MasukAlex bangkit dari tempatnya, melangkah menghampiri Mita. Ia menghadapkan layar laptop ke wajah Mita, menunjukkan video yang ada di sana."Ti..ti..tidak seperti itu." Mita gugup."Apa aku harus percaya dengan kebohonganmu?" Alex bicara dengan nada berbisik. "Tapi bukan seperti itu, aku...." Mita belum selesai bicara, tetapi Alex sudah mencengkram kedua pipinya. "Hentikan sandiwaramu Mita," sentak Alex sambil melepaskan cengkramannya dengan kasar. "Aku tidak berbohong," teriak Mita sekuat tenaga. "Tutup mulutmu." Nada Alex tidak kalah lantang, bahkan membuat Nathan dan pengawal yang ada di sana gemetar. Setelah mengatakan itu, Alex langsung pergi dan diikuti oleh Nathan. Keduanya menaiki anak tangga menuju ruang kerja yang terletak di lantai tiga."Urus masalah ini dengan baik," ucap Alex sambil menjatuhkan bokongnya di atas kursi. "Baik Tuan, tapi bagaimana dengan Nyonya? maksudku Nona Mita, Tuan." Nathan meralat ucapannya, karena Alex tidak suka Mita dipanggil sebagai Nyonya. "
Di bab ini sedikit panas dan mengandung unsur dewasa, jadi bijaklah dalam membaca karena cerita ini khusus untuk orang dewasa. Terima kasih. Dengan kasar Alex membuka seluruh pakaian Mita, ia tidak menyisakan sehelai benang pun di sana. Kini tubuh mulus istrinya itu terpampang sempurna di hadapannya. "Lepaskan aku, atau aku berteriak." Dengan bodohnya Mita mengancam. Walaupun ia berteriak minta tolong, tidak akan ada yang peduli. Mansion itu milik keluarga Branson, wilayah kekuasaan Alex. Alex menyeringai, "Aku akan membuatmu berteriak."Setelah mengatakan itu, Alex membuka seluruh pakaiannya. Menarik kedua kaki wanita cantik itu hingga ke ujung tempat tidur, mengambil posisi aman dengan berjongkok di bawah ranjang. Dengan kasar ia melebarkan kedua paha Mita, menempel bibirnya di danau yang sedikit basah itu.Awalnya Mita berusaha menolak, ia berkali-kali merapatkan kedua pahanya. Namun akhirnya ia pasrah, sentuhan Alex membuatnya lupa diri. Lidah pria tampan itu begitu liar dib
"Apa dia marah kepadamu?" Pertanyaan itu ke luar dari mulut Roy, setelah Mita menghilang di balik pintu. Alex tidak langsung membuka mulut, ditatapnya Roy sambil tersenyum seribu arti. Ia tahu mantan tunangan istrinya itu sedang mengujinya."Dia tidak marah, dia hanya butuh perhatian. Beberapa hari ini aku terlalu sibuk, sehingga aku lupa menyentuhnya."Tentu jawaban itu membuat Roy semakin kesal! Tetapi ia berusaha untuk tetap tenang, dengan cara itu ia bisa menyakinkan Mita. "Aku mengenalnya, dia bukan wanita yang haus akan sentuhan." Kata-kata itu membuat Alex kembali tersenyum, "Kamu memang mengenalnya, tapi aku yang tidur setiap malam dengannya. Apa kamu ingin tahu seperti apa Mita saat di ranjang?"Alex bangkit dari sofa, melangkah menghampiri Roy dan menunduk untuk mendekatkan wajahnya ke telinga Roy. "Dia begitu liar saat di atas tubuhku," bisik Alex. Roy seketika mengepalkan kelima jari tangannya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia benar-ben
"Seorang pembunuh?" sahut Elmira memotong pembicaraan Mita. Ia melangkah menghampiri Mita, menarik tangannya, mengajaknya duduk disisi tempat tidur. "Alex selalu menyingkirkan orang yang mengetahui rahasianya di masa lalu. Dia tidak peduli itu pria atau wanita, karena kejadian waktu itu sangat memengaruhi keluarga Branson," lanjut Elmira. "Aku tidak mengerti maksudmu," ucap Mita. Elmira tersenyum seribu arti, "Dulu keluarga Branson menghabisi sepasang suami istri disebuah desa. Kejadian itu bermula, karena sepasang suami istri itu menolak menjual tanah warisan mereka."Jantung Mita seketika berdegup kencang, kematian kedua orang tuanya bermula dari tanah warisan. Apa yang baru saja ke luar dari mulut Elmira, sama persis dengan yang diceritakan Pamannya Handoko, sewaktu ia masih remaja. Sayangnya waktu itu, Handoko tidak mengatakan siapa dalang di balik semua itu."Apa kamu punya bukti?" Mita bertanya dengan penuh harap. "Aku tidak punya bukti, aku hanya mengetahui kejadian itu.
"Nyonya tenang ya, Bibi yakin semua ini tidak seperti yang Nyonya bayangkan." Hanna berusaha menenangkan Mita. "Bibi dengar sendiri kan, Paman menyebut nama Alex!" ucap Mita. "Iya Nyonya, Bibi mendengarnya, tapi kita tidak boleh langsung menuduh Tuan. Karena Pak Handoko belum selesai bicara, kita tidak tahu apa yang akan beliau katakan selanjutnya." Hanna berpikir positif. Ia yakin Alex bukanlah pelakunya. Jika Tuannya itu ingin membunuh Handoko, ia sudah melakukannya sejak lama."Bibi mengerti perasaan Nyonya saat ini, tapi Bibi juga sangat mengenal Tuan Alex," lanjut Hanna. Saat keduanya sedang berbicara, ponsel Mita tiba-tiba berdering. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. "Saya angkat telepon dulu Bi," ucap Mita."Baik Nyonya, Bibi pamit ke dapur dulu." Mita mengusap layar ponselnya setelah Hanna pergi. Telinganya seketika mendengar suara yang familiar, suara siapa lagi kalau bukan suara Roy."Aku turut berduka atas kepergian Om Handoko," ucap Roy dari seber
"Roy adalah saudara tiri Alex."Mata Mita membulat mendengar kata-kata yang ke luar dari mulut Pamannya. Ia benar-benar terkejut dan tidak percaya."Bagaimana mungkin?" ucap Mita. "Iya, memang sulit untuk dipercaya tapi itulah kenyataannya.""Itu tidak mungkin. Paman pasti salah." Mita masih belum percaya."Ibunya bercerai karena selingkuh dengan Baskoro ayah Roy. Tetapi baru beberapa tahun menikah, Ibunya meninggal dunia." Handoko menceritakan semuanya kepada Mita. Baskoro ayah Roy menikahi Ibunya Alex bukan karena cinta, melainkan karena harta. Perusahaan Roy Eldan sudah 90 persen bangkrut, demi bangkit kembali Baskoro mengambil hati ibunya Alex, sebab ia memiliki kekayaan puluhan triliun dan menguasai 50 persen saham perusahaan Branson Grup. Namun setelah menikah, Baskoro meminta istrinya untuk mengalihkan perusahaan menjadi atas namanya. Demi cinta, ibunya Alex tanpa ragu mengikuti permintaan suaminya. Setelah semuanya atas nama Baskoro, ia pun menikah lagi dengan wanita yang







