MasukRhea dan Justin terpisah cukup lama setelah Rhea memutuskan untuk membungkam hatinya yang telah jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Setelah sepuluh tahun lamanya terpisah, takdir kembali mempertemukan mereka di sebuah reuni masa SMA. Justin tampil lebih menawan, tampan, dan berkharisma. Namun, Rhea enggan menyapa apalagi mengingat kenangan mereka dulu. Siapa sangka, takdir kembali mengabaikan keinginan Rhea untuk menjauh dari Justin. Di kantor yang baru saja menerimanya sebagai karyawan, Justin ternyata atasannya!
Lihat lebih banyak“Itu ... Justin?” bisik Sarah sambil menunjuk ke arah pria berparas tampan itu.
“Ya Tuhan, dia benar-benar menjadi penguasa Chayton Group sekarang, ya?” ucapnya dengan mata berbinar memuji ketampanan pria yang kini telah berusia dua puluh sembilan tahun itu. Jantung Rhea berdegup kencang hingga terasa sakit di pangkal tenggorokannya ketika melihat sosok yang sudah lama tidak pernah dia lihat itu. Dia mencoba bersembunyi di balik pilar, namun terlambat. Saat Justin memindai ruangan dengan tatapan malasnya, matanya berhenti tepat di wajah Rhea. Detik itu, waktu seolah berhenti. Dulu, sepuluh tahun yang lalu. Rhea dan Justin bagaikan sahabat yang tidak bisa terpisahkan oleh siapa pun. Namun, ketika Rhea menyadari bahwa hatinya berubah—mencintai Justin, dia pergi begitu saja dan membuat Justin kecewa setengah mati karena mengira Rhea lebih memilih pria yang dia cintai. Tanpa tahu, bahwa pria itu adalah dirinya. Sayangnya, hubungan mereka kian asing karena ketidakjujuran Rhea yang membuat Justin jadi membencinya. Bahkan kini tatapan Justin padanya tidak ada senyum sedikit pun. Tidak ada binar ramah yang dulu selalu menyambut Rhea setiap pagi. Mata Justin sedingin es, tajam seperti pisau yang siap menguliti lapisan pertahanan Rhea. Dia menatap Rhea seolah wanita itu hanyalah sebutir debu yang tidak sengaja tertiup ke dalam pesta mewahnya. Hanya dua detik, namun cukup untuk membuat seluruh sendi Rhea lemas. Justin kemudian memalingkan wajah dan melanjutkan pembicaraan dengan seorang pengusaha tua tanpa sedikit pun niat untuk menghampirinya. ‘Dia tidak mengenalku? Atau dia sengaja menghapusku?’ batin Rhea perih. Memori itu mendadak menyeruak. Sepuluh tahun lalu, di bawah pohon akasia sekolah, Justin pernah memegang tangannya dengan gemetar. “Rhea, jangan pernah pergi terlalu jauh dariku. Aku tidak tahu bagaimana caranya bernapas tanpamu,” bisiknya saat itu. Rasa hangat dari jemari Justin kala itu adalah satu-satunya hal yang Rhea bawa dalam mimpinya selama satu dekade. Namun sekarang, pria yang sama menatapnya seolah dia adalah kuman yang menjijikkan. “Rhea? Kamu pucat sekali,” tegur Sarah. “Kamu kenapa, hm? Sakit?” tanya Sarah lagi. “Aku ... aku butuh udara segar, Sar. Permisi. Aku keluar sebentar.” Rhea hampir tersandung gaunnya sendiri saat dia memutar badan dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Dia tidak sanggup berada di ruangan yang sama dengan versi Justin yang ini. Versi yang dingin, asing, dan membencinya tanpa kata-kata setelah Rhea memutuskan untuk menjauh darinya tanpa sebab. Begitu pikir Justin. Langkahnya tergesa-gesa melewati karpet merah ballroom. Saat dia mencapai pintu jati besar yang terbuka, dia merasakan sebuah sensasi panas yang menjalar di tengkuknya. Dia tahu perasaan ini. Ini adalah perasaan saat seseorang sedang mengawasinya dengan intensitas yang tidak wajar. Tanpa sadar, Rhea menoleh sedikit sebelum menghilang di balik pintu. Di kejauhan, di antara kepulan asap cerutu dan gelas-gelas kristal, Justin masih berdiri di tempat yang sama. Pria itu tidak lagi berbicara dengan lawan bicaranya. Dia sedang berdiri tegak sambil memegang gelas whiskey dengan cengkeraman kuat, dan matanya tertuju lurus, sedalam lautan hitam pada punggung Rhea yang bergetar. Rhea segera memalingkan wajah dan berlari menuju lobi dengan napas tersengal. Di bawah lampu kristal yang berkilau, dia menyadari satu hal: pelariannya baru saja dimulai. “Lari sejauh apa pun yang kamu mau, Rhea,” sebuah suara berat dan rendah mendadak terngiang di benaknya, seolah Justin baru saja membisikkannya tepat di telinganya. “Tapi kamu lupa, kota ini sekarang adalah milikku.”