Beranda / Romansa / Berakhir Di Atas Ranjang Mafia. / Bab 3. Apa di sana sedang ada pembunuhan.

Share

Bab 3. Apa di sana sedang ada pembunuhan.

Penulis: Tetesan air
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-13 17:58:36

Informasi yang disampaikan oleh ajudannya begitu menarik. Pantas saja Mita menantangnya, ternyata dia calon menantu pria yang ia tembak. 

Alex meraih ponsel dari atas meja lalu menghubungi Nathan, memintanya agar segera membawa Mita ke ruang kerjanya. Tetapi wanita malang itu menolak, bahkan menggigit tangan Nathan. 

Akhirnya Alex kembali menghampiri Mita, "Aku akan memberimu 2 pilihan. Yang pertama, kamu bisa ke luar dari rumah ini dan hidup bebas, tapi kamu akan kehilangan Pamam, Bibi dan adikmu Naurah. Yang kedua, tetap tinggal di rumah ini dan mematuhi perintahku, dengan jaminan! Mereka akan hidup bahagia."

"Aku tidak akan pernah memilihnya," bantah Mita dengan tegas.

Alex tersenyum seribu arti, ia menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Mita, "Pikirkan baik-baik, aku beri waktu 1 kali 24 jam."

Mita menarik napas dalam-dalam sambil menutup mata, Tuhan benar-benar tidak adil baginya. Sejak kecil ia sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, setelah dewasa ia menemukan pria yang tulus mencintainya. Kebahagiaan sudah di depan mata, pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Tapi bencana kembali menghampirinya, Alex merenggut kebahagian yang sudah lama Mita impikan. 

"Nona, Nona," panggil Hanna. 

Mita membuka mata, ditatapnya Hanna dengan tatapan putus asa, "Aku memilih mati."

Hanna mendekat, "Aku mengerti perasaan Nona saat ini, tapi Nona tidak boleh menyerah. Ingat, keluarga pasti menunggu kabar baik dari Nona."

Kata-kata yang terucap dari mulut Hanna membuat Mita tidak bisa tidur. Otaknya berputar untuk memikirkan sesuatu, memilih mati sama saja membiarkan Alex bebas dari perbuatannya. 

Pria kejam itu harus mendapat hukuman sesuai dengan perbuatannya. Mita akhirnya membulatkan niat untuk tetap tinggal di sana. Ia sudah siap dengan segala resiko.

"Pukul enam," ucap Mita sambil menatap benda bulan yang terletak di atas meja kecil di samping tempat tidur. 

"Permisi Nona."

Mita memutar kepala ke arah datangnya suara, ia melihat Alex muncul dari balik pintu bersama Nathan dan dua ajudan lainnya. 

Pria kejam itu terlihat rapi, ia mengenakan kemeja hitam dilapisi dengan jas yang senada.

Entah mengapa ia selalu membawa ajudan saat menemui Mita. Padahal wanita cantik itu tidak mungkin bisa menyerangnya, kaki dan kedua tangannya terikat oleh tali.

"Aku memilih poin satu," ucap Mita tiba-tiba. 

Alex tidak langsung menjawab, ia mendaratkan bokongnya di atas sofa lalu mengangkat kedua kaki ke atas meja.

"Aku akan tetap tinggal di sini, tapi ingat janjimu. Jangan pernah menyakiti keluargaku." Mita kembali membuka mulut. 

Alex hanya diam sambil menatap Mita dengan tatapan seribu arti. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.

"Baiklah," jawab singkat Alex.

"Lepaskan ikatannya," perintah Alex yang langsung dilaksanakan oleh ajudan. 

Setelah Alex dan ajudan pergi dari sana, Mita berteriak sekuat tenaga. Berusaha melepaskan kekesalan dalam hatinya. 

*****

Satu hari telah berlalu, Mita hanya mondar mandir di dalam kamar. Walaupun ia sudah memilih poin dari Alex! Tapi ia tetap saja tidak bebas dan terkurung di dalam sana.

Mita yang kesal dan marah! Lantas mendobrak pintu dan berteriak tanpa henti. 

"Tolong buka pintunya, buka pintunya. Jika tidak...." 

Mita belum selesai bicara, pintu tiba-tiba terbuka. Seketika matanya beradu dengan mata Alex.

"Aku sudah...."

Alex mencengkram pergelangan tangannya, menariknya masuk ke dalam kamar lalu melemparkannya dengan kasar ke atas sofa.

"Cepat tanda tangani." Alex menyodorkan selembar kertas putih.

Mita mendongak menatap Alex, dengan ragu-ragu ia meraihnya dari tangan pria kejam itu.

Mita refleks menyipitkan mata saat membaca huruf yang tersusun rapi di sana. Alex benar-benar licik, ia menekan sekaligus memperalat Mita untuk menutupi perbuatannya. 

Di sana jelas tertulis, Mita adalah saksi tunggu atas kematian Baskoro. Pria paruh baya itu dinyatakan bunuh diri, dengan cara menembak dirinya sendiri. 

"Tidak, aku tidak akan menandatanganinya," tolak Mita dengan tegas. 

"Hem." Alex berdehem sebelum berbicara. 

"Bukankah kamu sudah memilih poin satu? Apa kamu tidak membacanya waktu itu? Ok baik, aku akan memberitahu isi di dalamnya."

"Tetap tinggal di sini dan menuruti semua perintahku," sahut Mita yang membuat Alex berhenti bicara. 

"Bagus, ternyata kamu masih ingat. Sekarang tanda tangani." Tegas Alex dengan wajah marah. 

Mita menarik napas, kedua matanya berkaca-kaca. Ia memutuskan untuk memilih poin satu agar bisa membongkar kejahatan Alex, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Ia justru menutupi kejahatan Alex, menyelamatkannya dari hukum. 

"Ayo cepat, atau kamu ingin mereka...."

"Ok ok, beri aku waktu." Mita mengusap air mata dari kedua pipinya. 

Ia meraih pulpen dari tangan Alex, menutup mata sambil menandatangani. Mita bagaikan seorang pengkhianat, selama ini almarhum Baskoro begitu menyayanginya. 

Ingin rasanya memaki Alex dengan berteriak sekuat mungkin, namun hal itu tak mungkin Mita lakukan. Entah amalan apa yang diucapkan oleh kedua orang tua Alex, sehingga anak mereka bisa sekejam itu.

"Tunggu dulu," ucap Mita saat Alex memutar tubuh dan akan pergi. 

"Aku sudah menuruti perintahmu, jadi sekarang aku sudah bisa bebas," lanjutnya. 

"Nathan, siapkan pengawal untuknya. Ingat! Batas hanya sampai gerbang." Alex bukannya menjawab Mita, ia justru bicara pada Nathan. 

Mita sama sekali tidak protes, yang penting bisa ke luar dari sana. Di dalam kamar setiap hari bisa membuatnya stres dan frustasi.

Setelah membersihkan tubuhnya dari kamar mandi, Mita melihat beberapa gaun terletak di atas tempat tidur. Ia sama sekali tidak tertarik dan tidak menyentuhnya. 

Justru membuka lemari untuk mencari pakaian yang ia kenakan waktu itu. Dan benar saja ada di sana, mungkin pelayan mencucinya lalu menyimpannya ke dalam lemari. 

Saat Mita ke luar dari kamar, ia melihat dua pria berpakaian hitam berdiri di depan pintu. Mita sama sekali tidak terkejut dan tidak takut, mereka sudah pasti pengawal yang di perintahkan oleh Alex. 

"Ya Tuhan, ini rumah atau istana," bisik dalam hati Mita. 

Ia berjalan sambil matanya berputar menatap setiap sudut dari rumah itu. Mita benar-benar kagum dan belum pernah melihat rumah semengah itu.

"Aku tidak mau, aku hanya mau Daddy." Suara itu terdengar jelas saat Mita melewati sebuah kamar. 

Langkahnya seketika terhenti, matanya melirik dari sela pintu yang tidak tertutup rapat. Mita melihat dengan jelas, Bi Hanna sedang membujuk seorang anak laki-laki.

"Ternyata iblis itu sudah menikah dan memiliki anak," ucap Mita dengan lembut dan nyaris tak terdengar. 

Ia pun kembali melanjutkan langkahnya, menyusuri setiap lorong dari bagunan tinggi berlantai tiga itu. Untung saja ada pengawal, jika tidak! Mita sudah tersesat dan tak tahu untuk kembali ke kamarnya. 

"Maaf Nona, kita tidak boleh ke lantai tiga," ucap pengawal saat Mita akan menaiki tangga. 

"Kenapa? Apa di sana sedang ada pembunuhan?" tanya Mita dengan lantang. 

"Tidak Nona, tapi Tuan..."

"Tuanmu memberiku batas hingga gerbang, itu artinya aku bebas menjelajahi rumah ini," sela Mita yang membuat pengawal terdiam.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Berakhir Di Atas Ranjang Mafia.    Bab 8. Pria kotor sepertimu tidak pantas menyentuhku.

    "Iya Tuan," ucap Hanna setelah membuka pintu. Alex diam, ditatapnya Hanna yang terlihat gugup. "Apa Tuan butuh sesuatu?" Hanna kembali membuka mulut. "Di mana Mita?" Jawab Alex dengan balik bertanya. Hanna semakin gugup, "Aku tidak tahu Tuan, bukannya Nyonya di kamar Tuan?"Jelas Hanna berpura-pura, ia pun hanya bisa mematung saat Alex melewatinya di pintu. Pria bertubuh tinggi itu masuk ke dalam kamar, matanya berputar menyapu setiap sudut dari ruangan itu dan berhenti tepat di lemari. Alex melangkah, tangannya bergerak untuk membuka pintu lemari. Dan benar saja, Mita ada di sana. Tanpa bicara Alex langsung menarik tangannya dengan kasar. "Lepaskan aku." Mita berontak saat Alex menyeretnya ke luar dari kamar."Bi tolong aku," lanjutnya.Bagaimana Hanna bisa menolongnya! Wanita paruh baya itupun sudah ketakutan dan hampir pingsan. Alex pasti melemparkannya ke penangkaran buaya, siapapun yang melanggar peraturan! Pasti akan mendapat hukuman, dan hal itupun berlaku untuk Mita. "

  • Berakhir Di Atas Ranjang Mafia.    Bab 7. Semoga iblis itu tidak pernah kembali.

    Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, saat ini benda bulat yang terletak di atas meja kecil, sudah menunjukkan angka sebelas. Mita yang sejak tadi resah, seketika bernapas lega saat Hanna menyampaikan pesan dari Tuannya Alex. Ia meminta Mita untuk istirahat, karena malam ini Alex ada urusan dan tidak pulang ke kediaman Branson. "Baguslah, semoga dia tidak pernah kembali lagi," ucap Mita dengan lembut dan nyaris tak terdengar. "Kalau begitu, saya permisi dulu Nyonya." Pamit Hanna yang langsung Pergi. Mita pun menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Kaki mungilnya melangkah menuju balkon, namun matanya tak sengaja melihat segerombolan orang di bawah sana.Mita menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatannya, pria bertubuh tinggi itu benar-benar Alex bersama ajudannya. "Bukannya iblis itu sedang ada urusan dan tidak pulang? Kenapa dia ada di sana?" bisik dalam hati Mita.Seketika jiwa penasarannya tumbuh, ia memperhatikan Alex melangkah menuju pintu samping mansion itu, Mit

  • Berakhir Di Atas Ranjang Mafia.    Bab 6. Tidur di atas ranjang yang sama.

    Dengan terpaksa Mita memakai gaun pengantinnya, ia tidak punya pilihan selain menuruti semua kemauan Alex. Pria kejam itu benar-benar licik dan berkuasa, ia memperalat Roy untuk menekan Mita. "Non Mita sangat cantik," puji Hanna, ditatapnya dari pantulan kaca sambil tersenyum. "Percuma saja Bi." Mita tersenyum getir. Keduanya pun ke luar dari kamar, Hanna menuntun Mita masuk ke dalam mobil. Meninggalkan kediaman Branson menuju tempat pernikahan. Setibanya di parkiran, Mita mengusap air mata dari kedua pipinya. Menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan lembut."Ayo Nona," ajak Hanna yang sudah membuka pintu mobil. Keduanya melangkah menuju pintu gereja, dari sana Mita sudah melihat Alex berdiri di altar. Pria kejam itu terlihat rapi, ia mengenakan jas hitam senada dengan celanyan. Sepatu kulit dengan harga fantastis terpasang rapi di kakinya.Dengan perasaan hancur, Mita melangkah menghampiri Alex. Senyuman tak sedikitpun terlihat di wajahnya, bahkan sorot matanya menunju

  • Berakhir Di Atas Ranjang Mafia.    Bab 5. Kamu tidak pantas bersaing denganku.

    "Apa Bibi sudah lama bekerja di sini?" tanya Mita."Sudah 20 tahun Non, sejak umur Tuan 17 tahun," jawab Hanna dengan jujur. "Oh ya? Bibi hebat, bisa beradaptasi dengan iblis." Kebencian Mita sudah menjalar hingga ke ubun-ubun. Hanna hanya tersenyum, ia tidak berani merespon ucapan Mita. Lagipula selama ini Alex tidak pernah bersikap kasar padanya, Tuannya itu selalu baik."Oh iya Bi, apa itu toilet?" tanya Mita tiba-tiba. Matanya tak sengaja tertuju pada sebuah bagunan kecil, yang berada di ujung taman."Iya Non." Seiring dengan anggukan kepala. "Aku ke toilet dulu Bi, perutku sedikit tidak enak," ucap Mita yang langsung bergegas menuju toilet. Sambil menunggu Mita, Hanna dan kedua pengawal duduk di gazebo yang ada di taman. Mereka tak sedikitpun merasa curiga. "Kenapa lama ya? Apa dia....," ucap salah satu pengawal. Hanna tercengang, matanya melotot, otaknya seketika memikirkan hal negatif. Wanita malang itu pasti mencoba untuk kabur, karena di belakang toilet ada tangga besi

  • Berakhir Di Atas Ranjang Mafia.    Bab 4. Kamu harus melayani pria kotor ini.

    Mita melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga, setibanya di lantai tiga ia disambut dengan pemandangan yang tak wajar.Bagaimana tidak! Di sana ia melihat Alex duduk di atas sofa bersama 3 wanita cantik. Mereka terlihat menempel pada dada Alex yang bertelanjang dada. Pria kejam itu sama sekali tidak mengenakan baju, ia hanya memakai celana formal berwarna hitam.Mita seketika bergidik karena jijik. Selain kejam, Alex juga pemburu wanita, ia bahkan memakai 3 wanita sekaligus. Sementara Alex hanya diam, ditatapnya Mita dengan tatapan licik. Ia sama sekali tidak terganggu dengan kedatangan Mita, justru para wanita itu yang merasa terusik. Ketiganya menatap Mita dengan tatapan sinis, raut wajahnya menunjukkan rasa tidak suka.Mita memalingkan wajah dan kembali melanjutkan langkahnya. Ia sengaja menjelajahi bagunan tinggi itu, mencari celah agar bisa kabur dari sana."Oh iya, apa rumah ini hanya memiliki dua tangga saja? Maksudku, aku ingin ke taman belakang, apa tidak ada tangga menuju

  • Berakhir Di Atas Ranjang Mafia.    Bab 3. Apa di sana sedang ada pembunuhan.

    Informasi yang disampaikan oleh ajudannya begitu menarik. Pantas saja Mita menantangnya, ternyata dia calon menantu pria yang ia tembak. Alex meraih ponsel dari atas meja lalu menghubungi Nathan, memintanya agar segera membawa Mita ke ruang kerjanya. Tetapi wanita malang itu menolak, bahkan menggigit tangan Nathan. Akhirnya Alex kembali menghampiri Mita, "Aku akan memberimu 2 pilihan. Yang pertama, kamu bisa ke luar dari rumah ini dan hidup bebas, tapi kamu akan kehilangan Pamam, Bibi dan adikmu Naurah. Yang kedua, tetap tinggal di rumah ini dan mematuhi perintahku, dengan jaminan! Mereka akan hidup bahagia.""Aku tidak akan pernah memilihnya," bantah Mita dengan tegas.Alex tersenyum seribu arti, ia menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Mita, "Pikirkan baik-baik, aku beri waktu 1 kali 24 jam."Mita menarik napas dalam-dalam sambil menutup mata, Tuhan benar-benar tidak adil baginya. Sejak kecil ia sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, setelah dewasa ia menemukan pria yang t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status