LOGINKekesalan Roy ia lampiaskan pada Shinta, setelah belakangan ini janda muda tersebut sering menebar ancaman pada Roy. Jika keinginannya tidak dituruti, rekaman video syur mereka akan disebar di media sosial. Roy dengan beringas mencumbu Shinta di atas ranjang, hingga janda muda tersebut beberapa kali terpekik. Entah itu pekikan kenikmatan atau pekikan kesakitan, Roy tak peduli. "Roy, akhhhh! Pelan-pelan dong sayang." Untuk kesekian kalinya Shinta merintih, saat Roy menghisap puting gundukan kembarnya dengan kasar. Bukan hanya menghisap dengan kasar, kadang Roy menggigit titik paling sensitif di dada janda muda tersebut. "Breeett!" "Akhhhh Roy, sakit sayang." Lagi-lagi Shinta menjerit kecil, Roy dengan kasar melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuh Shinta. Celana dalam tembus pandang yang menutupi gundukan daging mungil berbulu tipis di antara kedua paha mulus Shinta robek karena ditarik paksa Roy. Ciuman dan kecupan Roy menyusuri perut Shinta, sementara kedua tangannya meremas
"Kalau kamu tidak ingin video ini tersebar, temui aku di hotel!"Roy cuma nyengir, saat membaca pesan chat dari Shinta yang disertai dengan sebuah video. Meskipun Arumi sempat protes, saat Roy pamit untuk kembali meninggalkannya karena ada urusan penting yang harus ia selesaikan, Roy tetap pergi di pagi buta. Setelah memberikan sebuah kecupan di kening Arumi, seperti biasa sang istri hanya bisa menangis.Roy memacu motor sportnya di temaram pagi yang masih remang. Tujuan utamanya cuma satu, menemui Dinda. Kalau perlu Roy harus memohon pada gadis tersebut, asalkan Dinda mau berjanji tutup mulut. Menyimpan rahasianya pada siapapun, terlebih di lingkungan kampus.Sementara itu pesan chat dari Shinta ia abaikan, janda muda seksi tersebut menunggunya di sebuah hotel. "Beruntung Sandra masih bersama suaminya, kalau gak bisa babak belur aku," gumam Roy dalam hati, sembari meliuk di antara kendaraan yang mulai ramai ketika memasuki perkotaan. "Masuk kantor mulai besok sih, tapi nih perut mu
"Oo, mbak Amella itu teman kuliah kamu mas?" Sembari menyiapkan sarapan pagi, Arumi bertanya. Sebagai seorang istri Arumi menjalankan kewajibannya menyiapkan sarapan pagi buat Roy, lagi pula sangat jarang Arumi mengurus keperluan sang suami karena jarang di rumah. Setelah bergumul di atas ranjang semalaman dengan penuh hasrat, Roy memberi kejutan pada Arumi bahwa dalam dua hari kedepan ia bekerja di perusahaan keluarga Amella.Di meja makan Roy menunggu Arumi sambil bermain ponsel, ia tertegun. Seketika ia alihkan pandangan dari layar ponsel, menatap Arumi yang tengah sibuk memasak. Mendengar Arumi menyebut nama Amella, raut wajah Roy seketika berubah."Kamu kenal Amella?" tanya Roy balik, sembari berusaha menyembunyikan raut wajahnya supaya tidak terlihat Arumi. Betapa Roy begitu terkejut, kenapa Arumi bertanya tentang Amella."Enggak sih mas. Kemarin itu ada panggilan tak terjawab dari seseorang di ponselku, saat aku lihat nama kontaknya Amella. Aku kira orang salah sambung, makanya
Lonjakan hormon estrogen dan progesteron saat kehamilan Arumi memasuki trimester kedua membuat hasratnya seakan meledak-ledak, terlebih Arumi sering ditinggal Roy sendirian. Saat Roy pulang, masih dalam keadaan berdiri di ruang tengah rumah sederhananya, Arumi bergelayut manja di leher Roy, seolah hasrat yang sering tertahan minta untuk disalurkan tanpa bisa dibendung lagi."Mas, aku kangen ..." Arumi mendesis lirih, tatapannya sayu, menengadah dengan bibir setengah terbuka. Ia telusuri dada bidang Roy dengan telapak tangannya, meraba dari atas hingga kebawah pusar Roy. Lain lagi yang dirasakan Roy, dalam kondisi terserang sindrom cauvade, ia harus sekuat hati agar tidak muntah karena rasa mual. Morning sicnkness dalam istilah kedokteran tersebut begitu menyiksa bagi Roy."Mas juga kangen, Arumi. Kangen pengen kasih susu kental buat bayi kita," jawab Roy tersenyum balas menatap sang istri kecilnya. Jawaban Roy membuat hasrat Arumi semakin tak tertahankan, istrilah yang diucapkan Roy k
"Perasaanku kok mencium aroma gak enak gini ya? Aneh ..." Sembari mengenakan pakaian sehabis mandi, Roy bergumam sendiri dalam kamarnya. Rumah sebesar ini terasa begitu sepi, Sandra pergi dengan suaminya entah kemana. Roy gak akan menghubungi wanita tersebut, kecuali Sandra menghubunginya terlebih dulu. Kalau sempat suami Sandra mengetahui mereka sering berbagi kehangatan, bisa berabe urusannya."Bau apaan sih? Perasaan di rumah ini gak ada tikusnya, kok perasaan bau bangkai gitu." Lagi-lagi Roy bergumam sendiri, hidungnya kembang-kempis mengendus aroma tak sedap dalam kamar. Kolong ranjang, di balik lemari, bahkan Roy mencium aroma ketiaknya sendiri. Namun sumber bau tak sedap yang membuat perutnya mual tak kunjung ditemukan.Sebenarnya sudah hampir seminggu yang lalu Roy merasakan hal aneh, mencium aroma tak sedap yang tak jarang membuatnya nyaris muntah. Namun ia tidak menghiraukan, mungkin hanya kebetulan ada bangkai tikus, entah apa di sekitarnya. Namun semakin hari, indra penciu
"Aku gak bisa dampingi kamu, mama barusan telpon minta ditemani untuk menghadiri acara arisannya. Kamu datang aja sendiri ke kantor papa, gak apa-apa kan?""Semangat Roy, anggap aja menghadap calon papa mertua. Tapi ingat, papa itu galak kalau urusan soal bisnis, kalau perlu kamu pakai pempes aja, biar gak ngompol di celana."Roy meringis, sembari menengadah menatap gedung pencakar langit di hadapannya. Obrolan singkat bersama Amella sebelum ia datang sendiri ke kantor perusahaan milik keluarga Amella, masih terngiang di telinganya. Tadinya Roy berharap sang kekasih menemaninya untuk menghadap papa Amella yang meminta Roy untuk datang ke kantornya yang berada di lantai tujuh gedung pusat perkantoran tersebut, namun akhirnya Roy harus berangkat sendirian, karena Amella punya acara lain bersama sang mama. Paling tidak begitulah yang diketahui Roy."Aku harus siap, apapun itu. Ya Tuhan, tolong tenangkan gemuruh hatiku ini," bisik Roy dalam hati. "Benar kata orang-orang, menghadap calon







