INICIAR SESIÓNDinding-dinding beton ruang kunjungan penjara itu tampak lembap, memantulkan cahaya lampu neon yang berkedip-kedip tidak stabil. Bau pembersih lantai murahan bercampur dengan aroma keringat manusia menciptakan suasana pengap yang seolah mengurung harapan. Amanda duduk di balik pembatas kaca yang dingin, jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan kaca itu, menatap sosok pria di seberangnya yang kini mengenakan rompi oranye dengan nomor tahanan di dada. Rudi, pria yang dulu selalu tampil dengan setelan jas seharga puluhan juta dan aroma parfum Italia yang eksklusif, kini tampak seperti bayangan dari dirinya yang dulu. Rambutnya dicukur pendek, matanya cekung, dan ada gurat kekalahan yang mendalam di wajahnya. Setelah bukti CCTV dari apartemen Bella tidak bisa lagi dibantah, dan kesaksian para petugas keamanan yang memisahkan mereka menjadi paku terakhir, Rudi resmi ditetapkan sebagai terpidana kasus kekerasan dan perbuatan tidak menyenangkan. Penyesalan yang Terlambat "Kamu puas seka
Gema sirine polisi yang meraung di kegelapan malam akhirnya memudar, digantikan oleh kesunyian yang mencekam di depan rumah yang kini telah dipasangi garis kuning polisi. Di dalam mobil patroli, Nina duduk dengan tatapan kosong. Tangannya yang masih menyisakan bekas darah yang mulai mengering kini terbelenggu oleh logam dingin borgol. Tidak ada pemberontakan, tidak ada tangisan histeris, bahkan tidak ada upaya untuk melarikan diri.Bagi Nina, hidupnya sudah berakhir di detik jantung Alex berhenti berdetak di atas lantai ruang tamu mereka.Kematian Alex segera meledak menjadi berita nasional yang mengguncang publik. Jika sebelumnya masyarakat disuguhi drama perselingkuhan dan kekerasan Rudi, kini mereka dihadapkan pada sebuah tragedi berdarah: seorang istri yang menghabisi nyawa suaminya sendiri akibat pengkhianatan dalam selimut keluarga. Foto Nina yang digiring masuk ke kantor polisi dengan wajah pucat namun tenang menjadi tajuk utama di semua portal berita.Pengakuan di Ruang Intero
Malam itu, Jakarta seolah menahan napas. Di dalam rumah yang dulu merupakan istana kecil penuh tawa bagi Alex dan Nina, udara kini terasa beracun. Lampu ruang tamu yang berpijar kekuningan memantulkan bayangan yang tajam dan tak beraturan di dinding, mencerminkan jiwa Nina yang telah hancur total. Logika, empati, dan rasa kasih sayang yang selama ini menjadi identitas Nina telah menguap, digantikan oleh amarah murni yang dingin dan mematikan. Di atas meja dapur, sebuah pisau pemotong daging berkilat tertimpa cahaya. Nina menatap bilah baja itu dengan mata yang kosong namun fokus. Baginya, pisau itu bukan lagi alat dapur; itu adalah instrumen keadilan. Pengkhianatan Amanda bukan sekadar perselingkuhan biasa; itu adalah penikaman dari dalam selimut, sebuah tindakan yang menghapus status "kakak" dan menggantinya dengan "musuh bebuyutan". "Dia harus mati," bisik Nina, suaranya terdengar asing, seperti berasal dari dasar jurang yang paling dalam. "Jika dia bisa mengambil suamiku, aku aka
Malam di Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya, namun bagi Bella, hawa dingin itu tidak lagi berasal dari pendingin ruangan, melainkan dari sisa-sisa trauma yang membeku di sumsum tulangnya. Di dalam ruang penyidik yang diterangi lampu neon putih yang kaku, ia duduk dengan bahu yang masih sedikit gemetar. Di hadapannya, seorang polwan senior menatapnya dengan pandangan yang tenang namun tajam, sementara di atas meja, sebuah flash drive kecil berisi rekaman CCTV dari apartemennya menjadi pusat gravitasi dari seluruh pembicaraan mereka. Bella telah mengambil keputusan. Rasa cintanya pada Rudi telah mati bersamaan dengan vas bunga yang dihancurkan pria itu di lantai apartemennya. Yang tersisa kini hanyalah insting bertahan hidup dan keinginan membara untuk melihat pria yang menganggap dirinya tak tersentuh itu bersimpuh di hadapan hukum. "Bisa Anda jelaskan kembali apa yang terjadi setelah Saudara Rudi memasuki unit Anda?" tanya penyidik dengan nada profesional. Bella menarik napa
Lampu belakang mobil SUV putih milik Nina yang menyala merah terang adalah hal terakhir yang dilihat Alex sebelum kendaraan itu melesat membelah kemacetan jalanan Jakarta. Suara deru mesinnya terdengar seperti raungan kemarahan yang memekakkan telinga, meninggalkan Alex yang terpaku di trotoar depan toko bunga miliknya. Asap knalpot yang tersisa seolah-olah menjadi simbol dari segala janji suci yang kini telah menguap, berubah menjadi polusi yang menyesakkan dada. "Nina! Tunggu! Dengarkan aku dulu!" teriakan Alex hanya memantul di dinding-dinding beton gedung di sekitarnya. Ia sempat berlari beberapa meter, mencoba mengejar logam berjalan itu dengan tangan kosong, namun sia-sia. Langkahnya terhenti saat paru-parunya mulai terasa terbakar oleh udara panas dan rasa putus asa. Di belakangnya, pintu toko bunga masih terbuka lebar, menunjukkan pemandangan interior yang kini tampak seperti medan perang—pecahan vas bunga, kelopak matahari yang hancur, dan Amanda yang masih terduduk lemas d
Aroma bunga lili yang manis biasanya memberikan ketenangan bagi siapa pun yang melangkah masuk ke dalam Petals & Soul. Namun bagi Alex, wangi itu kini terasa menyesakkan, seperti aroma duka yang mendahului sebuah kematian. Ia duduk di balik meja kasir dengan kepala tertumpu pada kedua tangannya. Matanya yang sembab menatap nanar ke arah meja kosong milik Gadis. Kepergian Gadis bukan sekadar kehilangan manajer terbaik; itu adalah runtuhnya benteng pertahanan terakhir Alex. Ia baru menyadari betapa besarnya peran Gadis dalam menutupi celah-celah hidupnya yang mulai retak. Tanpa Gadis, toko itu terasa asing, dan rahasianya terasa jauh lebih telanjang. Pintu toko berdenting pelan, dan langkah kaki yang sangat dikenalnya mendekat. Amanda masuk dengan raut wajah yang tak kalah kuyu. Kabar tentang kemandulan Rudi dan amukan suaminya di apartemen Bella telah menguras seluruh energinya. Namun, melihat Alex yang biasanya tegap kini tampak hancur, insting protektif Amanda bangkit. "Lex..." bi







