LOGINSelama setahun pernikahannya, Helena tak pernah merasakan hangatnya cinta dari Rivano. Suaminya dingin, penuh luka, dan menyimpan sisi gelap yang kelam. Bagi Rivano, cinta bukan kelembutan—melainkan kontrol, obsesi, dan dominasi. Di tengah pernikahan yang penuh luka itu, hadir Baskara—pria yang berbeda. Ia lembut, hangat, dan membuat Helena merasakan kembali arti dicintai tanpa rasa takut. Namun cinta tak pernah sesederhana itu… Mampukah Helena menemukan cinta sejati di tengah pernikahan yang rapuh? Bisakah Rivano melepaskan sisi gelapnya demi mempertahankan Helena? Atau justru cinta Helena yang perlahan berubah, berbalik arah pada Baskara? Sebuah kisah tentang cinta, luka, dan pilihan hati: Cintai aku… sebelum cinta yang lain mencintaiku.
View MoreLangkahnya menuju pintu mantap, penuh amarah yang menutup pintu hatinya. “Minta Baskara jemput kamu,” katanya sebelum berbalik pergi.“Riv… jangan pergi! Maaf… Riv!” Helena mencoba bangkit dari kursi roda, mencoba mengejar laki-laki yang ia cintai, namun tubuhnya terhuyung dan jatuh keras ke lantai.“Aarggh…” rintihnya. “Riv… jangan pergi… aku mohon…” Tangisannya menggema memenuhi ruangan.Rivano berhenti sejenak di ambang pintu ketika mendengar suara tubuh Helena jatuh. Ia menoleh sedikit, sekilas saja, wajahnya keras namun matanya bergetar.“Kalau kamu memang cuma cinta aku… bangun. Raih aku. Aku lelah mengejarmu terus,” ucapnya, kemudian membanting pintu dan meninggalkan ruangan.Di luar, napasnya tercekat oleh keraguan kecil. Apakah aku terlalu keras? pikirnya.Tapi biar saja. Aku ingin melihatnya berjuang, bukan cuma keras kepala.Di dalam kamar, suara Helena memecah seluruh dinding luka yang memisahkan mereka.“Riv…” Ia merangkak perlahan, berusaha bangkit meski tubuhnya gemetar
Rivano tidak pernah menyangka akan menemukan Helena di tempat ini. Perempuan itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca—tatapan yang membuat dadanya terasa sesak. Ia tahu, di balik bening air mata itu ada kekecewaan besar, ada rasa dikhianati oleh orang yang paling ia percayai. Helena tampak seolah menolak percaya bahwa laki-laki yang selalu ia pegang teguh bisa menyembunyikan hal sebesar itu.“Kita bicarakan di dalam. Sus, biar saya yang antar istri saya ke kamar,” ujar Rivano pelan. Ia menggenggam pegangan kursi roda Helena dan mendorongnya menuju ruang rawatnya.Begitu sampai, ia menghentikan kursi roda itu di dekat sofa lalu duduk perlahan. Bahunya sedikit naik turun, seperti seseorang yang sedang berusaha menenangkan diri sebelum badai menerjang.Wajah Helena memerah, bibirnya bergetar. “Kenapa bisa setega itu? Menyembunyikan kenyataan sebesar ini? Tega kamu,” suaranya pecah, namun setiap kata menusuk.“Dari semua orang dalam hidupku… kamu yang paling aku percaya. Tapi kamu malah bo
Setelah siang menjelang, perempuan itu tetap diam. Tidak banyak bicara. Bahkan kehadiran Davin—yang biasanya bisa membuatnya tersenyum—tidak mampu memecah sunyi yang menggantung di antara mereka.Ia hanya memalingkan wajah ke arah jendela, menatap langit abu-abu di luar. Kosong. Seolah pikirannya berada di tempat lain.“Sayang, Davin bertanya ke kamu,” suara Rivano memecah keheningan. “Iya… maaf,” jawabnya tanpa menoleh.“Kamu kenapa? Dari tadi diam sekali. Ada yang sakit?” tanya Davin hati-hati.“Aku baik-baik saja,” jawabnya sambil memaksakan sedikit senyum.Rivano mengambil
“Akkhhh—!” teriak perempuan itu begitu tubuhnya jatuh ke lantai, tertimpa tiang infus. Rasa nyeri di perutnya langsung menghantam tajam. Ia tak sanggup menahan lagi—air seninya keluar begitu saja, mengalir ke lantai dan membasahi seluruh kakinya.“Helena! Apa yang terjadi?!” Rivano terbangun panik, langsung melompat dari sofa.“Jangan! Jangan mendekat!” jeritnya histeris, tubuh gemetar, air mata jatuh tanpa kendali.“Sayang, kenapa tidak bangunin aku?” Rivano berusaha mendekat perlahan.“Pergi!!! Aku mau panggil suster saja! Suster! Tolong!” teriaknya sambil menangis keras.Rivano tertegun. Ia tidak pernah melihat istrinya ketakutan seperti itu. Dan saat
“Nona, larut sekali pulangnya,” sapa Bi Imah yang sejak tadi menunggu di ruang tamu.“Iya, Bi. Kerjaanku banyak sekali…” desah Helena pelan, langkahnya gontai sambil menyeret tas. Wajahnya pucat, matanya s
Tepat sudah seminggu Rivano tidak pulang. Seminggu tanpa kabar, tanpa jejak, tanpa satu pun penjelasan. Bagi Helena, ini bukan hal baru. Setiap kali ia sedikit saja mendebat Rivano, lelaki itu akan selalu memilih pergi—menghilang begitu saja, seakan menjadikan diam dan menjauh seb
Dengan wajah pucat, Helena keluar kamar. Semalaman begadang menyelesaikan deadline membuat matanya sembab, kulitnya memucat.“File pekerjaanmu sudah kukirim ke email,” ucap Rivano begitu meliha
Helena menggigit bibir, tubuhnya gemetar, tapi lidahnya terlanjur terpeleset. Aku bodoh…Bukannya iba, wajah Agnitha malah berubah jadi topeng kegilaan. “Das






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore