Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion

Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion

last updateLast Updated : 2026-03-31
By:  BintangjatuhUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
180Chapters
900views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

​Bagi Aurora, perjodohan ini adalah bencana. Namun saat Rasya menantangnya bermain peran, Aurora meladeni. ​"Aktingmu hebat, Tuan Pradana." Aurora memangkas jarak, merapikan kerah kemeja pria itu, dan berbisik seduktif. ​ "Bisa bayangkan serunya sandiwara kita ke depannya... Sayang?" ​Senyum main-main di wajah Rasya seketika lenyap, tangannya mengepal erat. Aroma manis Aurora bukan hanya menggoda, tapi membangunkan insting primitif Rasya yang selama ini terkekang.

View More

Chapter 1

1. Perjodohan, Lagi?

Malam ini Aurora tengah disibukkan dengan pekerjaannya di dalam sebuah paviliun pribadi, sebuah bangunan modern minimalis yang terpisah di halaman belakang rumah utama keluarga. Paviliun yang biasa menjadi guest house itu ia sulap menjadi ruang kerja yang lengkap dengan segala fasilitasnya.

Tok.. tok.. tok...

"Masuk aja, pintunya nggak aku kunci," ucap Aurora agak teriak.

"Malam sayang," sapa Martha saat melangkah masuk.

"Malam, Bunda." Aurora menoleh sekilas lalu kembali tenggelam dalam pekerjaannya.

Setumpuk kertas berisi sketsa gaun berserakan di mejanya, ia sibuk memilah-milah.

"Ini sudah malam lho, Ra. Harusnya kamu sudah istirahat." Martha mendudukan dirinya di sofa ruang kerja putrinya itu.

"Iya, Bun. Sebentar lagi ya, soalnya ini tanggung."

Martha mendengus, sedikit melongok ke meja kerja. "Buat acara apa emangnya?"

"Oh, ini bukan untuk acara apa-apa kok, tapi untuk koleksi terbaru minggu depan. Aku masih mau milih mana yang paling cocok."

Martha mengangguk mengerti. "Oh iya.. untuk acara fashion show kamu itu, gimana perkembangannya? Apa sekarang sudah dapat sponsor utama?"

Aurora meletakkan lembaran kertas di tangannya ke meja, ia menggeleng pelan, menatap Martha. "Belum, masih nyari. Hana juga masih terus ngajuin proposal ke beberapa perusahaan. Ada banyak perusahaan yang tertarik, tapi mereka belum bisa ngasih yang aku mau. Belum bisa meng-cover seluruh anggaran yang aku butuhkan. Mereka nggak berani, terlalu takut mengambil risiko."

Martha menghela napas pelan. "Bagaimana jika... kamu terima saja tawaran ayah waktu itu?"

"Bunda, sudah aku katakan sebelumnya. Meskipun ayah bertindak sebagai sponsor atau investor, aku tidak ingin memakai dana dari keluarga Meschach," ucap Aurora hati-hati, takut menyinggung sang Bunda.

Bundanya menggeleng. Putrinya ini memang benar-benar berprinsip dan juga keras kepala. Mengingatkan dirinya di masa muda.

Hening sebentar, sebelum akhirnya Martha kembali bersuara.

"Aurora, sayang.. bisa ke sini sebentar." Martha meminta dengan intonasi serius sambil menepuk sofa di sampingnya.

Mendengar permintaan itu, Aurora langsung waswas. Nada bicara seperti itu biasanya menandakan obrolan serius yang menyangkut masa depannya.

"Aurora?" panggil Martha, suaranya lembut namun terkesan tegas.

"Hah? Oh iya bisa, sebentar."

Aurora akhirnya menghampiri dan duduk di samping Bundanya.

"Ada apa, Bun?"

Martha mendaratkan tangan kirinya pada paha kiri Aurora. "Gini... Bunda ingin kamu bertemu dengan putra temennya Bunda."

"Lagi, Bunda? Seriously?" balas Aurora cepat, menatap Bundanya tak percaya.

"Kali ini beda, Sayang." Martha mengelus punggung putrinya.

"Menurutku sama saja, Bun."

Martha menghela napas panjang. "Terserah kamu mau bilang apa, intinya bunda mau kamu ketemu sama anak sahabat Bunda. Titik."

Aurora mendelik aneh. "Tadi katanya temen, sekarang sahabat. Jadi mana yang betul, Bun?"

Martha tampak berpikir sejenak. "Ya... sama aja kan?"

"Ya ampuuun... beda dong,"

"Lagian temen Bunda yang mana sih? Soalnya hampir semua temen Bunda, sahabat Bunda itu semuanya aku tahu."

"Hampir kan? berarti belum semuanya kamu tahu."

"Iiiih Bundaaaa." Aurora memelas seraya menggelengkan kepalanya.

"Bunda ingat terakhir kali aku ketemu anak temen Bunda? nggak berhasil. Jadi, jangan aneh aneh lagi deh. Pokoknya rencana Bunda menjodohkan aku nggak akan berhasil, serius deh, Bun."

"Itu karena kamu tidak ada niat dan kamu terlalu cuek," balas Martha.

"Kan memang dari awal aku bilang nggak mau. Lagi pula, aku masih muda, masih mau berkarier, belum mau terikat dengan siapapun."

"Setidaknya kamu harus mencoba dulu. Yang ini, Bunda jamin kamu bakalan suka deh," ucapnya sedikit antusias.

"Dengarkan Bunda, Ra. Peraturannya masih sama dengan yang lalu. Kalau kamu ngerasa nggak match atau dia yang menolak, maka pertemuan itu cukup sampai di situ saja."

"Lagian... Bunda juga nggak habis pikir sih. Kenapa Anak cantik, cerdas dan membanggakan seperti kamu bisa-bisanya ditolak. Apa jangan-jangan kamu yang mengancam mereka?" tanya Bundanya penuh selidik.

Aurora terkekeh pelan, ia langsung bangkit berdiri. "Bunda pikir aku mafia? Segala ada ancam-ancam. Jangan ngaco ah."

Ia lalu berjalan ke arah meja kerjanya. "Kalo nggak ada yang mau disampaikan lagi. Aku mau lanjutin kerjaan dulu yaa."

Martha mendengus geli, selalu seperti ini.

"Ya sudah, silakan lanjutkan, nanti kita bicarakan lagi. Jangan terlalu malam, ingat! Kamu itu manusia, bukan robot. Butuh istirahat juga."

"Iya, Bun."

"Bunda tetap mengharapkan pertemuan antara kamu dan anak sahabat bunda itu terjadi," ucap Martha sambil bangkit dari sofa lalu keluar.

Selepas Bundanya keluar, lantas Aurora termenung sesaat. "Maafkan aku, Bun, aku tidak bermaksud membangkang. Aku hanya tidak ingin menambah luka di hatiku lagi"

Aurora Iskandar Meschach adalah anak pertama dari salah satu pasangan dokter paling dihormati di kota itu. Ayahnya, Fattah Iskandar Meschach, adalah seorang dokter ahli bedah kardiotoraks legendaris yang kini memimpin sebuah rumah sakit swasta miliknya sendiri. Sementara ibunya, Martha Adinda Meschach, adalah seorang dokter bedah saraf yang brilian.

Tumbuh di tengah dunia medis yang penuh presisi dan kecerdasan, Aurora justru memilih jalan yang berbeda.

Alih-alih mengikuti jejak orang tuanya, ia lebih memilih menjadi seorang Desainer Busana dan merintis usahanya sendiri, ia menjadi pemilik sebuah butik yang mulai dikenal masyarakat luas. Dan, di usianya yang sudah menginjak seperempat abad ini, dia masih nyaman dengan status lajangnya. Bukan tidak mau membuka hati untuk para pria di luaran sana, hanya saja kejadian di masa lalu membuatnya berpikir ribuan kali untuk menjalin suatu hubungan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
180 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status