LOGINLin Anqi tumbuh dengan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Saat kecil, ia menyaksikan ibunya diceraikan dan diusir dari keluarga besar hanya karena gagal melahirkan anak laki-laki. Sementara itu, wanita simpanan ayahnya justru disambut bak ratu setelah melahirkan seorang putra. Sejak hari itu, ibunya bersumpah akan membesarkan ketiga putrinya menjadi perempuan bermartabat yang tak akan pernah dipandang rendah oleh siapa pun. Bagi Anqi, cinta dan anak hanyalah belenggu yang membuat perempuan kehilangan harga diri. Karena itu, ia menerima perjodohan dengan Gu Chen semata-mata demi memenuhi keinginan ibunya, bukan karena cinta. Namun Gu Chen berbeda dari pria yang selama ini ia bayangkan. Ia tidak pernah memaksa, tidak pernah menguasai, dan selalu menghadirkan kehangatan yang perlahan mencairkan hati Anqi yang dingin. Kecintaannya pada anak-anak membuat Anqi mulai mempertanyakan keyakinan yang selama ini ia pegang. Ketika Anqi akhirnya membuka hati dan mulai memimpikan kebahagiaan, masa lalu kembali menghantui mereka. Rahasia yang disembunyikan Gu Chen, bersama kenyataan kelam tentang ibu Anqi, terungkap satu per satu, mengancam menghancurkan cinta yang baru saja bersemi.
View MoreTitis air di kamar mandi terdengar bagai palu yang menghantam kesunyian malam. Suara air yang biasanya begitu menyenangkan setelah seharian bekerja, yang kesejukannya mampu membuat sekujur badan terasa segar kembali, kini kehilangan magisnya. Kali ini, bunyi rintik air itu malah memicu debaran jantung Lin Anqi yang berdetak semakin cepat, tidak beraturan, dan penuh kecemasan.
Titik air semakin melambat, namun ritme jantung Lin Anqi justru semakin menggila. Hawa dingin di dalam kamar mandi yang biasanya terasa menenangkan, kini berubah menjadi atmosfer mencekik yang membuatnya tergesa ingin segera keluar dari ruang sempit tersebut. Tapi… kakinya terasa terpaku di lantai. Lin Anqi berdiri mematung tepat di depan pintu kamar mandi. Tangannya sudah menggenggam erat gagang pintu besi, namun ia terdiam cukup lama dalam keraguan. Suara tetesan air dari shower kini benar-benar berhenti sepenuhnya, digantikan oleh suara detak jantungnya sendiri yang terdengar begitu nyaring di telinganya. Ia mencoba menghela napas panjang dan dalam guna menenangkan gelora di dadanya. Sayangnya, aroma wangi yang asing justru memenuhi indra penciumannya, membuat debar di dadanya semakin tak terkendali. Aroma parfum sandalwood yang pekat itu, yang seharusnya memiliki efek menenangkan, justru membuatnya semakin merasa tidak karuan. Tok... tok... “Anqi, kau tidak apa-apa di dalam?” Suara berat itu terdengar di balik pintu, dibalut nada kekhawatiran yang kentara. “Aku tidak apa-apa,” sahut Anqi cepat. Suaranya terdengar jelas bercampur rasa gugup yang berusaha ia sembunyikan. Tanpa membuang waktu, ia berbalik menuju ke arah wastafel, memutar keran air, dan segera membasuh wajahnya yang memerah. Sesaat, ia mendongak dan menatap pantulan dirinya di cermin. Terlihat wajah seorang perempuan dewasa yang mandiri. Itulah dirinya. Nyaris separuh usia mudanya ia habiskan untuk fokus belajar dan bekerja keras membangun karier. Namun kini, garis takdir membawanya pada sebuah ikatan pernikahan dengan seorang pria asing, lebih tepatnya dengan sang pengusaha yang selama ini menjadi rival terbesarnya di dunia bisnis. Di dalam benaknya, ia sangat mudah menebak apa tujuan utama ibunya menerima lamaran tersebut. Langkah itu diambil semata-mata untuk memperkuat aliansi bisnis. Dengan pernikahan ini, tidak akan ada lagi persaingan sengit di pasar, melainkan sebuah kerja sama raksasa yang saling menguntungkan. Ia kembali menghela napas panjang yang