LOGINMita melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga, setibanya di lantai tiga ia disambut dengan pemandangan yang tak wajar.
Bagaimana tidak! Di sana ia melihat Alex duduk di atas sofa bersama 3 wanita cantik. Mereka terlihat menempel pada dada Alex yang bertelanjang dada. Pria kejam itu sama sekali tidak mengenakan baju, ia hanya memakai celana formal berwarna hitam.
Mita seketika bergidik karena jijik. Selain kejam, Alex juga pemburu wanita, ia bahkan memakai 3 wanita sekaligus.
Sementara Alex hanya diam, ditatapnya Mita dengan tatapan licik. Ia sama sekali tidak terganggu dengan kedatangan Mita, justru para wanita itu yang merasa terusik. Ketiganya menatap Mita dengan tatapan sinis, raut wajahnya menunjukkan rasa tidak suka.
Mita memalingkan wajah dan kembali melanjutkan langkahnya. Ia sengaja menjelajahi bagunan tinggi itu, mencari celah agar bisa kabur dari sana.
"Oh iya, apa rumah ini hanya memiliki dua tangga saja? Maksudku, aku ingin ke taman belakang, apa tidak ada tangga menuju ke sana?" Mita meralat pertanyaannya.
"Ada Nona, tapi kita tidak bisa menggunakannya tanpa izin dari Tuan," jawab salah seorang pengawal.
"Kenapa?" Mita semakin penasaran dan ingin tahu.
"Tangga itu hanya digunakan saat darurat Nona."
"Oh begitu, baiklah." Mita mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya menuju balkon.
Mita berdiri disisi balkon, ia membentangkan kedua tangan sambil memejamkan mata. Menikmati hembusan angin dari arah hutan lindung yang berada di belakang mansion itu.
"Ya Tuhan, beri aku jalan untuk ke luar dari neraka ini," bisik dalam hati Mita.
"Apa kamu sedang merindukan seseorang?"
Pertanyaan itu terdengar jelas di telinga Mita, ia refleks membuka mata dan memutar kepala.
"Itu bukan urusanmu," ucap Mita dengan ketus. Wajahnya kesal dengan tatapan marah.
Mita mendorong dada Alex agar menjauh darinya, namun pria bertubuh tinggi itu justru menyandarkan kedua telapak tangannya di pagar balkon. Mengunci Mita ditengah-tengah kedua lingkaran tangannya.
Alex menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Mita, "Besok kita akan menikah."
Mata Mita membelalak, jantungnya seketika memompa tak beraturan. Jangankan untuk menikah dengan Alex, melihatnya saja sudah membuat darah Mita mendidih.
Sampai kapanpun Mita tidak akan sudi menjadi istri seorang pembunuh. Dosa yang dilakukan Alex sudah di luar akal manusia.
"Aku tidak mau, sampai kapanpun aku tidak akan menikah dengan iblis sepertimu," tolak Mita dengan nada lantang.
"Kamu menolak?" tanya Alex sambil tersenyum mengejek.
"Iya, karena di surat perjanjian tidak ada tertulis tentang pernikahan. Jadi aku berhak untuk menolak." Nada Mita semakin meninggi.
Ia menantang Alex dengan membalas tatapan pria tampan itu. Mita sama sekali tidak takut, ia pasrah dengan apa yang akan terjadi.
"Tidak satupun yang berani menolak seorang Alex Branson, salah satunya kamu," ucap Alex dengan nada berbisik.
Seketika bulu kuduk Mita berdiri, hembusan napas pria kejam itu menembus telinga hingga ke dada.
"Aku tidak mau menikah denganmu Tuan Alex Branson. Laki-laki sepertimu tidak layak menjadi suamiku, selain kamu berdarah dingin! Kamu juga penjajah intim. Aku tidak mungkin menikah dengan pria kotor sepertimu."
Alex sudah 37 tahun hidup di dunia ini, Mita lah wanita yang pertama menghinanya.
Alex mencengkram lengan Mita, menariknya lalu membawanya ke kamar. Dengan kasar ia melemparkan Mita ke atas tempat tidur dan menindihnya.
Mita tercengang, napasnya menggebu tak beraturan, yang membuat dadanya naik turun. Ia berusaha berontak, tetapi Alex menahan kedua tangannya, menekannya ke tempat tidur.
"Lepaskan aku," teriak Mita sekuat tenaga.
Alex bukannya melepaskan, ia justru menempelkan bibirnya ke bibir Mita. Melumatnya dengan kasar dan menggigitnya, hingga membuat bibir Mita sedikit luka dan berdarah.
"Cuih....." Mita menyebur wajah tampan Alex dengan saliva.
Emosi Alex pun memuncak, tangannya langsung menarik leher kemeja Mita, merobeknya hingga menunjukkan dada mulus wanita cantik itu.
Tanpa bicara, Alex mencumbu leher Mita dengan rakus. Ia tidak peduli dengan tangisan dan jeritan wanita malang itu.
"Tok...tok...."
Suara ketukan pintu membuat Alex menghentikan aksinya. Ia bangkit dari atas tubuh Mita, melangkah untuk membuka pintu.
"Maaf Tuan, ada yang ingin bertemu dengan Tuan," ucap Nathan yang berdiri di depan pintu.
"Hum, suruh dia menunggu. Satu lagi, minta Bi Hanna segera ke mari," perintah Alex yang langsung menutup pintu.
Ia kembali menghampiri Mita, wanita cantik itu meringkuk di atas tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut. Walaupun tubuhnya gemetar tetapi wajah dan sorot matanya menantang.
"Besok kita akan menikah, dan kamu harus melayani pria kotor ini, jadi siapkan tenagamu."
Setelah mengatakan itu, Alex langsung pergi. Ia menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara, yang membuat Mita terkejut dan takut.
Tidak lama kemudian, Hanna pun muncul dari balik pintu. Ia membawa sesuatu di tangannya.
"Apa Nona menyinggung perasaan Tuan?" tanya Hanna sambil mendaratkan bokongnya di sisi tempat tidur.
Hanna sudah mengenal Alex seperti apa, Tuannya itu tidak akan bersikap kasar pada wanita, jika tidak menyinggung perasaannya.
"Aku menolak menikah dengannya," sahut Mita yang masih berlinang air mata.
"Hanya wanita bodoh dan gila yang bersedia menjadi istrinya," lanjut Mita.
Hanna terdiam sesaat, "Tuan ingin menikahi Nona."
Hanna bertanya untuk memperjelas, Tuannya itu tidak pernah berniat untuk menikah, karena ia tidak percaya dengan pernikahan. Itu sebabnya ia mengadopsi seorang anak dari panti asuhan.
Apakah Alex benar-benar ingin menikahi Mita? Atau karena ada sesuatu? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Hanna.
"Iya, tapi aku tidak akan pernah menikah dengan iblis itu." Mita menolak keras.
Hanna menarik napas, ia bingung harus berkata apa. Mendukung Mita sama saja melompat ke jurang, sedangkan membujuk Mita sungguh hal yang tak mungkin. Hanna sudah puluhan tahun bekerja di sana, jadi ia sudah mengenal Alex seperti apa.
"Sebaiknya Non pikirkan lagi, Bibi tidak mendukung dan tidak melarang. Semua keputusan ada di tangan Non Mita." Hanya itu yang terucap dari mulut Hanna.
"Sekarang Non ganti baju. Bibi ingin mengajak Non keliling taman," lanjut Hanna membujuk Mita.
Semoga saja dengan membawa Mita ke taman bisa mengurangi kesedihan wanita malang itu.
Sebelum pergi, Hanna terlebih dahulu meminta izin kepada Alex. Ia tidak berani bertindak sendiri, karena hal itu akan merugikan Mita, sebab Alex pasti memarahinya dan menghukumnya.
Keduanya berkeliling taman didampingi oleh dua pengawal. Mita benar-benar diperlakukan seperti nara pidana, ke mana ia melangkah akan selalu diikuti.
"Iya Tuan," ucap Hanna setelah membuka pintu. Alex diam, ditatapnya Hanna yang terlihat gugup. "Apa Tuan butuh sesuatu?" Hanna kembali membuka mulut. "Di mana Mita?" Jawab Alex dengan balik bertanya. Hanna semakin gugup, "Aku tidak tahu Tuan, bukannya Nyonya di kamar Tuan?"Jelas Hanna berpura-pura, ia pun hanya bisa mematung saat Alex melewatinya di pintu. Pria bertubuh tinggi itu masuk ke dalam kamar, matanya berputar menyapu setiap sudut dari ruangan itu dan berhenti tepat di lemari. Alex melangkah, tangannya bergerak untuk membuka pintu lemari. Dan benar saja, Mita ada di sana. Tanpa bicara Alex langsung menarik tangannya dengan kasar. "Lepaskan aku." Mita berontak saat Alex menyeretnya ke luar dari kamar."Bi tolong aku," lanjutnya.Bagaimana Hanna bisa menolongnya! Wanita paruh baya itupun sudah ketakutan dan hampir pingsan. Alex pasti melemparkannya ke penangkaran buaya, siapapun yang melanggar peraturan! Pasti akan mendapat hukuman, dan hal itupun berlaku untuk Mita. "
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, saat ini benda bulat yang terletak di atas meja kecil, sudah menunjukkan angka sebelas. Mita yang sejak tadi resah, seketika bernapas lega saat Hanna menyampaikan pesan dari Tuannya Alex. Ia meminta Mita untuk istirahat, karena malam ini Alex ada urusan dan tidak pulang ke kediaman Branson. "Baguslah, semoga dia tidak pernah kembali lagi," ucap Mita dengan lembut dan nyaris tak terdengar. "Kalau begitu, saya permisi dulu Nyonya." Pamit Hanna yang langsung Pergi. Mita pun menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Kaki mungilnya melangkah menuju balkon, namun matanya tak sengaja melihat segerombolan orang di bawah sana.Mita menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatannya, pria bertubuh tinggi itu benar-benar Alex bersama ajudannya. "Bukannya iblis itu sedang ada urusan dan tidak pulang? Kenapa dia ada di sana?" bisik dalam hati Mita.Seketika jiwa penasarannya tumbuh, ia memperhatikan Alex melangkah menuju pintu samping mansion itu, Mit
Dengan terpaksa Mita memakai gaun pengantinnya, ia tidak punya pilihan selain menuruti semua kemauan Alex. Pria kejam itu benar-benar licik dan berkuasa, ia memperalat Roy untuk menekan Mita. "Non Mita sangat cantik," puji Hanna, ditatapnya dari pantulan kaca sambil tersenyum. "Percuma saja Bi." Mita tersenyum getir. Keduanya pun ke luar dari kamar, Hanna menuntun Mita masuk ke dalam mobil. Meninggalkan kediaman Branson menuju tempat pernikahan. Setibanya di parkiran, Mita mengusap air mata dari kedua pipinya. Menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan lembut."Ayo Nona," ajak Hanna yang sudah membuka pintu mobil. Keduanya melangkah menuju pintu gereja, dari sana Mita sudah melihat Alex berdiri di altar. Pria kejam itu terlihat rapi, ia mengenakan jas hitam senada dengan celanyan. Sepatu kulit dengan harga fantastis terpasang rapi di kakinya.Dengan perasaan hancur, Mita melangkah menghampiri Alex. Senyuman tak sedikitpun terlihat di wajahnya, bahkan sorot matanya menunju
"Apa Bibi sudah lama bekerja di sini?" tanya Mita."Sudah 20 tahun Non, sejak umur Tuan 17 tahun," jawab Hanna dengan jujur. "Oh ya? Bibi hebat, bisa beradaptasi dengan iblis." Kebencian Mita sudah menjalar hingga ke ubun-ubun. Hanna hanya tersenyum, ia tidak berani merespon ucapan Mita. Lagipula selama ini Alex tidak pernah bersikap kasar padanya, Tuannya itu selalu baik."Oh iya Bi, apa itu toilet?" tanya Mita tiba-tiba. Matanya tak sengaja tertuju pada sebuah bagunan kecil, yang berada di ujung taman."Iya Non." Seiring dengan anggukan kepala. "Aku ke toilet dulu Bi, perutku sedikit tidak enak," ucap Mita yang langsung bergegas menuju toilet. Sambil menunggu Mita, Hanna dan kedua pengawal duduk di gazebo yang ada di taman. Mereka tak sedikitpun merasa curiga. "Kenapa lama ya? Apa dia....," ucap salah satu pengawal. Hanna tercengang, matanya melotot, otaknya seketika memikirkan hal negatif. Wanita malang itu pasti mencoba untuk kabur, karena di belakang toilet ada tangga besi
Mita melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga, setibanya di lantai tiga ia disambut dengan pemandangan yang tak wajar.Bagaimana tidak! Di sana ia melihat Alex duduk di atas sofa bersama 3 wanita cantik. Mereka terlihat menempel pada dada Alex yang bertelanjang dada. Pria kejam itu sama sekali tidak mengenakan baju, ia hanya memakai celana formal berwarna hitam.Mita seketika bergidik karena jijik. Selain kejam, Alex juga pemburu wanita, ia bahkan memakai 3 wanita sekaligus. Sementara Alex hanya diam, ditatapnya Mita dengan tatapan licik. Ia sama sekali tidak terganggu dengan kedatangan Mita, justru para wanita itu yang merasa terusik. Ketiganya menatap Mita dengan tatapan sinis, raut wajahnya menunjukkan rasa tidak suka.Mita memalingkan wajah dan kembali melanjutkan langkahnya. Ia sengaja menjelajahi bagunan tinggi itu, mencari celah agar bisa kabur dari sana."Oh iya, apa rumah ini hanya memiliki dua tangga saja? Maksudku, aku ingin ke taman belakang, apa tidak ada tangga menuju
Informasi yang disampaikan oleh ajudannya begitu menarik. Pantas saja Mita menantangnya, ternyata dia calon menantu pria yang ia tembak. Alex meraih ponsel dari atas meja lalu menghubungi Nathan, memintanya agar segera membawa Mita ke ruang kerjanya. Tetapi wanita malang itu menolak, bahkan menggigit tangan Nathan. Akhirnya Alex kembali menghampiri Mita, "Aku akan memberimu 2 pilihan. Yang pertama, kamu bisa ke luar dari rumah ini dan hidup bebas, tapi kamu akan kehilangan Pamam, Bibi dan adikmu Naurah. Yang kedua, tetap tinggal di rumah ini dan mematuhi perintahku, dengan jaminan! Mereka akan hidup bahagia.""Aku tidak akan pernah memilihnya," bantah Mita dengan tegas.Alex tersenyum seribu arti, ia menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Mita, "Pikirkan baik-baik, aku beri waktu 1 kali 24 jam."Mita menarik napas dalam-dalam sambil menutup mata, Tuhan benar-benar tidak adil baginya. Sejak kecil ia sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, setelah dewasa ia menemukan pria yang t







