Masuk"Apa Bibi sudah lama bekerja di sini?" tanya Mita.
"Sudah 20 tahun Non, sejak umur Tuan 17 tahun," jawab Hanna dengan jujur.
"Oh ya? Bibi hebat, bisa beradaptasi dengan iblis." Kebencian Mita sudah menjalar hingga ke ubun-ubun.
Hanna hanya tersenyum, ia tidak berani merespon ucapan Mita. Lagipula selama ini Alex tidak pernah bersikap kasar padanya, Tuannya itu selalu baik.
"Oh iya Bi, apa itu toilet?" tanya Mita tiba-tiba.
Matanya tak sengaja tertuju pada sebuah bagunan kecil, yang berada di ujung taman.
"Iya Non." Seiring dengan anggukan kepala.
"Aku ke toilet dulu Bi, perutku sedikit tidak enak," ucap Mita yang langsung bergegas menuju toilet.
Sambil menunggu Mita, Hanna dan kedua pengawal duduk di gazebo yang ada di taman. Mereka tak sedikitpun merasa curiga.
"Kenapa lama ya? Apa dia....," ucap salah satu pengawal.
Hanna tercengang, matanya melotot, otaknya seketika memikirkan hal negatif. Wanita malang itu pasti mencoba untuk kabur, karena di belakang toilet ada tangga besi.
Jika hal itu sampai terjadi, saat ini Mita pasti sudah tidak bernyawa, bahkan hanya tinggal belulang. Karena di balik tembok itu penangkaran buaya.
Ketiganya berlari menuju toilet, setibanya di sana mereka terkejut melihat kondisi Mita. Wanita cantik itu tergantung di tembok, dengan posisi kepala ke bawah dan kaki ke atas.
Bagaimana tidak? Mita mencoba kabur melalui tangga kecil itu. Setibanya di atas, Mita terkejut melihat puluhan buaya ada di bawah sana. Tubuhnya seketika gemetar, ia bergegas untuk turun namun kakinya salah menginjak tangga, yang membuatnya hampir jatuh.
Untung saja pinggang celanyan tersangkut di ujung tangga besi. Jika tidak! Entah seperti apa nasib Mita saat ini.
"Ya ampun Nona," keluh Hanna dengan wajah khawatir.
"Bi tolong aku," mohon Mita. Wajahnya terlihat merah kebiruan.
Hanna dan kedua pengawal baru saja akan membantu Mita, tetapi Alex tiba-tiba muncul.
"Biarkan saja," ucap Alex melarang Hanna dan pengawal.
"Tapi Tuan...." Hanna tidak tega, ia kasihan melihat Mita.
Tetapi Alex menatapnya dengan tajam, yang membuat Hanna berhenti bicara dan tidak berani berbuat apa-apa.
Pria kejam itu hanya berdiri dengan posisi kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, sambil menatap Mita dengan tatapan dingin.Ia mendekat setelah Mita terlihat lemah, "Pakai otakmu sebelum bertindak."
"Bukannya anda yang harus pakai otak?" tantang Mita dengan bertanya.
Alex tersenyum getir, "Jadilah santapan buaya, mereka sedang lapar dan butuh makanan."
Setelah mengatakan itu, Alex langsung memutar tubuh berniat untuk pergi. Saat itu juga celana Mita terlepas, yang membuatnya terjatuh ke tanah.
"Owh...." Mita merintih, ia menyentuh lengannya yang sakit akibat terhimpit oleh tubuhnya sendiri.
Alex tersenyum sambil melanjutkan langkahnya, ia tak sedikitpun menoleh untuk melihat atau membantu Mita.
"Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup," ucap dalam hati Alex.
Sementara Hanna langsung menghampiri Mita, membantunya bangkit lalu menuntunnya hingga ke kamar. Ia mengompres lengan Mita yang sedikit bengkak akibat terkilir.
"Aow, pelan Bi," keluh Mita. Ia meringis kesakitan.
Jika ia tahu di sana ada penangkaran buaya! Mita tidak akan berusaha lari. Ia terlalu ceroboh, sebelum bertindak seharusnya ia menguasai lokasinya terlebih dahulu.
Setelah Hanna pergi, Mita membaringkan tubuhnya. Ia baru saja menutup mata, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita.
"Apa kamu sedang istirahat?"
Mita refleks membuka mata, ia memutar kepala ke arah datangnya suara. Di bibir pintu terlihat seorang wanita cantik, ia tersenyum sambil melangkah ke arah Mita.
"Kamu terluka?" tanya wanita itu sambil mendaratkan bokongnya di sisi tempat tidur.
"Oh iya, saya Felicia, panggil saja Felic," lanjutnya sambil menyodorkan tangan.
"Mita," sambil menjabat tangan Felic.
"Aku dengar kamu akan menikah dengan Alex, benarkah itu?" tanya Felic.
Nadanya terdengar lembut, namun ekspresi wajah dan sorot matanya menunjukkan rasa tidak suka.
Kehadiran Mita benar-benar mengganggu kenyamanan Felicia. Ia sudah lama menjadi wanita simpanan Alex, tetapi pria tampan itu tak sedikitpun berniat untuk menjadikannya istri.
Felicia sudah beberapa kali mengajak Alex untuk menikah dan bersedia melahirkan pewaris untuknya, tetapi Alex selalu menolak. Pria itu justru memilih mengadopsi anak dari panti asuhan.
Sekarang Alex tiba-tiba ingin menikah dengan Mita, wanita yang baru beberapa hari ia kenal. Hal ini tidak adil bagi Felicia, seharusnya dialah yang menikah dengan Alex.
"Aku tidak akan menikah dengan manusia iblis. Jika kamu menyukainya, silahkan ambil."
Felicia terkejut mendengar ucapan Mita, wanita cantik yang ada di hadapannya ternyata menolak Alex. Benar-benar hal yang langkah, selama ini wanita lah yang berlomba-lomba mengambil hati Alex.
"Benarkah? Jika ucapanmu itu benar! Kenapa kamu masih tinggal di rumah ini? Mita, Mita, kamu tidak usah berbohong. Jujur saja kalau kamu ingin menjadi Nyonya Branson, iya kan?" Felicia mencengkram lengan Mita yang sakit dengan kasar.
"Lepaskan." Mita meringis sambil menepis tangan Felic.
"Kamu tidak pantas bersaing denganku Mita, segeralah mundur sebelum aku bertindak," ancam Felicia. Ia bangkit dari sisi tempat tidur lalu pergi.
Sementara Mita hanya diam sambil menatap punggung Felicia yang semakin jauh dan menghilang di balik pintu.
Felicia terlalu percaya diri, Mita sama sekali tidak ingin bersaing dengannya. Justru Mita dengan senang hati memberikan Alex untuknya. Mereka memang cocok, keduanya memiliki sifat yang sama.
***** Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, saat ini benda bulat itu baru menujuk angkat 5, tapi seseorang sudah mengetuk pintu kamar Mita, yang membuatnya harus membuka mata.Ia bangkit dari tempat tidur, bergegas untuk membuka pintu.
"Bi Hanna," ucap Mita sambil menatap gaun yang dipegang oleh Hanna.
"Maaf Non, Tuan meminta Non Mita untuk memakai gaun ini." Hanna menyodorkan gaun kepada Mita.
Mita terdiam sesaat, lalu membuka mulut, "Gaun? Untuk apa aku memakainya?"
"Hari ini Non Mita dan Tuan akan menikah."Mita menarik napas, wajahnya terlihat marah. Ternyata Alex benar-benar ingin menikahinya, entah apa rencana pria itu.
"Bi, katakan padanya, aku tidak akan pernah menikah dengannya," tegas Mita.
"Benarkah?" Suara Alex terdengar dari arah punggung Hanna.
Mita menatapnya tajam, menunjukkan rasa benci kepada Alex. Seumur hidup, ia tidak pernah bermimpi bertemu dengan manusia iblis seperti Alex.
"Apa kamu masih berharap dengan Roy?"
Pertanyaan Alex mengingatkan Mita, bahwa hari ini adalah hari pernikahannya dengan Roy. Seharusnya saat ini Mita sudah memakai gaun yang dipilihkan Roy untuknya.
Dua bulan yang lalu mereka sudah melakukan fitting baju pengantin, di salah satu studio Desainer ternama. Hari ini seharusnya momen paling bahagia dalam hidup Mita, tetapi semuanya hancur karena ulah Alex.
"Hum, apa kamu menunggunya?" Alex kembali bertanya karena tidak ada jawaban dari Mita.
"Iya, aku menunggunya, aku ingin menikah dengannya. Bukan dengan iblis sepertimu."
Alex tersenyum, tangannya mencengkram kedua pipi Mita. Mendekatkan wajahnya ke wajah wanita malang itu.
"Kamu tidak akan pernah menikah dengannya, ingat itu." Alex melepaskan wajah Mita dengan kasar.
Entah dari mana pria itu mengenal Roy dan mengetahui tentang hubungan mereka. Bahkan ia tahu hari ini adalah pernikahannya dengan Roy. Mungkinkah Alex dan Roy ada masalah? Itu sebanyak Alex membunuh Baskoro ayah kandung Roy? Bisik dalam batin Mita.
Tapi ia sangat mengenal keluarga Roy, selama ini mereka tidak pernah bermasalah dengan siapapun.
"Roy adalah saudara tiri Alex."Mata Mita membulat mendengar kata-kata yang ke luar dari mulut Pamannya. Ia benar-benar terkejut dan tidak percaya."Bagaimana mungkin?" ucap Mita. "Iya, memang sulit untuk dipercaya tapi itulah kenyataannya.""Itu tidak mungkin. Paman pasti salah." Mita masih belum percaya."Ibunya bercerai karena selingkuh dengan Baskoro ayah Roy. Tetapi baru beberapa tahun menikah, Ibunya meninggal dunia." Handoko menceritakan semuanya kepada Mita. Baskoro ayah Roy menikahi Ibunya Alex bukan karena cinta, melainkan karena harta. Perusahaan Roy Eldan sudah 90 persen bangkrut, demi bangkit kembali Baskoro mengambil hati ibunya Alex, sebab ia memiliki kekayaan puluhan triliun dan menguasai 50 persen saham perusahaan Branson Grup. Namun setelah menikah, Baskoro meminta istrinya untuk mengalihkan perusahaan menjadi atas namanya. Demi cinta, ibunya Alex tanpa ragu mengikuti permintaan suaminya. Setelah semuanya atas nama Baskoro, ia pun menikah lagi dengan wanita yang
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, mata Mita masih terbuka lebar. Kejadian tadi siang menghantui hati dan pikirannya, sehingga membuatnya tidak bisa tidur. Mita merasa malu dengan sikapnya, bisa-bisanya ia agresif seperti itu. Bahkan Mita menghindari Alex saat makan malam. Ia meminta Hanna untuk mengantar makanan ke kamarnya, dengan alasan tidak enak badan. Mita yang resah, lantas turun dari tempat tidur melangkah menuju balkon. Seketika matanya melihat sebuah mobil memasuki gerbang istana Branson. Mita memperhatikan mobil itu hingga berhenti, ia melihat seorang wanita turun dari sana. "Apa dia wanita simpanan Alex yang baru?" Mita bertanya pada dirinya sendiri. Ia berpikir demikian, karena Alex hobi memelihara wanita. Dia laki-laki yang tak bisa hidup tanpa wanita, dan bodohnya lagi! Mita bisa bergairah saat bercumbu dengannya. Mita yang penasaran, bergegas ke luar dari kamar. Ia menuruni anak tangga menuju lantai satu, dan berpura-pura ke dapur untuk mengambil air hangat.
Suasana pagi menjadi lebih hidup, dengan iringan suara merdu burung dari hutan lindung. Mita yang berdiri di balkon, sengaja membentang kedua tangan untuk merilekskan diri.Rintik-tintik embun membuat suasana semakin sejuk. Mita menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dari mulut dengan lembut. Selama tinggal di kediaman Branson, balkon adalah tempat ternyaman bagi Mita. "Permisi Nyonya."Suara itu mengejutkan Mita, ia refleks membuka mata dan memutar kepala. "Bibi," ucap Mita, setelah melihat Hanna berdiri di pintu balkon. "Maaf Nyonya, tadi saya sudah mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Jadi saya terpaksa masuk." "Tidak apa-apa Bi. Oh iya, apa ada yang ingin Bibi sampaikan?" Tentu Mita bertanya, karena tak biasanya Hanna datang ke sana sepagi ini."Tuan, Nyonya."Mita mengerutkan kening, "Tuan, maksud Bibi?"Tuan terluka Nyonya, seseorang kembali menyerang Tuan." Hanna menjelaskan yang sebenarnya kepada Mita.Berapa nyawa yang telah dihabisi oleh Alex, sehingga musuhnya b
Satu minggu telah berlalu, selama ini Mita dan Alex jarang bertemu, walaupun tinggal dibawah atap yang sama. "Permisi Nyonya, Tuan menunggu anda di ruang kerja," ucap salah satu ajudan. "Hum, baiklah." Mita yang tadinya sedang menyiapkan makan malam, segera membuka celemek dan mencuci tangan. Ia bergegas menaiki anak tangga menuju lantai tiga, setibanya di depan pintu, Mita refleks menghentikan langkahnya dan mengurungkan niat untuk mengetuk pintu. "Apa keluarga Eldan belum menghubungi?""Belum Tuan, sepertinya mereka sedang berusaha mencari bantuan." "Roy, Roy, aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang, dan aku tidak akan membiarkanmu mati terlalu cepat. Aku akan membuatmu paham, sesakit apa yang dirasakan ibuku saat kamu dan ayahmu menyiksanya."Perbincangan itu terdengar jelas di telinga Mita. Ia melihat Alex dari sela pintu yang tidak tertutup rapat, pria tampan itu duduk di atas kursi sambil menatap selembar poto di tangannya. "Mungkinkah Roy dan almarhum ayahnya membunuh ib
Seperti biasa, setiap pukul 5 pagi Mita sudah bangun dari tidurnya. Ia selalu ke balkon untuk menghirup udara segar dan menikmati rintik-tintik embun.Namun kali ini berbeda, Mita justru ke dapur. Ia membantu Hanna menyiapkan sarapan untuk Alex. Saat Mita menata makanan di atas meja, Alex tiba-tiba muncul. Pria berdarah dingin itu sudah terlihat rapi, ia mengenakan pakaian formal serba hitam."Aku akan mengambilkan air hangat," ucap Mita yang langsung pergi. Iya, setiap pagi sebelum makan, Alex terlebih dahulu minum air hangat. Hal itu sudah kebiasaan Alex sejak kecil. "Silahkan di minum." Mita menaruh gelas berisi air hangat di hadapan Alex. "Tunggu."Kata-kata itu membuat Mita berhenti melangkah, ia kembali memutar tubuh menghadap Alex. "Sejak kapan kamu jadi pelayan di rumah ini?" lanjut Alex dengan bertanya, namun kedua matanya fokus menatap gelas dihadapannya. "Sejak hari ini," jawab singkat Mita. Alex memutar kepala, ditatapnya Mita dengan tatapan yang sulit untuk dimenge
"Kau sengaja menggugurkan anakku," ucap Alex. Mata keduanya saling beradu, bahkan ujung hidungnya saling bersentuhan. Sebelum membuka mulut, Mita terlebih dahulu menghela napas, "Aku tidak mengandung anakmu."Alex refleks mengangkat tangan, ia mencekik Mita hingga membuatnya sulit bernapas. Untung saja Nathan tiba-tiba muncul dari balik pintu. "Permisi Tuan," ucap Nathan, ia refleks memutar tubuh karena melihat keduanya dalam posisi intim. Otak Nathan seketika negatif, ia berpikir bosnya itu sedang melakukan hubungan suami istri. "Tuan, Roy ingin bertemu dengan anda." Nathan berbicara dengan posisi memunggungi. Alex tersenyum getir, ia bangkit dari tubuh Mita. Dengan kasar ia melepaskan jarum infus dari tangan wanita malang itu, lalu menariknya dengan kasar. Alex sengaja membawa Mita ke ruang tamu untuk bertemu dengan Roy. Dalam kondisi lemah tak berdaya, akan membuat Roy sakit hati. Momen ini lah yang ditunggu-tunggu oleh Alex selama ini.Saat keduanya menuruni anak tangga menu







