LOGINLima tahun pernikahan, Zahra dan Ammar sangat bahagia. Masalah datang saat Ammar tanpa sengaja menabrak Adelia dalam satu perjalanan dinas. Adelia lumpuh dan dunianya terhenti karena tunangannya menolak melanjutkan rencana pernikahan. Keluarga Adelia minta Ammar menikahi Adelia sebagai bentuk pertanggungjawaban atau jeruji besi menanti. Sementara Zahra tidak mau suaminya mendua. Wanita itu lebih memilih berpisah daripada hidup dimadu walau Ammar terpaksa. Ammar yang selama ini membiayai hidup Ibu dan kedua adiknya kebingungan. Kalau sampai dia dipenjara, pekerjaan hilang, siapa yang akan menanggung semua?
View More“Ingat itu baik-baik! Sekali lagi kamu berani merendahkan aku hanya karena statusku janda, kupastikan kamu akan berurusan dengan kepolisian! Berhenti memandang rendah orang lain dengan begitu mudahnya. Tidak semua janda seperti yang ada di pikiran kotor dan otak me summu itu. Picik!” Zahra kembali ke mejanya lagi setelah puas mengeluarkan unek-uneknya. Dia berusaha menenangkan diri agar bisa berkonsentrasi kembali.Sore harinya, Zahra mengangguk sekilas pada Ammar yang duduk di ruang tamu, bermain bersama kedua anak mereka dan ngobrol bersama papanya. Kedua orang tuanya memang sedang menginap disana, sudah dua hari ini. Dia langsung menuju kamar, tidak berminat sama sekali ikut bergabung di ruang tamu.“Lama tidak kemari, Nak Ammar?” Zaldy bertanya sambil memperhatikan kedua cucunya yang sangat menempel dengan Papa mereka. “Biasanya setiap minggu pasti mampir walau cuma sebentar setelah pulang kerja. Anak-anak sepertinya kangen sekali sampai menempel terus itu dari tadi.”“Iya, Pa, ke
“Masya Allah.” Zahra menutup wajah dengan kedua tangan. Hatinya bergetar. Tubuhnya gemetar. Dia bisa merasakan ketulusan dalam setiap kata yang Indra ucapkan. Sungguh dalam makna kalimat itu hingga meresap ke relung jiwa, mengalir perlahan, menyentuh segumpal hati yang selama ini masih ragu untuk berlabuh yang kedua kalinya. Zahra menghela napas panjang saat gemuruh dalam dadanya mereda. Dia menoleh dan beradu pandang dengan Indra yang menatapnya dengan sorot mata teduh. Wanita itu mengalihkan pandang. Ada getar-getar tak biasa yang dia rasa saat mata mereka bertemu. Zahra menghela napas panjang sekali lagi. Sungguh random sekali hidupnya hari ini. Pagi tadi bertengkar dengan Alan, berlanjut saat makan siang, sekarang malah dilamar.“Indah sekali kalimatnya, Mas.” Zahra tersenyum setelah mengusap air mata dengan tisu. Dia menatap Indra yang mengetuk-ngetukkan telunjuk ke stir mobil. “Itu … sudah dipersiapkan dan berlatih cukup lama, atau … spontan saja? Soalnya, agak random sekali ki
Keesokan harinya, Zahra sedang makan siang bersama Indra di rumah makan Palembang yang menjadi langganan mereka. Wanita itu hampir tersedak saat merasakan ada yang menepuk bahunya cukup kencang. Dia langsung berdecak kesal saat melihat wajah Wilda yang muncul dari belakang. Temannya itu tertawa-tawa melihat Zahra yang menatapnya dengan sorot mata membunuh.“Boleh kami gabung disini? Semua meja sepertinya sudah terisi.” Wilda tersenyum lebar saat melihat Indra mengangguk. Dia melambaikan tangan ke arah Alan yang tadi berkeliling mencari meja kosong. Mereka baru saja kembali dari kantor vendor, kebetulan lewat sana dan Wilda memutuskan mampir makan siang karena sudah bisa menduga kalau Zahra akan makan disana bersama Indra.“Oh, jadi ini Mas-mas yang pakai SUV BMW hitam yang sering jemput Mbak Zahra.” Alan tersenyum lebar sambil mengulurkan tangan. Lelaki itu melirik ke arah Zahra yang terlihat kurang nyaman. Mereka memang sempat cekcok pagi tadi karena Alan tidak terima Zahra menjadi s
“Siapa yang kamu telepon, Adelia?”Zahra membelalak lebar mendengar suara Ammar di seberang sana. Ponsel di tangannya terlepas dari genggaman seketika. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tubuhnya gemetar hebat sambil menatap layar ponsel yang masih terhubung panggilan, tapi tidak terdengar percakapan apapun di seberang sana. Sekian detik berlalu, panggilan dimatikan entah oleh Adelia atau Ammar, tanpa ucapan apa-apa.Disini, Adelia menunduk saat melihat Ammar memegang ponselnya erat-erat. Dia tidak berani membalas tatapan suaminya. Wanita itu mengelus perutnya yang terasa nyeri. Sejak awal kehamilan, dia memang cukup sering mengalami kram-kram ringan. Pesan dokter, dia tidak boleh kecapekan atau terlalu banyak pikiran. Bagaimanalah tidak banyak pikiran? Lelaki yang tidur di sampingnya, seseorang yang baru saja menghabiskan malam dengannya justru menyebut nama wanita lain dalam tidurnya.“Dari mana kamu mendapatkan nomor ponsel Zahra?” Ammar bertanya dengan emosi yang ditahan. A


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews