LOGINCerita dewasa!!! Bianca Cassandra-22 tahun, mahasiswa semester akhir itu tak menyangka jika hidupnya bisa berubah 180 derajat. Dari pesta, glamor, dan kebebasan tanpa batas, menjadi tawanan seorang CEO kejam bernama David Angkasa Bagaskara yang umurnya terpaut 10 tahun dengannya, hanya karena perusahaan sang ayah kolaps dan ia dipaksa menikah demi menyelamatkan perusahaan keluarganya. David menyeringai menatap pengantinnya. Tatapannya tajam, buas dan misterius. Ia menarik gaun wanita itu hingga robek lalu berkata, "Kau milikku! Layani dan puaskan aku! Kau tidak punya pilihan karena aku telah membayarmu," ucapnya sambil menyeringai, membuat Bianca makin membenci CEO arogan itu. Akankah Bianca berhasil lepas dari jeratnya, atau ia akan terjebak dengan kebencian pada suaminya sendiri?
View MoreMobil sport hitam itu berhenti dengan suara decitan halus di depan lobi rumah megah keluarga Bagaskara. Suasana malam itu terasa jauh lebih hening dari biasanya. David turun lebih dulu, wajahnya masih sedingin es, namun langkahnya tertahan sejenak untuk menunggu Bianca keluar dari mobil. Ia tidak membiarkan istrinya melangkah sendirian. Begitu Bianca berdiri di sampingnya, tangan besar David langsung melingkar di pinggangnya, menariknya masuk ke dalam rumah dengan dominasi yang sangat terasa. Sesampainya di dalam, David tidak melepaskan Bianca. Ia justru membawa gadis itu menuju ruang makan. Di sana, pelayan sudah menyiapkan makan malam tambahan sesuai perintah David lewat telepon tadi. "Duduk," perintah David singkat. Bianca menurut sambil menarik kursi kayu jati itu. Ia memperhatikan David yang kini melepas dasinya dan membuka dua kancing kemeja teratasnya. Pria itu tampak sangat lelah, namun sorot matanya tetap tajam seperti elang yang sedang menjaga sarangnya. "Mas katanya lap
David tidak menjawab. Ia hanya terus melangkah mendekat sementara Bianca mulai memundurkan tubuhnya hingga terpojok di sandaran sofa kulit mahal itu. Kemeja putih David kini terbuka di bagian atas, menampilkan dada bidangnya yang kokoh. Atmosfer di dalam ruangan yang berpendingin udara itu mendadak terasa panas dan menyesakkan."Mas... ini kantor!" cicit Bianca dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus.David menyeringai tipis, tipe seringai yang membuat bulu kuduk Bianca meremang sekaligus jantungnya berdisko tidak keruan. Pria itu menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Bianca, mengurungnya sepenuhnya."Kantorku, aturanku," bisik David rendah. Suaranya yang serak tepat di depan wajah Bianca membuat gadis itu reflek memejamkan mata.David tidak benar-benar melakukan 'hukuman' yang ada di pikiran mesum Bianca. Alih-alih bertindak brutal, ia justru meraih remote kontrol di meja kerja dan menekan sebuah tombol. Seketika, kaca besar transparan yang menghadap ke arah meja sekretaris
Pagi itu, suasana di meja makan terasa jauh lebih dingin dari biasanya, meski matahari bersinar terik di luar. Bianca duduk dengan gelisah, sesekali melirik ponselnya yang terus bergetar di saku hoodie-nya. Ada serentetan pesan dari nomor tidak dikenal yang membuat jantungnya hampir melompat keluar. “Temui aku di belakang gedung fakultas jam 10 pagi. Atau foto-foto mesra kita dulu akan sampai ke meja kerja suamimu yang terhormat itu. — Rendi.” Bianca menelan ludah. Ia melirik David yang sedang tenang memotong omelet-nya. Pria itu tampak tidak terganggu, namun matanya yang tajam sempat menangkap kegelisahan istrinya. “Makan makananmu, Bianca. Kau terlihat seperti orang yang sedang menunggu vonis mati,” tegur David tanpa menoleh. “A-aku nggak apa-apa, Mas. Cuma kepikiran tugas bimbingan aja,” kilah Bianca cepat. Veronica, yang duduk di samping David, tersenyum penuh arti. Ia tahu sesuatu sedang terjadi. “Anak muda zaman sekarang memang gampang stres ya, Dav. Mungkin Bianca butuh li
David langsung melompat dari kursinya. Tanpa memedulikan Veronica yang masih berdiri mematung di depannya, ia melesat keluar ruang kerja. Aroma hangit itu semakin menusuk indra penciumannya saat ia mendekati area dapur. "Bianca!" teriaknya dengan nada rendah namun penuh penekanan. Di depan matanya, kepulan asap tipis menyelimuti area kompor. Bianca berdiri dengan wajah coreng-moreng hitam, memegang spatula seolah itu adalah pedang perang. Di sampingnya, Arjuna sedang sibuk mengibaskan serbet ke arah detektor asap agar alarm tidak berbunyi. "Aduh, Mas! Jangan teriak-teriak, aku lagi konsentrasi!" sahut Bianca tanpa menoleh, matanya perih karena asap. David melangkah lebar, langsung mematikan kenop kompor dengan kasar. Ia merebut spatula dari tangan Bianca dan membantingnya ke wastafel. "Konsentrasi apa? Membakar rumahku? Aku sudah bilang jangan menyentuh dapur kalau hanya ingin membuat kekacauan!" "Aku cuma mau bikin steak buat Kak Juna! Tadi apinya tiba-tiba membesar," bela Bianc












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews