แชร์

Asa 62

ผู้เขียน: Amih Lilis
last update วันที่เผยแพร่: 2024-01-21 20:21:32

*Happy Reading*

"Nissa?" gumam Raid dengan kaget sekaligus bingung. Sukses menyadarkan gadis yang masih berada dalam rengkuhannya, yang juga tak kalah terkejut melihat Raid.

Gadis itu, atau yang tak lain dan tak bukan adalah Nissa, segera menegakkan diri bahkan sedikit mendorong tubuh Raid sebelum melangkah mundur. Lalu, tanpa aba-aba ia pun gegas membalik badan hendak pergi.

Namun, Raid tak membiarkannya begitu saja. Pria itu pun lantas segera mencekal lengan Nissa demi menahan aksi kabur gad
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (6)
goodnovel comment avatar
Titik Sundari
Emang mesti tegas nissa biar gak dipermainkan raid,,, penasaran sama istri darul beneran kim bukan sih?? kalau kim kasihan dong frans ...
goodnovel comment avatar
Susan Soen
ayolah bang Raid... katakan perasaan kamu skrg ... spy Nissa ga jadi pergi ... jgn sp kehilangan selamanya loohh
goodnovel comment avatar
Siti Khotimah
hayoloh bang,,Nissa udah mau pergi tuh gak mau cegah gitu,,biar gak kehilangan trus nangis di pojokan .........
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa terakhir

    Perlahan, luka yang dulu terasa menghancurkan akhirnya berubah menjadi kenangan pahit yang tak lagi terlalu menyiksa.Nissa dan Raid pun memutuskan kembali ke Indonesia setelah Naira melahirkan anak pertamanya. Berjenis kelamin laki-laki dan wajahnya ... plek ketiplek Darius. Bahkan warna matanya juga sama."Gak adil banget, deh. Padahal gue yang ngandung sampai sembilan bulan lebih, eh pas brojol malah mirip bapaknya. plek ketiplek! Ini sih namanya bukan lagi buah jatuh tak jauh dari pohonnya, tapi jatuhnya sa'akar-akarnya sampe kebonnya juga," keluh Naira sambil menjawil hidung putranya yang mancungnya sudah tidak diragukan lagi."Alhamdulilah. Masih untung mirip bapaknya, loh. Kalau mirip cowok lain kan berabe, Nai.""Gak gitu maksud gue. Tapi ya ... harusnya ada gitu satu bagian yang mirip gue. Ini gak ada satu pun. Kesel, deh.""Cengengnya mirip kamu," celetuk Raid asal, langsung di hadiahi delikan tajam Naira."Udah, udah. Gak usah sewot gitu ah. Namanya bayi baru brojol mukanya

  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 142

    “Cih!” Naira langsung berdecih begitu melihat Nissa dan Raid keluar bersama dari arah lorong kamar. Wanita hamil itu melipat tangan di dada dengan wajah sengaja dibuat keruh. Namun alih-alih terlihat menyeramkan, ekspresi Naira justru tampak lucu. Apalagi dengan pipi gembulnya yang makin bulat akibat kehamilannya saat ini. “Ini yang katanya masih trauma? Masih sakit hati? Gak mau lihat muka laki-laki itu masih butuh waktu entah sampai kapan?” omelnya sambil menyipit tajam ke arah Nissa. “Ujung-ujungnya luluh juga.” Nissa langsung salah tingkah. Sementara Raid di sampingnya malah tampak santai sekali. Bahkan pria itu tanpa rasa bersalah melingkarkan tangannya di pundak Nissa possessive. Seolah sengaja memperjelas jika ia telah memenangkan keadaan. Naira langsung mencibir. “Hih! Dasar bucin!” Raid tersenyum kecil penuh kemenangan. Nissa yang sadar sedang digoda langsung menyikut pinggang suaminya pelan. “Abang, ih.” “Abang kenapa? Abang diem aja kok,” jawab Raid santai, padaha

  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 141

    Malam itu, setelah kejadian dengan Nichole, Nissa sama sekali tak bisa tidur.Ia berbaring menatap langit-langit, tapi yang terlihat justru wajah Raid — pria yang paling ingin ia lupakan, sekaligus yang paling tak bisa ia lepaskan.Suara tawa itu, cara Raid memanggil namanya dengan lembut, bahkan aroma tubuhnya yang dulu menenangkan… semuanya masih lekat, menolak pergi.Nissa menutup mata, menggigit bibir bawah, mencoba menahan sesak yang menumpuk di dada.“Kenapa sih aku masih begini…” bisiknya pelan.Ia memutar tubuh, tapi semakin mencoba melupakan, bayangan itu malah kian jelas. Pelukan yang dulu membuatnya tenang kini justru menjadi luka yang paling menyakitkan.Malam terasa panjang. Di tengah kesunyian, hanya satu kenyataan yang sulit ia tolak: ia merindukan suaminya.Dan rindu itu membuat dada terasa sesak — campuran antara cinta dan benci yang sama-sama menyiksa.Setiap kali mengingat tatapan penyesalan Raid di depan ruang rawat dulu, Nissa merasa seperti diremas dari dalam.Ia

  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 140

    Raid keluar dari kamar rawat dengan langkah berat. Di luar, Darius dan Naira masih menunggu. Wajah Naira masih penuh amarah, tapi ia tidak mengatakan apa-apa."Kamu diusir?" tebak Darius, menepuk bahu Raid.Raid tidak menjawab, hanya mengangguk pelan."Bagus," Naira mendengus. "Harusnya dia usir kamu lebih jauh lagi."Raid mendongak, menatap Naira tajam. Tapi ia tidak dalam posisi untuk membalas. Apa pun yang dikatakan wanita itu benar."Aku akan menunggu." Hanya itu yang Raid ucapkan sebelum berjalan pergi.Naira mendengus muak. "Terserah."Hari-hari berikutnya, Raid tetap setia di rumah sakit. Ia tidak masuk ke kamar Nissa, tapi ia selalu ada di luar, setia menunggu. Setiap kali dokter atau perawat keluar dari kamar itu, Raid akan bertanya tentang kondisi istrinya itu dengan detail sekali. Sementara itu, seiring hari berganti Nissa sendiri semakin pulih secara fisik, tapi tidak untuk hatinya. Sebongkah daging dalam dadanya itu masihlah sangat terluka. Wanita itu masih belum bisa m

  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 139

    Suara sirene ambulans memecah keheningan malam, membawa Nissa yang tak sadarkan diri menuju rumah sakit terdekat. Raid mengikuti dari belakang dengan perasaan kalut, bayangan Nissa yang terbaring berlumuran darah terus menghantuinya.Di ruang tunggu rumah sakit, Raid mondar-mandir dengan gelisah. Setiap detik terasa seperti siksaan, menunggu kabar dari tim medis yang tengah berjuang menyelamatkan istrinya. Pikirannya dipenuhi penyesalan; andai saja ia tidak asal tarik tadi, mungkin semua ini tak akan terjadi.Faktanya yang terjadi hanyalah kesalahpahaman semata. Raid yang tadi sedang menunggu Nissa di ruang vvip, tiba-tiba matanya ditutup sebuah tangan yang lembut. Raid kira itu Nissa, makanya dia main tarik saja tangan itu hingga jatuh dalam pangkuan. Raid pun syok saat akhirnya tau tangan tadi ternyata milik Nichole, bukan istrinya.Sialnya, Nissa malah datang di saat tidak tepat. Raid yang masih syok pun butuh beberapa detik menyadari kesalahpahaman itu hingga akhirnya gegas mengej

  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 138

    "Sayang, hari ini Abang ada urusan di knightsbridge. Kamu mau ikut nggak?""Di mana itu, Bang? Jauh nggak dari sini?""Knightsbridge terletak di jantung kota London yang modis, menggabungkan jalur Hyde Park yang dilalui kuda, kedutaan besar Belgravia, museum Kensington, dan kediaman seniman Chelsea. Saat ini, lingkungan itu dipenuhi dengan berbagai toko, restoran, townhouse bersejarah kelas dunia, dan merupakan rumah bagi dua properti Jumeirah . Di sana, kita juga bisa melihat sejarah Knightsbridge dan bagaimana ia bisa mempertahankan reputasi yang dimilikinya saat ini." Raid menjelaskan dengan sabar dan panjang lebar. "Nggak tahu ah, Bang. Nggak ngerti juga. Udahlah, Abang aja yang pergi. Nissa lagi mager," sahut Nissa kemudian dengan malas. Raid mengerutkan keningnya bingung. Beberapa hari ini entah kenapa Nissa memang berubah jadi pemalas. Tak seperti biasanya yang selalu antusias jika di ajak ke tempat baru. Apa mungkin Nissa sudah bosan tinggal di sini? Akan tetapi, mereka baru

  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 12

    *Happy Reading*"Jadi simpanan Bapak?" Nissa mengulang tawaran Pak Agung sambil menelengkan kepala."Iya, Nissa jadilah simpanan saya." Pak Agung mengangguk yakin. "Saya jamin gosip ini akan segera hilang dan kamu bisa bekerja dengan tenang lagi. Selain itu, hidup kamu pun akan semakin terjamin. Karen

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-17
  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 133

    "Papa?" beo Nissa refleks. "Iya, Papa kamu. Bule tadi. Itu papa kamu, kan?"Dilihat dari mana, ya ampun! Jelas-jelas wajah Raid bule banget, sementara Nissa sendiri khas asia. Nah, kok, bisa wanita ini menyangka Nissa dan Raid adalah anak dan ayah. Katarak atau gimana?Atau ... ah, jangan-jangan meman

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-04
  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 134

    Brak!Nissa terkesiap kaget saat tiba-tiba saja Nita menggebrak meja. Wajahnya merah padam menatap Raid. Pasti dia sangat marah sekali saat ini. Tentu saja, ucapan Raid barusan memang terlalu kejam. Bahkan Nissa yang mendengarnya saja merasa sakit hati barusan. Ah, suaminya ini kalau sudah mode julid

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-04
  • Bertahan Dalam Asa Hampa   Asa 11

    *Happy Reading*"Astagfirullahaladzim ...." Nissa mengusap wajahnya penuh sesal saat sebuah kesadaran menghampiri. Keputusasaan hampir membuatnya khilaf. 'Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.' (An Nisa ayat 29). Islam tidak memperbolehkan dan melarang

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-17
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status