LOGINLusiana dan Rudi menyambut kedatangan Letkol Pasha bersama Yudha dan Rian. Meski tidak menyukai ajudan putranya, tapi Lusiana harus tetap menjaga sikap di depan atasan Yudha. Satu-satunya yang terlihat bahagia malam ini adalah Kayla. Gadis itu bahkan sibuk memilih pakaian untuk ia kenakan malam ini. Ia tidak ingin terlihat buruk di depan Rian. "Kak, bedak aku nggak ketebalan, 'kan?" bisik Kayla pada Arbian yang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. "Tidak, tapi sepertinya lipstik kamu yang ketebalan," jawab Arbian. Kayla lekas berbalik dan meraih tisu untuk mengusap bibirnya. Sampai ia sadar jika ia tidak pakai lipstik, melainkan hanya lipbalm. Arbian mengulum senyum melihat adiknya mendengus kesal. Di ruang tamu, Rudi, Lusiana dan tiga pria militer itu duduk bercengkrama. Arbian bergabung bersama mereka. Seperti biasa, laki-laki berlatar belakang pengusaha itu, bisa menyesuaikan diri dengan mudah bersama siapapun yang ditemuinya. "Sepertinya makan malamnya sudah siap," ucap Ru
"Bukap tidak berada di tangan si Codet," ucap Rian nyaris berbisik."Bagaimana kau bisa seya-" Yudha kembali terdiam. Sorot mata Rian menegaskan jika laki-laki itu yakin dengan ucapannya. Yudha beranjak mendekati Rian. Mencoba mencari sedikit kebohongan yang mungkin saja hanya kata hiburan dari Rian agar dirinya tenang. Rian mengangguk dan berbisik, "Tiga hari lalu, saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri.""Di di mana? Rian!" Yudha mengguncang bahu Rian. Terlihat memaksa sekaligus merengek."Abang tenang dulu, baru aku cerita. Abang juga harus janji untuk tetap bersikap tenang. Sama seperti sebelumnya, jangan biarkan orang lain tahu kalau ... Abang sebenarnya tidak mengetahui keberadaan istri Abang," pinta Rian.Yudha mengepalkan tangannya nyaris menonjok wajah Rian. "Benarkah? Bukan kau yang pura-pura menyembunyikannya?" Tersirat keraguan dari bisikan Yudha. Rian cukup mengerti akan reaksi Yudha itu. Wajar jika Yudha mengira dirinya yang menyembunyikan Tari. "Apa dia ada
Yudha kembali ke rumah dinasnya dengan perasaan yang kacau balau. Separuh kewarasannya terbelenggu bersama surat gugatan yang masih ia genggam. Tanpa menunda waktu, Yudha lekas menghubungi orang suruhannya. Ia tidak bebas keluar masuk batalyon saat kakinya terpasung oleh aturan. Karena surat teror itu, ia dilarang keluar dari batalyon seorang diri. Akan tetapi, balasan yang sama kembali masuk ke dalam ponselnya. Orang suruhannya kembali kehilangan jejak karena kendaraan yang ditumpanginya terjebak lampu lalu lintas, sementara kendaraan yang ditumpanginya Tari sudah melaju lebih dulu."Sial! Kenapa selalu saja gagal? Apa ini pertanda kalau kami akan benar-benar berpisah?" batin Yudha menggeleng. Menolak untuk mengakui hal yang menghantui pikirannya sendiri.Yudha beralih menghubungi Arbian dan menanyakan hal yang sama untuk kesekian kalinya. Namun, lagi-lagi Arbian memberikan jawaban yang sama. Ia juga belum menemukan keberadaan Tari."Aku harus bilang apa malam nanti?" batin Yudha m
Adegan demi adegan dalam film yang ditonton Tari membuat wanita itu hanyut dalam cerita yang disuguhkan. Tokoh wanitanya begitu kuat dan tidak mudah terhasut. Sesekali Tari mengangguk dan memuji tindakannya.Menjelang akhir, adegan beralih di mana tokoh pria mengetuk pintu rumah sang tokoh wanita, Tari tersenyum. Dua tokoh yang saling jatuh cinta itu saling bertatapan dan sang wanita mempersilahkan kekasihnya masuk.Tadinya Tari membayangkan jika mereka akan berpelukan. Akan tetapi, tokoh pria malah diam dan mengusap pipi tokoh wanita dan meminta maaf. Sang wanita tersipu dan memaafkannya begitu saja. Tari cemberut karena tidak seperti ini yang terlintas dalam ekspetasinya. Minimal tokoh wanita marah dan akan dibujuk oleh kekasihnya sambil memohon-mohon. "Nggak seru ba-" Tari terdiam melihat tokoh pria menunduk dan mencium wanitanya. Pria itu mengutarakan janji-janji yang mungkin membuat kaum hawa manapun akan jatuh cinta. Film berakhir dengan happy ending.Tiba-tiba Tari teringat d
"Lapor, Komandan! Ada paket atas nama Kapten Yudha dan Mayor Ammar. Paketnya sudah dipindai dengan X-ray. Paket Mayor Ammar ini berbahan kain dan kertas. Kalau paket Kapten Yudha terdeteksi kertas dan juga logam. Dari bentuknya seperti ponsel," ucap salah satu personil yang membawa dua jenis paket berbeda. Bagian pos penjagaan memang sudah menerima arahan. Semua paket atas nama Mayor Ammar dan Kapten Yudha akan diperiksa langsung oleh sang atasan. Pria itu tidak ingin bawahannya bertindak gegabah. "Letakkan di sana!" perintahnya setelah menandatangani berkas. Tok tok tok! Letkol Pasha menoleh dan melihat Letkol Gatot bergegas menghampirinya. Kedua pria itu mengamati bungkusan paket dan kertas laporan dari pos penjagaan. Tak lama kemudian, Mayor Ammar juga datang. Pria itu mengkonfirmasi kalau ia sama sekali tidak memesan barang di toko online manapun. Begitu juga dengan istrinya. Karena itulah mereka menduga mungkin saja itu adalah paket teror. "Di mana Kapten Yudha?" tanya Le
Ditinggal sendirian di rumah membuat Lusiana merasakan kembali diabaikan. Pagi-pagi suaminya sudah berangkat bersama Kamil. Pria itu bahkan sangat bersemangat menjemput suaminya untuk bermain golf bersama rekan bisnis. Suaminya sama sekali tidak berinisiatif mengajaknya. Kamil juga datang sendiri tanpa membawa istri ataupun sekretarisnya. Sementara Kayla berangkat ke kantor bersama Arbian. Putrinya bahkan menolak sarapan bersama. Kayla memang menjaga jarak dengannya sejak ia mengungkapkan niat untuk menjodohkan putrinya dengan salah satu putra sahabatnya. Tawaran perjodohan itu disambut baik Lusiana. Sahabatnya mengaku jika putranya menaruh hati pada Kayla saat melihat Kayla di resepsi pernikahan Yudha. Jika keduanya merasa cocok, maka mereka bisa jadi besan. "Kayla itu bagaimana sih? Yang naksir dia itu pengacara terkenal. Kenapa dia nolak mentah-mentah sebelum ketemuan? Padahal, kalau punya menantu seorang pengacara terkenal kan, aku bisa pamer sama seperti yang lain," batin Lus







