FAZER LOGINAneya menunggu daya ponselnya penuh dengan rasa penasaran yang belum surut. Ia hanya bisa berdiam diri sembari memperhatikan tirai dekat jendela yang bergoyang akibat tertiup angin. Kelopak matanya kembali terasa berat, semilir angin pagi menjelang siang membuat rasa kantuk Aneya semakin menjadi. Netra itu perlahan tertutup, tetapi belum ada semenit, ia langsung membuka mata dan kembali memeriksa ponselnya. “Syukurlah daya yang terisi sudah hampir penuh,” celetuk Aneya sambil mencabut pengisi daya tersebut. Ia menekan tombol daya beberapa detik hingga menampilkan logo dari benda pipih tersebut. Aneya menunggu dengan senang hati, layarnya kini menampilkan gambar latar seperti biasa. Jemarinya menggulir pelan bagian pesan hingga mendapat nama kontak Ravin. Ruang obrolan itu kini menampilkan beberapa pesan dari pria tersebut, Aneya mulai menaruh fokus untuk membaca pesan-pesan itu. “Aku sudah tiba di tempat semalam,” ujar Ravin pada pesan pertama. “Orang kepercayaanku tetap me
Aneya hanya membalas dengan deham pelan. Bibirnya terlalu berat untuk merangkai jawaban yang layak, sementara kelopak matanya berkali-kali jatuh sebelum kembali terbuka. “Tidurlah, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Aku selalu di sini menjagamu,” ujar Ravin pelan dan terdengar halus. Aneya tidak lagi benar-benar menyimak isi ucapan Ravin. Ia hanya membiarkan suara itu mengisi keheningan kamar, menemani detik demi detik yang berlalu. “Suaranya benar-benar memabukkan di saat seperti ini,” batin Aneya mengakui hal tersebut. Kelopak mata Aneya terasa semakin berat. Suara statis yang sesekali muncul dari panggilan itu berpadu dengan senandung rendah milik Ravin yang terdengar samar dari seberang, menciptakan irama menenangkan dan perlahan mengikis sisa kesadarannya. Jemarinya yang semula masih menggenggam ponsel mulai mengendur. Napasnya berangsur teratur, sementara pikirannya yang dipenuhi berbagai hal akhirnya perlahan mereda. Tak lama kemudian, ia benar-benar terlelap, m
“Apa maksudmu?!” tanya Arya terdengar kelagapan. “Sekarang katakan padaku, Mana yang lebih mahal? Uang yang kau pakai untuk merendahkan Aneya dan keluarganya dan mencap mereka memanfaatkan dirimu, atau biaya yang kau keluarkan untuk menyewa petugas keamanan di kantorku?” tanya Ravin santai, tetapi sangat menusuk. Aneya ikut tersentak saat mendengar kalimat itu, ia seketika sadar bahwa telah berdiri di samping tempat tidur selama setengah jam saat memeriksa durasi panggilan yang berlangsung. Ia memasang kembali telinganya untuk mendengar percakapan lebih lanjut di seberang sana. “Apa?! Yang benar saja?! Aku tidak pernah melibatkan siapa pun!” kilah Arya dengan suara meninggi. “Apa perlu kuhadirkan sosok itu di sini bersamamu malam ini?” tanya Ravin tenang, tetapi mematikan. Tidak ada sepatah kata pun yang dikeluarkan oleh Arya terdengar. Aneya yakin bahwa pria itu tidak bisa berkelit lebih jauh lagi, mungkin saja badan pria tersebut sudah tidak sanggup menerima setiap pukulan yang
“Memangnya itu tidak benar?” tanya Arya menyanggah pertanyaan Aneya dengan enteng. Detik itu juga, telapak tangan Aneya terasa gatal ingin mendarat di wajah Arya. Rahangnya mengatup rapat hingga terasa nyeri, sementara kukunya menancap ke telapak tangan untuk menahan dorongan yang terus mendesak keluar. Pada akhirnya, hanya geraman kesal yang lolos dari bibirnya. Suaranya terdengar lebih keras dari yang ia sadari, tetapi untuk kali ini ia tidak peduli. Biarlah siapa pun mendengarnya. Ia sudah terlalu lama menelan amarah sendirian hingga emosinya terasa mengendap seperti racun, perlahan menggerogoti bagian terdalam dirinya. “Sudahi omong kosongmu itu, Arya! Kau tetaplah lelaki brengsek yang pernah kukenal!” pekik Aneya bersamaan dengan dada yang naik turun. “Harusnya aku yang berkata begitu, lagipula aku sebenarnya bersyukur hubungan kita berakhir, aku tidak perlu repot mengurusmu dan keluargamu yang tidak tahu terima kasih, lelah juga aku berpura-pura,” cicit Arya masih terden
Aneya menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung harus merespons kalimat Ravin seperti apa. Ia juga tidak berada di sana, posisi pria itu memang sangat menguntungkan untuk kembali melayangkan bogeman pada Arya yang entah akan mendarat di bagian tubuh yang mana. “Apakah kau akan bermalam di situ?” tanya Aneya akhirnya membuka suara dengan nada sungkan. “Tidak, aku akan pulang. Bedebah itu akan dijaga oleh mereka berdua di sini, dia tidak akan bisa lari,” jawab Ravin santai dan sederhana. Anggukan kepala ringan dengan bibir membentuk bulat menjadi gestur yang dikeluarkan oleh Aneya, walaupun Ravin tidak akan bisa melihatnya. Pikiran Aneya sempat berputar pada Arya, ada banyak pertanyaan yang ingin ia keluarkan berikutnya. “Apa saja yang dia katakan atau beritahu padamu?” tanya Aneya mulai serius. “Pria itu berulang kali mencoba menjelekkan namamu padaku sebelum aku menelpon. Ingin sekali aku membawanya ke Rumah Sakit Jiwa, tapi aku perlu bermain sedikit dengannya,” jawab Ravin sem
Tepat saat itu juga Aneya dapat mendengar hantaman yang sempat membuat suara Arya terdengar meringis kesakitan disertai batuk. Ia tidak tahu apa yang tengah dilakukan oleh Ravin dan dua orang kepercayaan itu, tetapi ia bisa merasa sedikit lega kala mulut lancang itu berhasil diberi pelajaran. “Untuk apa katamu?! Lalu mengapa kau terus menerus mempertanyakan perihal gajinya bahkan padaku?!” tanya Ravin dengan suara terdengar naik pitam. “Apakah Arya memberitahukan pada Ravin tentang rencana tabungan pernikahan itu?” tanya Aneya dengan perasaan bergumul dalam hati. “Dia berhak memberikanku gajinya! Ia harus menepati janji itu!” seru Arya masih dengan keangkuhan dalam suaranya. Aneya tidak bisa menyela percakapan yang tengah terjadi di antara kedua pria itu, tetapi ia tidak bisa menampik bahwa kupingnya ikut panas mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Arya. Ia menarik napas dalam dan mengembuskannya dengan frustasi, Aneya masih menjadi pendengar setia yang sudah siap mendengar
“Aku juga tidak tahu,” balas Arya.Kalimat itu terdengar ringan, nyaris malas, seolah apa yang telah terjadi sebelumnya di antara mereka hanyalah sebuah kejadian sepele yang tidak layak dipikirkan terlalu lama. Mulut Aneya terbuka tanpa suara.Untuk sesaat, ia hanya memandang Arya, mencoba memastik
Aneya menoleh ke arah pria di hadapannya. Sendok di tangannya berhenti bergerak, makanan di nampan dibiarkan mendingin. Ia merangkai kata dengan hati-hati, seperti menyusun pecahan kaca agar tidak melukai dirinya sendiri. “Begini, Pak, ingat pria yang sempat menyerang saya di area parkiran?” tanya
Ia masuk ke rumah, menutup pintu dengan dorongan pelan, lalu menanggalkan sepatu hak tingginya satu per satu. Kakinya terasa pegal, pundaknya berat, seperti masih membawa sisa hari kerja yang enggan lepas.Ponselnya bergetar di telapak tangan. Aneya membiarkan panggilan itu berdering beberapa detik
Ia terkejut akan kehadiran Ravin yang kini berada tepat di depannya. Begitu banyak timbul pertanyaan di kepala Aneya perihal mengapa pria itu tetap bisa mendapatinya. “Apa? Tidak … bukan seperti itu, Pak,” kelit Aneya.“Lalu?” tanya Ravin beralih menatapnya.Aneya membuang muka. Ia masih belum pun







