lantai dan koridor yang mereka lewati. Javier, Ayse dan beberapa pengawal nya. Javier mendapatkan berita dari bawahan nya. Kalau mereka sudah menemukan keberadaan Ender. Dan lebih mengeju

  • Belenggu Hati   Chapter 6

    "Tuan… Tuan Muda Ender…" Napas pengawal itu terengah, jelas dia berlari tanpa henti. "Tuan muda ditemukan." "Di mana dia?" suara Yildiz terdengar lebih rendah, namun jauh lebih berbahaya. "Di lantai dua, Tuan." Yildiz mengernyit. Tanpa menunggu lebih lama, Yildiz langsung melangkah cepa

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status