แชร์

Bab 139

ผู้เขียน: Lavenhaze
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-11 15:41:04

“Apa maksudmu?!” tanya Arya terdengar kelagapan.

“Sekarang katakan padaku, Mana yang lebih mahal? Uang yang kau pakai untuk merendahkan Aneya dan keluarganya dan mencap mereka memanfaatkan dirimu, atau biaya yang kau keluarkan untuk menyewa petugas keamanan di kantorku?” tanya Ravin santai, tetapi sangat menusuk.

Aneya ikut tersentak saat mendengar kalimat itu, ia seketika sadar bahwa telah berdiri di samping tempat tidur selama setengah jam saat memeriksa durasi panggilan yang berlangsung. I
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 179

    Aneya mendongak ke sumber suara. Matanya membulat ketika melihat Ravin berdiri di hadapannya dengan sebuah nampan di tangan. Pria itu meletakkannya di atas meja, memperlihatkan dua dus kecil ayam goreng, nuget ayam, kentang goreng, dua gelas minuman bersoda, dan dua gelas es krim. Aneya mengedip beberapa kali. Pandangan matanya berpindah dari makanan sebanyak itu kepada Ravin, lalu kembali lagi pada nampan. “Ravin…,” ucap Aneya, hanya nama itu yang berhasil lolos dari bibirnya. Pria tersebut menarik kursi di hadapannya dan duduk santai. Pandangannya fokus pada Ravin yang kemudian membagi menu tersebut untuk dirinya dan kemudian menyampirkan nampan di samping meja mereka. “Aku tahu hal itu masih membuatmu trauma,” kata Ravin, “tapi, makan dulu sebelum semuanya menjadi dingin,” Aneya melirik dua gelas es krim yang terletak di atas meja. Ia kemudian mengangkat alisnya sambil menahan senyum. “Es krim ini bukannya sudah dingin?” celetuk Aneya dengan nada bercanda. Ravin terli

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 178

    Ravin terkekeh pelan. “Kau pasti mulai merasa kepanasan.” “Benar. Cuaca hari ini membuatku gerah,” sahut Aneya sambil mengusap tengkuknya. Tanpa terlalu memikirkannya, ia membuka dua kancing bagian atas kemejanya. Bukan untuk menarik perhatian dari Ravin, melainkan semata-mata agar udara terasa lebih lega di sekitar lehernya. Aneya kemudian mencondongkan tubuh ke arah panel pendingin udara. Jemarinya baru saja hendak menekan tombol ketika ia merasakan tatapan dari arah samping. Ia langsung menoleh dan Ravin sedang memandanginya. Tatapan pria itu tidak lagi setenang beberapa saat lalu. Matanya sempat turun sekilas sebelum kembali bertemu dengan pandangan Aneya, sementara senyum tipis perlahan muncul di sudut bibirnya. “Astaga!” seru Aneya dalam hati. Aneya terdiam. Baru menyadari posisi kemejanya, ia buru-buru merapikan bagian kerah yang terbuka. “Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Aneya berusaha terdengar biasa. Ravin hanya mengangkat alis, seolah tidak merasa bersalah

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 177

    Ravin terkekeh pelan, entah dibagian mana yang membuat pria itu merasa lucu. Lirikan mata Ravin jatuh pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, sorot mata itu kemudian menatap Aneya dengan teduh. “Pantas saja kau bertanya seperti itu, sekarang sudah mendekati pukul Waktu Aneya Bagian Makan Siang,” canda Ravin yang sontak melepaskan tawanya. Aneya mengerucutkan bibirnya sambil mendorong pelan dada pria itu, sedangkan Ravin masih menyunggingkan senyum khas di wajah tampan itu. Ketika pria tersebut akhirnya mengambil sedikit jarak, Aneya memperhatikan dengan saksama jemari Ravin yang sibuk merapikan bagian depan kemeja, padahal tidak ada satu pun lipatan yang terlihat berantakan. “Biar aku saja,” kata Aneya cepat dan turut memperbaiki. Tangannya terulur untuk membenahi kerah kemeja Ravin. Gerakannya sempat terhenti ketika menyadari jarak mereka kembali begitu dekat. “Apa sekretarisku sengaja memperlambat waktu makan siang hanya untuk mendapatkan momen seperti ini?” goda

