Home / Romansa / Bersemi di Musim Gugur / Menjadi Seorang Ibu

Share

Menjadi Seorang Ibu

Author: El Nurien
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-19 21:11:55

​“Tuan... Nyonya, Nona Tang Tang!”

Suara ketukan pintu kamar yang disusul oleh panggilan Bibi Wang terdengar begitu mendesak dari luar, memecah kesunyian malam.

​Sesaat, Anqi dan Gu Chen saling berpandangan dengan cemas, kemudian keduanya spontan bergegas turun dari tempat tidur.

​“Nona Tang Tang... badannya panas sekali, Tuan!” lapor Bibi Wang begitu pintu kamar terbuka lebar.

​Tanpa membuang waktu, keduanya bergegas meluncur ke kamar tidur Tang Tang.

​“Tang Tang kenapa?” seru Anqi dengan nada
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Bersemi di Musim Gugur   Menjadi Seorang Ibu

    ​“Tuan... Nyonya, Nona Tang Tang!”Suara ketukan pintu kamar yang disusul oleh panggilan Bibi Wang terdengar begitu mendesak dari luar, memecah kesunyian malam.​Sesaat, Anqi dan Gu Chen saling berpandangan dengan cemas, kemudian keduanya spontan bergegas turun dari tempat tidur.​“Nona Tang Tang... badannya panas sekali, Tuan!” lapor Bibi Wang begitu pintu kamar terbuka lebar.​Tanpa membuang waktu, keduanya bergegas meluncur ke kamar tidur Tang Tang.​“Tang Tang kenapa?” seru Anqi dengan nada panik dan cemas.​Tanpa bersuara, Gu Chen langsung menyentuh dahi Tang Tang. Sengatan panas yang luar biasa langsung terasa di telapak tangannya. “Sejak kapan dia seperti ini, Bi?”​“Bukankah tadi saat makan malam bersama kita dia terlihat baik-baik saja dan ceria?” lanjut Anqi meminta kejelasan.​Bibi Wang mengangguk panik. “Saya tahu baru saja, Tuan. Tadinya saya hanya berniat mengecek keadaannya sebelum tidur. Saya juga kaget saat meraba suhu tubuhnya.”​“Sudah diberi obat penurun panas?” ta

  • Bersemi di Musim Gugur   Janji Madu

    “Anqi?” Gu Chen mengguncang pelan lengan istrinya, membuyarkan lamunannya setelah beberapa menit wanita itu hanya membisu.Angguk menyetujui dengan anggukan. ​“Benarkah?” Tiba-tiba saja wajah Gu Chen berubah semringah, binar bahagia terpancar jelas dari manik matanya.​“Tapi aku tidak bisa berjanji secara pasti,” sahut Anqi mengelak, meski jauh di lubuk hatinya, ia sudah bertekad untuk memperjuangkan waktu itu.​“Aku mengerti. Nanti kita coba cocokkan jadwal bersama.” Gu Chen menggenggam kedua tangan Anqi erat-erat, lalu mendaratkan kecupan lembut di punggung tangan wanita itu. “Terima kasih, Anqi.”​Anqi bergeming. Sesaat, ia terkesima melihat pancaran kebahagiaan di wajah suaminya. Ia akui dalam hati, pria itu terlihat berkali-kali lipat lebih tampan ketika tersenyum tulus seperti ini. Tanpa sempat disaring oleh akal sehatnya, kakinya tiba-tiba berjingkit, dan bibirnya mendaratkan kecupan sekilas tepat di bibir Gu Chen.​“Anqi?” Gu Chen tersentak kaget di tempatnya.​“Kenapa? Tidak

  • Bersemi di Musim Gugur   Hanya Tiga Hari

    Gu Chen hanya menanggapinya dengan senyuman hangat yang menenangkan. “Ngomong-ngomong... masih ada lagi hal lain yang ingin kau tahu dari suamimu ini, Nyonya Gu?”​Anqi seketika membelalakkan matanya kaget, salah tingkah. “Kau…”​“Aku kenapa, hm?” tanya Gu Chen memasang wajah polos tanpa dosa yang justru terlihat menyebalkan di mata istrinya.​“Kau membuatku seperti seorang penyusup untuk mencuri dokumen penting perusahaanmu,” ketus Anqi pura-pura merajuk.​“Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu. Aku justru mengira kau hanya penasaran sebagai sesama profesional di dunia bisnis. Wajar saja jika seorang pekerja andal ingin tahu banyak hal soal bisnis.”​Anqi terdiam seribu bahasa. Ia sempat membuka mulutnya hendak mendebat kalimat itu, namun kembali menutupnya rapat-rapat tanpa ada suara yang keluar. “Terserahmu,” ucapnya akhirnya sambil memalingkan wajah ke arah lain.​Ia mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak terpancing em

  • Bersemi di Musim Gugur   Pria Penggoda

    ​“Contohnya?” pancing Anqi. “Aku yakin, Cahaya Pagi hanyalah salah satu,” batinnya.“Seperti bisnis minuman boba yang sempat booming dulu.”“Aku paham... usaha model begitu memang cepat viral, tapi bukankah bisnis musiman seperti itu juga sangat cepat mati dan punya risiko gulung tikar yang tinggi?”“Tepat sekali. Tapi bisnis seperti itu punya keunggulan, cepat berputar dan cepat menghasilkan keuntungan tunai yang masif. Kuncinya  kita harus terus memantau pergerakan pasar, tren apa yang sedang digandrungi masyarakat saat ini.”“Dan jika kamu menemukan tren baru, kamu langsung menanam modal lagi di sana?”“Betul. Prinsip dasarnya sederhana, yang penting uang kas terus berputar dan pundi-pundi keuntungan bertambah,” sahut Gu Chen mantap.Beberapa saat lamanya, Anqi terdiam seribu bahasa. Ia membatin kagum. Seberapa gesit dan tajam sebenarnya insting bisnis pria di sampingnya ini dalam membaca pasar?Belum sempat Anqi meni

  • Bersemi di Musim Gugur   Penasaran

    ​“Suami?” Anqi mengeja dalam hati. Suami sebatas transaksi? Atau sehidup semati? Ia kembali bertanya, apakah ada suami sehidup semati? Kenyataan yang ia lihat, bapaknya bukan laki-laki setia, Suami Lin Yun pria bejat, Wang Meng beberapa kali putus, selingkuh di perkantoran juga sudah jadi rahasia umum. Mungkin masih ada laki-laki yang setia, tapi berapa persen? Mungkin hanya nol koma persen, tapi adakah dirinya di sana?​“Baiklah,” sahut Gu Chen seraya langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Kamu mau pesan kopi apa, hm?”​“Americano,” jawab Anqi lembut.​“Baiklah, pesanan sudah ku-submit. Dari kafe terdekat dari sini, estimasi sepuluh menit sampai.”​Anqi mengangguk kecil. “Terima kasih, Gu Chen.”​“Kenapa mendadak jadi seformal begitu, Nyonya Gu?” goda Gu Chen sambil menaikkan sebelah alisnya.​Anqi memilih untuk abai. Ia meluruskan kembali pandangannya menatap lurus ke depan. “Gu Chen... sambil menunggu kop

  • Bersemi di Musim Gugur   Bukan Ruang dibagi Tiga

    ​“Apa kau... juga sering melakukan hal seperti ini pada Tang Tang?” tanyanya pelan, memecah keheningan yang menyelimuti kamar tersebut.​Gerakan tangan Gu Chen terhenti sesaat. Ia lantas mematikan hairdryer di tangannya. “Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?” Gu Chen balik bertanya dengan sorot mata menyelidik.​“Cuma penasaran saja,” jawab Anqi asal, berusaha menepis gugup.​Gu Chen bergeser duduk di hadapannya, lalu menyentuh helaian rambut Anqi yang kini sudah kering. “Anqi, aku memang berusaha berbuat yang terbaik untukmu, untuk Ibu, juga untuk Tang Tang. Tapi jangan pernah bandingkan posisimu dengan mereka. Kalian semua orang-orang terpenting dalam hidupku, tetapi kalian tidak berada dalam satu tempat yang sama.”​Anqi mengerutkan keningnya cukup tajam, bingung dengan arah pembicaraan pria itu.​“Kalian masing-masing memiliki tempat khusus di hatiku. Hatiku bukan ruang yang dibagi tiga, melainkan memiliki porsi dan ruan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status