“Ini bukan cincin yang dipilihkan oleh sekretaris atau asisten. Aku memesan ini sendiri tiga bulan yang lalu, bahkan sebelum aku tahu pasti kamu akan kembali ke hidupku,” Justin mengambil cincin itu.“Jangan biarkan ketakutanmu menang atas cinta kita lagi. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa menjagamu lebih baik dari siapa pun.”Rhea menatap cincin itu, lalu beralih menatap wajah Justin yang penuh dengan harapan. Rasa ragu itu masih ada di sudut hatinya, namun kekuatan yang terpancar dari mata Justin seolah memberikan energi baru baginya untuk berani melangkah.“Apakah kamu yakin semuanya akan baik-baik saja?” tanya Rhea sekali lagi, mencari kepastian terakhir.“Aku menjaminnya dengan nyawaku sendiri, Rhea. Selama kamu di sampingku, tidak ada yang bisa menyentuhmu. Aku akan menjadi perisaimu, dan aku akan menjadi rumahmu,” Justin menggenggam jari manis kiri Rhea.“Jadi, maukah kamu menikah denganku dan membuat sepuluh tahun yang hilang itu terasa tidak berarti lagi
Angin malam yang berembus di balkon lantai tiga puluh dua itu terasa dingin, namun dekapan Justin di pinggang Rhea memberikan kehangatan yang kontras.Cahaya lampu kota Jakarta yang berkelap-kelip di bawah mereka tampak seperti hamparan berlian yang tak berujung, tetapi fokus Justin hanya tertuju pada wanita yang kini bersandar di dadanya. Dia memutar tubuh Rhea secara perlahan agar mereka bisa saling berhadapan.“Rhea,” panggil Justin dengan suara rendah dan serak.“Iya?” Rhea mendongak, menatap mata hitam pekat yang selalu berhasil melumpuhkan logikanya.“Sepuluh tahun itu waktu yang terlalu lama untuk sebuah penantian yang terpaksa. Aku tidak mau menunggu satu detik pun lebih lama lagi setelah semua kekacauan ini mereda,” Justin meraih tangan Rhea, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.“Ayo kita menikah. Sesegera mungkin.”Rhea terdiam sejenak. Jantungnya berdegup kencang, namun ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak di dadanya.Dia melepaskan tangannya dari genggaman Justi
“Aku tidak butuh dukungan dari seseorang yang menghancurkan hidupku. Mulai hari ini, Mama tidak punya akses ke satu sen pun uang Chayton Group. Mama juga dilarang masuk ke gedung ini tanpa izin tertulis dariku.“Semua staf di rumah akan aku ganti dengan orang-orangku. Mama tetap bisa tinggal di sana, tapi Mama tidak punya kuasa atas apa pun.”“Kamu ingin memenjarakanku di rumahku sendiri?!”“Aku hanya memberikan Mama waktu untuk berpikir. Mungkin dengan hidup dalam kesederhanaan, Mama bisa belajar bagaimana rasanya menjadi manusia yang punya empati,” Justin memberikan ultimatumnya.“Dan satu hal lagi. Jika Mama berani mendekati Rhea atau mencoba melakukan hal aneh padanya lagi, aku tidak akan segan-segan menyerahkan bukti-bukti penggelapan dana kantor yang selama ini Mama lakukan ke pihak kepolisian. Aku punya semua catatannya, Ma. Jangan tantang aku.”Violet menatap Justin dengan pandangan tidak percaya. Dia menyadari bahwa putranya yang dulu bisa dia atur, kini telah berubah menjadi
Justin berdiri diam di belakang meja kerjanya yang luas seraya menatap ke luar jendela besar yang menampilkan deretan gedung pencakar langit Jakarta.Namun, matanya tidak benar-benar melihat pemandangan itu. Pikirannya masih terpaku pada pengakuan Rhea beberapa saat yang lalu. Rasa bersalah, amarah, dan benci bercampur menjadi satu di dalam dadanya, menciptakan tekanan yang menyesakkan.Dia meraih telepon kantor, menekan tombol panggil cepat menuju departemen keuangan keluarga Mahendra yang dikelola oleh orang kepercayaannya.“Halo, Pak Hendra?” suara Justin terdengar dingin dan datar, hampir tanpa emosi.“Iya, Pak Justin. Ada yang bisa saya bantu?”“Blokir semua kartu kredit dan debit atas nama Violet Mahendra sekarang juga. Tanpa pengecualian. Hentikan semua aliran dana bulanan ke rekening pribadinya. Jika ada tagihan apa pun yang datang atas nama Mama mulai detik ini, jangan ada satu pun yang dibayar oleh perusahaan atau aset keluarga.”Di seberang telepon, terdengar jeda yang cuku












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan