Terbuai Setelah Malam Pertama

Terbuai Setelah Malam Pertama

last updateHuling Na-update : 2026-07-17
By:  Angsa KecilOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 Rating. 1 Rebyu
5Mga Kabanata
11views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Satu malam di kamar hotel, mengubah segalanya. Megha menyerahkan segalanya pada Bima, suami yang tak pernah mau menatapnya selama dua tahun pernikahan. Namun, pagi harinya, pria itu justru menyebut istrinya sebagai wanita parasit yang cuma mengincar harta. Megha melangkah pergi membawa luka, lalu muncul kembali di hadapan Bima sebagai Kirana, peracik parfum profesional yang dingin dan menjaga jarak. Bima terobsesi setengah mati mencari jejak wanita misterius malam itu, tanpa sadar sosok yang dia buru ada tepat di depan matanya. Saat Bima akhirnya tahu kebenarannya, dia memohon agar tidak diceraikan, Megha hanya tersenyum tipis. "Aku memang wanita malam itu, Mas. Tapi aku tidak sudi kembali pada suami yang pernah menginjakku." Bagaimana cara Bima memiliki kembali istrinya?

view more

Kabanata 1

1

“Akhhh ....”

Megha meringis saat merasakan seluruh tubuhnya remuk redam. Dia hendak bergerak, tapi tertahan sebuah lengan kekar yang melilit pinggangnya.

Dia tak menyangka kalau semalam raganya sudah mengkhianati logikanya.

Di kamar temaram, dua insan yang terikat pernikahan dingin selama hampir dua tahun itu, semalam justru hanyut dalam gelombang panas.

Semalam, Megha datang ke hotel karena urusan pekerjaan. Namun, saat di koridor lantai dua puluh, dia melihat Bima sedang berjalan terhuyung. Bima, suami yang bahkan tak pernah menemuinya setelah hari pernikahan. Niat hati ingin membantu, justru dia ditarik ke atas ranjang.

Kini, Bima masih tertidur pulas sambil memeluknya, dan Megha memberanikan diri menatap wajah tegas suaminya itu dalam jarak dekat. Jarinya terulur ragu, mengusap pelan rahang tegas suaminya.

Meski dalam kondisi terlelap, tapi kesan dominan dan aura dingin pria itu tetap terpancar kuat. Dan selama pernikahan, baru kali ini Megha bisa menyentuh suaminya.

‘Apa kamu akan mengenaliku? Tapi, bagaimana caramu mengenaliku?’ batin Megha getir. Selama pernikahan, Bima tak pernah menganggapnya, apalagi bertatap muka langsung.

“Hmmmm ….”Masih dengan mata terpejam, Bima malah memajukan wajahnya pada ceruk leher Megha, membenamkan di sana lalu menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu. Pelukannya di pinggang Megha makin mengencang, seolah enggan melepaskan rengkuhannya. Perlakuan yang terkesan posesif dan manis itu membuat dada Megha berdesir hebat.

Ponsel Bima berdering. Pria itu terusik, tapi enggan membuka matanya.

Bima melengguh. Rengkuhan tangannya mengendur, lalu jemarinya meraba-raba sprei dengan mata masih terpejam.

Megha yang melihat itu, merayap sedikit dan mengambil ponsel itu, lalu menyodorkannya ke telapak tangan suaminya.

Bima masih setengah sadar, menerima begitu saja ponsel itu, langsung menggeser tombol di layar tanpa melihat siapa yang menelepon, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

“Halo, Pak Bima? Maaf mengganggu pagi-pagi.” Dilan, asistennya yang telepon. “Pengacara kita baru saja hubungi saya. Katanya istri Anda minta bertemu untuk membicarakan beberapa hal.”

Megha mendengar sangat jelas suara di balik telepon. Dadanya berdenyut, dia diam menunggu seperti apa respon suaminya.

Mendengar kata ‘istri’, raut wajah Bima seketika mengeras. Dan membuang napasnya malas.

“Ck! Pagi buta begini, kamu menggangguku hanya untuk wanita yang nggak penting itu? Katakan padanya aku tidak sudi bertemu. Kasih saja berapapun uang yang wanita itu minta supaya dia diam dan tidak mengganggu hidupku! Kenapa hal sampah seperti itu harus ditanyakan padaku? Sudah tahu yang dia inginkan cuma uang, kenapa tanya lagi?!” bentak Bima.

Bima langsung mematikan sambungan telepon itu, lalu melempar asal ponselnya.

Lalu, pria itu kembali terlelap sambil menggapai Megha, memeluk asal. “Diam di sini, Kelinci manis.”

Megha membeku dengan mata berkaca-kaca, dadanya bergetar nyeri. Kalimat kejam yang keluar langsung dari mulut suaminya membuat hatinya hancur berkeping. Megha menahan napas, berusaha keras menyembunyikan getaran di bibirnya. Jelas sudah, bagi Bima, dirinya memang tidak lebih dari sekadar wanita parasit yang cuma mengincar hartanya.

Dengan perasaan hancur yang ditahannya, Megha bergeser, melepas pelan rengkuhan tangan Bima, agar tidak membangunkannya. Dia tidak sanggup lagi berada di sana.

Sangat pas. Ponsel Megha yang dia silent layarnya menyala, dan itu panggilan masuk.

Lalu wanita itu merayap turun dari ranjang. Memungut ponsel itu dan menggeser tombol hijau di layar.

“Mbak Megha! Pak Hendra mengalami serangan jantung mendadak! Kondisinya kritis dan harus segera dipindahkan ke ICU!” Suara perawat dari seberang telepon terdengar panik.

Jantung Megha seolah berhenti berdetak seketika. “Ayah?” Padahal, kondisinya kemarin sudah membaik.

Megha mengabaikan rasa nyeri di seluruh tubuhnya. Tanpa pikir panjang, dia memungut pakaian yang berceceran di lantai, mengenakannya secepat mungkin dengan napas memburu.

Saat tangannya memegang handle pintu, Megha menahan langkahnya sejenak. Dia menoleh, menatap Bima yang masih terlelap.

Di rumah sakit.

Megha berlari terburu-buru ke ruang ICU, saat tiba di depan ruangan itu, sudah ada Sofie–ibu tiri dan Devika–adik tirinya yang duduk sangat santai. Tidak ada sedikit pun wajah cemas, pucat, atau lelah di wajah kedua wanita itu. Riasan mereka masih tertata rapi.

Sofie menoleh menatap kedatangan Megha, dia mendesis sinis. “Menangis seperti itu tidak akan membuat uang jatuh dari langit, Megha! Air matamu itu tidak akan berubah jadi berlian yang bisa dijual untuk bayar tagihan medis di dalam sana!” bentaknya.

Tangan Megha mengepal kuat di samping. Sorot matanya tajam pada wanita paruh baya di hadapannya.

Devika menyunggingkan senyum sinis malas. “Daripada buang-buang air mata nggak berguna begitu, mending kamu telepon pengacara suamimu sekarang. Minta duit yang banyak!”

Darah Megha mendidih. Dia melangkah maju, memangkas jarak pada keduanya, hingga Devika reflek menarik sedikit kepalanya ke belakang, karena sangat dekat.

“Kenapa kondisi Ayah tiba-tiba drop separah ini? Apa yang kalian lakukan saat aku nggak ada?” pekik Megha dengan suara menekan.

Sofie membelalak tak terima. Dia menunjuk dada Megha dengan jari yang terhias cat kuku merah menyala. “Harusnya kamu beruntung dan bilang terima kasih karena kami masih mau menampung dan menjaga ayahmu yang sudah tidak berguna dan cuma bisa berbaring itu! Ingat, rumah dan semua aset itu sudah jadi atas namaku, dan kalian itu cuman numpang!”

“Benar,” timpal Devika dengan helaan napas remeh, lalu memutar bolanya malas. “Sudah bagus Mama tidak menendang pak tua itu ke panti jompo. Tiap hari cuma bikin repot dan menghabiskan uang saja.”

“Tidak berguna?” Megha tertawa getir. “Bukankah Ayah sudah berhasil kalian manfaatkan dan kalian gerogoti semua hartanya?”

Wajah Sofie memerah padam akibat cemoohan itu. “Kurang ajar kamu!”

Tangan Sofie terangkat tinggi untuk menampar wajah Megha, tapi Megha cengkeram pergelangan tangan wanita itu lalu mendorongnya ke samping hingga Sofie sedikit terhuyung.

“Minggir!” sentak Megha lalu berbalik dan langsung melangkah masuk.

Devika yang melihat ibunya didorong meradang dan hendak mengejar Megha. “Heh, Kamu!”

“Tahan, Devika. Biarkan saja.” Sofie menahan tangan Devika.

Devika mengerutkan masih kesal. “Kenapa, Ma?”

Sofie menyenggol bahu putrinya pelan. “Kalau pak tua di dalam sana mati, kita akan dapat asuransi jiwa yang jumlahnya besar sekali. Biarkan saja wanita itu menangisinya di saat-saat terakhir, jangan ganggu dia.”

Mata Devika seketika melebar. Bibirnya tersenyum lebar dan puas. “Benar juga. Dan sebentar lagi kontrak pernikahan Kak Megha dengan Bima Mavendra selesai, kan? Mama tahu artinya?”

Sofie menaikkan dua alisnya.

“Akan ada uang kompensasi perceraian yang nilainya fantastis dari keluarga Mavendra,” sambung Devika dengan mata binar.

Sofie tertawa kecil, melirik pintu ICU. “Kita akan makin kaya. Mama akan datang pada pengacaranya Bima sebagai walinya Megha.”

Di dalam ruang ICU.

Megha terduduk lemas di kursi samping ranjang rumah sakit. Dua tangannya merengkuh erat telapak tangan sang ayah. Lalu, Megha menempelkan tangan renta itu ke pipinya.

“Ayah, maafkan Megha,” bisiknya.

“Maaf Megha yang sudah meninggalkan Ayah terlalu lama semalam.”

Megha memejamkan mata sebentar.

“Semalam Megha ketemu Bima, Yah.” Megha terkekeh getir di tengah deras air matanya, lalu mengusap pelan punggung tangan ayahnya.

“Lucu ya? Hampir dua tahun kita nikah, baru semalam Megha bisa lihat wajahnya dari dekat. Tapi Megha nggak tahu apa dia mengenali Megha atau tidak. Dia tampan sekali, Ayah, tapi jahat.”

Napas Megha tersengal, dadanya terasa sesak.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Rebyu

Trinagi
Trinagi
bagus ceritanyaa. gak sabar nunggu kelanjutan
2026-08-13 21:06:40
1
0
5 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status