LOGINCerita dewasa!!! Bianca Cassandra-22 tahun, mahasiswa semester akhir itu tak menyangka jika hidupnya bisa berubah 180 derajat. Dari pesta, glamor, dan kebebasan tanpa batas, menjadi tawanan seorang CEO kejam bernama David Angkasa Bagaskara yang umurnya terpaut 10 tahun dengannya, hanya karena perusahaan sang ayah kolaps dan ia dipaksa menikah demi menyelamatkan perusahaan keluarganya. David menyeringai menatap pengantinnya. Tatapannya tajam, buas dan misterius. Ia menarik gaun wanita itu hingga robek lalu berkata, "Kau milikku! Layani dan puaskan aku! Kau tidak punya pilihan karena aku telah membayarmu," ucapnya sambil menyeringai, membuat Bianca makin membenci CEO arogan itu. Akankah Bianca berhasil lepas dari jeratnya, atau ia akan terjebak dengan kebencian pada suaminya sendiri?
View MoreSret. Sret. Sreeeet!
Gaun pengantin mewah berlapis kristal Swarovski terseret di sepanjang koridor hotel bintang lima, memantulkan cahaya lampu chandelier yang berkilau. Riasan Bianca Cassandra terlihat sempurna. Rambutnya disanggul elegan dengan tiara bertabur berlian. Sayangnya, ekspresinya sangat jauh dari kata elegan. Wanita itu terlihat sangat panik. Ia berlari sekuat tenaga sambil beberapa kali menoleh ke belakang, seolah malaikat pencabut nyawa sedang mengincarnya. “KEJAR DIA! JANGAN SAMPAI KABUR!” teriak pengawal bersetelan hitam. Bianca mendongak dengan napas tersengal. "Ya ampun! Mereka tambah banyak. Sialan!" Ia mencengkeram roknya, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu berlari sekencang mungkin meskipun sejujurnya gaun itu terasa begitu berat dan menyesakkan. High heels silver bertabur Swarovski menusuk telapak kakinya. Tumitnya tersangkut. Bianca mendengus, nafasnya memburu. "Arrrgh, sial! Aku gak bisa lari pakai beginian!!” Tanpa ragu ia mencopot high heels itu begitu lalu melemparkannya ke belakang. BRUK! “ADUH!!” Satu pengawal terkena lemparan tepat di wajah. "Uupps, Sorry, Pak! Gak sengaja!" teriak Bianca seperti meledek saat melihat salah satu penjaga terkena ujung high heels tepat di jidatnya. "KURANG AJAR!! CEPAT TANGKAP DIA!" teriak pengawal itu saat Bianca berlari menjauh. Tanpa alas kaki, ia berlari kencang menyusuri lorong mewah. Suara langkah pengawal bergema keras di belakangnya. BRAAKK! Ia menabrak trolley housekeeping dan menjatuhkan tumpukan handuk. “Ma–maaf, Mbak! Saya buru-buru!" Bianca menjerit tanpa menoleh. Ia melompat melewati keranjang laundry. Berlari ke lorong lain. Belok ke kanan, lalu kiri, lalu turun satu lantai melalui tangga darurat. Napasnya makin memburu. “Aku harus keluar dari hotel ini. Aku harus ketemu Rendi! Aku gak mau dinikahin sama laki-laki tua hidung belang cuma karena perusahaan papa mau bangkrut!! Enak aja, papa yang punya masalah, tapi aku yang harus ditumbalkan." Ia membuka pintu darurat di lantai berikutnya. Suasana mulai hening. Kosong, tidak ada suara para pengawal yang mengejarnya lagi. “YES! Aku berhasil! Mereka sepertinya sudah gak ngejar lagi." Bianca berbisik lega. Lelah menuruni tangga, ia pun mencari jalan lain. Bianca mulai berjalan cepat menuju lift di koridor itu. Ia menekan tombol berkali-kali. Ding. Pintu terbuka. Bianca masuk, dengan tergesa segera menekan tombol “Lobi”. Pintu hampir menutup, Wanita itu tersenyum lebar. Akhirnya ia bisa kabur dari para pengawal menyebalkan itu. “Bye, para kacung!” bisiknya sambil tersenyum penuh kemenangan. Namun ... DUGH. Empat tangan besar menjepit pintu dari luar. “WHAT?! TIDAKKK!!” Pengawal itu memaksa pintu terbuka. Salah satu dari mereka berseru sambil tersenyum menyeringai. "KITA MENEMUKANNYA!” Bianca menjerit sambil mencakar tangan orang pertama yang masuk. "NO! Pergi kalian! Jangan coba-coba sentuh aku!" Wanita itu memberontak. Namun dua pengawal lain langsung menariknya keluar. “LEPASKAN AKU! KALIAN GAK TAHU SIAPA AKU, HAH?!" “Kami hanya menjalankan perintah, Nona,” jawab seorang pengawal datar. Mereka menyeret Bianca, tapi tubuh mungil itu masih memberontak. "Aku mohon, lepaskan aku! Aku gak mau menikah dengan laki-laki kejam itu. Bos kalian itu sudah bau tanah, tolong jangan nodai gadis suci ini," ucapnya memelas. Ia terus memohon dengan suara rendah dan tangisan yang seperti dibuat-buat, berharap para pengawal akan iba. Namun sayangnya, tidak. Keempat pria berjas hitam itu tetap membawanya, bahkan mengangkat tubuhnya karena Bianca terus saja berusaha melarikan diri. "Tenanglah, Nona. Tubuh anda akan sakit jika terus memberontak. Tuan akan sangat marah jika melihat riasan anda kacau, begitupun dengan sangulnya. Pasrah saja, anda tidak akan bisa lari kemanapun, Nona!" Bianca menjerit lagi. Kembali histeris dengan tubuh yang terus memberontak seperti anak kecil yang sedang tantrum. "AARGGHH, GAK MAU! POKOKNYA LEPASKAN AKU!!” “Maaf. Anda harus kembali. Tuan besar sudah menunggu.” Bianca melawan mati-matian, tapi semakin lama, tenaganya pun menjadi lemah. "Lepaskan aku! Aku udah punya pacar. Aku gak mau menikah dengan pria tua. Huhuhu... Tolong lepaskan aku," suaranya lirih, serak dan lemah. Rengekannya bagai nyanyian untuk para pengawal itu menuju sebuah ruangan dimana seseorang sedang menunggu. Pintu besar bertuliskan VIP PRESIDENTIAL SUITE terbuka. Para pengawal menunduk. Sementara Bianca yang masih meronta, akhirnya terhenti. Udara di ruangan berubah dingin, sunyi dan menyesakkan. Bianca diturunkan oleh pengawal itu. Tatapannya langsung tertuju pada seseorang yang berdiri membelakangi, menghadap ke arah kaca besar. "Si–siapa kamu?" tanyanya gugup. Bianca menatap sekelilingnya, bingung sekaligus takut. Suara hentakan pantofel terdengar saat pria itu membalikkan tubuhnya. Bianca membulatkan matanya. Ia terbelalak melihat tubuh tinggi, tegap dan rahang yang tegas. Kemeja hitam mahal yang membalut bahu kokoh. Dan sepasang mata elang yang tajam, gelap dan penuh dominasi. Pria itu menatap Bianca seakan mampu menembus isi kepalanya. Aura yang memancar darinya begitu kuat hingga dua pengawal paling besar pun terlihat gugup. “Si—siapa kamu? Kenapa aku dibawa kesini? Bukannya aku akan dinikahkan dengan laki-laki tua?!” suara Bianca gemetar. Pria itu menarik sebelah sudut bibirnya, tersenyum menyeringai ketika mendengar pertanyaan wanita itu. Ia melangkah, mendekatinya, membuat Bianca mundur ketakutan hingga punggungnya menempel dinding. Pria itu berhenti satu jengkal dari wajahnya. Ia menunduk sedikit, mata elangnya mengunci Bianca dalam tatapan yang membuat darah gadis itu membeku. Kemudian suaranya mengalun rendah, dalam dan dingin. Ia mengatakan sesuatu yang membuat Bianca langsung membeku. "Akulah pria tua bangka itu, Nona," ucapnya dengan senyum yang begitu memikat namun terlihat menakutkan. “Aku telah membelimu. Mahar yang cukup besar untuk menyelamatkan perusahaan keluargamu.” Bianca terperangah. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Wanita itu ingin membuka mulut, tapi suaranya hilang. Lalu pria itu menyeringai tipis dan kembali melanjutkan kalimatnya yang membuat tubuh Bianca membeku. “Malam ini, kau akan aku nikahi. Layani dan puaskan aku!" Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Bianca, suaranya seperti racun. “Jika kau menolak dan mencoba untuk melarikan diri lagi, kau akan tahu akibatnya.” Bianca terpaku. Tenggorokannya tercekat. Lidahnya terasa kelu. Entah harus bersyukur atau berduka, karena laki-laki tua yang ada dalam bayangannya ternyata sosok pria tampan dan gagah. Namun tetap saja, Bianca tidak mau dinikahkan secara paksa. Ia telah memiliki kekasih. Dan ia tidak akan menghianati cintanya. "Oh, ternyata ini David Angkasa Bagaskara itu? Kenapa papa gak bilang kalau dia bukan pria tua? Tapi ... tetap aja, dia spek Om-om. Aku gak mau nikah sama laki-laki ini. Apalagi dia cuman menginginkan tubuhku. Memangnya aku cewek apakah? Ckk, pokoknya aku harus cari cara supaya pernikahan ini gagal total!" Bianca terus berpikir keras, mencari cara untuk bisa kabur lagi. Namun lamunannya buyar ketika pintu ruangan itu terbuka, seorang pengawal memberikan kabar yang membuat CEO yang terkenal dingin dan kejam itu langsung menyeringai. "Tuan David, Pendeta Mike sudah tiba di ballroom. Persiapan pemberkatan hampir selesai." Bianca terhenyak. Tubuhnya terasa lemas mendengar itu. "A–apa?" *** Bersambung ...David tidak menjawab. Ia hanya terus melangkah mendekat sementara Bianca mulai memundurkan tubuhnya hingga terpojok di sandaran sofa kulit mahal itu. Kemeja putih David kini terbuka di bagian atas, menampilkan dada bidangnya yang kokoh. Atmosfer di dalam ruangan yang berpendingin udara itu mendadak terasa panas dan menyesakkan."Mas... ini kantor!" cicit Bianca dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus.David menyeringai tipis, tipe seringai yang membuat bulu kuduk Bianca meremang sekaligus jantungnya berdisko tidak keruan. Pria itu menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Bianca, mengurungnya sepenuhnya."Kantorku, aturanku," bisik David rendah. Suaranya yang serak tepat di depan wajah Bianca membuat gadis itu reflek memejamkan mata.David tidak benar-benar melakukan 'hukuman' yang ada di pikiran mesum Bianca. Alih-alih bertindak brutal, ia justru meraih remote kontrol di meja kerja dan menekan sebuah tombol. Seketika, kaca besar transparan yang menghadap ke arah meja sekretaris
Pagi itu, suasana di meja makan terasa jauh lebih dingin dari biasanya, meski matahari bersinar terik di luar. Bianca duduk dengan gelisah, sesekali melirik ponselnya yang terus bergetar di saku hoodie-nya. Ada serentetan pesan dari nomor tidak dikenal yang membuat jantungnya hampir melompat keluar. “Temui aku di belakang gedung fakultas jam 10 pagi. Atau foto-foto mesra kita dulu akan sampai ke meja kerja suamimu yang terhormat itu. — Rendi.” Bianca menelan ludah. Ia melirik David yang sedang tenang memotong omelet-nya. Pria itu tampak tidak terganggu, namun matanya yang tajam sempat menangkap kegelisahan istrinya. “Makan makananmu, Bianca. Kau terlihat seperti orang yang sedang menunggu vonis mati,” tegur David tanpa menoleh. “A-aku nggak apa-apa, Mas. Cuma kepikiran tugas bimbingan aja,” kilah Bianca cepat. Veronica, yang duduk di samping David, tersenyum penuh arti. Ia tahu sesuatu sedang terjadi. “Anak muda zaman sekarang memang gampang stres ya, Dav. Mungkin Bianca butuh li
David langsung melompat dari kursinya. Tanpa memedulikan Veronica yang masih berdiri mematung di depannya, ia melesat keluar ruang kerja. Aroma hangit itu semakin menusuk indra penciumannya saat ia mendekati area dapur. "Bianca!" teriaknya dengan nada rendah namun penuh penekanan. Di depan matanya, kepulan asap tipis menyelimuti area kompor. Bianca berdiri dengan wajah coreng-moreng hitam, memegang spatula seolah itu adalah pedang perang. Di sampingnya, Arjuna sedang sibuk mengibaskan serbet ke arah detektor asap agar alarm tidak berbunyi. "Aduh, Mas! Jangan teriak-teriak, aku lagi konsentrasi!" sahut Bianca tanpa menoleh, matanya perih karena asap. David melangkah lebar, langsung mematikan kenop kompor dengan kasar. Ia merebut spatula dari tangan Bianca dan membantingnya ke wastafel. "Konsentrasi apa? Membakar rumahku? Aku sudah bilang jangan menyentuh dapur kalau hanya ingin membuat kekacauan!" "Aku cuma mau bikin steak buat Kak Juna! Tadi apinya tiba-tiba membesar," bela Bianc
Pagi itu rumah terasa berbeda. Lebih ramai. Tapi tidak hangat. Mungkin karena para penghuni sementara yang sejujurnya membuat kedua belah pihak tak nyaman. Bianca yang tidak suka dengan kehadiran Veronica, pun dengan David yang tak suka dengan kehadiran Arjuna, sepupunya sendiri. Bianca sedang berada di taman belakang bersama Arjuna. Pria itu duduk santai di bangku kayu, lengan bersandar di sandaran, sementara Bianca berdiri memegang segelas jus jeruk. “Aku baru tahu,” ucap Arjuna sambil menatap langit, “kau suka tanaman bunga.” Bianca mengangkat bahu. “Lebih tepatnya… aku suka sesuatu yang bisa tumbuh kalau dirawat. Di rumahku, ada taman mawar. Mama selalu merawatnya," ucapnya sambil tersenyum. "Ah, jadi kangen rumah." Arjuna menoleh padanya, tersenyum tipis. "David tidak pernah mengajakmu pulang? Bukankah Nyonya Rachel sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Arjuna, sedikit banyak tahu tentang Bianca dari keluarganya. Termasuk tentang ibunya Bianca yang kini sudah semakin memb
Ciuman itu berakhir secepat dimulai. David menarik diri lebih dulu. Tidak ada penjelasan. Tidak ada emosi di wajahnya. Seolah yang barusan terjadi hanyalah tindakan impulsif yang tak perlu diingat. Bianca masih terpaku. Napasnya tercekat, dadanya naik turun tidak stabil. “Kau—” Bianca hendak bic
Bianca berdiri di depan jendela besar kamar tamu. Ya, kamar tamu, bukan kamar utama lagi. Sejak pagi, pelayan rumah itu dengan sopan namun tegas memintanya pindah. “Tuan David memerintahkan demikian, Nyonya.” Kata Nyonya terdengar seperti ejekan. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela. G
Bianca melangkah ke ruang makan dengan perasaan yang campur aduk. Satu sisi masih gengsi dan kesal dengan sikap David, namun sisi lain ia puas jika melihat yang menggatal itu kepanasan."Semoga aja si ulat bulu itu cepat pergi deh. Gue sih gak masalah juga CEO kulkas itu mau sama siapa, tapi gak di
Gedung utama keluarga Bagaskara berdiri megah di hadapan mereka, diterangi lampu-lampu kristal yang berkilau seperti mata para tamu yang siap menilai. Malam itu adalah jamuan keluarga besar Bagaskara Grup, ajang pamer dan adu gengsi. Begitu mobil berhenti, David turun lebih dulu. Ia berdiri tegak,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews