Masuk"Pacarnya kali ya?"
Tak sengaja Sandra melintas di depan kos-kosan para mahasiswa yang di tempati Roy. Sandra mengehentikan laju mobilnya sejenak, lalu memperhatikan sebuah mobil yang terparkir di depan kamar kos yang di tempati oleh Roy. Sandra bergumam ketika melihat pintu kamar Roy dalam keadaan tertutup, namun sebuah mobil terparkir di depan kamar. Sandra berpikir jika pemilik mobil adalah pacar Roy. "Aku hanya butuh kehangatanmu saat di ranjang, aku gak butuh cintamu. Silahkan kamu mau pacaran dengan siapa, yang penting bagiku kamu ada setiap aku butuh," bisik Sandra sambil kembali melajukan mobilnya. Tak ada sedikitpun rasa cemburu di hati Sandra jika Roy punya kekasih, dan tidak ada niat juga untuk mencintai Roy dalam artian sesungguhnya. Bagi Sandra, Roy hanya tempat berlabuh saat kesepian karena suaminya memberikan segala kemewahan, namun hanya satu yang di rasa tidak cukup bagi Sandra, yaitu kepuasan saat di ranjang. Roy hanyalah tempat pelampiasan, bersama Roy ia mendapatkan kepuasan, hubungannya bersama Roy sebatas sama-sama butuh. Roy butuh uang, sedangkan Sandra butuh kehangatan seorang pria. Sementara itu dalam kamar, Amella membenahi pakaiannya yang sempat berantakan. Walaupun hanya sebatas ciuman, pembungkus gundukan kembar miliknya sempat dilepas Roy. "Roy, bantuin dong. Kamu yang lepasin, kamu juga yang pasang lagi," ujar Amella merengut sambil membelakangi Roy. "He, he, he. Iya sayang," jawab Roy di barengi tertawa kecil ketika Amella menghadapkan belakang tubuhnya agar pengait penutup bukit kembarnya kembali di pasang oleh Roy. "Roy, ahhhhh. Udah sayang." Amella kembali mendesis ketika sebelum kembali memasang pengait penutup bukit kembarnya, Roy masih menyempatkan tangannya untuk kembali meremas gundukan kenyal tersebut dari belakang. Amella membalikkan badannya, kedua lengannya melingkar di leher Roy dengan pandangan redup. Roy tidak ingin kejadian berlanjut yang bisa mengakibatkan runtuhnya pertahanan janji mereka untuk tidak melakukan hal terlarang sebelum waktunya. "Mel, pulang ya. Kalau kamu masih di sini, aku gak janji kalau setelah ini kamu tidak perawan lagi," bisik Roy di telinga Amella sambil memeluk mahasiswi cantik tersebut. "Makasih, kamu masih ingin menjagaku. Aku berjanji akan memberikan semuanya untukmu setelah waktunya nanti dalam keadaan utuh tanpa cela," jawab Amella sambil menelusupkan wajahnya ke dada bidang Roy. Roy membalas pelukan sang kekasih sambil membelai lembut pucuk kepala hingga ujung rambut Amella yang bergerai hingga ke punggungnya. Untuk beberapa saat lamanya kedua pasangan kekasih tersebut saling memeluk erat, seolah mereka akan berpisah dalam jangka waktu yang lama. "Beneran tidur, awas aja kalau masih keluyuran," ujar Amella sambil melerai pelukan. Lagi-lagi ruam merah di leher Roy mengganggu pikirannya, namun Amella menepis prasangka buruk yang tiba-tiba saja melintas di pikirannya. "Iya Mel. Tidurku pasti lebih nyenyak kalau kamu temani," jawab Roy menggoda sang kekasih sambil tersenyum simpul. "Ngaco ahh." Sambil melayangkan cubitan kecil di perut Roy, Amella berbalik menuju pintu kamar. Detik berikutnya Amella sudah menghilang di balik pintu kamar yang ia tutup sendiri dan berlalu pergi dari deretan kos-kosan yang mayoritas di huni oleh mahasiswa dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Setelah Amella pergi, Roy merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sebelum benar-benar mau tidur, Roy membuka aplikasi chat dan di sana sudah terdapat beberapa pesan chat dari Sandra. "Mobil yang terparkir di depan kamar kamu, mobil pacar kamu ya?" Roy terdiam ketika membaca pesan chat yang di kirim Sandra. "Gak papa, kamu berhak bahagia bersama gadis manapun yang kamu cintai. Aku tidak akan merusak hubungan kalian, selagi kamu tetap ada setiap aku butuhkan." Pesan chat berikutnya dari Sandra di baca Roy hingga beberapa pesan. "Berarti Sandra lewat di depan kos barusan, makanya dia lihat mobil Amella," gumam Roy sambil menatap deretan beberapa pesan chat yang di kirim Sandra. "Atau jangan-jangan memang Sandra mau ke sini, lalu berbalik pergi karena melihat ada mobil Amella." Gegas Roy menelpon Sandra, tidak ingin terjadi salah paham dengan Tante muda tersebut. Panggilan tidak terhubung, Roy menatap layar ponselnya. Status panggilan berdering, namun tidak di jawab Sandra. Roy kembali mencoba untuk mengulang panggilan, namun sebuah pesan chat masuk dari Sandra. "Jangan menelpon, suamiku lagi di rumah. Kenapa? Lagi pengen ya?" Roy meringis membaca pesan chat dari Sandra yang sengaja menggodanya. Roy membalas pesan dengan mengirimkan emot tertawa. "Pantesan gak di jawab, rupanya pemilik lahan becek datang," gumam Roy sambil tertawa cekikikan sendiri menatap layar ponselnya ketika Sandra mengatakan bahwa suaminya baru saja datang. "Walaupun becek, sedikit enak sih. Selebihnya enak banget." Roy masih saja cekikikan sendiri, tak berani membalas pesan genit yang di kirim Sandra. "Kalau kamu lagi pengen banget, aku kirim nomor kontak teman aku nih. Kali aja di lagi pengen kayak kamu, tapi gak ada saluran." Roy menghentikan tawanya ketika membaca pesan chat berikutnya yang di kirim Sandra yang di sertai emot tertawa. Belum sempat Roy membalas pesan, sebuah nomor kontak baru di kirim Sandra, nomor temannya yang juga sering merasa kesepian di tinggal pergi suaminya dalam jangka waktu yang lama, sama seperti Sandra. "Gak papa tua dikit, tapi masih alot kok. Yang penting kamu dapat uang tip." Roy garuk-garuk kepala, ketika Sandra memberitahu bahwa pemilik nomor kontak yang baru saja ia kirim merupakan tante yang usianya sudah tidak muda lagi. "Tua mana dari nenekmu?" Karena terus-terusan di goda Sandra melalui pesan chat, Roy akhirnya membalas pesan tersebut. Sebelum Sandra membalas pesan dari Roy, terlebih dulu ia mengirim balasan dengan emot tertawa. "Buruan telpon sana, gak kasihan apa? Si Jonimu tegang terus. Ntar kram lho." Sandra semakin menjadi-jadi menggoda Roy lewat balasan pesan chat. "Aku maunya kamu," jawab Roy dalam balasan pesan. "Sekarang gak bisa sayang, suamiku lagi di rumah. Noh lagi tidur, satu ronde aja udah langsung keok, mana puas aku." Sandra membalas pesan chat dari Roy. Roy tidak ingin mengambil resiko untuk terus berbalas pesan chat dengan Sandra, karena tante muda tersebut sedang melayani suaminya yang baru datang setelah sekian bulan. Roy menyimpan nomor kontak yang baru saja di kirim Sandra, dari foto profil, Roy melihat seorang wanita paruh baya dengan dandanan yang sudah tidak cocok dengan usianya. Sambil menatap foto profil tante tersebut, Roy tersenyum geli. "Gak ada yang lebih tua dari ini apa?" Bukannya menghubungi nomor baru tersebut, Roy malah mengirim pesan chat pada Sandra. Terang saja pesan chat tersebut di balas Sandra dengan emot tertawa ngakak. Bersambung ...Lonjakan hormon estrogen dan progesteron saat kehamilan Arumi memasuki trimester kedua membuat hasratnya seakan meledak-ledak, terlebih Arumi sering ditinggal Roy sendirian. Saat Roy pulang, masih dalam keadaan berdiri di ruang tengah rumah sederhananya, Arumi bergelayut manja di leher Roy, seolah hasrat yang sering tertahan minta untuk disalurkan tanpa bisa dibendung lagi."Mas, aku kangen ..." Arumi mendesis lirih, tatapannya sayu, menengadah dengan bibir setengah terbuka. Ia telusuri dada bidang Roy dengan telapak tangannya, meraba dari atas hingga kebawah pusar Roy. Lain lagi yang dirasakan Roy, dalam kondisi terserang sindrom cauvade, ia harus sekuat hati agar tidak muntah karena rasa mual. Morning sicnkness dalam istilah kedokteran tersebut begitu menyiksa bagi Roy."Mas juga kangen, Arumi. Kangen pengen kasih susu kental buat bayi kita," jawab Roy tersenyum balas menatap sang istri kecilnya. Jawaban Roy membuat hasrat Arumi semakin tak tertahankan, istrilah yang diucapkan Roy k
"Perasaanku kok mencium aroma gak enak gini ya? Aneh ..." Sembari mengenakan pakaian sehabis mandi, Roy bergumam sendiri dalam kamarnya. Rumah sebesar ini terasa begitu sepi, Sandra pergi dengan suaminya entah kemana. Roy gak akan menghubungi wanita tersebut, kecuali Sandra menghubunginya terlebih dulu. Kalau sempat suami Sandra mengetahui mereka sering berbagi kehangatan, bisa berabe urusannya."Bau apaan sih? Perasaan di rumah ini gak ada tikusnya, kok perasaan bau bangkai gitu." Lagi-lagi Roy bergumam sendiri, hidungnya kembang-kempis mengendus aroma tak sedap dalam kamar. Kolong ranjang, di balik lemari, bahkan Roy mencium aroma ketiaknya sendiri. Namun sumber bau tak sedap yang membuat perutnya mual tak kunjung ditemukan.Sebenarnya sudah hampir seminggu yang lalu Roy merasakan hal aneh, mencium aroma tak sedap yang tak jarang membuatnya nyaris muntah. Namun ia tidak menghiraukan, mungkin hanya kebetulan ada bangkai tikus, entah apa di sekitarnya. Namun semakin hari, indra penciu
"Aku gak bisa dampingi kamu, mama barusan telpon minta ditemani untuk menghadiri acara arisannya. Kamu datang aja sendiri ke kantor papa, gak apa-apa kan?""Semangat Roy, anggap aja menghadap calon papa mertua. Tapi ingat, papa itu galak kalau urusan soal bisnis, kalau perlu kamu pakai pempes aja, biar gak ngompol di celana."Roy meringis, sembari menengadah menatap gedung pencakar langit di hadapannya. Obrolan singkat bersama Amella sebelum ia datang sendiri ke kantor perusahaan milik keluarga Amella, masih terngiang di telinganya. Tadinya Roy berharap sang kekasih menemaninya untuk menghadap papa Amella yang meminta Roy untuk datang ke kantornya yang berada di lantai tujuh gedung pusat perkantoran tersebut, namun akhirnya Roy harus berangkat sendirian, karena Amella punya acara lain bersama sang mama. Paling tidak begitulah yang diketahui Roy."Aku harus siap, apapun itu. Ya Tuhan, tolong tenangkan gemuruh hatiku ini," bisik Roy dalam hati. "Benar kata orang-orang, menghadap calon
Pagi-pagi sekali Roy sudah berada di kampus, pelajaran dan tugas di hari kemarin yang sempat tertinggal harus ia kejar hari ini. "Wahhh, aku kira bakalan menggantikan security untuk membuka gerbang. Ternyata Amella datang lebih dulu, tapi mana dia?" Roy bergumam, sembari melepas helm yang menutupi kepalanya, sesaat setelah baru saja memarkir motornya. Roy mengitari pandangannya ke sekitar tempat parkir, mobil mungil warna merah milik Amella sudah terparkir, namun pemiliknya tidak kelihatan.Karena datang ke kampus masih terlalu pagi dari biasanya, Roy mengira dirinya lah yang akan membuka gerbang kampus sebelum security datang. Tapi Amella datang lebih dulu, hanya mobilnya yang terlihat di parkiran. "Mungkin tugas Amella juga udah numpuk, kebiasaan sih ngerjain tugas borongan. Mendekati deadline kocar-kacir," bisik Roy tersenyum sendiri, karena kebiasaannya pun begitu."Pagi, mas Roy." Pagi, Dinda. Segar banget pagi ini," jawab Roy, saat membalas sapaan adik letingannya. Ketika baru
"Brengsek kamu!"Roy melotot, spontan ia mendorong Shinta hingga terlepas dari pelukannya. Wanita yang telah ia gempur habis-habisan dalam pengaruh obat perangsang tersebut kaget, ia tidak menyangka Roy berbuat kasar setelah lepas dari pengaruh obat perangsang."Untuk apa kamu melakukan ini semua, haaa?! Hingga berani kamu mengirim orang untuk mencelakai aku, bahkan kamu meracuni aku dengan obat sialan itu!" Bentak Roy lagi, sembari menyambar pakaian yang berserakan di lantai kamar. Sekilas Roy melirik pada jarum suntik yang masih tergeletak di lantai, ia tau bahwa Shinta telah berbuat curang dengan menyuntikkan obat perangsang ke tubuhnya."Dengarkan aku dulu, Roy. Aku hanya ingin mencintai kamu, aku akui caraku salah. Tapi percayalah, aku telah jatuh cinta saat pertama kali Tante Mirna memperkenalkan kamu padaku," jawab Shinta, ia beringsut ke sisi ranjang menatap Roy yang sedang bergegas kembali mengenakan pakaiannya. Shinta menutupi tubuh polosnya dengan selimut."Ooo, jadi Tante
"Arumi?"Roy bergumam lirih nyaris tanpa suara, ia terpana sesaat. Di saat kesadarannya belum sepenuhnya pulih, setelah napasnya terasa sesak saat wajahnya tertutup dua gundukan kenyal dengan aroma parfum yang khas. Di antara setengah sadar tersebut Roy hanya ingat dan menyebut satu nama, Arumi."Hisap Roy, hisap yang kenceng sayang. Hoeuuhh!" Shinta yang tengah menindih Roy kembali menyumpal mulut Roy dengan tonjolan kecil hitam kecoklatan yang sudah mengkal, tonjolan kecil itulah yang menjadi titik paling sensitif pada kedua gundukan kembar milik Shinta.Dalam kondisi yang baru setengah sadar, dalam pengaruh obat perangsang dan bayangan Arumi yang tiba-tiba hadir, Roy melahap gundukan daging kenyal milik Shinta yang menantang di depan matanya. Dengan rakusnya Roy menghisap, meremas daging kenyal putih mulus milik Shinta."Oouuhh Roy!" Shinta melenguh meresapi kenikmatan, saat Roy menghisap puting daging kenyal tersebut, ia menengadah dengan mata terpejam. Kemudian Shinta memegang gu







