Hanyut dalam Dekapan Sahabatku

Hanyut dalam Dekapan Sahabatku

last updateLast Updated : 2026-03-26
By:  Salwa MaulidyaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
85Chapters
1.6Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Rhea dan Justin terpisah cukup lama setelah Rhea memutuskan untuk membungkam hatinya yang telah jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Setelah sepuluh tahun lamanya terpisah, takdir kembali mempertemukan mereka di sebuah reuni masa SMA. Justin tampil lebih menawan, tampan, dan berkharisma. Namun, Rhea enggan menyapa apalagi mengingat kenangan mereka dulu. Siapa sangka, takdir kembali mengabaikan keinginan Rhea untuk menjauh dari Justin. Di kantor yang baru saja menerimanya sebagai karyawan, Justin ternyata atasannya!

View More

Chapter 1

Bab 1: Pertemuan Kembali dengan Versi yang Berbeda

“Itu ... Justin?” bisik Sarah sambil menunjuk ke arah pria berparas tampan itu.

“Ya Tuhan, dia benar-benar menjadi penguasa Chayton Group sekarang, ya?” ucapnya dengan mata berbinar memuji ketampanan pria yang kini telah berusia dua puluh sembilan tahun itu.

Jantung Rhea berdegup kencang hingga terasa sakit di pangkal tenggorokannya ketika melihat sosok yang sudah lama tidak pernah dia lihat itu. Dia mencoba bersembunyi di balik pilar, namun terlambat.

Saat Justin memindai ruangan dengan tatapan malasnya, matanya berhenti tepat di wajah Rhea.

Detik itu, waktu seolah berhenti.

Dulu, sepuluh tahun yang lalu. Rhea dan Justin bagaikan sahabat yang tidak bisa terpisahkan oleh siapa pun. Namun, ketika Rhea menyadari bahwa hatinya berubah—mencintai Justin, dia pergi begitu saja dan membuat Justin kecewa setengah mati karena mengira Rhea lebih memilih pria yang dia cintai.

Tanpa tahu, bahwa pria itu adalah dirinya. Sayangnya, hubungan mereka kian asing karena ketidakjujuran Rhea yang membuat Justin jadi membencinya.

Bahkan kini tatapan Justin padanya tidak ada senyum sedikit pun. Tidak ada binar ramah yang dulu selalu menyambut Rhea setiap pagi. Mata Justin sedingin es, tajam seperti pisau yang siap menguliti lapisan pertahanan Rhea.

Dia menatap Rhea seolah wanita itu hanyalah sebutir debu yang tidak sengaja tertiup ke dalam pesta mewahnya.

Hanya dua detik, namun cukup untuk membuat seluruh sendi Rhea lemas.

Justin kemudian memalingkan wajah dan melanjutkan pembicaraan dengan seorang pengusaha tua tanpa sedikit pun niat untuk menghampirinya.

‘Dia tidak mengenalku? Atau dia sengaja menghapusku?’ batin Rhea perih.

Memori itu mendadak menyeruak. Sepuluh tahun lalu, di bawah pohon akasia sekolah, Justin pernah memegang tangannya dengan gemetar.

“Rhea, jangan pernah pergi terlalu jauh dariku. Aku tidak tahu bagaimana caranya bernapas tanpamu,” bisiknya saat itu.

Rasa hangat dari jemari Justin kala itu adalah satu-satunya hal yang Rhea bawa dalam mimpinya selama satu dekade.

Namun sekarang, pria yang sama menatapnya seolah dia adalah kuman yang menjijikkan.

“Rhea? Kamu pucat sekali,” tegur Sarah. “Kamu kenapa, hm? Sakit?” tanya Sarah lagi.

“Aku ... aku butuh udara segar, Sar. Permisi. Aku keluar sebentar.”

Rhea hampir tersandung gaunnya sendiri saat dia memutar badan dan berjalan cepat menuju pintu keluar.

Dia tidak sanggup berada di ruangan yang sama dengan versi Justin yang ini. Versi yang dingin, asing, dan membencinya tanpa kata-kata setelah Rhea memutuskan untuk menjauh darinya tanpa sebab. Begitu pikir Justin.

Langkahnya tergesa-gesa melewati karpet merah ballroom. Saat dia mencapai pintu jati besar yang terbuka, dia merasakan sebuah sensasi panas yang menjalar di tengkuknya.

Dia tahu perasaan ini. Ini adalah perasaan saat seseorang sedang mengawasinya dengan intensitas yang tidak wajar.

Tanpa sadar, Rhea menoleh sedikit sebelum menghilang di balik pintu. Di kejauhan, di antara kepulan asap cerutu dan gelas-gelas kristal, Justin masih berdiri di tempat yang sama.

Pria itu tidak lagi berbicara dengan lawan bicaranya. Dia sedang berdiri tegak sambil memegang gelas whiskey dengan cengkeraman kuat, dan matanya tertuju lurus, sedalam lautan hitam pada punggung Rhea yang bergetar.

Rhea segera memalingkan wajah dan berlari menuju lobi dengan napas tersengal. Di bawah lampu kristal yang berkilau, dia menyadari satu hal: pelariannya baru saja dimulai.

“Lari sejauh apa pun yang kamu mau, Rhea,” sebuah suara berat dan rendah mendadak terngiang di benaknya, seolah Justin baru saja membisikkannya tepat di telinganya. “Tapi kamu lupa, kota ini sekarang adalah milikku.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Nining Mulyaningsi
Nining Mulyaningsi
satu kata buat cerita kak Salwa ini KEREN ...... pokonya wajib bacaaa .deh dan yang pastinya gak bakalan nyesel kalau baca karya-karya kak Salwa.
2026-02-27 14:01:58
0
0
85 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status