terdengar nyaring di ruangan sunyi itu. Yang hingga kini masih membuatnya tidak habis pikir apa alasan di balik tindakan pria itu, mengapa Gu Chen bersikeras melamarnya? Sekuat apapun posisi Gu Chen di dunia korporat, ibunya tetaplah seorang mertua yang memiliki status kekuasaan lebih tinggi dalam lingkaran keluarga. Sebenarnya, apa yang sedang diinginkan oleh pria licik ini? Tidak, Ia tak pernah mendengar keburukan Gu Chen. Tidak pernah terdengar isu kecurangan atau tindakan buruk lainnya dalam bisnis. Sekeras apapun berpikir, ia tetap tidak mengerti. Anqi menghempaskan napasnya berat-berat, lalu merutuki kelemahan dirinya sendiri dalam hati. Tidak seharusnya ia merasa segugup ini. Jika dalam dunia negosiasi bisnis yang kejam ia selalu mampu memegang kendali penuh, mengapa ia harus ciut menghadapi pria itu? Terlebih lagi, seluruh skenario pernikahan ini terasa sangat janggal. Pasti ada maksud tersembunyi di balik senyum dan tatapan pria tersebut. Anqi kembali membasuh wajahnya untuk terakhir kali dan bersiap melangkah keluar dengan percaya diri yang biasa ia kenakan di hadapan para investor. Klik. Pintu terbuka, namun Anqi justru tersentak kaget. Ternyata Gu Chen sudah berdiri tepat di depan pintu dengan ekspresi wajah yang teramat cemas, bahkan tangan pria itu masih terangkat di udara seolah hendak kembali mengetuk pintu. Tatapan mata Gu Chen saat itu... tidak pernah ia temukan sebelumnya di dunia bisnis yang penuh perhitungan dingin. Seketika itu juga, seluruh kalimat dan argumen tajam yang tadinya sudah tersimpan rapi di dalam kepala Anqi mendadak menguap begitu saja. Semuanya lenyap, digantikan oleh gelombang kegugupan yang luar biasa hebat. “Kenapa lama sekali? Kau tidak apa-apa?” tanya Gu Chen dengan nada cemas, lalu melangkah maju hingga kini berdiri tepat di hadapan Anqi. Anqi secara refleks melangkah mundur ke belakang. Nada pertanyaan itu begitu sarat akan ketulusan dan kekhawatiran yang nyata. Dan jujur saja, Anqi belum pernah sama sekali menghadapi situasi semacam itu dalam hidupnya. Ia sama sekali tidak punya amunisi mental untuk merespons tindakan manis tersebut. Otaknya mendadak kosong melompong. Pandangan mata Gu Chen yang penuh selidik dan rasa khawatir itu perlahan beralih ke titik lain, berniat memastikan bahwa sang istri baik-baik saja. Namun, apa yang tertangkap oleh pandangan pria itu justru membuatnya menelan ludah mentah-mentah tanpa sempat dicegah. Napasnya mendadak tertahan. Wajah Anqi tampak begitu polos tanpa pulasan riasan sedikitpun, kulit putihnya merona tipis karena uap hangat. Air tampak menetes perlahan dari ujung rambutnya yang basah, mengalir melewati tulang selangka yang jenjang, lalu menghilang begitu saja di balik kain baju tidurnya yang tipis. Kain itu sangat tipis, hingga membuat Gu Chen tanpa sengaja dapat melihat dengan jelas bagaimana debar jantung perempuan di hadapannya itu berdetak jauh dari kata normal. Cahaya lampu meja yang kekuningan menambah nilai kecantikan. Hangat dan lembut. Gu Chen melangkah maju dengan dorongan yang sulit dikendalikan. Kegugupan Anqi menjadi terlihat manis di matanya. Tidak seperti yang dikatakan orang-orang selama ini. Anqi yang dingin, judes, bahkan kejam. Perempuan ini sangat manis. Ia tidak kuasa menahan diri.Bartender itu tampak ragu, matanya melirik sekilas ke arah Gu Chen yang kini berdiri tepat di belakang punggung Anqi.Anqi mengikuti arah pandangan bartender tersebut. Seketika itu juga, emosinya meledak kembali ke permukaan. “Untuk urusan sepele begini saja aku harus minta izinmu? Pernikahan macam apa ini?”Bartender di balik meja bar sedikit menciut ngeri akibat ledakan emosi itu, tetapi ia juga tidak berani berbuat lancang tanpa persetujuan pria di belakang Anqi. Begitu Gu Chen memberikan anggukan kecil, ia langsung menuangkan cairan keemasan itu ke dalam gelas.Anqi mencibir sinis melihat tindakan patuh bartender tersebut.“Kau sudah jadi langganan tetap bar ini, ya? Sepertinya dia sangat segan dan takut padamu,” sindir Anqi tajam.Gu Chen tidak membalas sindiran itu. Ia melangkah mendekat, menggeser kursi tinggi, lalu duduk tenang tepat di samping Anqi.Begitu pesanan tersodor di hadapannya, Anqi langsung meneguknya tandas. Sensasi rasa panas membakar yang merayap di tenggorokan
“Perempuan sialan, kau cari mati!” bentak Hao Tian murka sambil melayangkan kepalan tangannya yang keras langsung ke arah wajah Anqi.Spontan, Anqi hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat.Namun, sedetik dua detik berlalu, hantaman kasar itu tak kunjung mendarat di pipinya. Ia membuka mata perlahan, dan mendapati Gu Chen telah mencekal pergelangan tangan Hao Tian dengan kilatan mata memerah penuh amarah.“Kau berani menyentuhnya?!” desis Gu Chen penuh ancaman.Beberapa saat Anqi terpaku di tempatnya, menatap wajah Gu Chen yang mengeras ia bisa melihat ada banyak ledakan emosi yang ditahan oleh pria itu.Hao Tian meronta-ronta, berusaha melepaskan cengkraman maut tersebut, namun tenaganya sia-sia. Ia justru terhuyung mundur saat Gu Chen menghempaskan tangannya dengan kasar penuh jijik.Anqi masih bergeming. Entah mengapa, hatinya mendadak menghangat melihat raut wajah penuh perlindungan dari pria itu.“Dia yang mulai duluan! Lihat kepalaku sampai berdarah begini,” tunjuk Hao Tian pad
“Apa kau juga berpikir bahwa semua laki-laki di dunia ini sama-sama brengsek?” Pertanyaan tiba-tiba dari Gu Chen berhasil menarik Anqi keluar dari lorong waktu masa lalunya.Anqi menoleh, menatap tajam pria di sampingnya. “Aku tidak ingin berkomentar soal itu. Tapi satu hal pasti yang kutahu, jauh di lubuk hatimu, kau juga sama seperti para pria pada umumnya, yang pada akhirnya juga menginginkan seorang anak laki-laki sebagai penerus. Dan sayangnya, aku tidak bisa memberikan hal itu padamu. Gu Chen, mari kita sudahi semua ini. Kita berpisah secara baik-baik saja.”“Anqi, bahkan dalam dunia bisnis, pemutusan kontrak kerja secara sepihak saja harus menanggung konsekuensi hukum yang sangat berat. Apalagi ini pernikahan, sebuah hubungan yang jauh lebih sakral,” protes Gu Chen dengan nada suara yang mulai meninggi, tersulut luapan emosi.“Hubungan sakral? Heh.” Anqi menyunggingkan senyum sumbang penuh cibiran.Gu Chen menghela napas panjang untuk meredakan emosinya. Sekali lagi ia merutuk
“Tidak mungkin Ibu benar-benar tidak tahu bukan? Bahkan sekecil apapun kesalahanku di perusahaan, Ibu pasti tahu segalanya. Tapi kenapa untuk masalah sebesar ini Ibu memilih diam? Kenapa Ibu membiarkan putrinya sendiri terus-menerus ditindas?” lirihnya.Ia benar-benar tidak sanggup memikirkan kemungkinan lain yang lebih masuk akal. Mustahil ibunya tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Lin Yun. Ia sangat tahu betapa ibunya sosok yang terobsesi tinggi pada kehormatan keluarga dan kekayaan. Namun, tetap saja sulit diterima oleh akal sehatnya mengapa sang ibu bisa memilih diam saat mengetahui putrinya disiksa, padahal ia sendiri pernah mengalami kepahitan serupa di masa lalu.Tiba-tiba, sebuah gelas kertas berisi kopi hangat tersodor di hadapannya. Ia mengangkat wajahnya perlahan. Terlihat sosok Gu Chen berdiri menatapnya teduh di tengah temaram lampu taman rumah sakit.Beberapa detik lamanya ia tertegun. Sesaat, ia harus mengakui dalam hati bahwa rumor di luar sana benar adanya. Gu Ch






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.