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 176

    Aneya bergeming sesaat, sebelum ia kembali memberanikan diri menatap Ravin. Ia sempat berusaha menelan ludah sebelum membuka suara. “Aku hanya teringat sesuatu, seandainya dulu semuanya tidak berakhir seperti itu, mungkin sebagian uang ini sudah masuk ke tabungan yang pernah kami rencanakan,” aku Aneya jujur bernada lirih. Pria itu tidak menyela. Aneya perlahan menundukkan wajah, takut kalimatnya terdengar seperti tanda bahwa ia masih menyimpan perasaan untuk mantan kekasihnya, Arya. “Aku tidak merindukannya, hanya … menyayangkan semuanya. Empat tahun itu bukan waktu yang sebentar. Ada banyak rencana yang akhirnya harus dilepaskan begitu saja,” lanjut Aneya cepat. Tidak ada perubahan tajam pada wajah pria tersebut, tidak ada juga pertanyaan yang dilayangkan dimana membuat Aneya merasa harus membela diri. “Aku mengerti,” sahut Ravin sambil mengangguk pelan. Aneya mengangkat wajahnya. Ia mendapati air muka pria itu tampak biasa saja, tidak ada tanda secuil protes yang tak te

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 175

    Kening Aneya berkerut. Ia menatap Ravin lekat, seolah mencoba memastikan pria itu sedang bercanda. “Ravin,” panggil Aneya, “bukankah tadi kau sudah berjanji?” Ravin mengembuskan napas pelan. Senyum tipis di wajah pria itu belum sepenuhnya hilang, tetapi sorot matanya berubah lebih lembut. “Aku ingat, dan aku tidak sedang membahas janji yang tadi,” balas Ravin sederhana. Pria tersebut terdiam sejenak. Aneya masih menatapnya, menunggu kalimat berikutnya. “Hal yang kumaksud adalah transfer setelah gajimu masuk. Anggap saja itu hadiah dariku,” lanjut Ravin dengan senyum tipis kembali menghiasi wajahnya. Bibir Aneya terbuka hendak menyela. Namun, Ravin lebih dulu mengangkat telapak tangannya pelan, seolah memohon agar ia mendengarkan sampai selesai. “Tolong, jangan buru-buru menolaknya. Terimalah sebagai ketulusanku, bukan karena kau merasa berutang apa pun padaku,” tandas Ravin lebih lembut. Aneya terdiam. Pandangannya terus bertahan pada wajah Ravin, berusaha mencari se

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 174

    Aneya duduk berhadapan dengan Ravin, dipisahkan oleh meja kerja yang sebulan lalu terasa begitu sulit ia dekati. Pandangannya menelusuri wajah pria itu dalam diam. Ia masih mengingat dengan jelas sosok Ravin yang pertama kali dikenalnya. Raut wajah dingin, sorot mata tajam, dan wibawa yang membuat siapa pun enggan berlama-lama menatapnya. Saat itu, Ravin terasa seperti dinding tinggi yang mustahil disentuh. Namun kini, yang ia lihat benar-benar berbeda. Garis tegas di wajah Ravin melunak, sudut bibirnya dihiasi senyum tipis, dan tatapannya tak lagi memancarkan tekanan yang dulu selalu membuat Aneya gugup. Sosok yang pernah terasa begitu jauh itu kini justru menjadi tempat yang paling membuatnya merasa tenang. “Sebelum aku memberikan gajimu, aku ingin bertanya sesuatu,” ucap Ravin santai sambil melipat kedua tangannya di atas meja dan senyum tipis yang masih bertahan di wajahnya. “Tentu, katakan saja,” sahut Aneya mengangguk tanpa ragu. “Kau ingin menerimanya dalam bentuk trans

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 130

    Sedikit demi sedikit, seolah tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan kedekatan itu, sementara pikirannya justru semakin kacau. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram lebih erat, dan setiap detik yang berlalu hanya membuatnya semakin sulit membedakan mana yang ingin ia hindari dan mana yang diam-diam ia

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 3

    Aneya merengut ringan dengan pertanyaan yang baru saja diberikan kepadanya. Ia merasa pertanyaan itu terlalu personal, tidak perlu berpikir lama baginya untuk mengetahui maksud dari pertanyaan tersebut.Ada sesuatu di baliknya yang membuat dadanya menegang. Secara tidak langsung ingatan tentang Ary

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 2

    Dua minggu berlalu sejak malam itu dan tidak ada apa pun yang berubah. Aneya belum mendapat kabar dari perusahaan Bhaskara Karya Sejahtera.Aneya masih membuka kotak surel setiap pagi dengan harapan yang sama dan menutupnya kembali dengan perasaan yang tidak pernah benar-benar tenang. Aneya menco

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 1

    Aneya memutuskan untuk melamar kerja. Rencana tabungan pernikahan yang benar-benar tidak bertambah, tuntutan hidup, serta hubungan yang perlahan berubah menjadi rangkaian percakapan yang selalu berujung pada tuntutan. Menjadikan sebuah hal yang paling mendesak di dalam dadanya sejak beberapa bulan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status