MasukPintu kembar yang berat itu terbuka perlahan, dan tiga pria berjas gelap masuk ke ruang tamu.Dua pelayan bergegas masuk di belakang mereka, membawa tiga kursi tambahan. Mereka menatanya dengan rapi di depan keluarga itu, menyiapkan meja kecil, lalu membungkuk dalam-dalam sebelum pergi. Ketika pintu tertutup kembali, keheningan memenuhi ruangan."Silakan duduk, Bapak-Bapak," kata John tegas sambil menunjuk kursi-kursi.Semua orang di ruangan itu mengenali mereka. Mereka dari departemen legal Perusahaan Wijaya. Kehadiran penasihat hukum itu saja sudah cukup untuk memperjelas bahwa ini bukan pertemuan biasa. Apa pun yang akan diumumkan, pasti ini masalah serius.Wyatt yang sedari tadi gelisah di kursinya setelah melihat mereka masuk, akhirnya berdiri, tak mampu menahan perasaan gugupnya. "Kakek, apa yang terjadi? Kenapa mereka ada di sini?"Alfred bahkan tidak menoleh. Dia hanya duduk anggun seperti raja di singgasananya, ekspresinya tetap sulit dibaca. "Duduklah, Wyatt. Kamu bakal seger
Alfred menjaga agar ekspresinya tetap sulit dibaca. Sambil duduk anggun di singgasananya, dia tidak menunjukkan ke mana pikirannya mengarah. Namun jauh di dalam dirinya, dia diam-diam terkesan. Cara Gabriel menangani masalah ini, berdiri teguh tanpa terpengaruh ibunya atau Delphine, telah membuktikan sesuatu yang sudah lama diduga oleh Alfred, bahwa Gabriel tidak akan pernah tunduk pada rencana Anna.Dia sangat memahami permainan Anna. Anna dan Rebecca sudah bersahabat selama puluhan tahun, dan kedua perempuan itu selalu bercita-cita ingin menyatukan keluarga mereka melalui pernikahan. Itu taktik lama, menjalin persahabatan dengan mengikat darah. Namun, Alfred tidak pernah tergerak oleh politik dangkal seperti itu. Dia punya visi yang lebih besar untuk Gabriel.Alfred memilih Isla karena alasan yang jelas. Bukan hanya karena kecantikannya, meskipun Isla memang memilikinya, melainkan karena kekuatan dan potensi tersembunyi yang Alfred lihat dalam dirinya. Dan dia berharap, seiring waktu
Sementara yang lain sibuk memberi selamat kepada Delphine sehingga suasana perayaan memenuhi ruangan itu, John diam-diam meraih tangan Isla. John menggenggam tangannya erat, memberikan kenyamanan dalam diam. Matanya bertemu dengan mata Isla. Dalam tatapan singkat itu, Isla menangkap pesan yang dia sampaikan, 'Kuatkan dirimu. Jangan menyerah di sini.' Isla mengangguk pelan sebelum mengalihkan pandangan, menelan badai dalam dirinya.Tatapan matanya berpindah, nyaris di luar kendali, ke arah Gabriel. Wajah Gabriel tidak terbaca. Dia mempertahankan tatapan yang tenang dan dingin. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada kegembiraan, bahkan kejengkelan pun tidak tampak dari raut wajahnya. Tidak ada seorang pun yang bisa menebak apa yang sedang dia pikirkan.Begitu pula dengan Alfred. Sikapnya tenang, diam, dan tidak membocorkan apa pun. Isla menyadari kalau dia harus melakukan hal yang sama. Demi harga diri dan keselamatannya, dia harus tetap tenang."Setelah perceraian mereka selesai," lanjut An
"Terima kasih, Stephen. Aku benar-benar menghargai perhatianmu," kata Isla pelan. Namun, hatinya dipenuhi rasa gelisah."Sama-sama, Nyonya, ini sungguh bukan apa-apa," jawab pria itu dengan senyum sopannya. Isla mengangguk pelan, berterima kasih atas sikapnya yang bersahabat."Silakan, mari kita lanjutkan, Nyonya," lanjutnya sambil perlahan mengantar Isla menuju ruang tamu keluarga yang besar. Dia berjalan perlahan seolah-olah telah memahami ketegangan yang menyelimuti ruangan tertutup itu.Saat mereka tiba di depan pintu ganda ruang tamu keluarga yang tinggi, tangannya menyentuh kenop pintu dan berhenti sejenak sebelum membuka. Suara Stephen terdengar resmi saat mengumumkan kedatangannya."Nyonya Isla sudah datang."Isla melangkah masuk, tumit sepatunya berdetak di lantai marmer. Yang membuatnya terkejut, seluruh anggota keluarga sudah duduk rapi dengan wajah cerah dan senyum hangat, seakan memang menunggu kehadirannya.Isla merasa tidak nyaman. Rasa dingin merambat naik di tubuhnya.
"Wow, semua ini untuk aku? Aku nggak percaya. Aku sudah merasa beruntung dirawat di rumah sakit semewah ini. Tapi sekarang, dengan semua bunga ini dan wajah-wajah ramah kalian, aku merasa benar-benar diberkati." Suara Clara dipenuhi rasa syukur saat dia berbicara kepada Isla dan Gabriel.Clara tidak bisa menjalankan perannya sebagai model utama saat peluncuran desain baru Wijaya Mode. Sebuah kecelakaan domestik membuat pergelangan kakinya terkilir parah dan ponselnya rusak.Isla pertama kali mendengar kabar itu dari Jeff, yang menerima telepon dari Rumah Sakit Wijaya. Namun, setelah semua yang terjadi antara dirinya dan Gabriel, Isla tidak dapat mengunjungi Clara secepat yang dia inginkan."Nggak apa-apa," kata Isla lembut. "Sudah jadi tanggung jawab kami untuk memastikan setiap staf mendapatkan perawatan yang tepat. Kami hanya melakukan hal yang benar. Tapi aku senang melihat kondisimu semakin membaik."Gabriel ada di dekatnya, tetapi perhatiannya teralihkan. Dia berbicara pelan di po
Di luar pusat perbelanjaan terbesar dan termewah di Carapa, Gabriel dan Isla berjalan bergandengan tangan sambil perlahan menyeberangi jalan. Bahkan saat menyeberang, mereka saling memandang dan tersenyum lebar. Rasanya mereka seperti jatuh cinta lagi.Orang-orang berhenti untuk melihat mereka. Beberapa melambaikan tangan sambil memanggil nama Gabriel. Gabriel tersenyum hangat dan membalas lambaian itu tanpa sedikit pun berusaha menghindari perhatian. Isla, meskipun sempat merasa malu, akhirnya ikut melambaikan tangan.Tidak mengherankan jika orang-orang mengenali mereka. Keluarga Wijaya adalah salah satu keluarga paling berpengaruh di Carapa dan seluruh Rivela. Perusahaan real estat mereka termasuk yang terbesar dan tersukses di kota. Mereka memiliki deretan rumah mewah, perumahan besar, hotel, gedung tinggi, dan bahkan seluruh kawasan.Alfred Wijaya, kakek Gabriel, juga dikenal karena kemurahan hatinya. Setiap tahun dia menyelenggarakan acara amal besar untuk menyokong anak muda yang







